NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Ungkapan hati Bintang


__ADS_3

Fani melengos, dia ingin mengambil Bintang dari gendongan Ryan. Tapi pemuda ini segera menghalangi istrinya, Ryan takut akan jahitan di dada Fani.


"Biar aku saja yang menggendongnya, kamu kan masih sakit!" Ryan segera mencegahnya.


"Darimana kau tahu kalau aku sakit?" tanya Fani dengan ketus.


"Dari Reno, dia yang menceritakan semuanya padaku, kabarnya Kamu kecelakaan." Ryan berbohong.


"Ma, om Ryan ini baik deh waktu Bintang jatuh di hotel, Om Ryan yang bantu dan obati Bintang iya kan, Om?" Anak kecil ini tak akan berbohong, dia malah mencium pipi Ryan dengan gemes.


Fani membelalakkan matanya, dia kaget dengan apa yang di katakan puteranya tersebut. Fani pikir Lily yang sudah mengobatinya.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Fani lagi dia masih sewot dan gemes melihat wajah suaminya itu.


Ryan hanya tersenyum, mereka sampai ke mobil, Ryan membukakan pintu belakang mobil Yang akan mereka tumpangi. Fani langsung masuk, kemudian pria satu itu menurunkan Bintang ke dalam mobil, baru dirinya juga bergabung disana. Sudah seperti keluarga yang lengkap.


"Kenapa kau juga masuk kesini? mana mobil kamu?" Fani kembali bertanya dengan ketus. Ryan tidak marah sama sekali melihat tingkah istrinya yang menurut dia lucu itu.


"Kenapa?aku cuma ingin bersama anak dan istriku, apa aku tidak boleh?" tanya Ryan dengan nada menggoda.


"Enggak!"


"Boleh!"

__ADS_1


Jawaban Bintang dan Fani berbeda, yang satu mengatakan tidak boleh, yang satu mengatakan Boleh.


"Jalan Din! ke kita kerumah!" perintah Ryan pada supir pribadinya.


Fani kembali kaget, karena Ryan akan membawa Fani ke neraka itu lagi.


"Tidak, turunkan saja aku disini, aku tidak mau kembali ke neraka itu lagi, Ryan!" Fani kenaikkan nada suaranya.


"Tenang, Rumah ini khusus aku siapkan untuk kalian berdua, nanti aku akan tinggal di apartemenku. Disana aku lebih tenang, aku bisa membayangkan istriku yang memasak ayam goreng mentega dan sambal terasi untukku tak akan bisa aku lupakan, serta sayur asem itu. Di tempat itu aku menemukan diriku sendiri, tidak di bawah bayang-bayang ibuku." Ryan sedikit bernostalgia mengingat dia merasakan masakan Fani untuk yang pertama kalinya.


Fani terhenyak, dadanya kembali sesak, dia juga mengingat hal itu, waktu itu dia pura-pura baik dan mengambil hati Ryan untuk bisa kabur.


"Om Ryan dan mama sudah kenal ya? daritadi Bintang dengar kalian Bicara terus, dan mama kok marah-marah terus?" Bintang merasa kepo, anak itu sedikit heran dengan apa yang dia lihat.


"Mama tidak marah sayang, Om dan mama bercanda saja kok, iyakan, Ma? " Ryan yang menjawab.


"Tentu saja, Om Ryan akan mengajak Bintang dan mama jalan-jalan, nanti kita bisa ke pasar malam, Taman Safari, Ancol, Dufan. Dan kemanapun yang Bintang mau, Papa akan ajak Bintang ke tempat yang Bintang suka." Ryan keceplosan menyebut dirinya dengan papa.


"Papa?" Bintang merasa heran, sementara Fani memejamkan matanya serta menutup mukanya dengan kedua tangannya.


"Tadi Om bilang, Papa?" tanya Bintang lagi. Ryan jadi salah tingkah dengan kecerobohan dia.


"Oh iya, Bintang ingat." Tiba-tiba Bintang menghadap ke arah Ryan, dia memegang wajah tampan papanya tersebut, lalu mengerakkannya ke kiri dan kanan, dia mengamati wajah Ryan dengan seksama.

