
Ryan menggelengkan kepalanya ketika melihat banyak tak belanjaan Monia di pojok kamarnya. " Banyak juga belanjaannya," gumam Ryan. Pria satu ini memeriksa apa isi dalam tas-tas tersebut. Pakaian Monika juga masih berada di dalam kopernya. Ryan jadi punya ide, istri hanyalah status Monika, tapi Ryan tidak menginginkan semua itu.
Setelah selesai mandi, Ryan keluar kamarnya dan mencari Ranti. "Mbak Ranti...!" Ryan berteriak memanggil Ranti yang kini ada di dapur, sementara Monika dan Diana sedang berebut chanel televisi.
"Iya, Tuan." Ranti segera memenuhi panggilan majikannya tersebut.
" Mbak Ranti pindahkan barang-barang Monika dari kamar saya ke kamar sebelah!" Pinta Ryan.
Monika dan Diana langsung berdiri dari tempatnya yang semula berebut remote tadi.
"Mas, kenapa? Aku istrimu, bukan tamu," protes Monika.
"Iya, Ryan kalian sudah menikah tak baik pisah kamar." Diana menasehati putranya itu.
"Ranti tunggu, aku tidak mau pindah, jadi jangan keluarkan barang-barang ku dari kamar tersebut!" Monika melarang Ranti memindahkan barang-barangnya.
"Kalau begitu barang-barang ku saja yang di pindahkan." Ryan ganti meminta barang-barang dia yang dipindahkan.
"Kenapa, Mas? Apa salahku? tadi malam kamu mengambil kesucianku, pagi tadi kita sudah resmi menikah, dan sekarang apa yang kau lakukan ini?" tanya Monika.
"Jangan khawatir, aku tidak akan lupa apa tanggung jawabku sebagai suami, aku akan memberimu nafkah, tapi nafkah lahir, kalau nafkah batin aku tidak bisa, pasti kamu tahu sendirikan apa yang terjadi padaku." Ryan memancing.
"Tahu apa Mas? Aku tidak paham," jawab Monika.
Ryan memberikan sebuah ATM pada Monika.
"Ini untuk kamu, aku akan mentransfer sebagian gajiku padamu dan ibu, kau dua puluh juta, dan ibu sepuluh juta setiap bulan. Maaf Bu, bagianmu berkurang," Ucap Ryan.
Monika kaget dengan nominal yang Ryan berikan, dua puluh juta sebulan untuk beli tas gucci saja kurang, bukannya dia Ceo perusahaan besar.
__ADS_1
"Mas, bukannya kamu ini seorang CEO, masak memberi istri dua puluh, ibunya sepuluh, memang uangmu yang lain kau gunakan untuk apa?" Monika bertanya dengan lantang.
"Tidak usah banyak protes, sudah bagus aku berikan uang segitu daripada Fani. Tanyakan pada ibu apakah aku memberinya uang, atau ibu yang memberi dia uang, dia tidak pernah menanyakan uang. Kalau mau ya ambil kalau tidak mau akan aku berikan pada Ibu, biarkan dia yang mengatur semuanya keperluan disini!" Ryan memberi sebuah penawaran yang membuat Monika kesal bukan main.
Ketika Diana mau mengambil ATM itu, dengan segera Monika menyambarnya. "Enak saja, ini bagianku, bu. Dan itu sepuluh juta bagian ibu," Ucap Monika.
"Nak, uang ibu habis, tolong kamu transfer lagi ya, besok ibu tidak bisa belanja kalau tak punya uang!" Diana memohon pada Rayhan untuk memberikan dia uang.
"Kemana uang ibu, bukannya sudah Ryan beri seminggu yang lalu, masak uang segitu habis." Ryan tak percaya kalau ibunya sudah meminta uang lagi, padahal biasanya wanita paruh baya tersebut, masih punya sisa dari belanja bulanan dia
"Tadi istrimu meminta belanja, pakaian bahkan perhiasan, uang ibu sudah habis," jawab Diana..
"Ibu minta saja pada Monika! atau mulai besok dia yang urus semua kebutuhan rumah ini! Ryan meminta Monika yang mengurusnya.
"Enak saja, uang yang masuk ke dalam rekening milikku, akan menjadi milik pribadi, ibumu saja yan mengurus uang belanja." Monika menjawab lalu meninggalkan suami dan mertuanya ke dalam kamar.
