NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Memulai rencana baru


__ADS_3

Fani mulai menggunakan dapur tersebut, dia akan menggunakan waktunya untuk belajar memasak, apalagi kalau tidak ada nenek sihir yang menyiksanya lagi.


Meski sekarang dia harus rela di kurung di sini, Fani akan membuat strategi baru.


"Lebih baik aku mengganti rencana baru, mumpung nenek lampir itu tidak berada di sekitar kami lagi, aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku Ryan, dengan begitu kau akan melanggar janji mu pada ibumu yang kejam itu, aku akan membuat kalian salah paham dan saling menyalahkan nanti, jangan salahkan aku jika semua itu terjadi." Fani bertekad untuk membuat Ryan jatuh cinta padanya, dan setelah itu dia bisa menguasai Ryan dan mempengaruhinya.


Berbeda dengan Ryan, dia dan anak buahnya menyiapkan Sebuah rencana besar untuk menggerogoti perusahan Raffi, dia juga mengirim investor palsu untuk melakukan kerjasama dengan Perusahaan yang Raffi pimpinan saat ini.


Bukan hanya Itu Ryan mengirim orang-orang terbaiknya yang sudah mempunyai jabatan di kantor Raffi mulai melakukan aksi gila, mereka mulai memprovokasi Para pemilik saham untuk menjual saham mereka, dan membajak akun keuangan perusahaan tersebut.


Sebuah rencana dan besar akan mereka mulai besok, makanya Ryan menjauhkan Fani dari ibunya, supaya Sang ibu tidak mengganggu konsentrasi dia mengenai perihal tersebut.


Sementara Fani masih sibuk dengan masakannya, dia belajar membuat ayam goreng mentega yang dulu pernah dia lihat resepnya di sosial media lengkap dengan sambelnya kali ini dia tidak lupa untuk mengecek tingkat kematangan atan tersebut serta testing rasa.


Dirasa semuanya sudah oke, Fani membawanya ke ruang makan. Pas juga dengan kepulangan Ryan, pemuda tampan itu mencium aroma ayam goreng yang menggiurkan itu, Ryan melihat Fani menata ayam tersebut di meja.


Ryan mulai tergoda, dia menelan salivanya, ingin sekali menikmati ayam goreng plus sambel itu, tapi dia ragu. Ryan teringat waktu Fani pertama kali memasak di rumahnya, rasanya tidak karuan, bahkan kurang matang.


Fani melihat ekspresi dari suami kejamnya tersebut, dia tersenyum miring. Dalam hati Fani berkata " Ngiler kan melihat makanan kesukaan kamu, kita akan mulai dari perut dulu tua Ryan."


"Ayo makan Ryan, jangan khawatir, akun sudah mencoba dan melihat tingkat kematangannya, dan ini masuk ke medium rare." Fani sudah mau bicara padanya, berbeda sewaktu di rumah ibunya, Fani bahkan seperti orang bisu dan gila. Beda dengan hari ini yang nampak segar dan lebih cantik.


Fani menyiapkan dua buah piring, satu untuk Ryan dan yang satu lagi untuknya. Fani dengan telaten mengambilkan Nasi serta ayam goreng tersebut.

__ADS_1


" Sambelnya ambil sendiri ya, aku tidak tahu selera Kepedasan yang kamu suka, dan jangan khawatir, semua aman, tidak mengandung racun, bagaimana aku bisa meracuni kamu kalau uang saja, tidak punya, keluar juga tidak bisa," kata Fani panjang lebar.


Ryan tertegun, mendengar istrinya mau bicara, bahkan panjang kau lebar. Ryan memperhatikan wanita itu yang mulai menggigit ayam goreng di tangannya sambil di cocolkan ke sambal.


Ryan mulai tersenyum melihat muka Fani yang mulai memerah karena merasakan pedas sambel yang dibuatnya sendiri tadi.


Ryan dengan reflek menyodorkan segelas air putih.


" Terima Kasih, ternyata pedas banget sambelnya," ucap Fani sambil mengelap keringat yang keluar di dahi dan hidungnya dengan lengannya.


