
Siang ini Raya sang ibu dari dua anak rupawan akan mengunjungi kantor suaminya. Mungkin lebih tepatnya lagi kantor keluarga besarnya kali ya.. karena perusahaan itu masih milik Hans ayah Raya meskipun sekarang sudah di urus oleh Reiner suaminya.
Kecerdasan Reiner yang kepalang itu bisa mengurus dua perusahaan sekaligus dan keduanya berkembang. Mau bagaimana lagi perusahaan milik Reiner di London tetap harus di urus oleh nya sebelum nantinya di serahkan kepada Briyan.
Dan kini Raya sudah sampai di halaman parkir kantor. Namun tatapannya di rebut oleh kegaduhan di samping kanan mobilnya. Terlihat beberapa orang berkerumun di sana.
"Bang Andi.. ada apa itu ribut-ribut begitu?" tanyanya. Dan Andi menoleh ke arah yang sama dengannya.
"Gak tau non.. sepertinya bukan karyawan sini.. eh tapi.. yang satunya karyawan sini non.." jawab Andi seperti mengamati dua wanita yang tengah berseteru.
"Aku mau tahu bang.. aku ke sana dulu ya bang.. sebentar.." pamitnya.
"Hati-hati non.." sahut Andi yang lalu ikut keluar dari mobilnya untuk memastikan keamanan majikannya.
Raya berjalan menuju kedua wanita yang masih saling melemparkan sindiran pedas. Bisa di bilang sedang bertengkar hebat antara wanita cantik dengan wanita seksi.
Mereka seperti sedang memperebutkan sesuatu. Terlihat beberapa orang yang berlalu lalang juga ikut menonton nya. Begitupun Raya ia hanya berani melihatnya tidak berani ikut campur urusan mereka.
"Dasar wanita perebut suami orang..!! najis.. tidak tahu malu.." umpat Irma menunjuk wajah Shinta. Mereka sama-sama bekerja di kantor nya.
"Terserah apa katamu.. yang pasti aku tidak merebut suami mu.. suami kamu saja yang menyukai ku.. dari pada menyalah kan orang lain.. lebih baik introspeksi diri dulu.. sudah betul belum memuaskan suami mu hah..?" cerocos Shintia dengan wajah yang mendongak.
"Kamu tahu kenapa suami mu lari padaku.. karena aku bisa lebih hebat di atas ranjang ku.. tidak seperti mu yang katanya cuma begitu begitu saja..!" tambahnya.
"Dasar.. jalang.. tega sekali kamu bicara seperti itu.. kita ini sama-sama wanita.." sahut Rinda membela Irma yang adalah istri Syah dari lelaki yang mereka perebut kan.
DEG hati Raya seolah ikut tercabik-cabik melihat perempuan yang di rendah kan seperti itu di depan matanya.
Namun wanita itu tidak bisa melerai mengingat kondisi jantung nya yang bisa menyerangnya kapan saja. Raya hanya diam memegangi letak jantung hatinya berada. Karena jantung itu mulai terasa menyengat.
"Kenapa ada orang yang setega itu pada kaum nya sendiri.." ucapnya pelan.
__ADS_1
Andi yang melihat kondisi majikannya dengan segera menuntun Raya meninggalkan tempat itu. Mungkin jika terus di sana Raya akan semakin terkejut dengan ucapan demi ucapan wanita jalang itu.
"Kita ke dalam saja ya non.." ajaknya.
Raya menurut mengikuti ajakan Andi sopir sekaligus bodyguard yang setia padanya selama bertahun-tahun ini.
"Sampai sini saja bang.. aku bisa sendiri kok.." ucap Raya pada Andi saat sopir itu ingin mengantarkannya ke dalam.
"Iya non.. silahkan.. saya tunggu di sini saja.." nurut Andi.
...----------------...
Raya kembali berjalan menuju lobby kantor dengan beberapa kotak makan di tangannya. Lalu langkahnya mengarah ke lift. Keluar dari lift Raya berjalan gontai lagi ke kiri karena ruangan suaminya berada di sana.
Jika di tanya bagaimana perasaan Raya saat ini pasti syok dan takut jika sampai suaminya juga tergoda pada wanita lain karena ternyata wanita secantik Irma bisa di tikung oleh wanita berwajah standar hanya karena Shinta lebih seksi.
