
"Wah! bagus sekali lampu-lampunya, pa!" Bintang sangat suka pemandangan di depannya itu. Mata Bintang di suguhkan dengan Aneka lampu hias warna warni.
Demikian juga dengan Fani, baru kali ini dia datang langsung ke tempat yang di sebut pasar malam itu, bahkan seumur hidupnya.
"Pa, banyak yang jualan camilan, apakah semuanya enak? dan apa itu? Bintang belum pernah melihatnya!" Bintang cukup terkejut dengan Aneka jenis makanan yang belum pernah dia lihat apalagi makan.
"Oh ya, nanti papa akan belikan semuanya khusus untuk Bintang dan Mama," jawab Ryan sambil menyenggol bahu Fani dengan lembut. Membuat Fani terhenyak, sedari tadi wanita satu ini masih sibuk melihat keadaan sekitarnya.
Ryan menjelaskan apa saja yang ada di tempat tersebut, lalu mereka bermain Aneka wahana yang seru. Meski harganya murah tapi tidak murahan juga.
Fani dan Bintang merasa hidup bebas di sini, tanpa melihat aturan ini itu. Bersih tidak, Steril tidak? mereka melupakan semuanya, seakan hidup tanpa beban. Fani juga lupa dengan siapa dia ada di sini saat ini. Mereka sudah seperti keluar bahagia seperti yang lainnya.
Ryan juga sangat bahagia, sedikit-sedikit dia memperhatikan keduanya, dan mengabaikan moment indah ini.
Ketiganya berjalan menelusuri tempat tersebut, tak satupun yang terlewatkan. Pemuda itu memanggul Bintang di pundakmya, supaya tidak capek dan bisa melihat semuanya.
Hampir jam sebelas malam, Ryan mengajak keduanya pulang, Bintang juga sudah mengantuk. Mereka pulang dengan perasaan masing-masing.
"Terimakasih, ini adalah moment terindah yang pernah aku lalui," ucap Ryan.
Fani hanya diam saja, dia tidak membalas kata-kata Ryan.
"Aku tahu, kesalahanku sangat fatal, dan aku sadar tidak bisa mengembalikan waktu yang telah aku ambil secara sia-sia. Tapi jika aku di beri kesempatan kedua kalinya, aku berjanji akan membahagiakan kalian, dan menebus semua kesalahanku." Ryan berkata dari dalam hatinya.
Fani masih diam seperti patung, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
"Aku siap menerima hukuman apa yang pantas untukku, meski nyawaku taruhannya." Ryan melanjutkan Kata-katanya.
__ADS_1
"Ini sudah malam besok saja kita bicara lagi, semuanya. Setelah dari pabrik benang." Fani menjawab dengan singkat.
Ryan mengangguk dan setuju dengan ide istrinya itu, tak bagus kalau sesuatu itu di paksakan, dia akan bersabar. Ia yakin sesuatu akan indah pada waktunya.
Mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang, suasana di dalam mobil menjadi hening, dan canggung. Fani memeluk putranya dengan erat dan sesekali mencium rambutnya.
Tiga puluh menit perjalanan, mobil Ryan sampai di rumah kediaman Hartawan. pria tampan tersebut segera keluar dan membukakan pintu untuk Fani, mengambil Bintang untuk dia gendong.
"Biar aku saja, luka jahitan kamu pasti belum pulih benar!" Ryan melarang Fani menggendong putra gembulnya itu.
Tanpa sengaja kepala mereka sing beradu, bahkan Bibir Fani menempel di pipi halus Ryan. Kedua pasangan tersebut mirip seperti ABG yang baru kenal saja, salah tingkah sendiri, bahkan muka meraka merah merona.
Ryan segera mengambil alih Bintang dan membopongnya. Fani cukup kaget, dengan suaminya yang tahu kalau dia baru di operasi.
Deg
Dada Fani bergemuruh, dia sadar sesuatu. Sesuatu tentang pria yang bersedia mendonorkan darahnya, untuk dia. Serta pria itu menyembunyikan dentitasnya.
