NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
BERTEMU


__ADS_3

Setelah seharian bersama Bintang, akhirnya tiba saatnya Ryan harus berpisah lagi dengan si buah hati, Ryan kembali ke tanah air, rasanya waktu sehari ini seperti satu jam saja, mereka rasakan.


"Bintang, besok pagi om harus kembali ke negara Om tinggal, Bintang baik-baik ya disini, dan jaga mama! jangan biarkan mama menangis lagi, ya! Nanti kalau Om berkunjung di sini lagi, orang yang pertama kali om cari adalah Bintang." Ryan pamit.


Setelah mengantarkan putranya di kediaman sang ibu, Ryan minta izin pada anak kecil itu, tapi Bintang tak mau lepas dari pelukan Ryan.


"Om, jangan pergi! Bintang mau sama om, Bintang tak mau sama mbak LIli, kalau mama tidak ada Mbak Lili suka pergi-pergi, meninggalkan Bintang sendiri, Om." Bintang curhat pada Ryan.


Bahkan disana Lili juga ada, pengasuh itu mukanya langsung merah karena malu, saat Ryan menoleh ke arah dia.


"Maaf, tuan. Kalau sudah ngobrol suka kebablasan, hehe maklumlah tuan, saya juga butuh hiburan dan cari jodoh juga." Lily menjawab dengan lirih.


"Tapi kamu juga jangan tinggalkan tanggung jawab kamu, kalau kau ingin pacaran dan urusan Bintang terpenuhi, kamu bisa kok ajak Bintang dan pacar kamu, ke taman, ke mall. Arena bermain. Kalian bisa bersama dan Bintang juga senang. Aku yakin dia anak yang baik dan tidak rewel. Kalau seperti ini terus, mau kamu di pecat dari sini?" Ryan memberi ide yang cukup menarik hati Lili.


"Wah itu ide yang bagus, bagaimana Dik Bintang, kalau besok mbak Lili ajak dik BIntang ke taman patung Singa, kita jalan-jalan. Biarkan Om Ryan pulang di rumahnya, beliau pasti ada kesibukan yang tidak bisa di tinggal, seperti mama dik Bintang." Lili mencoba membujuk anak asuhnya.


"Tapi Om janji akan sering menemui Bintang atau menelpon Bintang!" Bintang mengangkat jari kelingkingnya dan mengikat janji dengan sang ayah.


"Om janji akan sering menghubungi dan kita VC bareng, Om akan langsung menelpon BIntang ketika sudah sampai di rumah Om," jawab Ryan. Air mata Ryan tak dapat di bendung lagi, entah kenapa dia akhir -akhir ini sering sekali mengeluarkan air mata itu, seperti wanita saja, kau Ryan.


Ryan membalas uluran jari mungil itu dan mereka saling menautkan jari kelingking masing-masing. Ryan juga mencatat no telpon putranya, dan Ryan memberikan no telpon tersebut pada Bintang.


Dengan berat hati Ryan pergi meninggalkan rumah mewah Fani, rumah yang bukan hak dia, Fani sudah menunjukkan pada dunia, dia adalah wanita karir yang sukses dan ibu yang baik bagi putranya, sedang siapalah dirinya. Timbul perasaan minder dalam hati pemuda tersebut, dan perasaan tak layak, jika nanti akan memperjuangkan mereka.

__ADS_1


Ryan mengendarai mobilnya dengan perlahan, rasanya berat sekali kakinya menginjak gas mobilnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Dua minggu berlalu, akhirnya hari yang mendebarkan untuk Ryan datang juga. Hari ini dia akan bertemu langsung dengan Fani dan juga Bintang, dari kabar yang Ryan peroleh Fani akan membawa Bintang serta kembali ke tanah air.


Siang ini, seorang wanita cantik, sangat mempesona, turun dari sebuah peawat pribadi. Wanita tersebut menggandeng seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Di belakangnya diikuti dua perempuan cantik juga, meeka berdua adalah Yani dan juga Lili.


Reno bersama jajaran staf PT My Angel, berjajar menyambut kedatang Fani dan Timnya, sementara Ryan hanya melihat mereka dari jarak yang agak jauh, tapi dia bisa memandang wanita itu dengan sangat jelas.


"Kau semakin cantik dan smart, Fan," gumam Ryan.


Reno memulai penyambutan tersebut, dia menyambut pemilik sekaligus CEO star fashion itu dengan baik.


Bintang masih celingukan, mencari orang yang dia harapkan kedatangannya. Ryan dia adalah Ryan.


Mata anak kecil itu sungguh tajam, meski Ryan bersembunyi tapi dia masih bisa melihat.


"Om, RYaaaan....!" Bintang berteriak memanggil namanya, anak tersebut melepas tangan mamanya dan berlari ke arah Ryan.


Fani sangat kaget, kenapa tiba-tiba Bintang melepas tangannya dan berlari entah kemana. Bahkan anak itu memanggil nama orang yang tak pernah dia lupakan namanya tersebut.


Ryan diam mematung, dia melihat buah hatinya berlari memburu dia dengan sangat antusias, Ryan keluar dari tempat persembunyian dia dan menyambut anak tersebut, masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Ryan tidak mau Bintang jatuh, dia sangat ingat, kalau sampai Bintang jatuh, dia bisa sakit bahkan pernah di bawa ke rumah sakit, bahkan sakitnya belum bisa di prediksi oleh dokter.


"Om, Bintang kangen." Bintang merangkul erat leher sang ayah dan tertawa lepas.


Dada Fani merasa sangat sesak, bahkan seperti di timpa batu yang amat besar, sebegitu besarkah harapan Bintang untuk bisa bertemu dan melihat ayahnya, meskipun dia tidak tahu kalau Ryan adalah ayah kandungnya.


Wanita cantik itu berjalan dengan perlahan menghampiri kedua pria tersebut. Ryan masih menggendong Bintang menyapa sang istri.


"Fani, bagiamana kabarmu?' tanya Ryan. Dia memulai percakapan itu.


"Baik, bahkan sangat baik. Jauh lebih baik daripada tiga tahun yang lalu." Fani menjawab dengan sinis.


"Alhamdulillah, dan selamat datang di tanah air, nanti kalau kamu ada waktu, aku ingin bicara masalah pribadi denganmu!" pinta Ryan.


"Oke, kebetulan aku juga ingin biacra empat mata denganmu, ada yang harus aku utarakan dan aku selesaiakan di sini." Kembali Fani menjawab dengan sinis.


"Terimakasih, setidaknya kamu masih mau bertemu dan bicara denganku, sekarang biar kami yang mengantar kalian ke hotel, kita bicara masalah bisnis dulu, barulah mas.alah pribadi kita." Ryan yang akan mengantar langsung anak dan istrinya ke Hotel.


"Maksudnya? Pak Reno apa ini?" tanya Fani pada Reno.


"Sebaiknya, pak Ryan sendiri yang mengatakannnya, saya hanya asisten beliau di sini, nyonya," jawab Reno.


Fani membuka mulutnya, dia tak habis pikir, kalau semua ini adalah ide dari Ryan.

__ADS_1


"Apakah ini perusahaan kamu, Ryan?" tanya Fani.


"maafkan aku, hanya ini jalan satu-satunya untuk bisa bertemu dengan kalian," jawab Ryan.


__ADS_2