__ADS_1


"Hoo jadi Om Ryan bohong sama Bintang, Om yang ada di foto itu, yang bikin mama nangis tiap malam, huhuhuu...." Bintang memukul-mukul Dada Ryan sambil nangis.


Ryan langsung memeluk anak itu dengan erat dan ikut menangis. "Maafkan Papa, Nak! Papa sudah jahat pada kalian, papa yang sudah membuat mama nangis, bahkan menderita. Papa siap mendapatkan hukuman dari kalian, papa siap." Ryan mendekap bocah itu dan ikut tergugu.


Tak ada bedanya dengan Fani, dia masih menutup mukanya dengan kedua tangannya dengan rapat. "Kenapa Om pergi gak pulang-pulang, Bintang pengen seperti Noah, Alen, Mateo yang setiap hari bermain dengan papanya, naik motor, naik sepeda. Bintang iri pada mereka, mama sibuk kerja, papa ku tak tahu kemana!" Bocah yang sangat kecil itu bahkan sudah tahu bagaimana rasanya kesepian, serta merindukan orang yang sangat dia impikan kedatangannya.


Ryan makin tergugu, bahkan dulu dia sempat meminta dokter untuk melenyapkan nyawa dia. Sekarang dia ada di depannya, dan menanyakan perihal kepergian dirinya menyampaikan amarah dan kekecewaan dia yang tak pernah di temani sang papa.


"Maafkan papa, Sayang. Mulai sekarang papa janji akan menemani Bintang terus, papa sudah mencari kalian kemana-mana, tapi kalian hilang bagaikan di telan bumi. Papa memang jahat dan bodoh, huhuhu...." Isak tangis Ryan makin pilu, dia benar-benar tak bisa menahannya, dan sudah seperti orang bodoh di depan putranya.


Suasana Mobil mewah tersebut sungguh mengharukan. Adin, supir Ryan juga ikut terharu, selain dia ada Ramon dan juga Reno yang tahu betul bagaimana perjuangan Ryan untuk menemukan anak dan istrinya.


Bintang mengelus tengkuk dan kepala sang ayah, menirukan cara mamanya ketika menenangkan dirinya.


"cup cup cup, jangan nangis lagi. Pa pa Om, janjikan gak akan pergi lagi kan? Bintang janji tidak akan nakal." suara Bintang makin membuat Ryan dan Fani tergugu.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan?" tanya Fani pada diri-Nya sendiri.


Untungnya, mobil mereka sampai di sebuah gerbang rumah mewah, rumah ini adalah rumah milik papa Raffi yang dulu di sita Bank, rumah ini di beli kembali oleh Ryan, dan akan di berikan lagi pada pemilik sebelumya.


Mobil berhenti dengan sempurna. "Tuan, Nyonya! kita sudah sampai!" Suara Adin menghentikan aksi tangis-tangisan penumpangnya. Ryan segera mengusap air matanya, dan juga Bintang, dia juga mengulurkan sebuah sapu tangan bersih pada Fani.


Fani menerima sapu tangan tersebut dengan tangannya yang bergetar, entah apa yang dia rasakan saat ini. Fani mengusap air matanya, Adin membukakan pintu mobil untuknya, serta Ramon yang membukakan pintu untuk Ryan dan juga Bintang. Fani memperhatikan tempat itu, rumah yang sangat dia kenal, yang sangat dia hafal bagaimana bentuk dan modelnya.

__ADS_1


"I-ini?" Fani tak dapat berkata apa-apa kesadaran dia mulai menghilang, dan tubuh Fani akhirnya ambruk tepat di bahu Ryan. Untung Ryan masih bisa menahannya, lalu Ramon segera mengambil Bintang dari gendongan Ryan, supaya Ryan bisa membantu Fani.


Ryan segera menggendong tubuh istrinya, Kembali ke rumah ini, dulu dia membawa Fani dari istananya dan dia bawa ke sebuah neraka Jahanam, tapi sekarang Ryan menggendong bidadarinya itu kembali ke istananya kembali


__ADS_2