Mereka berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan lagi, bahkan sampai di kamar Bintang. Ayah satu anak tersebut meletakkan tubuh putranya di kasur, mencium dahinya lalu menyelimutinya hingga batas dada.
"Aku permisi dulu, sampai jumpa lagi besok!" Ryan undur diri, dia akan kembali ke apartemennya.
Dengan spontan tangan Fani meraih tangan besar Milik Ryan. " Sudah sangat malam, sebaiknya kamu tidur di sini saja, kau bisa tidur dengan Bintang atau di kamar almarhum papa!" Fani mencegah Ryan pulang.
Hati Ryan sungguh adem, seperti di guyur seember air es.
cess
__ADS_1
Pemuda tersebut mengangguk. " Aku tidur di sebelah Bintang saja, di sini masih luas. Atau mama juga tidur disini bersama-sama?" Ryan malah membuat ulah.
Fani segera melepaskan tangan mereka yang masih terpaut, dan mengerucutkan bibirnya. "Ih cari kesempatan," jawab Fani.
Wanita cantik itu, segera keluar dari kamar anak tersebut, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Ryan kembali tersenyum lebar sampai gigi putihnya terlihat. Dia memegangi pipinya yang tak sengaja mendapatkan ciuman dari sang istri.
"Rasanya jiwaku melayang saat mendapatkan Ciumannya," gumam Ryan.
Satu lagi barang miliknya yang mulai merespon setelah tidur terlalu lama. Dia bangun dan tegang saat itu juga.
Ryan berjalan sambil bersiul seperti anak ABG baru jatuh cinta saja. Memang benar sih pemuda itu belum pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi sekali jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis manja, imut dan ceria. Tapi dia adalah target utama balas dendamnya waktu itu.
Lelaki tesebut segera naik ke ranjang putranya, memeluk bocah gembul tersebut dengan penuh kasih dan sayang.
"Nak, sekarang masih kamu dulu yang papa peluk, sebentar lagi mamamu yang masih malu-malu itu. Papa janji akan membuat kalian bahagia, Sayang," kata Ryan.
Pria tesebut mulai terlelap dalam mimpi indahnya, dan bisa tidur dengan nyenyak dan damai.
Lain halnya dengan Fani, sekarang dirinya tidak bisa tidur, dia memikirkan semuanya. Serta langkah terbaik untuk dirinya dan putranya. Akankah dia memaafkan pria yang sudah menyiksanya? paling tidak untuk masa depan putranya. Atau dia tetap lanjutkan perceraiannya? karena masih trauma akan sebuah rumah tangga.
Selama di Singapura, banyak pria kaya dan mapan yang melamarnya, tapi belum ada satupun yang di terimanya, pernah Fani mencoba membuka hatinya untuk seseorang, tapi ternyata pria itu tidak suka dengan adanya Bintang, jadi Fani mundur dengan cepat.
Sekarang, ada pria di masa lalu, bahkan masih terikat dalam satu ikatan suci, gigih mengajak dia balikan serta berjanji akan membahagiakan diri-Nya serta putranya. Akan tetapi luka yang di torehkannya sudah cukup dalam.
Fani bangun, melangkah ke kamar mandi, dia segera mengambil air wudhu. menggelar sajadahnya, serta melaporkan semuanya pada yang maha kuasa, Fani bermunajad dan memohon petunjuk. Apa yang terbaik untuk dirinya serta semua orang.
__ADS_1
'Ya Allah aku bersimpuh di hadapanmu, bermunajad dan menyampaikan keluh kesahku, berilah hamba petunjuk, tunjukkan lah jalan yang terbaik masalah hamba ini. Bintang putraku butuh fitur ayah nya, tapi dia sudah terlalu dalam menggores luka itu di dadaku, ya Allah. Aku pasrahkan semua padamu, jika dia adalah pilihan terbaikmu, maka berilah jalannya. Jika memang perpisahan adalah jalan terbaiknya, maka mudahkan prosesnya. Aamiin."
Fani mengembalikan semua pada yang menciptakan langit dan bumi, karena hanya dia yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambanya.