
Fani senang bisa bertemu dengan mereka, sahabat dari Najwa itu have fan dan begitu perhatian, bahkan teman satu timnya juga asyik dan kompak banget.
"Terimakasih kak, aku kebetulan sudah makan malam, Fani baru saja menghubungi adik almarhum mama, dan beliau meminta Fani untuk ikut bersama beliau malam ini juga." Fani minta Ijin.
"Apakah orang di luar kamar itu, om kamu?" tanya Neti penasaran sebab orang di luar tersebut masih cukup muda jika di katakan adik ibunya.
"Bukan, itu pengawal om Lee, orangnya masih menunggu di restoran bawah," ujar Fani.
"Kamu benar yakin kalau yang datang itu benar om kamu nanti penjahat lagi, lihat tampang orang diluar situ saja sudah menyeramkan , sangar wajahnya." Neti bergidik ngeri
Fani tersenyum dan memastikan kalau Mr Lee adalah benar-benar saudara ibunya. Fani juga mengajak Neti untuk ke bawah supaya dia percaya dan menyelidiki orang yang membawanya.
Neti ikut ke bawah mengantarkan Fani ke restoran tersebut, dia tidak mau di salahkan Najwa Nantinya jika membiarkan Fani di bawa orang tidak di kenalnya begitu saja, apalagi di negara orang lain.
Mereka bertiga kembali menuju ke restoran dimana Mr Lee menunggu, sementara pengawal tersebut membawakan koper milik Fani.
" OM, perkenalkan ini kak Neti, beliau yang membantu Fani bisa sampai disini dan bertemu om dengan selamat." Fani memperkenalkan mereka.
Mata neti terbelalak, dia tak percaya dengan penglihatannya, Neti mengucek matanya berkali-kali memastikan apa yang dia lihat itu benar nyata.
Mr Lee tersenyum tipis melihat ulah perempuan satu ini, bahkan uluran tangannya belum di terima Neti.
"Kak Neti!" Fani memanggilnya.
__ADS_1
Neti lalu sadar dan menerima uluran tangan Lee dengan gemetar. Dia gemetar dan syok itu bukan melihat artis atau seorang Lee yang tampan, tapi dia melihat orang besar seperti mr Lee Ong Ku, dan bertatap muka dengan beliau langsung. Bahkan selama ini perusahaan tempat dia bekerja, bekerjasama dengan perusahaan Lee, tapi belum pernah mereka bertemu atau melihatnya langsung.
"Kenapa dengan teman kamu ini, Fani?" tanya Lee dengan penasaran.
"Entahlah, Om. Coba Fani tanyakan," jawab Fani.
"Kak Neti, kenapa? Tak enak badan? Tanya Fani. Dia tidak tahu sama sekali kenapa Neti seperti melihat hantu saja di saat melihat Uncle Lee.
"Benarkah itu Mr Lee Ong ku?" tanya Neti.
"Iya benar, beliau adik dari almarhumah mama saya mbak. Mbak Neti kenal dengan om Lee?" tanya Fani heran.
" Kami kesini bekerja untuk beliau dan perusahaan kami bekerjasama dengan beliau, tapi baru kali ini saya bisa melihat bahkan bertemu dengan beliau secara langsung. Ini mah suatu kehormatan banget, dan tangannya halus banget, Fan." Neti mengelus tangannya sendiri yang baru saja di pakai berjabat tangan dengan Mr Lee.
" Oh ya, kebetulan sekali ya berarti, keponakan saya di bawa kesini oleh kru yang akan menangani masalah di kantor cabang saya. Semangat nona, nanti setelah semua beres saya akan agendakan dengan kepala tim anda untuk makan malam bersama, bagaimana?" Mr Lee menawarkan makan malam untuk tim Neti, di akhir masa tugas mereka.
Dengan senang hati Neti akan menyampaikan niat baik Mr lee pada ketua timnya, target mereka di negara ini adalah sepuluh hari, jadi setidaknya seminggu atau sepuluh hari lagi mereka akan menerima hadiah yang luar biasa ini.
