NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Menjelekkan Fani di depan tetangga


__ADS_3

Bu Diana mengajak tamunya duduk di teras, dia juga meminta Fani melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu lanjutkan saja kerjamu nak, nanti ibu kasih hadiah!" Bu Diana bicara dengan halus seolah-olah berbicara dengan anak kecil yang dia sayang.


" Siapa itu jeng kok baru lihat hari ini ya, kan sebelumnya cuma jeng dan nak Ryan yang ganteng itu, kalau lihat Nak Ryan itu jadi membayangkan jika punya anak perempuan, sudah ganteng, mapan, sopan lagi." Bu Susan mulai mencari muka di depan Diana.


Fani seakan mau muntah mendengar bualan ibu-ibu itu " Iya sopan kalau dengan orang lain, sama tuh seperti ibunya, cari muka." Fani membatin omongan itu.


" Oh itu to jeng sayang ya anak-anak kita sama-sama Laki-laki." Bu Diana menimpali bualan bu Susan tersebut.


" Trus itu siapa, menantu jeng?" tanya Bu Marni.


"Bukan jeng, itu anak keponakan saya dari kampung, disana dia depresi karena ditinggal menikah lagi oleh suaminya, makanya rada kurang seratus persen, Kami kasihan melihat keadaannya yang memprihatinkan, badannya di sayat-sayat sendiri, lalu kalau dia melihat pria asing, anak itu akan menganggapnya suami dia, takutnya dia nekad, kalau disini kan ada psikiater, makanya kami bawa, supaya mendapatkan pengobatan." Bu Diana membual tentang identitas Fani serta mengatakan kalau Dirinya kurang dari seratus.


Ibu-ibu tadi, manggut-manggut dan memuji tindakan heroik Bu Diana dan Ryan.


" Kenapa tidak dimasukkan ke RSJ saja bu? supaya lebih aman, bagaimana kalau dia mengamuk, lalu menyakiti Bu Diana, disaat nak Ryan sedang bekerja." Bu Lastri memberi sebuah ide untuk memasukkan Fani ke RSJ sepakat tidak membahayakan orang lain.


Memang sekarang dia cuma menyakiti diri sendiri, dan mantan suaminya, lalu bagaimana kalau suatu saat dia menyakiti orang lain utamanya keluar terdekat.


"Iya bu, apalagi Bu Diana sendiri di rumah, ih ngeri lho, apalagi serumah dengan orang yang tidak waras." Bu Susan menimpali Omongan bu Lastri.


" Tidak, dia tidak akan bisa menyatakan saya, saya ini bisa beladiri dan taekwondo lho, saya bisa mengatasi hal ini," jawab Bu Diana.


"Wah keren ternyata Bu Diana ini, bagaimana rasanya mengurus orang tak waras sepet ini pasti susah ya?" tanya Bu Marni penasaran.

__ADS_1


"Tidak juga ibu-ibu, cuma butuh ketelatenan saja, merawat orang seperti ini mirip dengan merawat anak kecil, yang tidak tahu apa-apa semua harus ada komando harus begini, harus begitu, kalau tidak dia cuma melamun, takutnya kembali menyakiti diri sendiri, makanya saya beri kegiatan yang ringan -ringan seperti menyapu." Dia berbohong kepada mereka.


Ini adalah kebohongan yang patut dimanfaatkan, Fani akan menggunakan kata-kata Bu Diana terhadap orang-orang tersebut, atau malah pura-pura depresi seperti kisah mereka.


Ketiga ibu-ibu memuji kehebatan Bu Diana yang ternyata hasilnya bisa bela diri.


" Ternyata setan tua punya ilmu kanuragan, makanya dia kuat sekali, aku tidak bisa melawan dirinya," batin Fani.


Fani kemudian tersenyum miring, dia punya akal, untuk melawan atau menghindari siksaan yang berat tersebut. Selain itu Fani berjanji akan mogok bicara pada kedua penghuni Rumah ini.


Fani tidak menyangka kalau Bu Diana sehebat itu, lalu bagaimana dia bisa kabur dari tempat ini, kalau menjaganya saja Anjing Header.


