
Pagi setelah sarapan semua bersiap berangkat ke pabrik benang yang akan di survey oleh Fani dan kru.
Mereka harus profesional, dan mengesampingkan urusan pribadi masing-masing.
Sementara Bintang bersama Lily dan Pak Budi berkeliling kota Jakarta, serta mampir ke ragunan.
Di pabrik benang milik Ryan, Fani cukup puas dengan kualitas bahan mereka, dan tidak salah sudah menandatangani kerjasama tersebut. Selama ini Fani belum menemukan bahan kain dengan kualitas sebagus ini dan berharap perusahaan itu akan menjaga kualitas mereka.
Setelah semua urusan kantor beres, Fani dan Ryan memutuskan akan bicara face to face serta menyelesaikan urusan lama yang belum ada kejelasannya.
Ryan membawanya ke sebuah restoran yang alami dam asri, supaya Fani bebas mengutarakan semua yang ada di pikiran dia, demikian juga dengan dirinya.
"Ryan aku_" Belum selesai Fani bicara Ryan sudah menghentikan kata-kata mereka.
"Sebaiknya kita makan saja dulu, nanti yang ada makanan yang sudah di pesan tidak kemakan." kata Ryan.
Memang benar apa yang Ryan katakan, sebelum makan mereka membahas urusan pribadi yang cukup menguras perasaan nantinya, maka yang ada tidak ada makan siang hari itu.
Fani setuju dengan usulan mereka, makan dulu baru bicara.
"Siapa dulu yang bicara?" tanya Ryan.
"Kamu saja," jawab Fani.
Ryan merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya, dia menambil dua buah kartu ajaib dari dalam dompet tersebut .
"Fan, di dalam kartu ini ada sejumlah uang pendapatan dari global grub, itu adalah perusahaan hasil akusisi perusahaan papa kamu, aku juga sudah menganti nama pemiliknya dengan namamu, aku tidak berhak atas semua itu, selama ini aku hanya pengelola saja, sedangkan saham serta kepemilikannya sudah aku kembalikan atas nama kamu." Ryan menyodorkan kartu berwana hitam pada Fani serta sebuah kertas berisi no sandi kartu itu.
__ADS_1
Fani masih diam saja, mendengar semua penuturan suamianya tersebut.
"Sedangkan yang ini adalah nafkah dari seorang suami pada istrinya, aku memasukkan nafkah lahir yang harus aku berikan pada istriku selama ini, disitu sudah di hitung semenjak sebulan kita menikah, aku tidak akan melupakan kewajianku, kamu bisa mengeceknya sendiri." Ryan juga menyodorkan sebuah kartu lagi pada Fani.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini Ryan? di saat hatiku sudah yakin dengan keputusan lepas dari kamu, kau datang seperti ini, kau jangan pengecut, atau ini semua hanya akal-akalan kamu supaya aku kembali padamu, dan kau akan mengulangi hal yang serupa padaku!" Fani meneteskan air matanya dan menaikkan nada suaranya.
"Ini bukan rekayasa dan akal-akalan dariku Fan, aku benar-benar menyesali semua yang sudah aku lakukan pada kalian. Padamu khususnya, aku baru tahu semua kebenarannya setelah papa Raffi meninggal, saat ini aku hancur- sehancur hancurnya." Kata Ryan
"Apa maksud kamu hancur? aku yang hancur, kau sudah menghancurkan masa depanku, membuat neraka diatas nama pernikahan. Kau juga sudah menghianati kepercayaan papaku, beliau sangat percaya padamu, Ryan!" Bibir Fani bergetar megatakan semua itu.
"Aku tahu, dosaku sangat banyak, bahkan aku sendiri tak sanggup memikulnya. Setalah dari makan papa, aku langsung ke rumah sakit mencari dokter Ibra untuk menghentikan niatku menggugurkan kandungan kamu saat itu. Maafkan aku! Aku bodoh, jahat. Aku menyiksa wanita yang sudah membuat hatiku bergetar selama ini. Bahkan aku hidup hanya untuk dendam, dendam dan dendam. Aku juga hancur karena dendam,hiks." Ryan juga mengeluarkan air matanya.
