NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Hadiah Dari Mertua


__ADS_3

Ryan langsung menuju ke ruangan Raffi, bos serta mertuanya tersebut. Ryan datang sendiri tanpa didampingi oleh Fani istrinya.


" pagi, pa! " Sapa Ryan begitu masuk ke ruangan Raffi. Tak Lupa pemuda itu mencium telapak tangan Raffi dengan takzim. Raffi menoleh kearah pintu, mencari sosok yang dia rindu.


Ryan yang paham maksud mertuanya segera memberi alasan yang tepat, kenapa dia cuma sendirian datang ke kantor Raffi.


" Maaf pa, Fani tidak bisa datang menemui Papa, dia masih sakit itu 'katanya' masih perih dan tidak enak di pakai untuk berjalan," Jawab Ryan dengan malu- malu. Mukanya bahkan memerah membicarakan hal itu, seolah-olah olah Fani sakit betulan, lebih tepatnya sakit karena MP.


Iya Fani memang sakit betulan dia berjalan saja tidak bisa perih juga di rasakan Fani saat ini. Akting Ryan sungguh natural dan apik.


Raffi faham dengan apa yang di katakan Ryan saat ini, dia jadi tersenyum sendiri dan mengingat moment-moment bersama Almarhumah istrinya.


" Ah iya papa Paham, papa juga pernah muda, mama Fani selalu mengeluh sakit serta capek setelah kami melakukannya, ternyata dia ada sakit parah. Istriku meninggal ketika Fani Berumur empat tahun..., dua tahun kemudian papa kecelakaan serta lumpuh selama dua tahun. kasihan anak itu dari kecil kurang kasih sayang makanya dia menjadi manja tolong lindungi Fani ya, Ryan! " Raffi menceritakan kalau Fani kehilangan ibunya sejak umur empat dan umur 6 tahun papa tidak bisa full menemani dia, papa harus berobat menyembuhkan kaki Raffi


Dada Ryan terasa ter-cubit mendengar kisah Raffi. ayah mertuanya itu pernah Lumpuh di usia Fani yang itu masih kecil. Tapi dia tidak boleh lengah atau kasihan ibunya jauh lebih menderita, dia harus berjuang mati- matian membesarkan dirinya. bahkan Ryan kecil sering makan hanya memakai nasi dan lauk garam saja.


Rasa sayang dan hormat Ryan jauh lebih besar kepada ibunya, jadi dia akan tutup telinga jika ada yang membicarakan hal yang buruk tentang ibunya. Bahkan Ryan akan membuat perhitungan dengan orang tersebut.


" Oh ya, Ryan. Sebenarnya maksud papa memanggil kalian kemari ingin menyerahkan ini pada kalian." Raffi menyodorkan sebuah map kepada menantunya itu.


" Apa ini pa...?" Ryan merasa Heran dan masih belum mengerti dengan maksud dari Raffi.


" Ini sertifikat rumah dan perusahaan, papa yakin kamu bisa memajukan perusahaan tersebut."


Ryan sempat ragu dengan keputusan Raffi, dia tidak mau menerima belas kasihan Raffi, ini akan menghambat jalan dia dan ibunya, apalagi sekarang ibunya masih asyik bermain dengan mainan baru tersebut.


"Maaf pa, apa maksudnya ini? Ryan masih kuat menghidupi Fani dengan kedua tangan Ryan, pa."

__ADS_1


Ryan mencoba menolak hadiah mertuanya tersebut, tapi Raffi punya pemikiran lain dia memberi mereka fasilitas itu karena dia yakin, Ryan bisa memajukan perusahaan itu dan bisa dipercaya.


"Yan, papa tahu siapa kamu bagaimana kinerja dan sepak terjang kamu, papa yakin perusahaan itu akan maju di tangan kamu, kalau kau tidak menerima, anggap saja ini untuk putriku.''


Raffi begitu percaya pada menantunya, tanpa dia sadar kalau pemuda di depannya ini sosok yang akan menghancurkan hidupnya dan juga putrinya.


"Anda sudah salah percaya pada musuh anda, tuan, " ucap Ryan dalam hati.