'Bukan begitu nak, mungkin saja dia lagi pms, atau emosinya sedang tinggi saja, tapi dia perempuan yang baik kok, percaya pada ibu!" pinta Diana.
Ryan akhirnya diam, dia lebih memilih diam dan menuju ke kamarnya yang baru.
"Ryan, Tunggu!" panggil Diana.
"Ibu minta uang untuk kebutuhan satu bulan, uang ibu benar-benar sudah habis," ucap Diana.
Ryan mentransfer lagi uang untuk Ibunya, Ryan merasa kasihan kalau wanita paruh baya ini kesusahan. "Sudah Ryan transfer," jawab Ryan.
Setelah menikah Ryan jarang sekali pulang ke rumah, kalau tidak di telpon oleh ibunya, dia lebih suka kembali ke apartemennya. Soal istrinya yang penting tiap bulan dia akan mentransfer sejumlah uang itu, Ryan tak peduli untuk apa, dan jangan harap untuk meminta lagi.
π·π·π·
__ADS_1
Hari ini Ranti meminta gaji dia yang belum di bayarkan, Biasanya Diana tertib dan konsekuen masalah gaji Ranti, tapi tidak bulan ini, uang sepuluh juta yang Rayn kasih habis untuk membeli bahan makanan di dapur, bahkan Monika minta menu yang aneh-aneh.
"Nyonya, sudah lebih dari sepuluh hari anda telat membayar saya, tolong di lunasi ya Nyonya, saya juga butuh uang untuk di kirim ke kampung, anak saya juga butuh makan dan sekolah, Nyonya," Ranti memelas pada Diana.
Wanita paruh baya tersebut menghela nafasnya dengan berat. "Sekarang aku belum punya uang Ran, kamu tunggu Tuan Ryan pulang dulu ya, nanti aku akan mintakan pada Putra ibu."jawab Diana.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Ryan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa dokumen dirinya yang ada di ruang kerja dia, sementara istrinya juga belum pulang ke rumah.
"Ryan, kebetulan kau datang, Nak. Ibu mau minta tolong." Diana langsung menyambut kedatangan putranya dengan muka kusut.
"Ada apalagi, Bu?" tanya Ryan.
"Ranti minta uang gajinya bulan ini, sedangkan uang dari kamu bulan ini juga sudah menipis, istri kamu minta menu yang aneh-aneh dan tak mau makan jika makanan yang Ranti masak tidak sesuai dengan keinginan dia." Diana mengadu pada anaknya, supaya di kasihani.
"Kenapa harus menuruti apa yang Monik mau, sebaiknya ibu dan Mbak Ranti masak sesuai keinginan hati kalian saja, kalau dia tak mau makan ya sudah, kok dianggap pusing, biarkan dia urus kebutuhan dia sendiri, kenapa ibu yang repot." Ryan menjawab sesuai dengan keadaan yang ada di rumah.
Ryan sengaja memberi uang ibunya cuma sepuluh juta, itu karena dia tak mau ibunya di dimanfaatkan oleh Monik.
Ryan memberikan sejumlah uang kepada Ranti beserta bonus dia, serta uang maaf karena Diana sudah terlambat menggaji dia.
"Terimakasih, Tuan. Saya sekaligus minta ijin untuk pulang kampung selama lima hari, Tuan, Nyonya!" Ranti juga sekaligus, minta ijin.
Meski berat rasanya mengijinkan asisten rumah tangganya pulang, tapi apa boleh buat, karena Ranti juga di butuhkan di kampungnya.
Sesuai dengan kesepakatan mereka, pagi-pagi sekali Ranti sudah keluar dari Rumah Diana, dia tak mau ketinggalan bus yang akan membawa dia pulang kampung.
Kini tinggal Diana dan Monika saja yang ada di rumah besar tersebut. Apakah Monika akan membantu tugas mertuanya atau malah menjadikan Diana pembantunya, sepertinya ini adalah balasan untuk perbuatan Diana yang semena-mena terhadap menantu lamanya, dan ternyata menantu barunya yang akan membuat dia tersiksa, saat ini juga sudah mulai. Menyiksa batin Diana.
Monik mana mau tahu pekerjaan rumah, yang dia tahu, bangun tidur sudah ada makanan di meja makan.
__ADS_1