
Diana cukup syok dengan belanjaan Monika, uang yang dia simpan selama beberapa bulan dari pemberian Ryan, kini sudah menipis.
"Kenapa Monika, tiba-tiba gila belanja sepertin ini?" Diana berkata dalam hati.
Tidak hanya itu saja, mereka kini makan siang di sebuah Restoran mahal, menu yang di pesan Monika juga yang paling mahal.
Diana sangat tekor, dia belum pernah belanja sebanyak ini, apa yang Ryan berikan selalu melebihi kebutuhan dia selama sebulan.
Di rumah juga, Monika berteriak memanggir Ranti asisten rumah tangga Diana." Ranti bawa semua belanjaanku di kamar, aku mau mandi dulu!' perintah Monika.
Monika berlalu dari Ruang tamu, bahkan menantu yang baru saja dia dapatkan ini sudah seperti penguasa rumah saja, bukannya dia mau ke kamar, kenapa harus menyuruh Ranti.
Ranti mengikuti Monika, semetara Diana kembali ke kamarnya dengan rasa kecewa. Dia melangkah ke kamar mandi dengan lesu. Wanita paruh baya itu segera berendam di air hangat dan setelah itu merebahkan tubuhnya di kasur. Capek pikiran dan badan, dia capek harus muter-muter Mall menuruti kemauan Menantunya, capek pikiran karena dia bingung mau bicara apa pada Ryan padahal uang itu baru di beri Ryan seminggu yang lalu, sudah habis,masih tiga minggu lagi untuk menunggu.
Siang berubah menjadi malam, Bu Diana keluar dari kamarnya ketika Mendengar suara Monika marah-marah terhadap Ranti.
"Bi, bi Ranti, kenapa di meja makan cuma ada ini? Monik sudah lapar." Monika melihat di meja makan terdapat ayam goreng lalapan dan sayur asem.
"Iya, nyonya, Saya masak ayam goreng itu, biasanya Tuan Ryan suka dan nyoya Diana suka sayur asem," jawab Ranti.
"Malam-malam makan sayur asem, mbok ya yang modern dikir makannya, Ryan itu CEO perusahaan, paling tidak steak atau apa kek, masak sahur asem dan ayam goreng, lihat penampilannya saja tidak meyakinkan seperti ini, ya sudah kamu beli Chikcken katsu sana di ujung Komplek, aku mau makan itu!" Monika meminta menu yang lain, dia tidak suka ayam goreng tradisionbal seperti itu.
"Uangnya, nyonya?" tanya Ranti.
"Minta sama ibu, lagian Ryan juga belum memberiku uang," sewot Monika.
Ranti menemui Diana untuk meminta uang.
Katanya tak suka ayam goreng yang kuno, tapi dia malah mengambil dua potong ayam untuk di bawa ke ruang tv, sambil melihat televisi Monika makan ayam tersebut tanpa nasi.
__ADS_1
"Katanya tidak suka makan ayam goreng yang kuno sepeti ini , kok di makan! lagian Ryan belum pulang lho, seharusnya kamu menunggu suamimu pulang dulu, baru makan!" Diana mengingatkan menantunya.
"Sori bu, saya punya asam lambung jadi tak boleh telat makan, lagian ini juga gak makan pakai nasi, cuma ayam doang saja kok repot," jawab Monika.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini, mana Monika yang lembut dan sopan?"
"Kurang sopan bagaimana sih bu, masak makan ayam goreng saja ibu bilang kurang sopan, kalau kurang sopan itu ya bentak-bentak ibu atau mukul ibu, itu baru tak sopan," jawab Monika dengan ketus.
Monika melanjutkan kembali acara nonton drakor yang dia sukai, sementara Diana menghubungi Ryan untuk segera pulang.
Ryan pulang bertepatan dengan Ranti membuka pintu gerbang.
"Eh, den Ryan sudah pulang," kata Ranti.
"Darimana, Mbak?" tanya Ryan.
"Tidak apa-apa katakan saja, biarkan ibuku tahu rasa seperti apa menantu pilihannya," jawab Ryan.