Ryan mulai menggerakkan tangannya memakan hasil olahan Istrinya ini untuk pertama kalinya. Ryan merasakan rasa yang unik dan rempah- rempah yang terasa sekali, menambah suatu kenikmatan tersendiri ditambah dengan sambal terasi yang cukup menantang pedasnya.


" Bagaimana enak tidak?" tanya Fani.


Malam itu cukup hangat seolah mereka sebuah keluarga yang normal dan bahagia.


Ryan membantu mencuci piringnya, dan Fani membersihkan dapurnya yang berantakan akibat ulah Fani.


"Maaf, dapurnya berantakan, aku masih belajar memasak." Fani dengan suaranya yang lirih meminta maaf pada Ryan.


"Tidak apa-apa, dan Terima kasih makan malamnya, aku ke ruang kerja dulu, sebaiknya kau istirahat duluan!" Ryan keluar dari dapur langsung menuju ke ruang kerjanya.


Fani tersenyum miring, dia yakin tidak butuh waktu lama membuat Ryan mempercayai dia arah bahkan akan mencintainya. Fani segera membereskan semuanya, lalu bergegas ke kamar mandi dan segera istirahat.

__ADS_1


Ryan merebahkan dirinya di sofa ruang kerjanya, pemuda itu mengingat waktu menjemput Fani ke bandara menggantikan ayahnya yang masih meeting penting.


Ryan melihat seorang gadis beranjak dewasa yang ceria dan manja, wajahnya sangat cantik serta smart. Ryan tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu, apalagi di saat dia cemberut, begitu lucu dan chubby.


Tapi sekarang semua itu tinggal kenangan, tidak ada senyum keceriaan tidak ada Fany yang manja, tidak ada lagi pipi Chubby yang lucu, yang ada hanyalah Fani yang lagu dan sayu. Setiap hari dia hanya bisa melihat wajahnya yang mendung, meskipun tidak ada air mata yang dia keluarkan, tapi Ryan tahu tentang penderitaan istrinya ini.


Nasi sudah menjadi bubur, Ryan tidak boleh mundur di tengah jalan, kalau dia mundur sama halnya menyerahkan nyawanya sendiri, semua yang sudah dia ciptakan harus dia selesaikan sampai tuntas, meskipun dia harus hancur juga nantinya.


Ryan menghembuskan napasnya dengan berat, dan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia bangkit menuju ke meja kerjanya memeriksa komputernya.


Malam itu rencananya Ryan akan merusak harga saham PT Angkasa, dia ingin mengacaukan pemikiran para pemegang saham, baru besok rekan-rekannya bertindak.


Tidak hanya itu, Ryan membobol salah satu akun bank Milik Raffi, memindahkan semua isinya, uang-uang ini yang akan Ryan pakai untuk membeli saham dari para investor tersebut, dengan harga yang murah.


Ryan sibuk dengan komputer serta angka- angka yang rumit. Semua itu selesai jam satu malam. Pemuda tersayang menyudahi pekerjaannya. Dia segera merenggangkan otot-ototnya.


"Akhirnya selesai juga, ada untungnya aku menjadi asisten kamu bertahun-tahun sehingga tahu apa kelemahan kamu ayah mertua, selamat ber sibuk ria ayah mertua, besok hidupmu akan mulai goyang, dan bruk kau akan jatuh sejatuh-jatuhnya," Gumam Ryan.


Ryan sangat percaya diri kalau usahanya akan berhasil seratus persen. Ryan beranjak dari singgasana dia, dan berjalan menuju ke kamar mereka yang berada di sebelah ruang kerja ini Ryan melihat Fani tidur meringkuk di sofa kamar tersebut, bahkan selimutnya sudah jatuh di lantai.


Ryan tak tega melihat kondisi Fani yang belum pulih benar, rambutnya juga masih baru mulai tumbuh beberapa cm, bekas lukanya juga masih terlihat, malam itu Ryan bisa melihat dengan nyata, hasil perbuatan ibunya waktu itu.


Ryan mengangkat tubuh kurus Fani dan memindahkannya di kasur, menyelimutinya sebatas dada, lalu Ryan yang ganti tidur di sofa itu.

__ADS_1


__ADS_2