
Kedua pasangan tersebut langsung menuju ke ruang Emergency. Ryan tak perlu tanya pada siapa -siapa lagi, kerena dia yakin putranya ada di sana saat ini.
Fani langsung menghampiri Lily, Menghujani pengasuh putranya tersebut dengan berbagai pertanyaan. Lily hanya diam dan menundukkan mukanya, merasa sangat lalai dalam menjaga Bintang.
Pak Budi mendekati Fani dan mengelus punggungnya. " Maaf, Non! Lily tidak bersalah, tadi kami berasa di ragunan, semua baik-baik saja, tapi ketika malan es krim, Nak Bintang mengalami mimisan, dan pingsan," jawab Pak Budi.
Orang tua itu menjelaskan kronologi kejadiannya pada Fani.
Tubuh Fani lemas, seakan tak bertulang, dia sangat syok mendengar apa yang terjadi, memang akhir-akhir ini Bintang sering mimisan, dan mudah capek. Akan tetapi dokter belum bisa menganalisis penyakit Bintang, mereka hanya mengatakan kalau Bintang mengalami Anemia atau kurang darah.
Tubuh Fani oling ke belakang, untung ada Ryan yang langsung menangkap tubuh istrinya itu supaya tidak jatuh.
Pria tersebut menangkap tubuh lemas tersebut ke kursi ruang tunggu, menyandarkan kepala Fani ke dalam dadanya. Ryan tahu saat ini wanita ini sangat membutuhkan dukungan serta suport dari orang-orang di sekitar dia, terutama dirinya.
"Kita tunggu Dokter nya, ya! serta kita berdo'a bersama untuk kesembuhan, Bintang," kata Ryan, dia memberikan semangat untuk sang istri.
"Bintang, Ryan...," bisik Fani.
"Kamu harus kuat! kita semua disini untuk Bintang, buah hari kita. Kalau kamu lemah bagaimana kau akan mejaha Bintang kita," kata Ryan lagi.
Sekitar Lima belas menit kemudian, Dokter yang menangani Bintang keluar. Seorang dokter spesialis anak yang cukup terkenal di Jakarta. pengalamannya sangat banyak, serta jam tayangnya juga sudah banyak.
"Keluarga, Adik Bintang!" panggil Dr Farhan.
__ADS_1
Ryan dan juga Fani segera menghampiri Dokter senior tersebut.
"kami orang tuanya, Dok," jawab Ryan. keduanya cukup panik dan deg-deg-an menanti kabar dari Dr Farhan.
"Ayo, keruangan, saya! Akan saya jelaskan bagaimana kondisi Adik Bintang saat ini," jawab Dr Farhan.
Pria paruh baya tersebut berlalu menuju ke ruang prakteknya dengan membawa hasil rekam medis Bintang.
Mereka bertiga langsung menuju ke ruangan yang tak jauh dari IDG tersebut.
"Bagaimana, Dok? apa yang terjadi pada putra Kami?" tanya Ryan.
"Adik Bintang saat ini mengalami sakit Anemia aplastik, yaitu suatu jenis kelainan darah yang terjadi karena kegagalan sumsum tulang belakang untuk menghasilkan sel darah," kata Dr Farhan.
Fani makin syok mendengarkan semua penuturan Dr Farhan. Airmatanya langsung jatuh tak terbendung lagi.
"Saya siap melakukan Transpalasi sumsum tulang belakang itu, Dokter! saya ayahnya, pasti saya bisa mendonorkan sumsum tulang belakang saya untuk Putra saya, Dok," kata Ryan.
Ayah Bintang langsung menawarkan diri dan dia sangat yakin kalau dia bisa berkorban untuk sang buah hati. Ryan berprinsip biar dirinya yang sakit, daripada sang anak ya g sakit.
Dokter juga menjelaskan tentang semua prosedurnya, serta efek samping yang akan dia peroleh setelahnya. Ryan tidak akan mundur dan tidak ragu sedikitpun.
Harini Ini Pria dengan status ayah Bintang menjalani prosedur yang di terangkan sang dokter, Fani juga menemaninya dengan baik.
__ADS_1
"Aku tidak akan apa-apa, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan putra kita, aku akan sangat menyesal jika tidak bisa melakukan apapun pada putraku," kata Ryan ssbelum masuk ruang pemeriksaan.
Fani kemudian menuju ke ruang ICU dimana Bintang di rawat disana. Tubuh gembulnya banyak di pasang alat yang di sama sekali tidak mengerti.
Sakit rasanya hati ibu satu anak tersebut, lebih baik dia kehilangan harta benda yang tidak abadi tersebut, daripada kehilangan putranya.
Sore nanti Hasil dari serangkaian tes atas Ryan akan keluar, semoga saja hasilnya bagus dan cocok.
"Fan, maafkan aku! Bintang seperti ini karena diriku. Dulu sewaktu kamu bersamaku aku sangat kasar bahkan saat aku meng-gaulimu. apakah ini juga bisa menjadi penyebabnya?" ujar Ryan.
Fani menutup mulut pria tersebut dengan tiga jari tangannya, dia menggelengkan kepalanya.
"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, semua ini adalah ujian kita dari Allah, bukan cuma kamu yang salah, aku ibunya juga bersalah, selama ini aku juga kurang meluangkan waktuku untuk menjaga dan bersamanya," jawab Fani.
Ryan langsung merengkuh tubuh wanita cantik yang bahkan sudah lama sekali dia rindukan tersebut, mereka saling mengemukakan suasana hati mereka saat ini. Fani menangis tersedu di dada suaminya, hingga kemeja pria tersebut basah.
"Maafkan, aku. Mulai sekarang kamu harus Fokus pada putra kita, biarkan aku yang mencari nafkah, dia sangat membutuhkan kedua orang tuanya," Kata Ryan.
Fani mengangguk, dia memutuskan akan memberi kesempatan kedua pada suaminya, membuktikan semua yang dia ucapkan tadi.
"Baiklah, demi Bintang aku akan memberikan kamu kesempatan kedua, tapi jangan pernah kau sia-siakan kepercayaan ku ini!" ujar Fani.
"Aku janji, aku akan membahagiakan kalian, dan menciptakan Keluarga kecil yang bahagia."
__ADS_1