NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Pesan Terakhir Raffi Hartawan.


__ADS_3

Fani mungkin belum tahu kalau dirinya hamil, kalau bukan karena Ryan yang mengatakan semuanya tadi.


 Ryan belum memberitahu ibunya tentang keadaan Raffi dan Fani, pikiran pemuda ini sungguh kalut, kalau di tambah dengan sikap ibunya, pasti akan semakin ruwet.


Ryan menemui dr Ibrahim di ruangannya, kebetulan pasiennya sudah habis, dan jam prakteknya juga sudah habis.


"Ada yang bisa di bantu tuan?" tanya Dr Ibra kepada Ryan yang kusut itu.


" Saya suami dari Stefani Hartawan Dok, pasien yang melakukan percobaan bunuh diri tadi, dan Dokter UGD menyatakan kalau dia hamil," kata Ryan.


" Iya betul, lalu?" tanya Dr Ibra.


" Saya ingin menggugurkan kandungan istri saya, Dok." Ryan mengatakan niatnya dengan lirih.


Dr Ibrahim marah, dia berdiri dan menggebrak meja kerjanya.


" Apa-apaan ini, di luar sana banyak yang puluhan tahun tidak diberi kesempatan memiliki anak, mereka bahkan melakukan segala cara supaya bisa cepat punya anak, ini apa, di berikan kesempatan oleh Allah untuk mempunyai keturunan malah mau di hilangkan, dimana otak dan hati nurani kamu anak muda!" Dr Ibrahim benar-benar marah.


" Maaf dok, ini terpaksa saya lakukan, istri saya saat ini mengalami depresi yang cukup serius, saya ingin fokus ke penyembuhan dia dulu, saya takut kalau di teruskan akan berakibat fatal pada keduanya Dok, mumpung usia kandungannya masih sangat muda dokter." Ryan mengeluarkan jurus rayuannya.


Ryan percaya kalau Dr Ibrahim akan percaya dengan apa yang dia jelaskan, mengingat keadaan Fani memang seperti itu.


Dokter Ibrahim yang tadinya marah bahkan mukanya memerah, kini duduk perlahan di kursinya, menelaah semua yang di katakan Ryan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, sehingga dia bisa depresi seperti itu?" tanya Dokter Ibra.


"Dia di perkosa dok, oleh keponakan saya, waktu itu saya masih belum pulang kerja, keponakan saya datang dalam keadaan mabuk berat, Tanpa curiga Istri saya membukakan pintu, dikira itu saya yang datang." Ryan mengarang sebuah cerita tragis supaya Dokter Ibra percaya.


"Semenjak saat itu, dia jadi trauma dan depresi bahkan sering berusaha bunuh diri dengan menyakiti dirinya sendiri." Cerita Ryan sungguh membuat Dr Ibra merasa iba akan keadaan Fani.


"Kau benar nak, maafkan saya karena sudah salah paham padamu, kamu benar kalau dia mengetahui dirinya hamil, maka akan semakin parah depresinya, sebaiknya kamu jangan pernah meninggalkannya, biar bagaimanapun juga dia adalah korban." Dokter Ibrahim Akhirnya setuju dengan keputusan Ryan kalau aborsi kali ini memang harus di lakukan dan keadaan gawat serta genting.


" Baiklah nanti sore saya akan melakukan aborsi itu, pastikan istrimu belum tahu kalau dia hamil, kamu juga harus sabar dan ikhlas, nanti saya akan rekomendasikan psikiater yang bagus dan handal di kota ini." Dokter Ibra menepuk bahu Ryan dan menguatkan pemuda tampan di depannya itu.


Ryan segera keluar dari ruangan Dr Ibra. lalu dia melangkahkan kakinya ke sebuah taman, menenangkan diri.


Di Ruang ICU Raffi sadar dari pingsannya, Budi yang sadari tadi malam menunggunya, merasa senang, dia segera bangkit dari tempat dan akan memanggil dokter. Tapi tangan Budi di cekal oleh tangan bosnya itu.


Budi mendekati bosnya itu, bahkan mereka sudah seperti saudara sendiri, kemana- mana selalu bersama, bahkan Ketika Raffi meminta untuk meninggalkannya, Budi tidak bergeming. Budi bahkan menawarkan rumahnya untuk mereka tempati bersama.