Setelah berbincang sebentar, akhirnya Lee membawa Fani pulang ke kediaman pribadinya , serta mengenalkannya dengan istri dan anak-anaknya.
Nasib baik Fani sudah terpampang di depan mata, berbeda dengan Ryan. Malam ini dia bermimpi bertemu Fani yang mengandeng anak laki-laki sekitar umur tiga tahun, Fani begitu cantik dengan baju berwarna pink, rambutnya hitam panjang, bermain dengan seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengannya, mereka asyik bermain sendiri tanpa mempedulikan dirinya yang berdiri di belakang mereka seolah tidak melihat keberadaan Ryan.
Dalam mimpi tersebut, Ryan berteriak memanggil nama Fani serta bocah yang dia yakini adalah putranya tersebut, tapi mereka malah semakin jauh dan jauh. Ryan terus berteriak.
__ADS_1
"Fani, Fani..., jangan tinggalkan aku!" Ryan langsung membuka matanya lebar-lebar, dia sadar dari mimpi dan pingsannya. Nafasnya terengah-engah seperti baru saja berlari cukup jauh.
Ryan memperhatikan susana di sekelilingnya, ini bukan apartemennya, dia melihat jarum infus yang menancap di tangannya dan Ryan meraba dadanya yang di tutup perban, karena baru saja di opersi.
"Dimana aku, apa yang terjadi sebelumnya," gumam Ryan yang sama sekali tidak ingat apa yang terjadi padanya.
Ramon datang mendekati atasannya tersebut. Pemuda terebut bangun dari tidurnya. Dia tidur di sofa ruang rawat inap Ryan. Sementara Bu Diana sudah pulang karena sudah di gantikan oleh Ramon.
" Tuan, Alhamdulillah anda sudah sadar," ucap Ramon.
"Memangnya apa yang terjadi padaku?" tanya Ryan. Pemuda satu ini mencoba untuk bangun, tapi dia merasakan nyeri di dadanya.
"Tuan, kemarin pingsan di apartemen, nyonya Diana yang menemukan Anda dan membawa Anda kemari, Anda terlalu banyak minum alkohol, Anda kemarin sore juga baru operasi." Ramon menjelaskan kondisi Ramon selama ini.
"Kenapa dia membawaku ke rumah sakit, kenapa tidak membiarkan aku mati saja, hidupku sudah tidak berguna lagi, Ramon." Ryan mengeluh tentang hidupnya.
"Jangan begitu, Tuan. Kalau Anda menyerah lalu bagaimana anda bisa menemukan Nyonya Fani, Anda harus kuat dan bangkit supaya bisa bertemu dengan beliau lagi, Nona Fani saja kuat dan tidak menyerah kenapa malah anda yang jadi pengecut seperti ini, anda yang menciptakan masalah ini, anda juga harus yang mengakhirinya." Ramon memberi semangat pada bos dan sekaligus sahabatnya ini.
Ramon tahu bagaimana perjalanan hidup Ryan, mereka sudah berteman sejak masih SMA, mereka sama-sam berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Ryan menengadahkan kepalnya keatas, dia menerawang langit-langit kamar rumah sakit tersebut, disana nampak wajah Fani dan anak laki-laki tersebut.
"Aku baru saja bermimpi, Mon. Aku melihat Fani menggandeng seorang anak laki-laki kira-kira umur tiga tahun, dia mirip sekali dengan ku, tapi ketika aku mendekat, mereka menjauh dan seperti itu seterusnya, apakah aku masih bisa berkumpul lagi dengan mereka, Ramon?" tanya Ryan.
__ADS_1
Ryan menceritakan semua mimpinya pada asistennya itu."Kalau kamu yakin dan tidak menyerah, maka aku yakin kalian akan berkumpul lagi suatu saat nanti, mungkin saja Allah meminta Anda Untuk berusaha lebih keras lagi, dan ingat satu hal, Tuan! kalau nona Fani adalah jodoh tua, waktu dan tempat tidak akan bisa memisahkan kalian." Ramon kembali membangkitkan semangat Ryan yang sempat pupus tersebut.