Ryan membuka map tersebut, membaca isi dari dokumen pengalihan nama pemilik perusahaan yang berada di cabang dua.


Dia tersenyum miring, dalam hati Ryan bersumpah bahwa perusahaan yang akan dia pegang inilah yang nantinya akan meruntuhkan kejayaan keluarga hartawan nantinya.


" Baiklah pa, demi Fani dan calon cucu papa nanti, Ryan berjanji akan mengelola perusahaan ini, kalau perlu nanti akan sejajar dengan perusahaan pusat ini." Jawab Ryan.


Raffi tertawa bahagia melihat semangat ank muda seperti Ryan.


" Papa suka anak yang optimis seperti kamu, tidak salah papa menyerahkan bidadari papa padamu, papa yakin kalau kalian nanti akan bahagia."


Ryan hanya tersenyum kecut mendengar semua kata kata Raffi. Dalam sisi lain di hatinya ada rasa bersalah dan berdosa, apalagi di saat dia mengingat wajah sendu dan Fani bahkan penuh dengan air mata penderitaan.


Mereka saling menandatangani dokumen tersebut, Ryan kapan saja boleh memulai pekerjaannya. mulai hari itu Ryan di bebas tugaskan dari pekerjaannya sebagai Asisten Raffi.


Mulai sekarang dia bukan lagi Asisten CEO lagi, tapi dia sekarang yang menjadi CEO meski hanya perusahaan cabang.


Setelah semua beres, Ryan segera undur diri dengan alasan kasihan dengan Fani. Ryan segera keluar dari kantor Raffi dengan membawa map tersebut.


Di Rumah Ryan

__ADS_1


Bu Diana mengambilkan sepiring nasi goreng yang baru saja dia masak untuk Fani.


"Ini sarapan untuk kamu, jangan bilang kalau aku tidak memberimu makan ya! "


Fani menerima piring berisi nasi goreng tersebut dengan tangan gemetar, Fani sudah tidak punya tenaga untuk memegang sebuah piring.


Bu Diana segera pergi dari hadapan Fani, dia tidak mau melihat Fani Fani makan. Fani segera memasukkan nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya.


Sejak tadi pagi Fani sudah merasa sangat lapar jadi dia tidak peduli dengan apapun yang masuk ke mulutnya.


Makan lanjut minum itu yang Fani lakukan supaya nasi tersebut bisa dia telan. Fani bertekad supaya dia kuat dan akan segera pergi dari sana, kalau perlu membalas semua perbuatan keji ini.


" Aku harus kuat, aku harus bisa keluar dari sini dengan selamat kalau mau membalas semua ini, " Batin Fani.


Setelah selesai makan, Fani mengembalikan piring itu ke dapur, dia celingukan melihat situasi rumah yang nampak sepi itu.


" Mau apa kau Celingak- celinguk? mau kabur? Jangan harap kau bisa kabur hidup- hidup dari neraka ini, nona manis!"


Suara berat dan mengerikan itu terdengar di belakang Telinga Fani. Bulu kuduk Fani spontan berdiri seperti ada hantu di belakangnya.


" Eh, eng- enggak nyonya, cuma Fani mau menaruh ini, tidak tahu dimana tempatnya."


Fani membuat alasan dan langsung berlalu dari dapur, untuk melanjutkan mengepelnya. karena gugup dan merasa ketakutan Fani terpeleset kain pel lalu terjatuh.


Kakinya menabrak ember berisi air pel- pelan, dia jatuh ke lantai kepalanya membentur lantai licin itu. Bahkan air yang berada didalam ember itu ikut tumpah menggenangi dirinya.


pusing yang amat sangat Fani rasakan, rasanya kepalanya mau pecah hingga akhirnya Fani tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dari dapur, Bu Diana mendengar suara gubrak dengan keras, dia pikir Fani menabrak kursi kerena ketakutan, aksinya dia pergoki.


Bu Diana berencana mau mengerjai dia dan buru- buru ke tempat kejadian. Awalnya dia akan marah, tapi yang terjadi sebaiknya. Fani tergelak di lantai serta ada noda merah di lantai tepat di bawah Kepala Fani.


__ADS_2