NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Pertengkaran ibu dan menantu


__ADS_3

Monik mengulangi pertanyaannya.


"Bu, mana sarapan ku...? tanya Monik dengan nada tinggi, bahkan tak ada sopan-sopannya.


" Gak ada, aku tidak masak," jawab Diana dengan singkat.


"Ibu tahu kan kalau aku ada sakit mag akut, bagaimana kalau aku sakit? Ibu mau tanggung jawab?" Monik tak percaya di meja makan tidak ada apa-apa meski hanya sepotong roti.


"Terserah, mau sakit kek atau mati sekalipun aku tidak peduli." Dengan Santai Bu Diana menjawab gertakan Monik.


"Oh, mulai berani rupanya, sudah lupa ya, bagaimana nasib ibu nanti, jika aku laporkan semua kelakuan Anda pada Ryan." Monika kembali mengancam.


Kali ini Diana sudah benar-benar muak, dan sudah tak tahan dengan sikap menantunya yang sangat kurang ajar tersebut. Diana tak peduli jika nanti Ryan akan membenci dirinya, yang penting sekarang dia lepas dari menantu lampir ini.


Bahkan mertuanya dianggap sebagai pembantu gratisan di rumahnya sendiri, Diana sudah tak peduli apakan Monik akan melapor atau hanya mengancamnya doang.


"Silahkan laporkan, aku tidak yakin Ryan akan percaya semua omongan kamu itu, dasar wanita ular." Diana menantang Monika supaya melapor.


"Kalau aku lapor, maka kau akan di benci anak tercintamu itu." Monik meyakinkan mertuanya tersebut.


"Aku tidak peduli, aku capek menjadi pembantu kamu, semenjak kau ada di sini, Ryan putraku juga tak betah lagi tinggal di rumah, kalau perlu aku akan meminta Ryan menceraikan kamu sekarang juga, aku yakin kau akan jadi kere setelah anakku menceraikan kamu, aku menyesal memilihmu menjadi menantuku." Diana berteriak tepat di muka Monika.


Monika mundur dua langkah, apa yang di katakan mertuanya itu tepat dan benar, kalau Ryan menceraikan dia maka sumber keuangan dia akan hilang, darimana dia akan mendapatkan uang secara cuma-cuma sebanyak dua puluh juta perbulan.


Monika mencengkeram daster yang di pakai Diana, dia sungguh berani dan tidak sopan terhadap wanita yang jauh lebih tua umurnya dari dia.


"Oh, begitu rupanya, tapi aku akan membuatmu bungkam untuk selamanya." Monika melotot tajam pada Diana, matanya merah seperti orang kesetanan saja.

__ADS_1


"Sekarang buatkan makanan yang enak untukku atau aku akan mencekekmu!' Monika mengancam Diana sekali lagi.


"Aku tidak peduli, apakah kau akan membunuhku. Lebih baik aku mati saja dari pada selamanya menjadi budak perempuan jalank sepertimu, bahkan kau sungguh tak berguna di sini, yang ada cuma memanbah beban kami." Diana melawan.


Monika mencengkeram rahang Diana dan sekali lagi mengancam mertua malangnya ini.


"Buatkan atau kau mati?" Monika mengulang lagi pertanyaannya, dan menekannkan kata mati.


"Lebih baik aku mati, dan kau akan mendekam dalam penjara seumur hidupmu, serta kedua orang tuamu juga kan menaggung malu yang amat sangat besar, karena putri yang mereka bangga- banggakan mendekam dalam penjara. Seorang putri Lurah kampung ini ternyata seorang pembunuh." Diana tak takut.


Ibu kandung Ryan mengingat semua yang dia lakukan pada Fani menantu pertamanya, dia lebih sadis menyiksa menantu malangnnya tersebut, bahkan setiap hari hidupnya hampir meregang nyawa, Diana akan menebus semuanya, jika kematian adalah jalan yang utama untuk bisa menebus semua yang sudah dia lakukan pada Fani.