Budi mendekatkan telinganya ke mulut Raffi yang tertutup Selang oksigen.


" A- aku titip Fani, kalau kau ber ha sil menyelamatkannya, bawa di ke Singapore, temui Mr Lee ong ku. Masih ada perusahaan yang aku tinggalkan untuknya dari mamanya." Dengan terbata -bata. Raffi menitipkan Fani pada Budi.


Di negara itulah ibu Fani di lahirkan, mr Lee adalah adik mama Fani, perusahaan itu di kelola oleh Mr Lee dan berkembang pesat disana. Mr Lee sendiri memiliki perusahaan sendiri.


Budi paham apa yang katakan Tuannya tersebut, dan dia juga mengenal siapa Mr Lee terebut.

__ADS_1


" Iya tuan, tuan harus sembuh dulu, kita akan jemput non Fani dari neraka itu tuan, lalu melaporkan tindakan biadab mereka ke polisi, jadi tuan harus sembuh, harus kuat." Budi menyemangati majikannya, mereka masih punya tugas untuk menyelamatkan Fani.


"Aku sudah tidak kuat lagi Bud, istri dan kakak Fani sudah menungguku, sampaikan permintaan maafku pada Fani putriku, papanya ini sungguh bodoh, sudah membuat anaknya menderita, buat Fani ku bahagia seperti dulu lagi, kau juga ayahnya kan!" Raffi dengan tersendat sendat masih bisa menyelesaikan perkataan dia.


"Berikan kalung ini padanya, itu adalah peninggalan ibunya!" Raffi menunjuk ke arah lehernya, memang masih terpasang sebuah kalung perak peninggalan mendiang istrinya.


"Iya tuan, saya berjanji akan menyelamatkan Non Fani dari iblis dajjal itu, bahkan orang-orang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal, memangnya siapa ayahnya yang pernah kita tabrak, perasaan saya belum pernah menabrak orang hingga menunggu tuan, tapi kita yang di tabrak." Budi mengingat Ingat, dulu pernah di tabrak sebuah taksi yang supirnya mengantuk.


Raffi mengangguk, membenarkan apa yang Budi katakan. " Iya, Ryan adalah anak supir taksi tersebut," jawab Raffi.


Budi kaget, bukan mereka yang menabrak taksi itu, melainkan supir itu yang menabrak mereka hingga Raffi mengalami kelumpuhan, bahkan satu tahun lebih tidak bisa berjalan, kejadian itu terjadi ketika Fani masih kecil.


"Ceritakan kejadian yang sesungguhnya! jangan biarkan dia hidup dengan dendam, aku takut dia terhasut oleh omongan satu orang, yaitu ibunya, istri Supir itu sangat marah waktu itu bahkan berjanji akan menuntut balas." Raffi mengingat Budi akan janji Diana Padanya sewaktu mereka mengantarkan kompensasi dan bantuan pendidikan untuk putranya.


"Berarti selama ini Nak Ryan di besarkan dengan sebuah dendam yang salah, dan pemuda ini sangat percaya pada ibunya, sebenarnya kasihan juga hidup dia ya tuan," ucap Budi.


Sekali lagi Raffi mengangguk, dadanya kembali sesak, dengan sekuat tenaga dia mengikuti Budi melantunkan kalimat syahadat.


Raffi menghembuskan napas terakhirnya sebelum bertemu dengan putri tercintanya, kini hanya tinggal Fani sebatang kara, dia harus bisa berjuang untuk dirinya dan calon anaknya.


" Tuan, selamat jalan, Innalillahi wainnailaihi raji'un. Dokter...!" Budi memanggil Dokter dan menekan tombol darurat di ruangan tersebut.


 Tubuh Budi luruh ke lantai dia lemas bagikan tak bertulang, bagaimana dia bisa mengemban amanat majikannya itu tanpa ada dukungan Bos serta saudaranya itu.

__ADS_1


Beberapa Dokter masuk, melakukan tindakan pertolongan pertama. Budi keluar dengan Lunglai, pria paruh baya itu melihat Ryan sedang berjalan ke arahnya, seorang pemuda yang menyebabkan semua ini terjadi pada keluarga majikannya.


__ADS_2