
Hari berganti Hari, Ranti yang ijin lima hari juga tak kunjung kembali lagi, jadi Diana sendiri yang mengerjakan semua tugas rumah sendirian, Monik sedikitpun tak mau membantu. Dia malah menambha pekerjaan Diana.
Hari ini setelah memasak dan sarapan, Diana menjemur cuciannya di belakang rumah. Monika berteriak-teriak memanggilnya.
"Bu..., mana sarapan untuk Monik! sudah keburu siang nih." Tak ada sopan-sopannya Perempuan ini memanggil mertua yang bahkan usianya diatas ibu kandungnya sendiri.
"Ada di meja makan, kamu bisa ambil sendiri kan," jawab Diana.
"Tapi mana piringnya, yang ada cuma nasi dan sayur, piring gak ada, susu gak ada, seharusnya di sediakan semua." Monika protes.
"Kamu kan bisa ambil piring sendiri di dapur, apa susahnya ambil piring." Diana ikut berteriak dari belakang.
"Ibu ini, maunya setengah setengah, sekarang ambilkan piring lalu buatkan susu coklat yang kemarin Monik beli.!'' perintah Monik laghi.
"Buat sendiri ibu masih repot." Diana menjawab dengan kesal, dia belum beranjak dari tempatnya.
"Tidak mau ya, atau aku bongkar semua kebusukan ibu di depan Ryan, kita sama-sama kan di usir dari sini, aku sih gampang tinggal pulang ke rumah orang tuaku, kalau ibu?" Monika bertanya dengan sinis. Senjata ampuhnya akan membongkar semua yang telah ibu lakukan pada Ryan.
"Selalu saja mengancam." Diana menghentakkan kakinya dan meningalkan cuciannya untyuk melaksakan tugas dari Monik.
Diana segera pergi ke dapur, pertama mengambilkan piring dan sendok, pagi itu Diana cuma memasak nasi goreng, dia belum sempat ke pasar untuk belanja. Sekarang diana jarang ke supermarket untuk berbelanja.
__ADS_1
Dia harus mengirit uang, kalau di pasar harga jauh lebih murah. Tak ada Diana yang berkuasa di rumah sekarang, Tapi dia sekarang hanyalah seorang mertua yang di jadikan pembantu oleh menantu pilihan dia sendiri, bahkan di rumahnya sendiri.
Putra kandungnya saja tak pernah memertintah ibunya seperti ini ataupun berkata kasar.
"Silahkan nyonya, pringnya!" Diana menyodorkan piring tersebut pada Monika yang sibuk dengan gawainya, Perempuan itu sudah berdandan menor entah mau kemana, Untung saja, setelah sarapan dia segera pergi hingga sore hari, lalu pergi lagi hingga hampir tengah malam.
Untuk bertatap muka dengan suaminya pun hampir tidak pernah, tapi keduanya cuek saja baik Ryan maupun Monik. Ryan bahkan tak menganggap wanita ini ada, sedangkan Monik, yang penting uang bulanan terus lancar, dia tak akan mengusik Ryan.
Ryan memang tak menceraikan wanita tersebut sebelum ibunya yang meminta, dia tampak santai.
"Eh bu, tiap pagi nasi goreng, ayam goreng, bubur, mbok ya masak itu yang modern, buat steak kek, nasi kebuli kek, ayam bakar kek, ini mah itu-itu saja. Mana rasanya hambar begini." Monika mengomentari masakan Diana yang selera orang tua, mereka lebih suka masakan tradisional dan jadul daripada masakan yang sering muncul di televisi.
"Kalau mau ya di makan , kalau tidak mau ya tinggalkan, begitu saja kok repot,' jawab Diana dengan sinis.
Diana memutar bola matanya dengan jengah, dia tak habis pikir, bagaimana Monika yang kalem, sopan dan lemah lembut seprti dulu, berubah seratus delapan puluh derajat, ketika sudah menikah dengan Ryan.
