NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Jebakan Monika dan Diana


__ADS_3

Ryan pulang ke rumah Bu Diana, setelah magrib, dia sudah bertaubat dan mau melaksanakan kewajiban dia sebagai umat muslim, Ryan lebih memilih sholat di masjid dulu, daripada tak tenang sholat di rumah.


Ketika Ryan sampai di kediaman ibunya, disana sudah banyak beberapa tetangga yang datang, memenuhi undangan dari Bu Diana.


Monika juga sangat semangat membantu Bu Diana menyipkan semua sajian untuk para tamu. Sudah seperti menantu yang baik saja. Pak lurah juga hadir.


Para tetangga menyambut kedatangan Ryan dengan mata berbinar, sudah lama tak melihat wajah pemuda tampan tersebut, biasanya dulu setiap pagi mereka bertemu Ryan yang sedang joging, tapi sekarang sudah tidak lagi.


"Wah ini yang di tunggu-tunggu sudah datang, pasti nak Ryan sangat sibuk sehingga jarang pulang ke rumah," ujar pak Lurah.


Ryan hanya tersenyum menanggapi tetangganya yang kepo dan sok tahu itu. Mereka juga menggoda Monika yang giat dan tampil memukau di acara Ryan.


Acara berjalan dengan lancar, sebenarnya Ryan ingin sekali keluar dan kembali ke apartemen saja. Monika menyuguhkan beberapa minuman untuk para tamu, di penghujung acara, Monika sudah menandai gelas mana yang harus dia bebrikan kepada Ryan.


Tanpa rasa curiga akhirnya Ryan juga minum jus buatan Monika bersama yang lainnya.


Selang tiga puluh menitan Para tetangga pamitan untuk pulang, kini menyisakan Monika dan si pemilik Rumah, Monika masih akan membantu Bu Diana membereskan semua sisa pesta yang mereka gelar, jadi dia tidak ikut pulang bersama kedua orang tuanya.


Ryan meraskan ada yang aneh dengan kepalanya, dia merasa pusing dan sangat mengantuk, matanya berkunang-kunang. Ryan memutuskan untuk duduk di kursi ruang tamu, sambil memijat pangkal hidungnya


Mata Ryan mulai kabur dan dia tertidur di Sofa tersebut. Diana dan juga Monika memapah tubuh Ryan ke kamarnya, Esok pagi baru mereka akan lakukan trik kotor itu.


Setelah selesai membantu Diana, Monika masuk ke dalam kamar Ryan, dia sudah mendapatkan izin sepenuhnya dari calon mertuanya terebut.


Monika dengan berani, membuka kemeja Ryan, dia meraba semua dada Ryan yang halus dan bagus tersebut. Meski belum mandi tapi aroma tubuh Ryan sama sekali tidak bau.

__ADS_1


"Harum dan gagah, kau sungguh macho, tampan dan kaya, kalau aku bisa memiliki dirimu, hidupku akan terjamin, apapun yang aku inginkan bakal terwujud, maafkan aku Ryan." Monika membuka semua pakaian Ryan bahkan semua yang menempel dalam tubuh pemuda tersebut dia buang ke sembarang arah, kini tubuh Ryan polos seperti bayi baru lahit. Monika sungguh totalitas melakukan itu semua supaya terlihat natural.


Tidak hanya itu, Monia juga membuang semua pakaiannya, hingga keduanya sama-sama polos, Monika menelan air liurnya sendiri, melihat pisang tanduk Ryan, tapi sayangnya meski dia pegang-pegang dan gesek-gesek bahkan dimasukkannya ke mulut Monika, pisang tanduk itu sama sekali tidak mau bangun, masih nyenyak tertidur seperti orangnya.


Memang setelah di tinggal pergi Fani, Pisang tanduk Ryan sudah tak mau bangu lagi, meski dia melihat wanita penari yang bahkan telanjang, Ryan tak bernafsu sama sekali.


Monika begitu kesal, dia mengira kalau Ryan itu punya kelainan itu nya. " Ih ganteng-ganteng gak bangun, apa jangan dia impoten kali ya." Gumam Monika.


