NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Bu Diana jatuh pingsan


__ADS_3

Rayhan segera membawa ibunya ke rumah sakit terdekat, supaya lekas mendapatkan pertolongan.


"Ternyata ini jawaban dari kegundahan ku sejak semalam," batin Ryan. Ryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak mau terjadi apa-apa pada ibunya.


"Monik, pasti wanita ular itu yang membuat ibu seperti ini, dan ini semua pilihan ibu, kita menyia-nyiakan wanita yang baik, tapi malah memelihara ular di rumah sendiri."


Sesampainya di rumah sakit, Ryan segera memanggil dokter untuk segera menolong ibunya yang sedang sekarat tersebut.


Sementara pak RT juga sudah melaporkan kasus ini kepada polisi. Pihak kepolisian juga cepat bertindak, mereka segera mencari mobil yang sudah mereka kantongi plat nomernya, serta memeriksa keadaan rumah Diana.


Dua orang polisi juga sudah menghubungi Ryan, kini mereka juga menuju ke rumah sakit. Kepala polisi di ijinkan ikut masuk ke ruang operasi Diana, dia memeriksa kondisi fisik Diana, siapa tahu ada bekas luka atau tindak kekerasan.


"Pak, kami menemukan bekas jari tangan di leher pasien, sepertinya itu bekas cekikan, dan menurut hasil rontgen, bukan di leher saja, tapi di rahang pasien juga terdapat memar, bisa jadi ini ada hubungannya dengan kekerasan." Dokter menerangkan apa yang sudah dia periksa kepada pak polisi.


"Kalau begitu kita lakukan iedentisfikasi sidik jari! apakah itu milik pasien sendiri atau orang lain?" pinta polisi.


"Siap pak." Tim dokter akan melakukan yang terbaik untuk pasien mereka.


Saat ini mereka melakukan operasi terhadap kepala Bu Diana, karena terdapat penggumpalan darah, serta Bu Diana mengalami gegar otak ringan. Ryan hanya bisa berdoa kepada Allah untuk kesembuhan ibunya.


Polisi yang tadi masuk ke ruang operasi tersebut akhirnya keluar, beliau membawa sidik jari yang ada di leher Bu Diana dan juga sidik jari Bu Diana sendiri.


"Pak Ryan, apakah tadi bapak juga memegang Bu Diana selama perjalanan kemari?" tanya Polisi.


"tentu saja pak, saya yang menggendong Ibu saya, otomatis saya memegang bagian bagian tubuh beliau, memangnya kenapa? apakah ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Ryan dengan menggebu.

__ADS_1


"Iya pak, menurut pemeriksaan dan hasil Rontgen, Bu Diana mengalami kekerasan fisik sebelum beliau jatuh atau kecelakaan. Kalau boleh tahu siapa saja yang ada di rumah saat itu?" tanya Polisi.


"Keika saya datang, tidak ada siapa-siapa di rumah, tapi biasanya ibu tinggal berdua dengan monika menantunya, dia istri saya. Ketika saya memasuki pintu masuk komplek rumah kami, mobil ibu saya keluar dengan kecepatan tinggi, say yakin kalau itu Monik yang mengendarainya, dia juga tak ada di rumah ketika saya pulang. Sementara pintu gerbang, pintu rumah terbuka lebar saat itu." Ryan menjelaskan apa yang dia alami tadi pagi ,hingga Ryan menemukan ibunya sudah terkapar di lantai bersama pecahan kaca dari televisi.


"Oke pak Ryan anda tunggu laporan dari kami, sekarang anda akan menjadi saksi dalam kasus ini juga bersama pak RT yang melaporkan kejadian ini pada kami." Polisi tersebut akan kembali dan mengumpulkan semua bukti yang ada.


Monika yang bingung mau kemana, dia masih muter-muter tak jelas.


"Aduh aku harus sembunyi dimana ini, ke rumah Ayah Ryan pasti akan tahu menyusulku, pria sombong itu pasti akan membuat perhitungan denganku." Monika berbicara sendiri di dalam mobilnya.


"Ah, aku ke rumah Doni saja, disana pasti aman." Monika punya ide untuk bersembunyi dulu di rumah pacarnya. Monika berharap kalau Diana akan mati. Jadi tak akan ada yang tahu kalau dia yang sudah menyebabkan jiwa mertuanya itu melayang.


Ketika mobil Monik melewati sebuah pertigaan jalan di taman X. Mobilnya di hentikan oleh polisi lalu lintas. Polisi yang sudah mengantongi no seri mobil fortuner tersebut segera menghentikannya.


Tok...,tok...,tok.


salah satu polisi mengetuk kaca mobilnya.


Monik membuka kaca mobil tepat di sampingnya, mukanya yang pucat bisa di lihat jelas oleh polisi.


"I-iya pak, ada apa ya?" tanya Monik.


"Tolong tunjukkan surat kelengkapan mobil dan surat ijin, Anda!" pinta polisi.


Monika membuka dompetnya dan memberikan sim serta STNK mobil tersebut, dia yang membawa STNK mobil ini, karena setiap ahri Moniklah yang membawa mobil itu.

__ADS_1


"Bisa Anda keluar dulu Nona!" pinta polisi lagi. Salah satu rekan pak polisi tersebut juga sudah menghubungi kantor, kalau mereka sudah menmukan Mobil dan pengemudinya.


Monika keluar, tanpa tahu kalau dirinya saat ini adalah buronan polisi dalam suatu kasus yang baru saja di laporkan.


"Kenapa ya pak?" tanya Monika heran.


"Anda ikut kami ke kantor polisi!"


"Apa salah saya, surat-surat saya lengkap, sim juga ada, saya buru-buru pak tidak ada waktu untuk ikut bapak-bapak ke kantor polisi.


"Buru-buru sampai lupa memgganti pakaian, ayo Anda ikut kami ke kantor dulu!" ajak mereka.


"Eh tunggu dulu! apa kesalahan saya? sehingga saya harus ikut kalian , gak bisa." Monik segera menolak dan akan masuk kembali ke dalam mobilnya.


polisi segera menutup pintu mobil tersebut, dan mengambil kunci mobil monik. Mereka membawa Monik ke dalam mobil polisi lalu lintas,dengan paksa sementara Mobil Monik akan diamankan juga di kantor polisi.


Monika mencoba memberontak, tapi usahanya gagal. Tenaga dia kalah dengan tenaga pak polisi tersebut.


Monika menggila di sepanjang perjalanan hingga akhirnya harus di borgol.


"Saya bukan penjahat, apa yang bapak lakukan pada saya?" Monika cukup marah dan kesal, wanita itu merasa takut juga kalau sampai polisi tahu apa yang baru saja dia lakukan.


"Tenang nona, semua bisa Anda tanyakan di kantor, kami cuma menjalankan tugas dari atasan, kalau Mobil yang anda naiki saat ini ada masalah, itu saja yang kami tahu Nona." Polisi lalu lintas tersebut menyampaikan sedikit informasi yang dia dapat, karena ini bukan tugas utama mereka.


Monika tak bisa mengelak lagi dia pasrah saja, serta mencari ide supaya bisa selamat.

__ADS_1


__ADS_2