
Di balik selimut tebal Reiner masih mendekap erat tubuh istrinya , pasangan suami istri itu memang masih romantis meski sudah mempunyai dua orang anak remaja. Suara dering ponsel membuatnya menoleh ke arah nakas sebelum kemudian meraih benda itu.
Dan Gabriel tertera di layar ponsel nya.
Dengan kening yang mengerut lelaki itu menggeser tombol hijau, karena setiap sang ajudan bulenya menelepon di tengah malam, berarti ada hal yang tak mengenakan.
"Halo.." sapa nya.
"Keluar lah brother..." ucap pria di seberang telepon singkat.
"Baiklah.." jawabnya yang lalu mematikan panggilannya.
Dan pembicaraan singkat nya membangunkan tidur istrinya "Rei.. ada apa..?" tanyanya dengan kerutan di keningnya kaget.
Reiner menekan tubuh istrinya yang hampir beranjak "Sssuuuuutttt... tidur lah lagi.. Gabriel mau membicarakan tentang proyek barunya, aku tinggal sebentar yah.." ucapnya pamit.
"Tidak ada apa-apa kan Rei..?" tanya Raya.
"Tidak ada.. selama ini juga baik-baik saja kan.. kamu tidur lah lagi.. setelah urusan ku selesai, aku langsung masuk lagi.. tidur lah hm.." sambungnya lembut dan wanita itu mengangguk menurut.
Reiner membetulkan selimut istrinya, kemudian berjalan menuju pintu keluar, dengan langkah cepat lelaki itu menghampiri seseorang yang barusan menelepon nya.
Kening berkerut saat melihat pemuda berdiri di hadapan sang ajudan "Dirga.. kamu.. ngapain kamu di sini tengah malam begini hah..?" tanyanya melotot.
"Maaf Daddy.. Dirga kangen Kesya.. bukan kah Kesya itu istri ku..? kenapa kalian melarang kami bertemu..?" tanya baliknya, masih berani menatap wajah mertuanya.
"Ini sudah menyalahi aturan, kamu sudah berjanji, tidak akan menemui Kesya sebelum Kesya hamil.." sahut Reiner membentak.
"Daddy..." sambar gadis yang berlari dari dalam rumah menghampiri mereka.
"Daddy.. ini semua salah Briyan.. Briyan yang memberikan obat tidur ke mereka.." sambung pemuda yang juga baru saja tiba di antara mereka. Pemuda itu lebih memilih mengambil alih hukuman yang akan saudaranya terima.
Reiner mengibaskan tangannya "Gabriel.. bawa Dirga pulang.!!" perintahnya kemudian.
"Kita pulang Dirga.. Papi mu pasti kecewa melihat mu seperti ini.." sambung Gabriel meraih lengan pemuda itu.
"Jangan menyentuh ku..!!" Dirga menepis dengan tatapan yang menceku.
__ADS_1
Dan sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang, terlihat pria tinggi dengan pakaian kasual turun dari sana, kemudian berjalan menghampiri mereka dengan langkah cepat nya.
"Dirga..!! sudah berani kau membohongi Papi..!!" bentaknya melotot. Tangannya mengutak-atik kepala gesper lalu melepas ikat pinggang nya.
Semua orang di sekitar sana mengerutkan kening, mau berbuat apa Yuda melepaskan sabuknya? mereka bertanya tanya.
"Beraninya kau berbuat begini..!!!" teriak Yuda lagi. Tangannya mengayunkan sabuk ke tubuh putranya.
"Papi... Om..." teriak Kesya dan Briyan bersamaan.
Sedang Gabriel mencekal kulit gesper yang sudah sedikit lagi mengenai Dirga "Kamu mau apa Yud..?" teriaknya melotot.
Yuda masih menatap bengis putranya, namun semua orang masih bertanya tanya dengan aksi bar bar Yuda.
"Bisa di bicarakan baik-baik Yuda, kamu tidak perlu bermain tangan..!!" pekik Reiner menatap Kaka tirinya.
Yuda menyambar ponsel dari dalam saku celananya, dengan wajah bengis lelaki itu menekan satu tombol di layarnya.
"Maaf kan Kaka, jika terkesan sangat menginginkan nya, semua ini demi melanjutkan pernikahan kita yank. Kalau tahu akan sulit begini, Kaka akan benar-benar melakukannya sebelum kita menikah.. sebelumnya Kaka tak berpikir untuk melakukan dosa besar itu karena Kaka tulus padamu.."
Suara yang terdengar dari ponsel Yuda. Membuat Reiner membulatkan matanya geram jadi selama ini perbuatan dosa itu hanya sandiwara mereka.
