NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
DARAH UNTUK FANI


__ADS_3

Ryan masih memperhatikan mobil mewah tersebut hingga benar-benar hilang dari pandangan matanya, rasanya seperti ada yang hilang dalam hidupnya, lelaki itu masih saja terus melamun kalau bukan Reno yang memanggilnya.


"Tuan!" panggil Reno.


"Eh, Ren, bagaimana?" tanya Ryan.


" Kita berhasil, Tuan. Nyonya Fani mau menandatangani kontrak kerjasama kita, dan minggu depan beliau akan ke Indonesia untuk melihat sendiri proses pembuatan benang, serta pemilihan kualitas bahannya." Reno mengabarkan pada Ryan kalau Fani akan pulang ke tanah air, jadi dia akan gunakan waktu itu sebaik-baiknya untuk meminta maaf pada Fani, apapun hasilnya nanti.


"Good job Reno, Reni. aku akan mengirimkan bonus ke rekening kalian, setelah ini siapkan penyambutan kepulangan istri dan anakku itu!" pinta Ryan.


"Baik, Tuan." jawab Reno.


"Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan,Tuan?" tanya Reno lagi.


"Kalian bisa jalan-jalan atau kemana gitu, besok pagi baru kembali, kalian juga perlu refreshing, kan!" Ryan mem bebas tugaskan Asistennya hari ini, supaya menikmati hari yang masih tersisa di negara tersebut.


Sedangkan Ryan, dia juga akan keluar sendiri entah kemana, tak jelas tujuannya. Yang penting dia keluar dari hotel. Ryan mengemudikan mobilnya perlahan mengelilingi Negeri singa tersebut.


Satu jam lebih Ryan berkeliling hingg dia sampai di depan rumah sakit besar, matanya tiba-tiba menoleh, entah apa yang menarik perhatian dia disana. Ryan melihat mobil yang sangat dia hafal pemiliknya, masuk ke dalam pelataran rumah sakit itu.


"Itukan, mobil Fani? siapa yang sakit?" Ryan ikut membelokkan mobilnya ke sana, dia parkir agak jauh dari mobil tersebut.


Perawat UGD mendorong brankar ke arah mobil tersebut, mereka mengeluarkan seseorang dari dalam mobil mewah tersebut. sementara Lili juga turun dari mobil itu dengan menggendong Bintang.


"Siapa yang sakit? apakah Fani?" Ryan ikut cemas. Lelaki itu turun dari mobilnya melihat dari jauh siapakah gerangan yang sakit.


Ryan berpapasan dengan seorang suster yang juga akan ke ruang UGD tersebut.


"Suster maaf, siapa pasien yang baru saja masuk UGD itu?" tanya Ryan.


"Nyonya Stefani, Tuan. beliau baru saja mengalami kecelakaan," jawab suster, sambil terus berjalan meninggalkan Ryan yang masih berdiri mematung di sana.


Deg


"Fani kecelakaan," gumam Ryan.

__ADS_1


Diam-diam Ryan mendekati tempat pertolongan pertama tersebut.


"Mbak Lili, mama kenapa? tadi motor itu jahat banget, Mbak, dia menabrak mama. hiks hiks." tanya Bintang dengan tangis harunya.


"Doakan mama tidak apa-apa ya, Dek! Mama harus di obati supaya mama bisa bermain dengan Dek Bintang lagi." Lily menenangkan anak asuhnya tersebut.


Tak lama kemudian, mr Lee bersama istrinya juga datang, dengan berlari-lari.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Mr Lee pada Lily dan supir Fani.


"Dokter masih menangani, Nyonya Fani Tuan," jawab supir Fani.


"Apa yang terjadi sebelumnya?" tanya Mr Lee lagi.


"Saat kami berada di depan supermarket XY ada sebuah motor tiba-tiba muncul dan menabrak nyonya Fani," terang sang Sopir.


Mr Lee langsung menghubungi Anak buahnya.


"Kalian cari tahu siapa yang menabrak keponakan ku di depan supermarket XY, lalu bawa orangnya di hadapanku!" perintah Mr Lee pada seseorang di seberang sana.


