NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
KEMBALI KE RUMAH


__ADS_3

Ryan membawa Fani ke sebuah kamar, kamar Milik Seorang gadis bernama Stefani Hartawan, nuansa kamar tersebut tak berubah sama sekali, semua tatanannya masih seperti dulu, foto, almari boneka, ranjang sampai cat kamar. Sedikitpun tak ada yang berubah.


Ryan meletakkan tubuh itu dengan perlahan, layaknya kaca yang mudah pecah, di susul Ramon yang menggendong Bintang.


Di belakangnya lagi Ada Reno dan juga Lili dan Yani menyusul. " Reno panggil Dokter!" perintah Ryan pada asisten dia yang satu itu.


"Kalian berdua tolong, temanan Fani! saya tidak mau dia syok melihat akun yang ada di sini." Ryan meminta Lili dan Yani mengurus Fani selama menunggu Dokter datang.


Kemudian Lili dan juga Yani yang menemani Fani disana, menunggu Dokter Nadia datang.


"Mamaku kenapa? Om Papa." Bintang bertanya tentang kondisi ibunya.


" Tidak apa-apa sayang, mama hanya kecapean." Ryan kembali menggendong putra semata wayangnya itu, dan membawanya keluar. Para pria keluar dari kamar tersebut, supaya Fani bisa menghirup udara dengan bebas.


Ryan mengajak Bintang ke kamar khusus anak, letaknya tak jauh dari Kamar mamanya.


"Ini kamar Bintang, bagaimana suka tidak?" tanya Ryan.


laki-laki itu mendekor kamar putranya dengan cosplay Super Hero kesukaannya, banyak gambar dan miniatur super hero disana.


"Wah, keren sekali Om Papa. Ini mah seperti yang kita bicarakan itu, terimakasih." Bintang sangat suka, dia mencium seluruh wajah Ryan dengan semangat. Anak kecil itu turun dari gendongan Ryan, berlarian di kamar yang ramai dan sesuai dengan impian dia.


Bintang sudah lupa, tadi akan menghukum Ryan karena sudah membuat mamanya menangis.


Sementara Dokter Nadia sudah datang dan segera memeriksa Fani.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya yani.


"Tidak apa-apa, sepertinya Nyonya Ryan kaget saja, saya akan beri vitamin dan obat penambah darah saja, beliau mengalami anemia. Minum yang banyak ya Nyonya dan jangan Capek-capek!" Dokter Nadia memberi vitamin dan obat, lalu dia undur diri.


Setelah kepergian Dokter tersebut, Yani segera menghampiri Bos sekaligus Sahabat nya itu. "Apa yang terjadi? apa dia menyakiti kamu?" tanya Yani dengan hati-hati.


Dari tadi semenjak sadar dari pingsannya, Fani seperti orang linglung, dia cuma tolah-toleh mengamati kamar ini.


Air mata Fani langsung lolos, selama tinggal di Singapura, Yani tak pernah melihat wanita ini menangis di depannya, biasanya Fani akan memendam sendiri masalah pribadinya.


Yani segera merangkul tubuh lemah Fani dan memelukanya. " Kamar ini, masih seperti dulu, tak ada yang berubah sedikitpun, cuma catnya saja yang baru," kata Fani.


Dia bangun dari ranjang queen size tersebut, memeriksa semua sisi kamarnya secara perlahan, Foto dia waktu remaja, Anak-anak, masih di pasang di nakas kamar tersebut.


Yani baru sadar dengan melihat Foto Fani terpampang di dinding kamar tersebut. "Apakah ini kamar kamu?" tanya Yani selanjutnya.


Fani mengangguk perlahan. " Semua masih seperti dulu, aku pikir dia bilang kembali ke rumah adalah rumah ibunya yang seperti neraka itu, ternyata dia membawaku kemari. Rumah yang selalu ku rindukan waktu itu, ini adalah rumah papa Raffi, dia mengembalikan aku dimana dia mengambil dulu." Pundak Fani bergetar, tertanda dia kembali menangis.


