NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Berangkat ke pasar malam


__ADS_3

Fani berjalan-jalan menelusuri taman belakang rumahnya, ada sesosok pria menyapanya.


"Selamat sore, Non!" sapa pak Budi supir setia papa Raffi dulu. Ryan sengaja memanggil pak Budi dan istrinya setahun yang lalu untuk menjaga dan merawat rumah ini. Ryan mempercayakan semuanya pada beliau, karena beliau yang lebih tahu rumah tersebut daripada dia.


"Eh, Pak Budi. Apa kabar, Pak? Akhirnya saya bisa bertemu lagi dengan bapak." Fani memeluk pria itu melepas rindunya, biasanya mereka hanya bicara lewat telpon atau VC saja.


"Baik, Non. Akhirnya bapak juga bisa bertemu dengan, Non Fani. Sekarang sudah semakin cantik, dewasa dan mateng." Goda Pak Budi.


Fani hanya tersenyum tipis menanggapi godaan pk Budi.


"Kenapa bisa bapak ada disini?" tanya Fani.


"Setahun yang lalu, Pak Ryan datang menemui saya dan meminta saya untuk merawat dan menjaga rumah ini. Beliau mengatakan kalau ini adalah hadiah atas kelahiran den Bintang." Pak Budi menjawab.


"Apakah Pak Budi yang mencerikan semuanya dimana aku tinggal saat itu, Pak?" tanya Fani. Dia menyangka kalau pak budi yang mengabari Ryan selama ini.


"Tidak, Non. Saya tidak pernah mengatakan apapun pada beliau mengenai anda, beliau pikir kalau saya juga tak tahu menahu." jawab Pak Budi.


"Jadi selama setahun ini Bapak tinggal disini, kenapa tidak mengatakannnya pada saya?" Fani sedikit kecewa pada Budi karena merahasiakan tentang rumah ini padanya.


"Maaf, saya sudah berjanji pada Mas Ryan untuk tidak mengatakan pada siapapun juga, beliau mengatakan kalau akan membuat kejutan untuk Anda." Pak budi mengatakan semuanya.


"Setelah kepergian Non Fani, mas Ryan sering mengunjungi makan Tuan Raffi, kami sering membersihkan makam tersebut bersama-sama. Beliau sering bercerita pada saya perjalanan beliau mencari anda, tapi saya tak berani cerita macam-macam teantang keberadaan anda, Non. Bagaimana Non? Mas Ryan sudah berubah banyak sekali, dia jauh lebih baik dari yang dulu. Sebenarnya sejak dulu beliau pemuda yang baik, disiplin dan bertanggung, ya karena sebuah asuhan yang salah belau jadi seperti itu." Pak Budi mulai menceritakan semua yang dia ketahui tentag Ryan, bagaimana Ryan sampai depresi mencari dirinya.


Semua usaha dia lakukan , bahka dengan segenap jiwa, tenaga serta materi Ryan kerahkan hanya untuk menemukan anak dan istrinya.


Fani hanya bisa diam. Dia tak megeluarkan sepatah kata apapun selama mendengar penuturan pak Budi, kenapa semua orang menceritkan tentang kebaikan dan pengorbanan dia. selagi saat ini Fani ingin memamntapkan hati untuk menggugat cerai Ryan.

__ADS_1


Sore itu Ryan berencana untuk kembali ke apartemen, tapi Bintang menghalangi dia. Bocah tampan tersebut selalu mengikuti kemana Ryan pergi, bahkan ke kamar mandi saja dia berjaga di luar pintu.


"Ma, janagn biarkan Om papa pergi Ma!" mohon Bintang pada mamanya.


"Tante Yani, kak lily. Ambilkan Bintang tali, untuk mengikat Om papa, dia mau pergi lagi!" Bintang bahkan meminta tali pada yang dia kenal untu mengikat sang ayah.


Ryan menoleh ke arah Fani untuk mendapat persetujuan dia, apakah boleh tetap berada di sana.


Fani mengangguk, dia setuju kalau Ryan tinggal disini. Dengan persetujuan Fani, Ryan akhirnya tinggal disana, hari itu Bintang yang yang menguasai dirinya.


