
Tetangga berbondong-bondong datang menghampiri Bu Diana yang sibuk pura-pura menenangkan Fani.
" Ada apa Bu?" tanya salah satu warga.
" Ini nak, keponakan saya mau kabur, dia sedang kumat, tadi sudah berhasil saya ikat karena menyakiti diri sendiri, dan sekarang dia mau kabur, itu bahkan membawa pisau!" Bi Diana menunjuk ke arah pisau yang tak jauh dari tempat dia menangkap Fani.
Pisau tersebut Bu Diana yang membawa, bukan Fani, tapi dia memutar balikkan fakta. Bu Diana juga menangis dengan di buat-buat supaya mereka Percaya dengan akting yang dia mainkan.
Bu Diana melirik ke arah Fani yang saat ini di ikat oleh warga dan segera di bawa kembali ke rumah Bu Diana. Mereka mengusulkan untuk membawa Fani RSJ atau dinas sosial supaya ada penanganan khusus, mereka merasa kasihan pada Diana yang hidup bersama orang yang tidak waras.
"Cantik -cantik tapi tak waras, kasihan ya," bisik mereka. Ryan juga dihubungi oleh pak Rt supaya pulang dan memberi masukan pada Ryan perubahan perawatan Fani.
" Terimakasih atas bantuan bapak dan ibu semuanya, besok saya akan bawa dia ke tempat yang paling aman, dan tidak akan mengganggu bapak dan ibu lagi." Ryan minta maaf pada semua yang hadir dan membantu ibunya.
Ryan mendekati Fani yang masih Terikat di sofa ruang tamu mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi? hingga warga sampai tahu keadaannya, bu?" tanya Ryan.
Dia kesal dengan ibunya yang setiap hari melaporkan Fani begini, Fani begitu. Ryan butuh konsentrasi untuk berfikir dan melancarkan usahanya.
"Kamu jangan salahkan ibu, nak! wanita gila itu mencoba untuk kabur, dia Pura-pura gila supaya ibu kasihan padanya." Diana membela dirinya sendiri dan tidak mau disalahkan.
" Benarkah begitu?" tanya Ryan.
" Iya, dia pura-pura dan saat kita lengah maka dia berusaha untuk kabur," imbuh Diana.
Ryan menatap tajam Wajah Fani yang juga menatapnya tajam. Ryan tidak suka dengan tatapan mara Fani yang sangat menghancurkan moodnya.
__ADS_1
Ryan mengangkat tubuh ringkih tersebut dan melemparnya di kasur kamarnya. Ryan lebih suka memberi hukuman Fani di atas Kasurnya, dan mendengarkan rintihan bercampur suara merdu Fani yang tertahan.
Ryan melancarkan aksinya. Akan tetapi kali ini berbeda, Fani tidak melakukan perlawanan apapun juga, dia hanya diam dan diam. Bahkan tidak merespon sedikitpun apa yang Ryan lakukan padanya, Fani sudah merasa jijik dengan dirinya sendiri yang sampai sekarang tak bisa lolos dari Neraka ini.
Ryan merasa tidak ada tantangan sedikitpun seakan dia bermain dengan sebuah manekin. Ryan segera menyelesaikan semuanya dan meninggalkan Fani dia atas ranjangnya.
Airmata Fani mengalir di pipinya, tapi segera dia hapus, supaya tidak ada yanga tahu.
Ryan Mengguyur tubuhnya dibawah shower dengan Air dingin. Ryan berteriak kencang di kamar mandi itu, meremas rambutnya.
Rasanya hidupnya semakin berat, di tambah dengan Dendam yang membuat hidup dan harinya semakin tidak tenang.
π·π·π·
Ryan akan mengubah alur balas dendamnya, meraka mempunyai masalah dengan Raffi bukan Fani, dia dan ibunya sudah terlalu kejam, sudah mirip psikopat saja.
Ryan keluar dari kamar mandi dan meminta Fani untuk segera mandi.
Fani hanya menurut apa yang Ryan katakan dan segera mandi, dia mengunci kamar mandi tersebut. Sudah lama Fani tidak menikmati mandi dengan nyaman, kali ini Fani manfaatkan kesempatan itu.
Ryan keluar mencari Ibunya. Dia membicarakan Rencana barunya. Ryan akan membawa Fani pindah di apartemen, menjauhkan sementara dari ibunya, Ryan ingin fokus pada rencana B, dia ingin membuat Raffi bangkrut, dan mereka akan jatuh miskin, baru dia akan melepaskan Fani, tanpa adanya siksaan Fisik.
Awalnya Diana Menolak, dia masih suka membuat Fani menderita, dan memuaskan keinginan dia.
Ryan tetap pada keputusannya, dan dia tidak mau ibunya menjadi orang yang kejam seperti ini, kalau nanti Fani benci biarlah dia membenci dirinya bukan ibunya.
" Terserah apa mau kamu, ibu cuma berharap kau jangan terbawa suasana apalagi mencintai wanita itu, ibu tidak rela darah daging dari pembunuh ayahmu itu menjadi menantuku apalagi jika dia hamil penerus keluarga kita." Diana meyakinkan putranya untuk tidak menggunakan perasaan apalagi cinta.
__ADS_1
Awalnya merasa kasihan dan iba tapi lama- lama perasaan itu berubah menjadi cinta. Diana tidak mau itu terjadi pada anaknya, apalagi jauh dari pengawasan dia.
Ryan memastikan semua itu tak akan terjadi, tapi satu kecemasan Ryan, selama dia bermain dengan Istrinya Ryan tidak pernah memakai pengaman.
Setelah semua urusan dengan ibunya beres, Ryan kembali ke kamarnya, dia melihat Fani baru saja keluar dari kamar mandi dengan keadaan setengah basah, wanita itu tampak lebih segar.
Ryan memanggil Fani untuk duduk di samping dia, memulai obrolan mereka.
" Hari ini juga kita akan pindah dari sini, aku tidak mau ibuku menjadi seorang Psikopat, dia memang sudah sangat keterlaluan padamu. Dendam kami adalah oda ayahmu, sebenarnya tidak sepatutnya kami melampiaskannya padamu." Ryan meraih tangan Fani dengan lembut, tidak seperti beberapa saat lalu.
Fani juga heran dengan sikap Ryan barusan, apakah ini benar atau cuma akal-akalan mereka saja.
"Apasih mau kamu sebenarnya Ryan?" batin Fani.
" Di kamar ganti itu koper kamu aku simpan, semua milikmu ada di sana kecuali ponsel. Aku masih belum bisa memberikannya padamu."Ryan menunjuk ke ruang ganti pakaian.
Sore itu, Ryan mengemas beberapa pakaiannya lalu mereka berangkat ke sebuah apartemen, di tempat ini mereka akan hidup, bahkan Bu Diana belum tahu alamat apartemen Ryan yang ini.
π·π·
Ryan menunjukkan kamar mereka, Fani akan tidur bersama dirinya, disana cuma ada sebuah kamar saja, jadi mau tidak mau Ryan harus berbagi kamar dengan Fani.
" Ini dunia kita yang baru, kamu bisa melakukan apapun di tempat ini, kau bisa bersih-bersih, memasak dan lainnya. lakukan semua sesuai keinginan kamu, aku harap kau melakukan semua tugas istri dengan baik mulai dari sekarang!"
Fani menjadi semakin bingung, sebenarnya kehidupan apa yang Suaminya ini inginkan, memang selama ini Yang lebih dominan dalam rumah itu adalah Diana, apalagi penyiksaan terhadap dirinya.
Fani hanya diam saja, tidak merespons perkataan Ryan, dia tidak boleh lengah sedikitpun juga.
__ADS_1
Setelah menjelaskan semuanya pada Fani, Ryan akhirnya keluar entah kemana, dia tidak mengatakan apa-apa. Setelah kepergian Ryan Fani berjalan mendekati dapur rumah barunya, dia melihat dapur minimalis yang isinya lumayan lengkap, Fani juga memeriksa lemari es. Disana semua bahan-bahan makanan maupun buah segar sudah tersedia dengan lengkap.
" Apa dia sudah menyiapkan semua ini lebih dulu?" heran Fani.