Ibu satu anak itu berjalan keluar dari kamarnya melihat suasana yang sama juga, langkahnya terhenti di sebuah kamar yang berada di samping kamarnya. Pintunya tidak tertutup rapat. Wanita itu penasaran dengan kamar itu.


Dulu di situ tidak ada kamar, tapi sebuah perpustakaan mini, Ryan merubahnya menjadi kamar Bintang, supaya mudah mengawasi dan merawatnya.


"Kamar siapa itu?" batin Fani. Hatinya tergerak until masuk ke dalam sana, Fani membuka pintu yang tak tertutup sempurna tersebut, dia melihat sebuah pemandangan yang indah.


Seorang pria tampan tidur memeluk Seorang ank kecil di tengah-tengah mainan yang tertata rapi, dia melihat Bintangnya sangat bahagia di pelukan laki-laki itu.

__ADS_1


"Apakah kamu lihat itu, Fan? apakah kau tega memisahkan mereka lagi?" tanya Yani dengan berbisik.


Fani buru-buru keluar dari sana, kalau dia tetap ada di kamar tersebut, hatinya mungkin akan luluh, tapi sekarang Fani harus tegas, dan memantapkan diri untuk tetap menggugat cerai Ryan.


"Mereka masih bisa bertemu, dan saling menyayangi antara ayah dan anak, itu semua juga tak harus dalam ikatan rumah tangga." Fani menjawab Pertanyaan Yani.


"Tapi kamu akan mematahkan harapan putramu, apa kamu tak bisa memaafkan Ryan? kurasa dia sudah berubah, pengorbanan dia sudah banyak untuk menemukan kalian selama ini. Kau juga tahu sendiri, kan?" Yani mencoba untuk membuka mata hati Fani.


Yani pikir dari sekian banyak pria yang mendekati sahabat dia itu, hanya Ryan yang tulus, apalagi dia pernah merasakan bagaimana kehidupan mereka dulu. Yani yakin kalau Ryan sudah benar-benar berubah dan bisa membahagiakan Sahabat terbaiknya ini.


"Di bayar berapa kamu sama dia?" tanya Fani dengan nada ketus.


"Untuk melihat sahabat ku bahagia, aku tak perlu bayaran, Fan! kau juga tak boleh egois, ada perasaan yang harus kamu jaga selain perasaan kamu." Yani belum menyerah.


"Ah, ini urusan rumah tanggaku, kamu tidak perlu ikut campur, bekerjalah dengan baik, kita ke sini untuk urusan bisnis." Fani masih tak mau mendengar apa yang Yani katakan barusan.


"Oke, oke bu. Aku akan diam saja, dan kita kemari untuk urusan pekerjaan, aku tak akan membahas lagi masalah pribadi kamu, kau yang lebih tahu dirimu, tapi satu hal yang aku tahu. Kau sebenarnya masih mengharapkan pria itu, tapi ego yang kau pertahanan, pikirkan itu sebelum menyesal." Yani langung pergi meninggalkan Fani sendiri disana.


Yani kembali ke kamar yang sudah di siapkan untuk dirinya. Tubuh Fani memberosot ke bawah, dia bersandar pada pagar besi lantai dua tersebut, sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.


"Nggak aku tidak boleh terpengaruh, tekadku sudah bulat, aku kesini untuk mengakhiri semua penderitaanku bukan kembali ke masa lalu." gumam Fani.


"Aku bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anakku, selama ini aku bisa, dan dia. kenapa kau berubah seperti ini, mana Ryan yang arogan dan kejam itu? kau pengecut Ryan." Kembali Fani meremas dadanya.


Setelah beberapa lama, Fani bangkit dari tempat nya, dia berjalan menuruni tangga rumah mewah peninggalan ayahnya itu. Fani menelusuri setiap sudut rumah itu, sama sekali tak ada yang berubah. Semua sama seperti dulu. hanya penghuninya yang berubah.

__ADS_1


__ADS_2