
Ryan jadi ingat sesuatu hal, ini menyangkut nyawa anaknya yang saat ini di kandung Fani.
"Pak Budi, aku harus ke Rumah sakit, ini menyangkut nyawa anakku, pak." Ryan mengingat satu hal penting.
Ryan angsung berdiri dari tempatnya dan berlari sangat kencang menuju ke mobilnya, tujuannnya hanya satu yaitu Rumah sakit. Ryan harus segera menemui Dokter Ibra kembali dan membatalkan semua tundakan Aborsi seperti yang dia inginkan sebelumnya.
Ryan segera melakukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, bahkan dia menerobos lampu merah, supaya cepat sampai di rumah sakit.
Sementara itu. Mobil Alphard hitam yang membawa Fani sudah sampai di kediaman Dr Ibrahim. Nampak seorang perempuan cantik seumuran Dokter tersebut sudah menunggu Di teras rumah mereka. Najwa nama istri dokter Kandungan tersebut.
" Asisten Dr Ibra membuka pintu belakang mobil tersebut dan membantu Fani turun dari dalam, kondisinya masih sangat lemah saat ini.
Najwa segera membalas Asisten suaminya tersebut memapah Fani hingga ke sebuah kamar yang sudah dia siapkan untuk tamu spesial ini.
" Assalamu'alaikum dek Fani," sapa Najwa.
"Waalaikumsalam, Bu," jawab Fani.
" Jangan panggil Bu, panggil saja Kak Najwa, aku akan menganggap kamu seperti adikku sendiri, oke." Najwa mengacungkan jempolnya.
Berharap Fani setuju dengan apa yang dia katakan. Fani mengangguk dan tersenyum tipis, dia juga menitikkan airmatanya, tapi kali ini bukan airmata kesedihan, tapi dia terharu, karena masih ada orang sebaik Dokter Ibra dan istrinya ini.
"Terimakasih, Kak Najwa," ucap Fani.
Mereka sampai di kamar tamu, dan membantu Fani untuk duduk nyaman. Asisten Dokter Ibra segera undur diri takutnya Sang Dokter membutuhkan bantuan dirinya, disini tugasnya sudah selesai yaitu mengantarkan Fani selamat sampai di kediaman dia.
Najwa memeriksa keadaan Fani, dia sangat prihatin dengan semua yang terjadi pada calon ibu muda ini.
" Ya Allah, tega sekali ibu mertua dan suami kamu itu, Dek. Bisa -bisanya dia sekejam ini, bagaimana kalau kita lapor polisi saja? supaya mereka di hukum, ini sudah masuk tindak pidana, bahkan KDRT." Najwa sungguh geram dengan ini semua.
" Jangan, Kak! " Fani mencegah Najwa untuk lapor polisi.
__ADS_1
" Kenapa? apalah kamu masih mencintai suami kejam seperti itu? kalau kamu kembali lagi kesana, maka hal yang serupa bisa terjadi lagi." Najwa heran dengan Fani yang melarang dirinya untuk lapor polisi.
"Bukan itu, tapi aku ingin dia hidup dengan penyesalannya, hukuman penjara terlalu enak untuk meraka, dan aku yakin kalau sebentar lagi Ryan akan tahu kebenarannya bahwa tidak mungkin papa melakukan tabrak lari seperti yang mereka sangka selama ini," kata Fani.
Fani yakin, kalau Ryan tahu akan kebenarannya maka dia akan meyesal itu adalah hukuman yang terbaik untuk suami dan mertuanya tersebut.
Najwa mengangguk paham, dia akhirnya sependapat dengan ide Fani, memang penyesalan adalah hal yang paling menyakitkan, apalagi karena sebuah kesalahan fatal.
"lalu apa rencana kamu, Fan?" tanya Najwa.
" Bantu saya untuk kembali ke Singapura tanpa di ketahui oleh siapapun, terutama Ryan. Di negara itu aku akan bangkit dan melahirkaan anakku seta membesarkan dia, baru aku akan kembali lagi dan mengambil kembali apa yang sudah dia ambil dariku dan papaku." Fani menggenggam erat tangannya.
Najwa jadi ngeri sendiri, dia yakin kalau seorang wanita sudah menunjukkan taringnya maka dia akan lebih ganas dari seekor singa.
