NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Ryan mulai gila


__ADS_3

Ryan, terus mencari istrinya tak kenal lelah, bahkan dia tidak pernah pulang ke rumah. Ryan lebih memilih ke club atau ke pantai untuk menenangkan diri. Jika Pemuda itu pulang ke rumah ibunya yang ada cuma berantem.


Bu Diana terus mencoba menghubungi anaknya itu, tapi tak satupun panggilannya di jawab. Ibu Ryan sangat khawatir terjadi apa-apa dengan putra semata wayangnya tersebut.


Hari ini Diana nekad berangkat ke kantor, Ryan. Sebuah perusahaan yang di berikan Oleh Raffi kepada Fani, dan di kelola oleh menantunya itu.


Lewat perusahaan ini juga Ryan mengambil alih semua saham di perusahaan pusat. Tapi sudah hampir satu minggu, pemuda itu tidak pernah masuk ke kantor cuma Asistennya saja yang datang.


Diana memasuki lobi kantor, dia langsung bertemu dengan Ramon asisten Ryan. " Selamat pagi nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ramon dengan sopan kepada ibu atasanya ini.


"Dimana, Ryan?" tanya Diana dengan angkuh.


" Maaf Nyonya, Tuan Ryan sudah lima hari tidak masuk kantor, keadaan beliau cukup kacau. Setiap malam mabuk-mabukan dan seperti orang gila mencari nona Fani terus." Ramon mengaty yang sejujurnya mengenai keadaan atasannya.


" Ngapain di cari, memang ada dimana perempuan itu?" Diana cukup heran dengan sikap Ryan.


"Nona Fani kabur dari Rumah sakit bersama bayi yang dia kandung, nyonya. Tuan merasa sangat menyesal dengan semua yang terjadi." Ramon kembali melaporkan semua yang dia tahu pada Diana.


Wanita paruh baya itu, memutar bola matanya jengah, dia sangat jengah dengan sikap lebay anaknya itu. " Ngapain di cari, kabur ya biar kabur saja, itukan lebih baik. Memang mau kabur kemana semua yang dia miliki sudah habis, Papanya juga sudah meninggal, katakan dimana Ryan!" Diana membentak Ramon dengan kasar.


Pemuda tersebut hanya bisa mengelus dada saja, kok ada seorang ibu yang seperti ini. Tidak ada rasa empati terhadap nasib menantunya, dia malah sangat menikmati penderitaan menantu malangnya tersebut.


" Mungkin di Apartemen, Nyonya. Tadi malam saya yang mengantarkan beliau pulang." Ramon memberikan alamat serta kunciApartemen Ryan, karena biar bagaimanapun juga, Diana adalah ibu kandung Ryan, dia berhak tahu apa yang terjadi pada putranya.


Ryan saat ini berada di Apartemen, entah apakah pemuda ini sudah mulai gila atau sedang berhalusinasi. "Fani...." Ryan Ambruk Dari ranjangnya, dia melihat sosok Fani berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Dengan langkah sempoyongan, Ryan mengikuti kemana arah Fani berjalan. Dia terus berjalan menuju ke dapur, disana nampak Fani tersenyum manis menyambut dirinya. Ryan tersenyum dan berjalan ke arah bayangan Fani.


"Fani.... " Ryan Ambruk di kursi dapur, dia memandangi dapur apartement ini, dimana Fani menyiapkan ayam goreng pertamanya. Air mata pemuda itu kembali luruh, dia dalam posisi sangat rapuh kali ini.


"Fani, jangan tinggalkan aku, aku menyesal Fani, aku iblis paling kejam di muka bumi ini, kau boleh memukulku, kau beloh mecambukku, kau boleh Menamparku tapi jangan tinggalkan aku, Huhuuu...." Ryan menangis dan tangannya terulur, seolah ingin Meraih bayangan Fani.


Pandangannya semakin lama semakin kabur, dia tertidur di meja makan dapur.


Bu Diana yang mendapatkan alamat serta kunci Apartemen Ryan segera berangkat ke tempat itu.


