NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Fani jatuh dan pingsan


__ADS_3

Bu Diana kaget melihat keadaan menantunya yang tak sadarkan diri tersebut, Bu Diana segera meriksa keadaan Fani yang terkapar dai lantai bahkan tubuhnya basah kuyup digenangi air bekas dia mengepel.


"Aduh bagaimana ini? pakai jatuh segala," dengus Bu Diana. Dengan perasaan dongkol dan kesal Bu Diana ingin mengangkat tubuh Fani. Begitu dia memenangi kepala Fani, telapak tangan Diana terdapat Noda Merah.


Seketika wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, dia merasa sangat takut, apalagi saat ini hanya ada dia dan Fani.


Diana segera menarik tubuh Fani ke tempat yang kering. Diana berlari mengambil kotak p3k, mengobati Luka Fani supaya tidak infeksi dan terus mengeluarkan darah lagi.


Bu Diana membuka pakaian Fani yang basah dan bau itu. Dia segera menggantikannya dengan daster yang kering, menggosok suluruh tubuh Fani dengan minyak kayu putih. Berharap Fani segera sadar.


" Ayo bangun Fani! tidak seru pemainan kita kalau pemerannya terlalu lemah, ayo bangun!" Bu Diana terus menggosok telapak tangan Fani supaya hangat dan segera sadar.


Sebenarnya Fani sudah sadar, disaat bu Diana menggosok tubuhnya dengan minyak kayu putih tadi. Fani merasa ada yang menyengat dalam hidung serta lukanya menjadi sangat perih akibat terkena minyak.


Fani memang sangat tidak mau bangun, lebih baik dia meneruskan aksinya dan memilih tidur. Apalagi matanya juga sudah seperti pulut (Getah nangka), tidak kuat untuk ado buka.


Diana segera mengambil ponselnya, mencari nama Ryan di sana. "Ryan, cepat pulang, nak!" Pinta Diana pada Ryan.


"Ada apa, bu?" tanya Ryan dengan rasa penasaran, apalagi mendengar suara ibunya yang serak.


Ryan menebak kalau di rumahnya, terjadi sesuatu yang tidak di inginkan .


" Itu, Fani Ryan kau cepat pulang pokoknya!" pinta Diana.


" Baik bu, Ryan sudah berada di perjalanan pulang, ibu tunggu Ryan ya! " Ryan segera ta cap gas.


Perasaan Ryan sudah tidak enak, apa yang sebenarnya terjadi, Apakah Fani kabur? atau ibunya sudah keterlaluan menyiksa Fani.


" Apakah ibu terlalu kejam dalam menyiksa Fani? atau Fani berhasil kabur dari Rumah..." gumam Ryan begitu lirih.

__ADS_1


Kuda besi itu melaju dengan kencang menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Ryan memarkikkan mobilnya sembarangan. Ryan segera masuk ke dalam memanggil manggil nama ibunya.


" Bu, ibu ada dimana?" teriak Ryan manggil sambil mencari keberadaan sang Ibu.


" Di sini, di ruang keluargaa... " jawab Diana dengn keras.


Ryan segera menuju ke sumbar suara, dia melihat ibunya yang sibuk menggosok -gosok tangan Fani, kepala wanita itu juga di perban.


" Apa yang terjadi, bu?" tanya Ryan. Dia mendekati kedua wanita tersebut.


" Di -dia jatuh terpeleset pel-pelan dia, nak," jawab Diana.


Ryan memeriksa denyut jantung Fani, memastikan istrinya itu masih bernafas. Fani masih bernafas tapi sangat lemah. Ryan menggendong tubuh lemas tersebut ke dalam kamarnya yang tak jauh dari ruang keluarga tersebut.


Ryan memegang kening Fani, suhu tubuhnya sangat tinggi, Ryan melihat Luka kemaren belum kering bahkan mulai infeksi, di tambah lagi luka yang baru.


" Kanapa dia bisa jatuh, bu?" tanya Ryan penuh penasaran.


" Oke, Ryan akan beli obat dulu, ibu tunggu saja disini dan jangan kemana mana, suhu badannya sangat tinggi, bu!" Ryan perlahan pada ibunya, untuk menjaga Fani sebentar sampai dia kembali.


