NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
Melihat dari jauh


__ADS_3

Lili sang pengasuh kebingungan mencari Bintang. Dia tadi memang lagi pedekate dengan manager hotel, tapi tiba-tioba Bintang hilang dari pengawasannya.


Lili cukup ketakutan seandainya Bintang hilang, bisa-bisa Fani marah besar padanya.


"Aduh bagimana ini, bisa di cut ini sama si bos," gumam Lili, dia begitu panik dan menyesal, sudah teledor tadi.


"Bintaaang, Bintaang!" Panggil Lili. pengasuh tersebut mengitari taman hotel bintang lima tersebut.


Ryan yang mendengar panggilan tersebut memberi tahu BIntang.


"Bintang sepertinya itu mama yang memanggil!" Ryan memberi tahu Anak itu.


"Bukan, Om. Itu pasti mabak Lili," jawab Bintang, dia kesal karena pengasuhnya sudah mencari dia, padahal Bintang masih ingin bersama pria yang berada di depannya itu. Selama ini Bintang tak punya banyak teman, jadi anak ini kesepian.


Ryan adalah pria dewasa pertama yang di kenalnya selain Mr Lee, dan anak buah mamanya.


"Bintang temui mbk Lilinya, ya! nanti dia bisa panik dan dimarahi mama." Ryan meminta Bintang untuk menemui pengasuh dia.


"Iya, Om, Terima kasih ya," ucap Bintang


cup cup


"Dadaa...,Om Ryan!"


bocah tampan itu juga mencium kedua pipi Ryan, lalu anak itu berlari pergi menemui Lili. Tubuh Ryan langsung ambruk ke lantai ruang perawatan tersebut, Ryan menangis sejadi jadinya.


Hari ini dia bisa bertemu dengan darah daging dia, yang dulu pernah akan dia singkirkan dari muka bumi tersebut.


"huu..., Hu...! maafkan papa, Nak!" Ryan menutup mukanya dan masih tergugu. Pria itu mengelus pipinya dengan perlahan. "Anak itu begitu polos dan menggemaskan," batin Ryan.


"Fani, kamu sudah bisa tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa menjaga putramu hingga tumbuh hebat, maafkan aku Fani, Bintang. Aku adalah ayah yang jahat, hiks..., hiks...." Ryan tak kuasa menahan semua isak tangisnya. Dia tak peduli banyak orang yang melihat dirinya seperti itu.


Hingga seorang Dokter mengulurkan tisu pada Ryan.


"Penyesalan datang di akhir cerita, Tuan. Kalau Tuhan masih memberimu kesempatan untuk merubah semuanya, maka lakukan yang terbaik!" Dokter tersebut menyemangati Ryan.

__ADS_1


Ryan mendongak ke atas dan menerima tisu dari laki-laki berjas putih itu, lalu dia bangkit dari tempat dia semula.


"Iya, Dok. Saya menemukan mereka dan akan berjanji mendapatkan maaf dari mereka, menebus semua yang sudah aku lakukan, meskipun akhirnya mereka akan membenci ku aku ikhlas," ucap Ryan.


Dokter itu menepuk baju Ryan. "Semangat anak muda semoga Tuhan menyertaimu." Dokter tersebut menyemangati Ryan barulah dia pergi dari sana.


Ryan pun pergi dari tempat tersebut, Ryan berjalan di lorong hotel menuju Restoran tempat Reno dan Fani meeting.


Belum sampai di restoran dia melihat Bintang yang di gendong Lili datang mendekati Fani yang sudah selesai Meeting.


"Mama...!" panggil Bintang.


Fani meraih tubuh Bintang dan menggendong anak itu, mata Fani melihat siku Bintang yang di plaster.


"Ini kenapa sikunya? Lili apa yang terjadi pada Bintang?" tanya Fani.


"I Itu nyo_." Belum selesai Lili menjawab Bintang sudah menjawab duluan, Lili tak melihat luka tersebut.


"Tadi Bintang jatuh, Ma, di taman. Untung ada Om ganteng yang menolong Bintang, lalu mengobati, Bintang. Nih lutut Bintang juga sakit!" Bintang membuka celananya dan menunjukkan kedua lututnya.


