
Dada pria paruh baya itu sudah begitu sesak, untuk bernafas saja sudah tidak bisa rasanya nyawanya sudah diujung.
"Iblis kau Ryan, kau akan menyesali semua yang sudah kau lakukan apalagi perbuatanmu pada putriku, kau akan menderita lahir dan batin." Setelah mengatakan hal itu,Raffi langsung pingsan.
"Tuaan." Budi berteriak dan segera menopang tubuh majikannya yang sudah tak sadarkan diri.
" Pak Ryan apapun dendam anda pada tuan Raffi, tolong hentikan, anda akan menyesal karena memang benar kami tidak pernah melakukan tabrak lari atau semacamnya, seharusnya anda cari tahu dulu data yang akurat, dan tidak percaya begitu saja apa yang anda dengar dari satu sumber saja, penyesalan akan lebih menyakitkan tuan, ingat itu!" Budi mengingatkan Ryan satun hal.
Ryan membantu Budi mengangkat tubuh Raffi ke dalam mobil Ryan dan membawanya ke rumah sakit terbaik di kota ini. Raffi langsung di bawa ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.
Banyak peralatan medis yang di pasang di tubuhnya, keadaannya kritis.
"Pak Budi anda disini saja, saya akan menjemput Fani!" Ryan meminta Budi untuk menunggu Raffi, sementara dia kembali ke apartemen menemui Fani dan akan menceritakan semua yang terjadi.
Rayn sudah siap apapun konsekuensinya, kalau mereka harus hancur bersama-sama sekalipun, yang penting balas dendam ibunya sudah dia laksanakan, dan janjinya pada sang ibu sudah beres.
Ryan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak buruh lama dia sampai di apartemennya, melihat istrinya sedang mengupas bawang di dapur.
Ryan datang mendekati Fani dan menceritakan semua yang terjadi, mulai dari dia membuat perusahaan papanya bangkrut.
"Sekarang papa Raffi sekarat di Rumah sakit, di syok mendengar bagaimana kehidupan putri tercintanya," kata Ryan.
Tangan Fani begitu gemetar, dia bisa bertahan sampai di titik ini semua karena ayahnya dan sekarang ayahnya sudah seperti itu, tidak adalagi harapan untuknya. Fani tiba-tiba tertawa dengan keras.
__ADS_1
"HAHAHA" Suara tawa Fani menggelegar memenuhi seluruh apartemen Ryan.
"Anda memang hebat tuan, anda adalah iblis berparas manusia, Anda sudah berhasil membalaskan dendam anda dengan sangat cantik dan sukses, tapi saya yakin anda akan menyesal, saya yakin kalau sebenarnya anda ini hanya di butakan oleh kasih sayang ibu anda yang sudan stress itu, selamat tinggal Ryan, selamat tinggal dunia."
Fani memejamkan matanya lalu dia menggoreskan pisau yang sedari tadi dia pegang de pergelangan tangannya cukup dalam. Darah mengalir dengan deras.
Ryan begitu panik, dia merebut pisau yang Fai gunakan untuk bubuh diri tersebut dan segera menggendong tubuh Fani yang semakin lemah keluar dari apartemen rumahnya.
Ryan berlari dan terus berlari menuju ke tempat parkir dan membawa Fani ke rumah sakit. Fani tersenyum hingga akhirnya dia pingsan di gendongan Ryan.
Rumah sakit yang sama dimana Raffi di rawat,
Dokter segera memberikan pertolongan untuk Fani, sementara Ryan masih mondar-mandir di ruang UGD, bukan ini yang dia inginkan, dia tidak ingin sampai nyawa Fani ataupun Raffi taruhannya.
"Bagimana keadaan istri saya dokter?" tanya Ryan.
"Syukurlah nyawa keduanya masih bisa di selamatkan tuan," jawab Dokter.
Ryan menjadi bingung, siapa maksud keduanya, apakah Raffi.
"Tidak usah bingung begitu, saat ini istri anda sedang hamil muda, apakah kalian ada masalah hingga dia melakukan percobaan bunuh diri ini?" tanya Dokter kembali.
'duuaar'
__ADS_1
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, wajah Ryan pucat pasi, mendengar penuturan Dokter tadi.
"Kenapa, sepertinya Anda tidak suka mendengar istri Anda hamil tuan?" Dokter tersebut merasa heran dengan perubahan wajah Ryan.
"Bukan begitu Dok, tapi ada yang lebih penting dari ini. Oh ya kalau boleh tahu siapa dokter kandungan yang akan menangani istri saya Dok?" tanya Ryan.
"Dokter Ibrahim, coba kamu konsultasi dengan Dr Ibrahim jika ada masalah atau kendala seputar kehamilan istri Anda, dan selanjutnya beliaulah yang akan bertanggung jawab." Dokter UGD menyarankan Ryan supaya konsultasi dengan Dr Ibrahim.
Di dalam ruangan Fani masih belum sadarkan diri, tapi dia sekarang di pindah ke ruang rawat inap. Ryan meremas Rambutnya dengan kasar, dia dilema dengan keraguannya sendiri, kalau dia lenyapkan bayi tak berdosa itu maka dia sangat berdosa bahkan itu adalah darah dagingnya sendiri. Akan tetapi kalau dia pertahankan anak dan istrinya, makan Ryan alan durhaka kepada ibunya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Ryan memukul tembok di dekatnya, tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar, sama seperti yang dia ucapkan tempo hari, dia akan selesaikan dendamnya meski dia juga hancur.
Ryan masuk ke kamar Fani, di perhatiannya wajah pucat itu, dengan seksama.
" Maafkan aku Istriku, selama kau bersamaku, hanya sebuah penderitaan yang kau Terima, baiklah sekarang aku akan melepas mu, kau bisa hidup bebas setelah ini dan mencari pengganti ku yang lebih baik kelak, aku pasrah, apa jalan yang akan kau ambil penjara aku siap, dan maafkan aku. Aku akan meminta dokter untuk menggugurkan kandungan kamu, dia akan menjadi penghalang kebahagiaanmu nanti."
Ryan memegang tangan pucat itu, air matanya jatuh disana. "Setidaknya kau sudah pernah mengisi hatiku, ku akui aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, pesonamu sungguh telah menggetarkan jiwaku, tapi rasa dendam dan baktiku pada ibuku, aku rela melakukannya." Ryan mengucup pucuk kepala Fani.
Mungkin ini adalah kesempatan terakhir dia bisa berinteraksi dengan istrinya ini. Lalu Ryan keluar meninggalkan Kamar inap Fani.
Sebenarnya Fani sudah sadar, tapi dia enggan membuka matanya, semua yang dikatakan Ryan terekam jelas dalam ingatan Fani.
Dia membuka matanya perlahan setelah kepergian suaminya itu. " Aku tidak akan membiarkan kamu menghilangkan nyawa orang, apalagi ini adalah darah daging mungkin, jangan khawatir aku akan membesarkannya sendiri, dengan segenap jiwa raga ku, dialah yang akan menjadi penyemangat hidupku." Fani menitikkan air matanya.
__ADS_1
Dia akan bicara pada dokter itu, supaya tidak jadi melakukan aborsi padanya. kalau perlu Fani akan melarikan diri dari rumah sakit ini. Fani juga belum tahu kalau di RS ini juga papanya di rawat.