NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
22


__ADS_3

Fani sudah menganggap Pak Budi seperti keluarganya sendiri jadi dia sangat bahagia bertemu dengan supir papanya ini.


"Non, Alhamdulillah bisa bertemu non disini, Mamang sampai bingung harus cari kemana lagi, apalagi ada amanah yang meski mamang sampaikan pada, Non." Budi mengusap airmata Fani dengan kedua tangannya.


"Tuan berpesan sesuatu sebelum beliau pergi, yang pertama Mamang harus ceritakan semua kebenaran tentang kecelakaan Ayah Ryan! yang kedua Tuan menitipkan Kalung ini untuk Non!" Budi mengeluarkan sebuah kalung dari dalam tasnya, akhir-akhir ini dia selalu membawa tas tersebut, sewaktu-waktu jika bertemu dengan Fani, dia bisa langsung menyampaikan semua amanah Majikannya.


Dengan tangan gemetar, Fani menerima kalung peninggalan ibu tercintanya, Papa Raffi memang selalu memakai kalung tersebut, dia sangat mencintai dan akan terus menyimpan rasa cinta itu untuk Maria, istri tercintanya.


" Dan yang ketiga, ketika Nona Fani sudah berhasil keluar dari neraka tersebut, Tuan meminta Non untuk ke Singapura, dan menemui Uncle Lee, Nyonya Maria masih punya peninggalan sebuah perusahaan yang sekarang Di keloka mr Lee untuk Nona." Budi mengeluarkan sebuah amplop kecil, yang nantinya akan di serahkan pada Mr Lee.


"Mama, papa...." Airmata Fani terus bercucuran, bagaikan sumber mata air.


"Dan satu lagi Nona, perusahaan yang sekarang di pegang Oleh Ryan itu adalah hak Anda, Tuan Raffi memberikannya atas nama Anda," kata Budi.


"Iya mang, aku tahu apa yang harus aku lakukan, sore nanti Fani akan berangkat ke Singapura, dan tadi sebelum berangkat Fani menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Papa, hingga akhirnya Fani bisa bertemu dengan mang Budi." Fani menceritakan semuanya pada Budi.


"Syukurlah mamang belum terlambat, pantas saja sedari pagi, mamang pengen sekali mengunjungi makan tuan, dan niat itu tak bisa mamang bendung lagi," kata Budi.


" Fani akan berangkat dulu kesana, nanti kalau Fani sudah bertemu Uncle Lee, Fani akan menjemput, Mang Budi." Fani mengucapkan janji pada Budi.


"Tidak Non, mamang akan tinggal di sini, mamang akan buka usaha bersama umi, di sekitar makam sini, kebetulan di daerah sini prospek kuliner cukup bagus, sambil sering-sering mengunjungi Tuan, dan mem bersihkan rumah terakhir tuan dan nyonya Hartawan." Budi menolak untuk diajak kw Singapura.

__ADS_1


Pria paruh baya ini lebih suka tinggal di tanah air, walaupun hidup sederhana. Fani meminta Budi untuk tidak mengganti nomer telponny, supaya dia mudah untuk menghubungi dia.


Fani mohon pamit pada pria paruh baya tersebut dan berjanji akan sering menghubungi dia. Asalkan Pak Budi merahasiakan kebaradaannya pada Ryan dan siapaun juga.


"Iya non, mamang janji akan merahasiakan keberadaan non Fani pada siapaun juga termasuk Umi, mamang akan simpan rahasia ini baik-baik." Budi berjanji pada putri majikannya tersebut.


"Terimakasih mang, semoga setelah ini hidup mamang dan umi akan lebih baik lagi dan selalu di berkahi oleh Allah, Fani pergi dulu, Mang." Fani pamit pada supir setia papanya tersebut, membawa semua yang Budi berikan padanya.


Sekarang tujuannya ke Singapura sudah jelas, dia akan menemui pamannya di sana, dan akan mengembangkan perusahaan yang mamanya wariskan padanya.


Setelah Anaknya lahir nanti, barulah dia akan memikirkan cara untuk mengambil kembali miliknya yang sudah Ryan ambil.


Ryan yang pingsan sudah di bawa ke rumah sakit dan di tangani oleh Dokter. Keadaannya cukup kritis, dia terlalu banyak mengkonsumsi alkohol mulai dari kadar yang rendah hingga tertinggi.


"Bagaimana keadaan putra saya, dokter?" tanya Diana.


"Beliau harus dioperasi, nyonya. Tuan Ryan terlalu banyak mengkonsumsi alkohol dengan dosis tinggi, dan semua itu harus dia keluarkan dari dalam paru-paru beliau sebelum semuanya terlambat." Dokter menyarankan operasi terhadap Ryan saat ini juga sebalum semua terlambat.


Diana cukup syok, tapi dia harus kuat demi kesembuhan Ryan. Diana segera menandatangani surat persetujuan operasi, supaya pasien bisa segera selamat.


Ryan di bawa ke ruang operasi sore itu. Bersamaan dengan Fani berangkat ke Singapura. Dia juga mendapatkan kabar bagaimana keadaan suaminya tersebut dari Dr Ibrahim.

__ADS_1


"Fani, saat ini suamimu juga sedang melakukan operasi paru-paru dia yang sakit karena kebanyakan mengkonsumsi alkohol kadar tinggi, sepertinya dia sudah menyesali semua tindakannya terhadap kamu, dia sudah seperti orang gila mencari kamu." Dr Ibra menjelaskan semuanya pada Fani.


Dokter tersebut sebenarnya merasa iba dan kasihan terhadap pasangan ini, siapa tahu dengan memberitahukan keadaan Ryan saat ini, hati Fani akan luluh dan mereka biasa merajut asa kembali, kasihan juga pada calon anak yang Fani kandung karena akan lahir tanpa kasih sayang salah satu orang tuanya.


"Masih ada Bu Diana dokter yang akan menjaganya, Ryan bisa saja sadar, tapi bagaimana dengan ibunya, beliau sungguh kejam, jika Fani kembali dan kasihan pada Ryan, itu masih saja mungkin, tapi bagaimana dengan ibunya, dia sangat keras dan kaku, saya tidak mau anak saya yang akan menjadi korban berikutnya." Fani tetap akan berangkat ke Singapura.


Najwa juga mendukung keputusan Fani, biarkan dia tenang dan menata hidupnya dulu, lagian mereka juga tidak bercerai, siapa tahu suatu saat nanti hubungan ini bisa di persatukan kembali jika memang keduanya berjodoh.


Fani berpamitan pada kedua pasangan yang sudah membantunya selama ini dan berjanji akan selalu menghubungi mereka dan terus menyambung tali persaudaraan yang selama ini sudah terjalin.


Fani akhirnya berangkat ke Singapura, membawa duka dan luka yang masih menganga dalam dadanya, meninggalkan semua kenangan pahit yang dia dapat dalam kurun waktu sekitar sebulan ini.


Fani bisa saja memaafkan tapi semua luka itu sudah tertanam dalam hatinya, jadi dia belum bisa berdamai dengan keadaan yang ada saat ini.


Sementara Ryan kini sedang berjuang melawan maut, di meja operasi. Hidup dan matinya tergantung bagaimana hasil oparasi yang berlangsung saat ini.


Dalam dendam ini orang paling hancur adalah Ryan dan Fani, kalau papa Raffi beliau sudah tidak merasakan lagi pahitnya hidup di nunia ini . Tapi Fani dan Ryan mereka sama-sama hancur dan terluka, sementara orang yang menciptakan dendam demi untuk kepuasan dirinya masih bernafas dengan bebas dan sehat walafiat saat ini, tapi sekarang dia mulai tersiksa karena akibat ulahnya , putra semata wayangnya jadi seperti ini.


Diana terus berdoa dalam hati untuk keselamatan Ryan. Dia tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya.


"Tuhan selamatkan putraku, kalau terjadi apa-apa padanya akun tidak akan membiarkan perempuan itu hidup dengan tenang di duynia ini, samapai ke ujung dunia aku akan mencari dan menuntut balas atas semua yang sudah dia lakukan pada Ryan. Raffi Hartawan kau sudah membuat suamiku meninggal, sekarang anakmu juga sudah membuat putraku dia ambang kematian. Aku Diana bersumpah akan menemukan perempuan jalank itui dan menuntut semua yuang terjadi pada Rayn putraku." Diana bersumopah dengan lantang.

__ADS_1


Perempuan paruh baya ini belum sadar juga. Entah apa yang terjadi pada otaknya, sehingga apa yang dia pikir sama sekali tidak sama denganm kenyaataan yang terjadi. Bahkan dirinyalah yang sebetulnya sudah membuat Ryan seperti ini, bahkan kehilanagn isri dan calon putranya.


__ADS_2