Tak apa-apa wis, asalkan sekarang aku bisa menjadi istrinya dulu, soal bangun atau enggak itu di pikirkan nanti saja sambil berjalan, dan pengobatan semakin canggih." Monika bicara dengan dirinya sendiri.


"Pantas saja pacarnya meninggalkan dirinya, ya jelas dia takkan mau hidup dengan suami impoten, tapi aku bisa, kan di luar masih banyak berondong yang bisa memuaskan aku." Pikiran Monika sudah kemana-mana. Bahkan sudah akanmencari berondong segala.


Wanita ini ternyata tidak tulus, di tak lain hanyalah wanita matre yang hanya ingin numpang kaya dan tenar dengan nama Ryan. Diana sungguh tertipu dengan wajah polos dan sopan tersebut.


Monika juga mengubah posisi tidur Ryan, dengan memeluk dan meletakkan tangan kanan Ryan di atas buah mangga miliknya yang menantang.


Malam semakin larut dan berubah menjadi pagi, Pak Lurah yang mendapati putrinya tidak pulang semalaman, datang menuju ke rumah Bu Diana, untuk menjemput Monika.


Pak Lurah dan istrinya, menggedor Rumah Bu Diana. Tok tok tok.


Bu Diana sudah menantikan kedatangan pak lurah tersebut langsung membukakan pintu untuk calon besannya tersebut.


"Mana Monika Bu? Dari tadi malam dia tidak pulang, apakah menginap disini?" tanya pak lurah.


" Iya pak dan maaf pak Lurah, tadi malam itu sudah larut sekali kami selesai beres-beresnya jadi saya minta menginap saja disini," jawab Diana.

__ADS_1


"Sekarang Monikanya dimana?" tanya pak Lurah lagi.


"Iya pak, Monika tidur di kamar tamu, mari saya antar, bu Lurah saja yang membangunkan dia nanti!" Bu Diana mengantar mereka ke kamar tidur tamu, tapi kosong.


"Dimana, Bu?" tanya bu Lurah yang melihat kamar itu kosong. Lalau mereka memutuskan untuk memeriksa semua kamar.


Monika sudah bangun dan dia menangis di ranjang Ryan, Monika menangis sesenggukan , seolah alah Ryan sudah melakukan hal yang bejat terhadap dirinya.


Pak Lurah dan Bu Lurah membuka semua kamar di rumah bu Diana hinga sampai ke kamar Ryan, mereka mendengar suara rintihan tangis putri mereka dari dalam kamar tersebut.


"Pak, itu suara Monika seprtinya?" tanya Bu Lurah pada pak lurah. Pak Lurah langung membuka pintu kamar Ryan dengan kasar, dia melihat putrinya menangis sesenggukan di lantai di tepi ranjang Ryan, sementara yang punya kamar masih asyik dengan tidurnya.


Tubuh Monika hanya terbalut dengan selimut putih.


'Monika , apa yang terjadi, Nak?" Tanya Bu Lurah dan Bu Diana. Kedua wanita tersebut mendekati Monika dan memeriksa keadaan gadis tersebut yang sekarang tubuhnya polos. Mereka juga melihat pakaian keduanya berserakan di lantai kamar tersebut.


Pak Lurah yang marah dan naik pitam, langsung menarik tangan Ryan. Laki-laki itu juga menampar wajah Ryan dengan keras.


Rayn yang tak tahu apa-apa langsung bangun , dia juga kaget melihat dirinya yang sudah polos tersebut, Ryan segera memkai boxernya.


"Ada apa ini?" tanya Ryan dengan polos.


"Ada apa kau bilang, lihat apa yang sudah kamu lakukan pada putriku, Ryan?" Pak Lurah menanyakan suatu yang Ryan sendiri juga tidak tahu


Ryan menoleh ke arah Monika, yang sedang menangis di pelukan Ibunya dan juga Bu Lurah.

__ADS_1


__ADS_2