"Oke, kebetulan itu bidang pekerjaanku, IT. Aku akan membantu kamu, lolos dari sini, tanpa terlacak identitas kamu, jadi kau akan tenang untuk pergi dan menyongsong kebahagiaan kamu, Dek." Najwa mengelus bahu Fani dan berjanji akaan satu hal itu.
Perempuan cantik itu, meminta Fani untuk istirahat dulu nanti setelah dia sembuh dan kuat, maka pemberangkatan dirinya ke Singapura akan segera di laksanakan.
Ryan berpapasan dengan Dokter Ibra yang baru saja melakukan visit pasien.
hah...hah...hah.
"Dokter!" panggil Ryan.
"Kenapa, Tuan?" tanya Dr Ibra, dia sedikit sewot pada Ryan.
"Dok, please batalkan tindakan aborsi terhadap kandungan istri saya!" Ryan mengangkuopkan kedua tangannya.
"Kenapa tiba-tiba Anda igin membatalkannya?" tanya Dr Ibra.
"Maafkan saya Dok ini adalah masalah probadi kami, tapi saya mohon hentikan proses itu, saya akan terima anak itu, Dokter." Dr Ibra tersenyum tipis.
__ADS_1
Tapi usaha Ryan sudah terlambat, istrinya sudah tidak berada di Rumah sakit tersebut sekarang.
"Maaf tuan, Anda terlambat," kata Dr Ibra.
"Mak- maksud, Dokter?" Ryan tercengang mendengar apa yang Dr Ibra katakan barusan.
"Nona Fani sudah tidak ada di rumah sakit ini, beliau kabur, ketika kami akan membawa beliau ke ruang operasi, Istri Anda sudah tidak ada di tempat," jawab Dr Ibra dengan santainya.
Ryan kembali di kagetkan oleh sebuah kenyatan, kalau istrinya menghilang. Ryan langsung berlari menuju ke ruangan dimana Fani di rawat, Suster sedang membereskan tempat tidur Fani, yang akan di pakai pasien lain.
"Sus, dimana pasien yang ada di sini?" tanya Ryan.
"Maaf tuan, beliau sudah tidak berada di sini, kami sudah mencarinya kemana-mana tapi hasilnya nihil," jawab Suster.
Tubuh Ryan seketika lemas bagaikan ta bertulang, dia sangat menyesali semua perbuatannya, niat hati ingin menebus semua kesalahan yang dia perbuat terhadap istri malangnya ini.
Ryan meremas rambutnya dengan kasar, dia seperti orang bingung, berlarian kesana-kemari mencari yang sudah pergi. Ryan mengitari seluruh rumah sakit, hingga sampai di jalan sekitar.
Tak satupun tanda-tanda Fani ada di sana. Ryan menuju ke ruang pusat CCTV dia mencari di sekitar ruangan, akan tetapi hasilnya juga nihil. Dokter Ibra suda meminta pihak CCTV untyk menghapus bagian itu.
Ryan berjalan dengan gontai menuju ke mobilnya. Pemuda itu ambruk di sebelah mobilnya. "Fani..., dimana kamu...." Ryan tergugu. Dia mmukuli dirinya sendiri, tangannya bahkan dia menampar dirinya sendiri.
"Dasar bodoh kau Ryan, kau sungguh suami terjahat sedunia, kau sudah menciptakan neraka untuk keluargamu sendiri, bahkan kau menjadi pembunuh...._ Ryan sungguh seperti orang gila, dia meraung-meraung sendiri disana.
Sebuah penyesalan datang di akhir cerita, apa yang bisa dia lakukan, semuanya sudah terlambat, dendamnya terpenuhi tapi dia hancur sehancurnya.
" Fani...." Ryan kembali memanggil nama itu, bahkan dia berjanji pada Sang Pencipta akan membahagiakan dia dunia akhirat.
Dokter Ibra melihat semuanya itu, tapi di dia tidak bisa berbuat apa-apa. Iba rasanya melihat pemuda yang menyesal itu.
" Dok, apa yang terjadi pada Tuan Ryan itu?" Tanya Asisten.
__ADS_1
" Entahlah, itu urusan pribadi keluarga mereka, kita tidak boleh ikut campur." Dr Ibra meninggalkan Tempat parkir tersebut menuju ke mobilnya.