Diana membuka Apartemen Ryan, yang masih gelap. Dia menutup hidungnya, bau tak sedap menyeruak hidung wanita paruh baya tersebut, aroma rokok plus alkohol memenuhi Apartemen Ryan.


Diana menelusuri Ruangan demi ruangan, hingga akhirnya menemukan Ryan Yang tertidur, sambil terus menyebut nama Fani dan Fani.


Diana menggelengkan kepalanya, dia tak menyangka anaknya akan jadi seperti ini. Diana membangunkan Ryan, dia mulai menggoyangkan bahu Ryan perlahan.


Ryan merasakan wanita yang membangunkan dia itu adalah Fani. Ryan mengucek- ngucek kedua matanya, kemudia pemuda ini tersenyum dan langsung memeluk erat ibunya tersebut yang dia kira itu adalah Fani.


"Fani, kamu akhirnya pulang sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mencintai kamu dan anak kita sayang, jangan khawatir lagi ya, aku akan membuat kamu dan buah hati kita bahagia." Ryan masih memeluk Ibu kandungnya itu dengan erat.


Diana akhirnya mendengar apa yang dirasakan Putranya saat ini. Sama persis ketika dia di tinggal Ayah Ryan untuk selamanya.


Sewaktu hidup, dia menjadikan suaminya mesin pencari uang, dengan alasan banyak kebutuhan yang harus di penuhi, bayar hutang ke si A, Si B.


Kejadian itu terulang lagi, selama ini dirinya dan Ryan secara terang-terangan menganiaya gadis malang itu tapi, ketika dia tidak ada rasa penyesalan itu tumbuh.

__ADS_1


Diana meneteskan airmatanya, dia dapat merasakan perasaan Ryan saat ini. Tubuh Ryan terasa panas. Diana merasa ada yang aneh dalam diri putranya tersebut, badannya semakin berat saja ketika memeluk dirinya.


Diana mulai memeriksa keadaan Ryan, ternyata dia tak sadarkan diri. Diana mendudukan Ryan di kursi terdekat lalu dia menghubungi penjaga apartemen lewat panggilan darurat.


" Tolong putra saya pak! bawa ke Rumah sakit saja!" Diana meminta kedua penjaga keamanan tersebut membawa Ryan ke Rumah sakit.


Di rumah Dokter Ibra, Fani meminta Izin untuk mengunjungi makam Papanya sebelum dia nanti malam berangkat ke Singapura bersama tim Yang Najwa ceritakan.


"Kak Najjwa, ijinkan Saya mengunjungi makam papa sebelum berangkat!" Fani minta ijin pada Najwa, sebelum istri Dokter Ibra berangy ke Kantornya.


" Iya sayang, nanti bang Narji yang akan menemanimu ke sana." Najwa mengijinkan Fani ke makam Papanya, setelah supir pribadinya tersebut mengantarkan dirinya, maka akan menemani Fani ke makam.


🌷🌷🌷


Setibanya di makam sang Ayah, Fani segera menubruk makam yang masih merah tersebut, dia menangis sejadi -jadinya. Tak menyangka Ayahnya akn secepat ini meninggalkan dirinya.


"Papa..., kau sungguh tega meninggalkan aku sendiri di sini, di tempat yang penuh dengan orang-orang jahat, aku bertahan demi dirimu, demi bisa berkumpul denganmu lagi, pa." Fani menangis di atas pusara Sang Papa.


Fani tidak mempedulikan pakaian akan kotor atau apa, yang penting untuknya saat ini adalah bisa meluapkan segala emosi dan sesak di dadanya.


Tiba-tiba ada sebuah tangan besar menyentuh bahunya. Fani sangat kaget dengan kehadiran tangan itu, dia tidak takut apa-apa kecuali di temukan oleh Ryan dan ibunya.


" Non," panggil Pak Budi.


Fani mendingan ke atas menoleh siapa gerangan pria itu. Dari suaranya Fani hafal betul kasi itu suara Pak Budi.

__ADS_1


" Mang Budi." Fani langsung berdiri memeluk pria paruh baya yang menjadi supir kepercayaan Papanya tersebut.


Airmata nya kembali luruh tak terbendung lagi.


__ADS_2