"Apa maksud kamu bergetar?" tanya Fani penasaran.
"Sebelum aku tahu kau adalah putri dari papa Raffi, kita pernah bertemu sekali. Waktu itu aku baru sampai di jakarta dari study banding di Jepang, aku melihat seorang gadis cantik imut dan sangat ceria. Wajahnya sangat natural, aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu." Ryan menjeda ucapan dia.
Ryan lega bisa mengatakan semuanya pada wanita yang ada di depannya itu. "Fani, jika kau memberi satu kali kesempatan, maka aku berjanji akan mencintai dan menyayangi kalian melebihi cintaku pada diriku, tolong maafkan aku, Fan," kata Ryan.
Fani diam seribu bahasa, tangan putihnya bergetar mengelus kepala lelaki yang selama ini masih sah menjadi suaminya, ayah dari anak yang dia kandung dan dia besarkan selama ini.
"Ryan, tapi aku masih trauma. Aku takut dengan yang namanya rumah tangga, aku takut Ryan," jawab Fani.
"Aku berjanji akan merubah rasa takut itu Fan, aku janji tidak akan memaksa kamu, tapi beri aku kesempatan sekali lagi!" pinta Ryan.
Lelaki tersebut bangkit dari duduknya, lalu dia berdiri dan menjatuhkan lututnya ke tanah, meminta maaf pada sang istri yang selama ini mendapatkan perlakuan tak pantas darinya.
Fani yang melihalt hal itu langsung meminta Dia berdiri, dia mengakat tubuh atletis Ryan.
__ADS_1
"Tidak, jangan kau lakukan ini, aku tahu kau tidak sepenuhnya bersalah dalam dendam itu, kau hanya patuh dan taat pada ibumu, tapi beri aku waktu untuk memikirkan semua ini, semuanya begitu tiba-tiba. Tidak seperti yang aku rencanakan waktu aku datang kemari," kata Fani.
Ryan akan menmberi waktu wanita itu untuk menerimanya kembali. " Iya, aku akan membeti kamu waktu yang tidak terbatas, tapi kau juga jangan pisahkan aku dengan putraku, dan biarkan aku mencintaimu dengan caraku!" Ryan berkata dengan penuh keyakinan.
"Iya, kamu berhak atas Bintang, dia adalah darah dagingmu, kau bebas_" Lagi-lagi ucapan Fani terhenti oleh dering telpon yang terus menerus berbunyi tadi.
Fani mengangkatnya, tertera nama Lily di sana.
"Ada apa Lily?" tanya Fani.
"Den Bintang, Bu! Den Bintang pingsan dan mimisan, kami membawa dia ke rumah sakit pertamina, saat ini_" Sambungan telpon tiba-tiba terputus, baterai hanphone Lily habis.
"Lily kanapa dengan Bintang? Halo halo!" Fani berusha menghubungi kembali tapi tak bisa.
Ryan juga ikut panik apalagi mendengar kata nama Bintang disebut.
"Ada apa? Ada apa dengan Bintang?" tanya Ryan.
"Bintang di bawa ke rumah sakit Pertamina, Bintang_" Ryan langsung menarik tangan Fani.
Mereka langsung meningalkan rumah makan tersebut dan berlari ke mobil. Rumah sakit Pertamina jaraknya tak jauh dari tempat mereka.
Pasangan itu langsung menuju ke mobil mereka dan berlari cepat, sudah seperti di kejar depkolektor saja.
Ryan langsung tancap gas, dan menyetir seperti orang kesetanan, dia tidak mau terlambat untuk kedua kalinya.
Sampai di rumah sakit, ayah satu anak itu parkir dengan sembarangan. Dia tak peduli, mau dimarahi atau bahkan mobil itu di derek sekalipun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Bintangnya, apa yang terjadi pada putra semata wayang mereka saat ini.
__ADS_1