
Monika langsung protes ketika dia sampai di kantor polisi. " Pak, apa-apaan ini? kenapa saya di bawa kesini ? pakai di borgol segala, seperti penjahat saja," ujar Monika.
"Iya nyonya, Anda kami tangkap atas laporan Tuan Ryan, Pagi ini Anda telah melakukan penganiayaan terhadap Nyonya Diana, mertua Anda sendiri, hingga beliau meregang nyawa." Polisi menjawab protes Monika.
Monika kaget, darimana Ryan tahu kalau dirinyalah yang membuat ibunya seperti itu. "Ta-tapi pak, saya tidak melakukan semua yang dituduhkan Ryan suami saya itu, saya semalam tidak tidur di rumah saya tadi malam ketiduran di rumah Amel saudara saya, dia baru saja melahirkan." Monika merancang sebuah kebohongan.
"Oh ya, tapi dari laporan yang kami dapatkan, Anda tadi pagi keluar dari rumah dengan mengendarai mobil Nyonya Diana dengan kecepatan tinggi, keluar dari komplek rumah kalian." Polisi mulai memancing pengakuan Monika.
"Itu tidak benar, Pak. Saya sangat menyayangi ibu mertua saya, bahkan kami sangat kompak, Ibu juga yang menikahkan saya dengan Ryan putra beliau, mana mungkin saya menganiaya beliau," jawab Monika.
"Jawab saya dengan jujur Nyonya, kalau Anda tidak jujur, kami akan membuat anda mengakui perbuatan Anda dengan cara yang kasar." Polisi Mengancam Monik.
"Sum-sumpah pak, saya baru pulang dari rumah saudara saya." Monika masih tak mau mengakui semua kesalahan dia.
Polisi menunjukkan sebuah CCTV yang ada di post satpam pintu masuk komplek, disana nampak mobil fortuner dengan nomer yang sama melaju keluar dari area komplek dengan kecepatan tinggi. Bukan hanya itu saja Polisi juga menunjukkan sidik jari dia yang ada di leher serta rahang Bu Diana. Meski ada sidik jari lain, tapi yang jelas di area Luka Bu Diana terdapat sidik Jari Monika.
"Enggak, aku tidak bersalah, aku tidak menganiaya atau menyakiti Ibu. hiks..., hiks..., Ibu mertuaku sendiri yang menyakiti dirinya, dia punya kelaianan jiwa." Monika masih mengelak dan mengeluarkan pembelaannya.
"Silahkan katakan semuanya di pengadilan nanti nyonya. Aldo, bawa nyonya Monika ke sama sel A! " perintah kepala Polisi pada anak buahnya.
"Enggak, aku gak bersalah, pak aku akan menghubungi ayah saya , dia akan buktikan kalau aku tak bersalah pak, aku tidak di rumah dari tadi malam." Lagi-lagi Monika berbohong, dia memberontak tak mau Di bawa ke sel.
"Tinggalkan saja nomer telpon ayah Anda! nanti kami yang akan menghubungi beliau!" pinta polisi.
__ADS_1
"Gak, mana ponsel saya, biar kau sendiri yang menghubungi dia, aku juga akan cari pengacara terbaik di kota ini, serta akan menuntut balik Ryan dan ibunya." Monik meminta ponselnya yang di sita polisi.
"Memang ada tahanan membawa ponsel, tinggalkan nomer telpon itu di sini, atau tidak sam sekali! " Polisi yang tadinya biasa saja, sekarang menaikkan nada suaranya.
Monika hanya bisa menelan saliva nya dengan kasar lalu menuruti perintah kepala Polisi tersebut, Monik menulis nomer handphone ayahnya di buku yang Polisi sodorkan padanya. Kemudian dia di bawa ke sel tahanan, bersama Napi yang lain.
Monika masih berteriak-teriak seperti orang gila saja membuat penghuni sel yang lain merasa terganggu.
"Woi! Bisa diam gak Lu?" gertak salah satu penghuni sel yang tampangnya garang tersebut.
Monika yang sejak tadi belum melihat suasana sel menoleh, di belakang dia terdapat empet wanita yang wajahnya nampang garang.