Click Raya membuka pintu kantor suaminya, di lihatnya wanita sedang berdiri di depan meja suaminya dan seketika itu keningnya mengerut curiga.
"Alena... kamu ngapain di sini..?" tegur nya ketus. Dan wanita itu menoleh ke arah nya memberikan senyum namun sedikit bingung tiba-tiba istri atasannya bicara ketus.
"Kenapa harus kamu.?" Raya masih ketus membuat lelaki yang masih duduk di kursi putar beranjak dari tempatnya.
"Sayang.. kamu kenapa.. tiba-tiba mengintrogasi Alena begitu..?" tanyanya dengan senyum secuil nya.
"Hah..?" Raya baru sadar dia terbawa emosi karena kejadian yang baru saja di lihatnya.
"Alena kan mengganti kan tugas Gabriel selagi dia pulang ke London.. bukannya kamu tahu sendiri..?" ujar Reiner kemudian.
Raya menatap Alena "Maaf Alena.. aku menakutkan mu.." lirihnya. Dan Alena menunduk.
"Len.. kamu keluar dulu ya.. nanti aku panggil kamu lagi setelah aku tanda tangani semuanya.. aku ingin bersama dengan istri ku saja.. dan jangan perbolehkan siapapun masuk.. mengerti.!" titah Reiner pada Alena.
__ADS_1
"Iya baik pak.." Alena melangkah keluar.
Dan Reiner segera mengunci pintu ruangannya karena memang begitulah kebiasaannya saat Istrinya datang berkunjung. Di usia mereka yang sudah 40 tahun hubungan mereka masih tetap romantis.
Setelah menutup pintu Reiner membalikkan badannya menatap wanita yang masih terlihat gundah "Kamu kenapa? muka kamu pucat begitu?" tanyanya.
"Aku tidak apa-apa.."
Reiner melangkah ke sofa dan duduk di sana "Sini duduk.. " Reiner menepuk pahanya menawarkan pangkuan.
Dan wanita itu menurut ia duduk di pangkuan suami yang masih terlihat sangat tampan. Itu yang menjadi bahan ketakutannya setelah melihat adegan kedua karyawan nya di halaman parkir.
"Rei.. apa kamu bosan padaku..?" tanyanya spontan.
Reiner mengernyit heran "Bosan? kenapa tiba-tiba bertanya begitu,?" tanya baliknya namun Raya hanya menatapnya nanar.
"Kalau aku bosan kenapa harus menunggu mu setiap hari membawakan makan siang untuk ku hm? sedang di sini banyak makanan berderet di lantai bawah.. untuk apa coba..? itu karena aku selalu merindukan mu.. aku ingin melihat wajah cantik mu di sela kesibukan ku.." terang nya lagi.
Damai jawaban itu bagi hati sang istri namun masih ada beberapa pertanyaan lain dalam benaknya.
"Rei.. apa kamu puas hanya dengan kecantikan ku saja.?"
Reiner kembali mengernyitkan dahinya "Maksudnya?"
"Kamu tahu Irma karyawan kita yang cantik itu kan..?"
"He em.." Reiner mengangguk secuil dengan tatapan yang masih mengarah ke wajah istrinya.
"Dia saja.. di khianati suaminya hanya karena wanita biasa seperti Shintia kan..? bukannya setiap lelaki itu memang membutuhkan hal selain dari pada cantik saja..? kamu juga butuh kepuasan lainnya kan?" tanya Raya dengan tatapan nanar nya.
"Maksudnya..? kepuasan apa yang kamu bicarakan..? aku puas memiliki mu, aku puas menyayangi mu, aku puas selalu bersama mu.. lalu apa lagi hm?" Reiner terlihat bingung.
__ADS_1
"Suami Irma saja selingkuh karena itu.. karena istrinya kurang bisa memuaskan nya di atas ranjang.. lalu bagaimana dengan ku.? kamu bahkan selalu menekan gejolak mu untuk membuat ku tetap aman.. bukannya aku payah jika berbicara tentang itu Rei.? karena penyakit jantung ku yang tidak bisa di ajak sembarangan berhubungan.. aku tidak bisa memuaskan mu, iyakan Rei..?"
"Lalu.?"