"Eh, setelah jemur baju, Ibu setrikakan bajuku yang berwarna ping, nanti malam akan Monik pakai untuk acara reuni di hotel Eagle, awas ya kalau tidak licin seperti kemarin, lebih baik punggung ibu saja yang di setrika." Monika, berdiri lalu menyenggol bahu Diana yang masih berdiri di dekat meja, hingga wanita paruh baya ini terjengkang, karena kurang keseimbangan.
Begitulah kehidupan yang di alami Bu Diana selama setahun ini. Tubuhnya semakin kurus dan tidak terusus. Bgaimana tidak, dia setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, ketika Ryan mencarikan asisten rumah tangga untuknya, mereka tak kerasan bekerja di sana, setiap hari mendapat omelan dari Monika, yang tak suka dengan hasil kerja orang-orang itu, dia bahkan dengan tega memecat asisten terakhir tanpa uang pesangon sedikitpun.
Monika lebih suka kalau yang mengerjakan semau untuknya adalah ibu mertuanya. Diana sudah tidak tahan dan semakin geram dengan tingakah Monika yang tampah keterlaluan.
__ADS_1
Kesehatannya juga semakin lemah, Diana kalau malam sering mengeluh pinggang serta badannya sakit semua, kalau pagi dia harus meraba-raba dinding untuk bisa sampai di pintu keluar.
"Aku tidak boleh terus di kalahkan dengan perempuan ular ini, sekarang aku akan pasrah jika dia mengadu pada Ryan, biarlah Ryan marah padaku, asalkan keluarga dan anakku terlepas dari siluman ular tersebut."
Diana berbicara dengan cermin di kamarnya, mulai besok pagi dia akan merubah Semuanya, kalau perlu anak dan menantunya itu bercerai. Toh keduanya hanya menikah siri saja, jadi dengan mudah Ryan akan melepaskan talak pada wanita itu tanpa harus sidang dulu di pengadilan.
Pagi ini Bi Diana di sibukkan, bersih-bersih rumah, sementara menantu pilihan dia, masih tidur di kamarnya, Tadi malam wanita satu ini baru pulang jam sebelas malam, katanya dia kerja di kafe untuk menambah penghasilan tapi entahlah itu benar atau salah.
"Jam segini Monika belum bangung." Bu Diana menengok jam yang ada di dinding ruang keluarga. Bu Diana menggedor kamar menantunya yang belum bangun itu.
" Monik bangun, dan bantu ibu beres -beres atau kau yang masak!" Bu Diana teriak- teriak hingga suaranya serak.
Orang yang ada di dalam malah memasang headset di telinganya lalu dia melanjutkan tidurnya yang terganggu.
"Dasar menantu sialan, tak dapat diuntung, bisanya cuma nyusahin saja, sudah setahun lebih menikah juga gak bis melahirkan anak juga, sebel." Bu Diana terus berbicara sambil mengepel rumah besarnya sendiri.
Bagaiman mau hamil dan ppunya anak, klau merreka tak pernah tidur bersama, kalau bosan, Monika akan menyewa brondongnya untuk menuntaskan hasratnya, atau mencari om-om kaya yang bisa di poroti hartanya.
Perut Bu Diana mulai keroncogan, dia berjalan menuju ke Dapur, hari ini Bu Diana sengaja tidak memasak, dia hanya menghabiskan Cereal yang masih banyak.
"Lebih baik aku habiskan saja cereal ini di tambah susu, biarkan saja si Monik masak sendiri, capek aku." Diana berbicara sendiri sambil mnyeduh sereal yang akan di makan.
__ADS_1
Diana dengan santai makan serela tersebut, bahkan sambil menonton televisi. Kebetulan Monika sudah bangun dan dia berjalan menuju ke meja makan, akan tetapi tak satu makananpun yang tersaji di sana.
"Bu..., sarapan Monik mana!" Teriak mOnika. Diana diam saja, dia pura-pura tak mendengar panggilan menantu durhaka tersebut.