"Ma-maaf nyonya." Segera Monika meminta maaf pada mereka.
Monika cukup ketakutan mendengar ancaman dari senior dia.
"Sebaiknya lu pijitin Gue daripada berdiri gak guna seperti itu, sini!" Senior Monika meminta dirinya untuk mendekat.
Dengan perlahan Monika segera mendekati mereka, Salah satu dari keempat senior menarik tangan Monika ke pojokan , ke sebuah tikar yang di gelar disana, kemudian wanita yang postur tubuhnya paling tinggi dan besar duduk di depan Monika lalu meminta Monik untuk memijatnya.
Di rumah sakit, operasi kepala Bu Diana baru saja selesai di laksanakan, tetapi ada sebuah kendala yang mereka atasi, Bu Diana mengalami adema serebal atau hidrosefalus atau pembengkakan otak pada kepala Bu Diana, jadi belum bisa memasang tempurung kepala Bu Diana, masih ada operasi kedua yang akan di laksanakan tiga hari lagi.
Tubuh Diana di bawa ke ruang icu, dengan suhu minimum serta steril untuk menghindari bakteri dan pengembangan yang terus berlangsung.
__ADS_1
Dokter memanggil Ryan ke ruangannya dan menceritakan semua yang terjadi pada Ibunya tersebut.
Ryan cukup Syok mendengarkan semua penjelasan dari dokter, maklum saja usia bu Diana juga yang sudah tua, jadi daya tahan tubuhnya juga berkurang.
Setelah kepergian Fani Ryan merasakan kesialan dalam keluarganya terus datang silih berganti, ibunya yang kekeh menikahkan Ryan dengan Monika malah mendapatkan ketidak kepuasan pernikahan mereka, yang lebih parah lagi, beliau mengalami perlakuan buruk dari menantu pilihannya tersebut.
Ryan menyugar rambutnya dengan kasar, dia akan berusaha semakin keras untuk bisa bertemu dengan Fani bahkan membawanya kemabli ke tanah air, selama setahun ini Ryan trus berusaha mencari jadwal Fani bahkan dengan berbagai macam usaha supaya bisa bertemu dengan Fani, tapi tak pernah berhasil, Ryan belum bisa mendapatkan celah sedikitpun.
Usaha Fashion fani yang bernama bintang tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesan dalam setahun ini, Perusahaan baru Ryan juga sudah mulai berkembang, ini adalah jalan terakhir yang akan dia gunakan untuk menemukan istrinya tersebut. melalui bisnis Ryan berharap, semoga bisa bertemu, dan mengungkapkan semuanya, pemintaan maaf maupun mengutarakan perasaan dia selama ini.
Meskipun kenyataan pahit yang akan dia peroleh nanti atau konsekuensi terburuk sekalipun, Ryan sudah menyiapkan hati dan pikirannya.
Tapi ibunya juga butuh perhatian, keadaanya cukup parah, dia hanya bisa pasrah dan berdoa supaya sang ibu bisa di sembuhkan, agar nanti bisa bersama-sama mencari Fani lalu meminta maaf.
Setelah dari ruang dokter Ryan berjalan dengan langkah lemas menuju ke ruang iCU, di mana sang ibu di rawat.Sebelum sampai di pintu masuk, ponselnya berbunyi, terdapat panggilan dari kantor polisi.
"Tua, kami sudah menangkap Nyonya Monika, dan kami meminta anda datang ke kantor memberi kesaksian atas kasus tersebut, beserta pak RT yang kemaren melapor itu, Tuan." Polisi meminta Ryan datang ke kantorg untuk laporannya dan menjadi saksi atas kasus yang menimpa ibunya.
"Baik pak, nanti sehabis dhuhur saya akan ke sana, ini masih di rumah sakit, masih ada konsultasi dengan dokter Mama saya." Ryan menjanjikan akan datang setelah sholat dhuhur.
Ryan menutup sambungan telponnya dan masuk ke ruang ICU, nampak tubuh ibunya yang mulai kurus,di tambah banyak peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Ryan duduk di kursi tunggu, dia meraih tangan ibunya dengan perlahan. Mencium punggung tangan yang mulai keriput tersebut, dengan linangan air mata.
__ADS_1