Biasanya Bintang kalau terluka atau jatuh, badannya akan panas, umur satu tahun dia jatuh dari ayunan saja, dia langsung panas dan di rawat di rumah sakit


"Maafkan saya, Nyonya, saya ceroboh." Lili merasa bersalah dan merutuki dirinya sendiri.


"Ya sudah sekarang kamu mintakan parasetamol dan anti biotik pada Dokter di hotel ini!" Fani segera minta Lili memintakan obat untuk Bintang, sebagai pencegahan.


Ryan bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, karena Ryan bersembunyi tak jauh dari tempat mereka.


Sambil menunggu Lili minta obat, Fani membawa putranya masuk kembali ke dalam restoran dia memesan makanan untuk sang putra.


Ryan juga ikut masuk, dia memakai masker dan kaca mata, lalu mengambil tempat duduk tepat di belakang Fani dan anaknya.


"Kamu kenal Om yang menolong kamu, Nak?" tanya Fani.


Bintang menggeleng. "Tidak, Ma tapi Omnya ganteng dan baik hati, mukanya mirip foto yang ada di dompet mama," ujar Bintang.

__ADS_1


Anak seumuran Bintang akan bicara jujur dan apa adanya.


deg


Fani kaget, dengan kata foto di dompet dia. "Apakah Bintang tahu Foto itu, tapi darimana?" batin Fani.


"Foto yang mana?" tanya Bintang.


"Foto yang sering mama pandangi, lalu mama nangis malam-malam, apakah dia papa Bintang?" tanya anak itu.


"Bi-bintang tahu darimana foto itu, Nak?" tanya Fani sambil meraih Tubuh gendut tersebut, air mata Fani juga mengalir begitu saja, sesak rasanya, ketika sangat putra menyatakan hal itu.


Bintang yang tahu ibunya meneteskan airmata, langsung mengusapnya dengan kedua tangan mungilnya.


"Mama jangan menangis, nanti kalau papa pulang, Bintang yang akan memukul dia! Enak saja sudah membuat mama menangis seperti ini, " ucap anal itu dengan polos.


Fani memeluk putranya dengan erat. Bocah sekecil itu bisa tahu apa yang di rasakan Orang tuanya.


"Maafkan mama, Ya, Sayang. Apakah Bintang kangen papa? atau malah marah dan benci papa?" tanya Fani.


"Kangen, tapi juga marah, Ma. Pokoknya Bintang Akan memukul dia dan mengikat kakinya, supaya gak pergi-pergi lagi," jawab Bintang dengn cemberut, pipinya Menggembung, hingga matanya menyipit.


Fani tertawa Melihat wajah Lucu putranya, anak ini adalah obat dia yang paling mujarab. Obat capek, lesu dan semuanya. Apalagi di saat cemberut seperti ini, Fani pasti akn tertawa gemas.


"Hahaha lihat Pipi kamu menggembung seperti ikan balon, mata dan hidungnya sampai sembunyi tu." Fani mencubit pipi bulat tersebut dengan gemas, dan mengalihkan pembicaraan mereka dari sang ayah.


Di kursi belakang mereka, Ryan sudah menangis dalam diam, pria satu ini sudah tak mampu lagi mengangkat mukanya, hanya air mata yang membasahi masker Ryan.


Ingin rasanya dia mendekati anak dan istrinya itu, serta mengakui kalau dia adalah Papa yang sudah jahat pada mereka.


Ryan mengurungkan niatnya, bisa-bisa dia akan di tangkap dan di usir dari negara tersebut, lalu tak bisa lagi bertemu atau sekedar melihat wajah ceria keduanya.


Fani keluar dari sana, setelah Lili sampai dengan membawa obat untuk Bintang. Ryan terus mengikuti langkah kaki kedua orang yang paling dia sayangi saat ini, bahkan ingin dia peluk sekarang juga.


Ryan memperhatikan mobil mewah yang membawa anak dan istrinya menjauh dari hotel.

__ADS_1


Dada Ryan begitu Sesak, dan sakit. Bahkan saat dia tahu kalau istrinya masih sering memikirkan dia, apakah itu kebencian atau apa, hanya Fani yang tahu. Sementara anaknya, sepertinya anak tersebut ada sakit yang tidak dia ketahui.


__ADS_2