Diana mengangguk Mengerti, dan berjanji akan tetap disana merawat Fani. Ryan segera membalas Apotek terdekat.


Meraka tidak mungkin membawa Fani serta, kalau sampai Orang luar tahu penyebabnya, bisa jadi mereka akan di penjara.


Ryan menuju ke Apotik terdekat, membeli beberapa jenis obat, mulai obat demam, antibiotik, sampai obat luka, dan perban.


" Banyak sekali tuan jenisnya, memang anda mantri?" tanya penjaga toko sambil bercanda.


" Bukan kak, tadi ada kecelakaan di sebelah rumah saya, ini untuk pertolongan pertama saja," jawab Ryan.

__ADS_1


Petugas Apotek mengangguk paham, dia langsung membungkus obat-obat itu supaya bisa segera di manfaatkan.


Ryan segera membayar semuanya dan kembali ke rumah, menghampiri Diana dan Fani yang masih tertidur, Fani masih enggan untuk bangun, untung kedua orang jahat itu tidak curiga kalau Fani sudah sadar, paling kalau dia bangun, harus kerja rodi lagi.


Bu Diana, pergi ke dapur melarutkan beberapa obat ke dalam air hangat supaya mereka bisa meminumkan obat tersebut pada Fani.


Setelah semua beres, Ryan memasukkan cairan tersebut pada sebuah spoit, membuat jarumnya, Lalu Ryan mengganti posisi Fani supaya tegak, Ryan mengangkat kepala Fani, menumpuk beberapa bantal, kemudian menyemprotkan sedikit demi sedikit obat larut itu ke mulut Fani.


"Bu, sebaiknya kita ganti perban yang ibu pasang tadi, dan kita obati juga luka akibat Kuah panas kemaren itu." Ryan menunjuk ke arah kepala Fani, dia lalu mengangguk.


"Lalu bagaimana cara mengoleskan salep ini, nak? " tanya Diana.


" Nanti pasti menempel di rambutnya saja, yang ada tidak sembuh malah rambutnya yang rusak, ibu tidak menyangka, bakal seperti itu jadinya." Diana merasa ngeri juga melihat nya, kalau benar benar di perhatikan, pasti akan kelihatan dengan jelas, kepala Fani infeksi.


" Kita gundul saja rambutnya, mumpung dia belum sadar bu, dengan begitu obat ini bisa segera di oleskan, lagian rambut juga bisa tum buh lagi, dan bisa di tutup dengan kain atau hijab nanti, bagaimana? " Ryan mengusulkan untuk menggundul Kepala Fani.


"Ibu ikut bagaimana baiknya saja," jawab Diana.


Ryan mengambil sebuah gunting lalu mereka mulai memotong rambut Fani. Sementara Fani hanya diam saja, dia tidak mau tahu apa yang mereka lakukan padanya.


Dalam hati Fani sudah mulai tumbuh rasa benci dan dia akn berjanji kalau sudah keluar dari neraka tersebut, Fani akan membalasnya degan cantik.


Rambut Fani yang hitam dan indah tersebut kini sudah teronggok di lantai, mereka memangkas habis rambut itu, kemudian segera mengobatinya dan memasang perban kembali.


Ryan menyelimuti tubuh istrinya sebatas dada lalu membereskan semuanya, dia juga membereskan air yang menggenang di ruang keluarga.


Bu Diana mengatakan sesuatu sebelum dia keluar meninggalkan Fani yang pura- pura pingsan tersebut.


" Oke, hari ini kami masih memberimu waktu untuk istirahat, istirahatlah sebentar menantu, selagi kau bisa, dan tunggu saja apa yang akan menantimu besok, Ryan bisa saja tidak tega padamu, tapi dia anak yang berbakti pada ibunya, apapun yang aku minta dia pasti akan setuju... " Bu Diana berbisik tepat di telinga Fani.

__ADS_1


Entahlah, kenapa seorang ibu bisa sekejm itu, ataukan dia psikopat atau punya kelainan jiwa akibat di tinggal mati suaminya.


__ADS_2