Raffi yang kangen terhadap anaknya, sering menelpon, tapi nomer Fani tidak aktif, menghubungi Ryan juga akan beralasan.


Hari ini Raffi memutuskan untuk mengunjungi putrinya, bahkan rumah yang dua berikan untuk memulai hidup baru, belum pernah mereka coba.


Diana mengintai dari jendela kaca dekat pintu utamanya, dan meminta Raffi hartawan luar Sana. Buru- buru Diana menarik tangan Fani ke tempat yang lebih aman supaya Fani tidak terlihat oleh ayahnya


Fani yang tidak tahu apa- apa hanya pasrah dan diam seribu bahasa, dia menurut apa ya g di katakan Bu Diana dan harus sembunyi di kamarnya. Bu Diana mengunci kamar tersebut supaya Fani tidak bisa keluar.


Buku-buku bu Diana keluar rumah, menemui besannya.


" Eh ada tuan Raffi, monggo silahkan masuk tuan, maaf baru menjemur baju di belakang, tidak tahu kalau ada tamu." Bu Diana mempersilahkan Raffi untuk masuk.


Akan tetapi, pria itu menolak, sebelum ada Fani. " Maaf menggangu, dan merepotkan ibu, saya cuma mau bertanya apakah, Ryan dan Fani sudah kembali dari Bulan madu, soalnya saya hubungi ponsel mereka tidak bisa." Raffi menjelaskan semua kendala yang dihadapi.

__ADS_1


Bu Diana tersenyum dengan manis. " Tuan seperti tidak pernah muda saja, saya juga sudah lima hari tidak mendapatkan kabar mereka, sebagai seorang ibu merasa was- was tuan, biasanya setiap hari bertemu." Bu Diana juga berbohong, kalau dia juga belum mendapatkan kabar dari putra dan menantunya.


Raffi yang tadinya kecewa berat, sedikit terobati karena Diana juga belum menerima kabar mereka. Raffi langsung undur diri dan segera pulang dari rumah besannya.


Fani yang dari tadi di kurung di kamarnya memulai aksinya, dia akan mulai pura-pura menjadi wanita. Fani memainkan spon kasur di kamarnya, memotong kecil-kecil lalu menghamburkannya seluruh ruangan.


Apalagi saat suara pintu di buka, Fani mengacak- acak sprei bahkan bermain-main layaknya batman, dia memakai sprei sebagai sayapnya, lalu berlarian di dalam kamar, mirip sekali seperti anak kecil.


Diana kaget melihat suasana kamar tersebut.


"Hei apa yang kamu lakukan ha!" bentak Diana, tetapi Fani tidak peduli, dia terus berlarian dan tertawa sendiri. Fani menoleh ke arah Diana.


" Monster, hyat..." Fani memasang kuda- ingin menyerang Diana, bahkan mata Fani melotot penuh amarah, sudah mirip orang kesurupan saja.


Diana buku-buku keluar dari kamar itu, dan menguncinya kembali, dia langsung menghubungi Ryan.


Fani tersenyum dengan geli, lalu istirahat, sambil menyiapkan rencana selanjutnya.


" Terimakasih nyonya, kau sudah memberiku ide yang cemerlang ini, paling tidak kau tidak akan menyiksaku, biarkan saja mereka menganggap ku gila.


Fani merebahkan tubuhnya di kasur tipis tersebut, dia sengaja tidak akan membereskannya, kalau perlu Diana atau Ryan yang membersihkan semua ini.


Bu Diana menghubungi nomor Ryan.


" Ryan gawat, nak gawat, sepertinya Fani mulai gila, kau lihat sendiri di rumah, sekarang pulanglah!" Diana meminta Ryan kembali pulang.

__ADS_1


"Maaf bu, tidak bisa saya masih ada meeting penting, mengenai usaha kita juga bu, ibu atasi dulu sendiri ya, atau kurung dia di kamarnya supaya tidak keluar dan menyakiti ibu!" Ryan belum mau pulang, meeting dia belum selesai.


__ADS_2