Dirga lupa, Yuda salah satu seniman yang sangat senang dengan sadap menyadap seseorang. Harusnya dia tidak mengatakan apapun yang menjadi rahasia nya di telepon. Pemuda itu pikir kemarin saja sang ayah tidak mengetahuinya, jadi mungkin kali ini juga dia lolos. Namun ternyata sore ini Yuda tak sengaja memeriksa folder rekaman yang ia sadap dari ponsel putranya dan itu sangat mengejutkan bagi lelaki itu.
"Harus nya Papi sudah mengirim mu ke London.!! beraninya kamu berbohong demi menikahi gadis kecil.. apa kamu tega membuat Kesya benar-benar hamil di usia nya hah?!!" teriak Yuda memekik.
"Kamu pikir mudah menjadi seorang ibu di usianya yang masih kecil..? Mami kamu saja susah payah saat mengandung mu..!!" lanjutnya.
"Kamu sadar.. kamu hampir membunuh Raya dengan sandiwara mu ini hah?!" imbuhnya.
"Sekarang kalian bercerai.. aku tidak akan membiarkan kamu menghamili putri kecil ku.." timpalnya lagi.
Kesya berlari merengkuh tubuh suaminya "Aku tidak mau di pisah Pi.. Kesya mohon.. bukan kah Mommy juga sudah tahu hubungan kami..? dan Mommy sudah setuju.. dia tidak apa-apa.. Mommy baik-baik saja Pi.." ucapnya.
Reiner menarik paksa lengan putrinya "Kesya..!! sekarang tidak ada alasan bagi kalian untuk tetap bersama.. kalian berpisah sekarang juga..!" putusnya kemudian.
Setidaknya jika Dirga dan Kesya di pisah, mereka tidak perlu mendengar cuap cuap dari kerabatnya. Apa lagi di negara ini masih ada UU yang berlaku, tidak boleh menikahkan anak di bawah 19 tahun, Kesya saja masih 15 tahun sedang Dirga masih 16 tahun.
__ADS_1
Jika pernikahan muda itu terjadi pada warga biasa mungkin tidak akan merepotkan, tapi keluarga Reiner keluarga tersohor, nama keluarga mereka pasti akan muncul di seluruh media.
"Aku tidak akan pernah menceraikan istri ku.." ucap tegas dari mulut Dirga.
"Kalian sudah menikahkan kami.. dan tidak bisa seenaknya memisahkan kami.. jika bukan aku sendiri yang menceraikan istri ku.. maka tidak ada yang bisa membuat kami bercerai.." imbuhnya lantang.
"Jangan membantah.. kalian masih menjadi beban kami orang tua.. jangan semena-mena mengucap Dirga..!!" sambung Yuda.
"Sekarang kita pulang..!!" lanjutnya yang lalu menarik lengan putranya.
"Pi.. tolong jangan pisahkan kami Pi.." ucap Dirga meronta, namun sayangnya Gabriel sudah mengapit tubuhnya kemudian menyeretnya ke mobil tak memperdulikan tangisan gadis kecil yang menggebrak gebrak pintu kaca.
"Jangan bawa Ka Dirga ke London Pi.. Kesya mohon.. Uncle.." ucapnya terisak.
"Sudah kita masuk..!!" Reiner menggendong paksa tubuh kecil putrinya.
"Daddy.. jangan pisahkan kami.. tetap nikah kan kami Daddy.." racau gadis itu meronta, sambil memukul-mukul punggung ayahnya, tapi tenaga yang hanya seberapa itu tidak mampu melawan tubuh kekar sang ayah.
Sedang Briyan masih mematung di tempatnya, tak terpikirkan jika sampai hubungan nya dengan Zaline di ketahui orang tua yang super posesif. Bahkan membayangkan nya saja membuatnya takut.
"Kenapa aku harus lahir di keluarga seperti ini.. keluarga yang selalu seenaknya sendiri mengatur kami.." gerutu kekanak-kanakan nya.
...----------------...
...Di dalam mobil....
"Siap kan penerbangan secepatnya..!!" ucap Yuda pada seseorang di seberang telepon.
"Pi.. Dirga mohon.. jangan kirim Dirga ke sana.. Dirga janji tidak akan menemui Kesya lagi.. tolong jangan buang Dirga Pi.." sambar pemuda itu mengemis.
"Dirga.. kamu tidak di buang.. hanya di sekolah kan di negara kakek nenek mu tinggal.. jadi menurut lah.. di sana juga ada Clara putri sulung Uncle.. kamu tidak akan kesepian.." sahut Gabriel kemudian.
Dirga bergeming, mungkin hanya akan sia-sia merengek pada lelaki berpengaruh seperti ayahnya, pikiran pendek terus menerus menghampiri pemuda itu.
"Aku harus bawa Kesya pergi dari rumah.. sebelum Papi mengirim ku ke London.." batinnya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung..! Maaf teman teman.. kalo ceritanya agak ubsurd.. tapi perjalanan mereka sudah aku garis besar kan.. hehe.. semoga kalian sehat selalu.. Aamiin.. ☺️🤗😚