Malam setelah makan malam, Bintang menagih janji Ryan yang akan mengajak dirinya ke pasar malam kalau ada di negara ini.


"Om Papa, katanya Om Papa mau mengajak ke pasar malam! Ayo kita berangkat, nanti kita bertiga kesana bareng ya!" ajak Bintang.


"Oke, tapi Bintang bilang dulu ke mama, dan kebetulan sekali hari ini ada pembukaan pasar malam di kampung sebelah, pasti seru." Ryan meminta putranya untuk segera mengajak mamanya ikut serta.


Ketika Fani akan masuk ke kursi belakang, Ryan segera mencegahnya, dia membukakan pintu depan mobil.


" please, kalian tidak sedang naik taksi online, Nona." Ray Ryan.


Fani terpaksa menurut, dia yang memangku Bintang.


"Siap berangkat jagoan papa?" tanya Ryan.


" Siap Om papa gas pol!' dengan semangat Anak itu menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Ma, apasih pasar malam itu? Disana ada apasaja?" tanya balita tersebut.

__ADS_1


"Pasar malam, apa itu Ryan apakah sejenis pasar yang buka di malam hari?" tanya Fani, dia mencoba untuk rileks, yang pasti demi putranya.


laki-laki satu anak tersebut, mengulurkan tangan kirinya dan mengacak rambut tebal putranya.


"Apa mama juga tidak tahu apakah itu pasar malam?" tanya Ryan, dia ingin menghangatkan suasana.


Fani hanya menggelengkan kepalanya. "Enggak, papa sepertinya belum pernah mengajakku ke tempat itu," jawab Fani jujur.


"Oke, papa akan menceritakan sedikit tentang pasar malam itu. Sebuah tempat yang terdapat baebagai wahana permainan, ada komedi putar, ada kora-kora, ada mandi bola, ada macam-macam sih, tapi di gelar tiap malam dan di kampung-kampung, biasanya di adakan tiap beberapa bulan sekali, ada juga yang menetap, disana juga ada aneka jajanan tradisional. Macam-macam pokoknya." Ryan menjelaskan sekilas tentang pasar malam tersebut.


"Seperti di dufan begitu?" tanya Fani yang mulai penasaran.


" Iya, tapi kalau pasar malam ini adalah permainan tradisional, pengunjungnya kebanyakan masyarakat kelas menengah ke bawah, dulu papa sewaktu SMP setiap malam berjualan di sini, papa berjualan cilot keliling, cilotnya papa beli dari mang Kosim, nanti papa yang jual dan untungnya di bagi dua, lumayan bisa untuk bayar sekolah." Ryan menceritakan pengalaman dia dulu.


"Ibu kamu?" tanya Fani lagi.


"Ibuku sudah capek jadi tukang cuci keliling, penghasilannya hanya cukup untuk makan, bayar kontrakan, setiap malam beliau selalu mengeluh kecapean, makanya aku nekat jualan untuk bisa menbantu meringankan beban dia." Ryan menjawab sambil menghembuskan napasnya berat.


Fani terdiam mendengar kisah Ryan, berarti perjuangan dia sangat berat, mulai dari uang sekolah yang harus mencari sendiri sampai di hasut ibunya terus-menerus, menanamkan sebuah dendam pada sang putra.


Tidak untuk Fani, dia tak pernah membicarakan keburukan atau kejelekan ayahnya pada putranya, Fani selelu mencari alasan yang bagus untuk menjawab semua pertanyaan putranya terutama tentang ayahnya.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, suasana di dalam mobil tersebut lumayan hangat dan di hiasi celoteh Bintang serta Ryan, sementara Fani hanya tersenyum dan sedikit menambahkan aksi kedua pria tersebut.


Sudah seperti keluarga yang bahagia saja, kedua pasangan tersebut harus mengesampingkan egonya demi sang putra, terutama Fani.


Mobil Ryan berbelok ke sebuah lapangan yang cukup luas, banyak lampu hias yang warna warni. Ryan sengaja mengajak mereka kemari, satu supaya bisa berdekatan dengan anak dan istrinya, kedua dia ingin memperkenalkan hal-hal yang berbau tradisional pada keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2