"Oh ya, mbak Ranti, sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam, kenapa bisa saya tidur dengan anak pak lurah tersebut, bukannya saya ketiduran di sofa?" tanya Ryan.
"Kami yang memindahkan anda di kamar, Den. Dan selanjutnya bibi tak tahu apa-apa," jawab Ranti dengan jujur.
"Oke, teruima kasih mbak, kamu bisa masuk dan berikan ayam itu pada Monik!' pinta Ryan.
Ranti segera masuk, sementara Ryan masih duduk di kursi Teras rumahnya. Ranti memberikan makanan yang di pesan Monika, dan Diana meminta untuk Monika makan bersama dengan suaminya, dan menunggu barang sebentar, karena tadi Ryan sudah ada di perjalanan.
"Jangan makan dulu, Ryan masih dalam perjalanan!" cegah Diana.
"Iya, iya bu, bawel amat," jawab Monika dengan nada kesal.
__ADS_1
"Tidak perlu marah, ibu mertua tersayang, kalau ibu marah-marah, aku akan ceritakan pada Ryan tentang semua rencana ibu kemaren, dan semua rencana ibu Monik pegang, jadi Ibu diam saja!" Monika mengancam Diana untuk mengatakan semuanya pada Ryan, supaya Ryan membencinya.
"OKe, ibu akan diam saja, tapi jangan ceritakan semuanya pada Ryan, dia akan sangat marah dan membenci ibu, kau juga sudah beruntung sekali bisa mendapatkan anak ibu, yang tampan dan kaya." Diana tak mau kalah.
"Untung apanya, sampai saat ini dia belum membari Monika apa-apa, kalau Ryan tak memberiku nafkah, maka aku akan minta pada ibu," jawab Monika. Dengan tersenyum lebar Monika berjalan menuju ke meja makan sambil membawa bungkusan tersebut, menatanya ke dalam piring.
Ryan masuk, dan segera di sambut oleh keduanya seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka. "Assalamu'alaikum." Ryan mengucapkan salam.
"Eh sayang, sudah pulang?" Monika dan Diana segea mendekati Ryan, bahkan tidak menjawab salam Ryan, Diana menyambut Ryan dengan baik, Monika juga segera mengambil tas kerja Ryan, lalu mencium tangan suaminya tersebut, Ryan diam saja melihat reaksi Monima bahkan dia tak merespon semuanya, lalu Ryan mencium tangan ibunya.
Dua wanita itu menggandeng tangan Ryan ke ruang makan, mereka sudah lapar, karena menunggu Ryan yang tak kunjung datang. Atau memang sengaja tak masuk tadi.
Ryan kebetulan sudah makan bersaa Ramon di luar, dia malas berurusan dengan kedua wanita di rumahnya.
"Sayang, ayo kita makan, aku dan ibu sudah lapar sekali, lho apalagi aku punya riwayar asam lambung, dan kamu tak kunjung pulang." Monika berkata sangat manja dan mengandeng tangan Ryan.
"Maaf, kalian makan saja, tadi aku sudah makan malambersama klien, mulai besok janga tunggu aku makan malam, kasihan kalau kamu ada penyakit perut yang serius." Ryan pura-pura pedulidengan istri barunya tersebut.
Ryan melepas tangan Monika perlahan." Kalian makan saja, aku akan mandi dulu, lengket sekali rasanya badanku," kata Ryan.
"Monika, sebaiknya kamu layani suamimu dulu, siapkan air dan juga pakaina dia, baru makan!' perintah Diana.
"Tapi Bu," Monika mulai mengelak.
"Tidak apa-apa, kalian makan saja, aku bisa sendiri, kasihan menantu ibu, bagaimana kalau sakitnya kambuh, ibu mau?" Elak Ryan.
Pemuda itu mengambil tas kerjanya kembali yang di letakkan di meja ruang tenang oleh Monika, lalu dia langsung ke kamarnya.
Ryan segera mengunci kamar tersebut, supaya Monika tak masuk, dia tak mau aktifitasnya di ganngu oleh Monika.
__ADS_1