Monika menjadi gelap mata. Wanita ini cukup emosi, Diana yang biasanya nurut hanya dengan ancaman saja, sekarang berani menantangnya.


Monika mencekik leher Diana, hingga wanita paruh baya ini kesulitan untuk bernafas, tapi dia menikmati semua itu, matanya terpejam seakan malaikat pencabut nyawa sudah berada di atas kepalanya.


Tubuh Bu Diana ambruk ke tanah bersamaan hilangnya kesadaran beliau, Bu Diana pinsan, kepalanya berlumuran darah.


Monika sangat ketakutan, tangan dan tubuhnya gemetar, perempuan kurang ajar tersebut panik dan dia berlari ke arah luar.


Monika segera kabur dengan mengendarai mobil Bu Diana dengan kecepatan tinggi.


Sementara Ryan yang sejak tadi malam merasa dek dekan dan ingin sekali menemui ibunya, bahkan rasa rindu tersebut tak dapat dia cegah. Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Ryan memutuskan untuk mampir ke tempat Bu Diana dulu.


Ryan sengaja tak mengubugi ibunya kalau dia akan pulang, dia akan memberi ibunya kejutan. Mobil Ryan berpapasan dengan mobil sang ibu di ujung komplek, tapi dia tak peduli. Ryan sudah mengira kalau itu Monik yang mau pergi.


"Mau kemana perempuan sialan itu pagi-pagi sudah ngebut seperti itu," gumam Ryan.

__ADS_1


Ryan masuk ke halaman rumah yang gerbangnya masih terbuka lebar, tak biasanya ibunya tak menutup pintu.


Bahkan pintu masuk rumah mewah itu, juga masih terbuka lebar.


Ryan mengerutkan keningnya, dia heran apa yang terjadi di rumah ini, tadi dia melihat mobilnya keluar komplek denga kecepatan tinggi, dan ekarang rumahnya terbuka lebar.


"Assalamu'alaikum, Buuu..., ibu dimana?" Ryan memanggil manggil ibunya, tapi sedikit pun tak ada jawaban.


"Kemana ibu? Kenapa perasaanku jadi tak enak begini." gumam Ryan.


Pemuda ini langsung menuju ke dapur, biasanya Ibunya suka sekali di dapur, membuat sesuatu untuknya jika menginginkan Ryan pulang.


"Buuuu, ibu dimana?" Ryan terus memanggilnya, Tapi Bu Diana tak ada. Ryan mencari Ryan di setiap ruangan, setibanya di ruang keluarga, dia melihat televisi yang tidak ada pada tempatnya.


Ryan curiga apakah ada maling, lalu pemuda ini mendekat, dia melihat sang ibu tergeletak pinsan, bahkan kepalanya berlumuran darah, di lantai dingin ruangan tersebut.


"Ibu...!" Ryan syok. Dia langsung mendekati ibu kandungnya yang sudah semakin tua tersebut, dan langsung menggendongnya keluar Rumah.


Ryan berlari sambil menggendong sang ibu, dia juga berteriak minta tolong pada tetangganya.


"Toloong, tolong...." Ryan meminta bantuan pada siapa saja yang lewat.


Para tetangga, yang kebetulan ada yang lewat serta ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, mampir ke rumah Ryan.


"Ada apa mas?" tanya Pak RT yang kebetulan dari rumah sebelah menagih uang kebersihan.


"Saya minta tolong, bapak atau ibu, tolong lapor ke polisi, sepertinya di rumah saya ada rampok atau orang jahat, ini ibu saya jadi korbannya. Laporkan juga Monika menantu Ibu, karena barusan saya berpapasan dengan dia di ujung jalan dengan mengendarai mobil ibu dengan sangat kencang, saya takut mereka sedang bertengkar." Ryan menyerahkan urusan lapor melapor kepada tetangga, dia juga meningalkan no plat mobil ibunya pada mereka serta kartu nama nya pada pak RT.

__ADS_1


Rayhan segera membawa ibunya ke rumah sakit terdekat, supaya segera mendapatkan pertolongan.


__ADS_2