
Ryan mendengarkan kata-kata Ramon, dia akan kembali bangkit hanya untuk istri dan anaknya, Ryan akan menyewa detektif yang handal untuk mulai mencari mereka lagi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
"Tuan, bukannya dulu nona Fani pernah sekolah dan tinggal di Singapura, kenapa kita tidak mencari beliau di sana? siapa tahu beliau ingin membuka lembaran baru disana, tanpa anda ketahui, Tuan." Ramon mengingatkan sesuatu yang belum Ryan temukan dari kemarin.
"Ah kamu benar, tapi dari data yang kita peroleh, tidak ada nama Fani dalam perjalanan ke luar negeri maupun luar kota, Ramon." Ryan masih ragu kalau Fani ke negara itu.
"Fani kabur dari rumah sakit, tanpa uang sepeserpun, bagaimana dia bisa kembali ke negara tersebut," batin Ryan.
Ryan lalu teringat Budi supir Raffi Hartawan, bisa saja supir itu tahu dimana Fani berada.
"Tolong kamu temui dan selidiki pak Budi, mantan supir papa Raffi! aku curiga orang itu tahu dimana Fani saat ini." Ryan minta tolong pada Ramon.
Ramon berjanji akan membantu Ryan untuk mencari Istrinya tersebut, Ramon merasa iba dan kasihan pada sahabat sekaligus atasannya tersebut. pemuda ini hanya di peralat ibunya untuk balas dendam, bahkan dendam itu adalah dendam yang salah.
"Ramon aku akan mengalihkan semua saham yang saat ini atas namaku menjadi Fan. Dialah pemiliknya yang asli, aku mendapatkan semua itu dari usaha yang salah, dan harus di kembalikan pada yang berhak," ujar Ryan pad asisten dia ini.
Ramon mengangguk paham. " Tapi kamu juga harus bangkit dan kembangkan perusahaan ini! apakah kau akan mengembalikan pada Fani setelah nanti perusahaannya terpuruk? sama seperti orangnya." Ramon berucap.
Ryan mengerti, dia akan fokus lagi dan akan membuat perusahaan papa Raffi dan Fani ini me jadi yang terbaik di negeri ini, sebagai tanda maaf dia.
Malam berubah menjadi pagi, Diana datang ke rumah sakit untuk menjenguk putranya. Dia tidak datang sendirian tapi bersama Monika, putri bungsu pak Lurah yang tinggal di komplek mereka.
__ADS_1
"Ryan, kau sudah sadar nak?" tanya Diana pada Ryan. Ryan hanya mengangguk, tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ramon baru saja keluar karena harus kembali ke kantor dan menggantikan Ryan.
"Nih lihat siapa yang datang, ada Monika yang akan menemani kamu hari ini!"
"Hai, Ryan." Monika menyapa Ryan dengan lembut dan sopan. Akan tetapi Ryan tidak suka sikap yang di buat seperti itu.
"Kenapa meski dia yang menemani Ryan, memang ibu mau kemana?" tanya Ryan.
"Maaf ya sayang, ibu ada arisan sebentar, gak enak kalau ibu tidak hadir, karena minggu arisan depan arisan akan gilir ke rumah kita." Diana mulai beralasan.
Ibu kandung Ryan mulai berbohong, sebenarnya dia tidak ada arisan atau acara yang lain, dia memang sengaja akan meninggalkan Monika untuk menemani dan merawat Ryan supaya mereka jadi semakin dekat, dan Bu Diana ingin sekali punya menantu seperti Monika yang cantik dan juga sopan.
"Aku bisa sendiri, ada suster yang akan membantuku, jika ada yang aku butuhkan, lebih baik Monika pulang saja bersama, Ibu." Ryan menolak di temani Monika.
"Tidak apa-apa Ryan, kebetulan aku free hari ini jadi tidak ada kegiatan, daripada bengong di rumah, disini aku ada kegiatan dan bisa membantu kamu." Monika juga kekeh mau merawat Ryan.
Ryan diam saja, tak peduli lagi, mau wanita itu ada atau tidak itu tak membuat dia senang. Diana membawakan pakaian ganti dan juga makanan untuk putranya, dia mulai berdrama pada Monika.
"Lihatlah dia Mo, itu gara-gara pacarnya, pacar Ryan ini sungguh egois, dia tiba-tiba menikah dengan orang lain dan meninggalkan putra ibu yang ganteng ini begitu saja." Bu Diana mulai membuat cerita bohong.
"Coba lihat apa kekurangan dia, ganteng, mapan, baik dan berbakti, apalagi coba?" Diana mulai membicarakan kelebihan Ryan.
__ADS_1
Ryan hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar cerita dari bu Diana."Siapa yang di tinggalkan pacar, Ryan tidak punya pacar, tapi Ryan punya istri, Bu." Ryan mengoreksi kata-kata Ibunya.
Bu Dian mengkode Ryan supaya diam dan mendengar saja apa yang Bu Diana katakan. Monika tampak kaget mendengar kalau Ryan beristri, Karena tidak ada yang tahu kalau Ryan sudah menikah, bahkan tetangga samping rumah saja tak tahu.
"Jangan dengarkan dia, Ryan memang sudah menganggapnya sebagai istri, entah tak tahu bagaimana model pacaran anak jaman sekarang, tapi apa yang sudah dia toreh pada putraku luka dan luka." Diana membuat cerita baru lagi dan membalikkan fakta.
"Siapa yan menorehkan luka, bukannya ibu dan aku yang membuat dia terluka, cukup bu jangan buat luka baru laki dalam hidup Ryan, setelah Ryan keluar dari sini Ryan akan mencari dan membawa pulang Fani." Ryan bahkan mengatakan kalau dia akan terus mencari Fani dan membawanya pulang.
"Tidak, perempuan murahan itu tidak boleh kembali lagi, dia sudah menghancurkan hidup kamu, dan ibu tidak akan memaafkan dia, kemarin dia hampir saja membuat ibu kehilangan putra dan harta ibu yang paling berharga ini." Diana masih saja ngotot kalau Fani lah yang bersalah selama ini.
Wanita paruh baya ini masih belum sadar apa yang sudah dia lakukan pada Menantunya dulu, menyiksa dan menyakiti dia.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada ibu, Fani tidak pernah membuatku terluka, justru kita yang sudah menghancurkan hidupnya, sebenarnya bagaimana pemikiran ibu ini, dulu ayah meninggal ibu menyalahkan orang lain, Ryan sakit juga karena ulah Ryan sendiri. Ibu juga menyalahkan orang lain, ah." Ryan menutup telinganya rapat-rapat.
Pemuda satu itu menggeser tidurnya dan membelakangi mereka, dia menutup seluruh tubuhnya dengan Selimut.
Ryan akan menganggap semua perkataan yang Ibunya lontarkan itu angin lalu, jadi mulai sekarang dia akan fokus bekerja dan mencari Fani serta calon anaknya itu.
Diana akhirnya pulang, meminggalkan Ryan bersama Monika berdua di dalam kamar inap Ryan.
"Mas, mau di kupas kan buah? Mas Ryan jangan di masukkan ke dalam hati perkataan Ibu, orang tua memang suka begitu, dia khawatir berlebihan pada putranya, mulai sekarang Monika yang akan membantu Mas Ryan supaya pulih, dan jangan pikirkan masa lalu yang menyakitkan ini." Monika sok menasehati Ryan.
__ADS_1
Ryan hanya diam saja, dia tak menjawab atau menanggapi Monika, Ryan menganggap Monika angin lalu. Ryan akan memanggil suster kalau membutuhkan sesuatu seperti ketika Monika tidak ada.