"Ayo, Kita sama- sama berdoa supaya mama cepat sembuh, ya!" Mr Lee membimbing Bintang memanjatkan Doa.


Sementara Ryan masih di tempatnya, dia bersandar di dinding rumah sakit yang dingin.


Suasana menjadi sunyi, tak ada yang berbicara sama sekali. Mereka menunggu kabar dari dalam sana.


Satu jam berlalu, belum ada Dokter maupun suster yang keluar, hingga suara pintu terbuka dari dalam, suara yang amat di nanti semuanya.


Mr Lee dan istrinya langsung mendekati sang dokter. "Bagaimana keadaan keponakan saya, Dok?" tanya Mr Lee.


"Lukanya cukup parah, di bagian dada. Kami akan mengoperasi beliau dan membutuhkan donor darah B, dan stok darah ini sedang kosong disini, kami menunggu kiriman dari RS C. Jadi, sambil menunggu kantong darah datang. Tolong diantara keluarga, siapa yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien? ikut kami untuk memdonor!" pinta Dokter.


Semuanya saling pandang, Mr Lee pun yang notabene paman Fani darahnya tak sama, hanya Bintang yang sama, tapi tak mungkin anak tersebut yang akan menjadi Pendonor.


"Saya akan carikan orang secepatnya, Dok," jawab Mr Lee.

__ADS_1


Ryan yang mendengar istrinya butuh transfusi darah, segera mendekati dokter tersebut.


"Ambil darah saya, berapapun yang dia butuhkan dokter!" pinta Ryan.


"Siapa kamu, kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Lee.


"Tuan, tolong berikan saya kesempatan untuk membantu Fani, setelah ini saya akan pergi dari sini!" Mohon Ryan.


"Om Ryan!" panggil Bintang.


Ryan mengangguk pada putranya, dan kembali menoleh ke arah Mr Lee.


"Saya Ryan, suaminya. Orang sudah membuat istri dan anaknya menderita selama ini." Ryan memperkenalkan dirinya.


Mr Lee mengangkat tangan dia, ingin memukul pemuda yang ada di depannya ini, tapi segera di cegah sang istri.


"Biarkan dia menyelamatkan Fani kita dulu, kau harus bisa berfikir rasional, jangan gegabah, Lee," kata nyonya Lee.


Mr Lee menarik tangannya kembali, dan mengijinkan Dokter untuk membawa Ryan. Tubuh Fani juga di bawa ke ruang operasi, dengan Ryan dan Mr Lee yang menandatangani Surat ijin tersebut.


Sebelum masuk, Ryan mencium pucuk kepala Bintang. "jangan katakan semua ini pada Fani nanti, Tuan!" Ryan juga meminta Mr Lee untuk tidak menceritakan kalau Ryan lah yang mendonorkan darahnya Untuk Fani.


Mr Lee hanya mengangguk, menyetujui ucapan Ryan lalu menoleh ke arah cucunya.


" Sepertinya, Bintang cukup dekat pemuda ini, kapan mereka bertemu?" heran Mr Lee.


Ryan mengikuti langkah dokter untuk melakukan pemeriksaan, memastikan darah Ryan cocok dengan pasien.


Suster yang bertugas segera melakukan proses pengambilan darah Ryan. Suster tersebut mengambil tiga kantong darah Ryan.


"Fani, semoga tiap tetas darah itu bisa menyelamatkan nyawa kamu, Bintang sangat membutuhkan kamu, dan aku. Sembuh Lah Fan! Kalau suatu saat kau mau memaafkan dan menerimaku kembali, aku berjanji akan membahagiakan kalian, semua kasih sayangku hanya untuk kalian." Ryan memejamkan matanya sejenak untuk mengistirahatkan diri. setelah diambil lumayan banyak darahnya.


Jangan kan hanya tiga kantong darah, Ryan siap jika semua darah dia diambil untuk menolong Fani.


Pemuda itu menerawang ke atas langit-langit, rumah sakit. Dia akan pergi dari sana setelah ini, dia rak mau kehadiran dia di tempat ini, akan memperkeruh suasana dan menghambat proses penyembuhan Fani.

__ADS_1


__ADS_2