Nikah Kan Kami Daddy..!!

Nikah Kan Kami Daddy..!!
Bab 44. Random


__ADS_3

Dari meja makan sederhana, Kesya menatap gerak tubuh Dirga yang kini berkutat dengan bahan mentah di dapur kecilnya, wanita mungil itu menyanggah pipinya menikmati wajah seksi sang suami saat memotong sayuran dengan gerakan yang sangat cepat, bagai koki handal.


Pemuda berjiwa Pramuka itu memang serba bisa, kegiatan ekstrakurikuler yang selama ini di geluti membuatnya lebih cekatan, kedua orang tua yang terlalu sibuk menjadikan nya mandiri sebelum waktunya.


"Kenapa yank... kamu makin kagum padaku..?" ucap Dirga melirik sekilas ke arah Kesya yang masih menatapnya lekat.


"Kakak tidak butuh bantuan ku?" tanya Kesya menawarkan.


"Tidak perlu, kamu hanya akan mengacaukan nya saja..!" Dirga melempar tatapan kilas lengkap dengan senyum manis di wajahnya.


Tak puas mendengar jawaban sang suami, Kesya mulai beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekat, dan raba tangannya melingkar di perut sixpack Dirga "Bukannya harusnya aku yang memasak untuk mu..? kenapa kamu tidak memberi ku sedikit pahala..? setidaknya membantu memotong sayur itu.." keluhnya manja dengan bibir yang mengerucut.


Dan pria itu melepas tangan yang masih melingkar di perutnya kemudian bergulir menghadap Kesya, menatap wanita mungil itu lekat "Aku tidak mau membuat tangan halus mu terkelupas yank, jadi menurut lah, itu pahala yang paling besar untuk mu sebagai seorang istri.." ucapnya mengecup singkat tangan lembut Kesya.


"Duduk lah yank, jangan menggodaku, atau aku tidak akan melepas mu malam ini.." usir nya mengancam seraya mendorong tubuh Kesya duduk kembali di kursi.


Kesya mendengus "Baiklah..." ucapnya menurut.


Hampir setengah jam Kesya menunggu Dirga menyiapkan makanan di mejanya sedang wanita itu hanya diam menurut di tempat nya. Dan matanya berbinar senang saat melihat hidangan yang disajikan sang suami tampan.


"Uh.. kayaknya enak kak.. capcay kuah kesukaan Kesya,, Kesya tidak tahu ka Dirga bisa masak.. lalu kenapa selama ini kakak suka numpang makan di rumah Daddy..?" tanyanya.


"Mau tau rahasia ku..?" Dirga melekatkan pandangan pada sang istri, dan Kesya mengangguk.


"Itu hanya alasan saja yank.. sebenarnya Ka Dirga cuma mau melihat wajah gemas mu.." lanjutnya tersenyum menghasilkan sebuah kecupan singkat di bibir sensualnya.


"Oh.. mahal juga tips nya.." ucap Dirga mengelus bibir yang tersenyum.


"Sekarang makan.. Kesya lapar.." pintanya.


Cukup lama pasangan itu menghabiskan makanan mereka karena terhambat oleh drama suap suapan dengan mulut, saling kecup, saling peluk, gairah pengantin baru nya masih bergelora membuat waktu makan mereka lebih lama. Meskipun mereka tinggal mengontrak tapi berasa dunia menjadi miliknya.


Setelah berhasil menyelesaikan makan malam mesranya, Kesya membereskan piring kotor dari meja lalu memboyongnya ke wastafel kecil yang hanya ada satu lubang saja. Wanita itu mulai menyingsing lengan bajunya bersiap untuk membersihkan wadah dari sisa sisa makanan nya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mencucinya yank.. kamu pergilah.." ucap Dirga mengambil alih.


Membuat wanita kecil itu bergulir ke arahnya "Ini bagian ku sayaaaang.. biar aku yang melakukannya.. aku ini istri mu, bukan majikan mu, kenapa kamu memperlakukan ku seperti ini hm?" sahut Kesya menautkan alisnya protes.


Dan Dirga merangkum kedua pipi istrinya, pria itu sangat menyukai bibir mungil Kesya yang semakin manis saat terhimpit "Tapi bukannya aku memang budak cinta mu hm.." ucapnya menggoda.


"Kalau begitu menurut lah.. biar aku yang mencucinya.. aku bisa.." sambung Kesya kekeh.


"Oke, oke.. kalo begitu, kita sama-sama saja.." Dirga membalikkan tubuh Kesya menghadap wastafel kemudian menautkan tubuh mereka dan menyatukan tangan mereka.


Dan lagi-lagi mereka memperlambat proses cuci piring yang harusnya hanya lima menit saja, menjadi berjam-jam lamanya karena adegan romantis mereka. Nyeri yang Kesya rasakan seolah hilang tak menyisakan trauma.


Rasa nyaman, rasa sayang, kesabaran, cinta tulus pria itu berikan pada wanitanya. Mungkin pekerjaan tetap belum ia dapatkan tapi cintanya masih menjadi semangat untuk tetap bisa mempertahankan biduk rumah tangga yang baru amatiran. Tuhan memberi jalan bagi yang mau berusaha, dan Dirga akan terus mencoba.


Malam hari pun berlalu, mentari pagi sudah bersinar terang suara kokok ayam, hiruk-pikuk perkotaan membangun kan seluruh insan namun tidak dengan pasangan muda ini, kelihatannya aktivitas malam harinya membuat mereka tergolek tak berdaya di atas ranjang queen size miliknya.


Sedang di tempat lain yang teramat jauh dari sana seorang pemuda sudah turun dari mobil mewah nya, kemudian berjalan gontai menuju ruang kelas.


Namun sayangnya, wajah pemuda itu nampak kusut karena gelisah, gundah, gulana yang masih menyeruak di dalam hatinya, sampai saat ini Briyan belum juga mendapat kabar dari kedua saudara nya.


"Briyan.." suara merdu memanggil.


Pemuda itu menoleh ke si penyeru. Wajah kusutnya mulai sedikit luntur saat melihat gadis cantik mendekat padanya.


"Zaline.." sahutnya datar.


"Kenapa baru menoleh, dari tadi aku memanggil mu.." protes gadis itu merengut.


"Maaf, aku tidak fokus.." balasnya pelan.


"Kamu kenapa.? sakit.?" tanya gadis itu memeriksa dahi kekasihnya.


"Aku tidak apa-apa.." jawabnya seraya menurunkan tangan Zaline dari dahinya.

__ADS_1


Dan gadis itu semakin merengut khawatir "Kamu tidak seperti biasanya.. apa aku punya salah.?" tanyanya penasaran.


"Tidak.. aku hanya sedang memikirkan Kesya dan Dirga, mereka belum juga memberi kabar padaku.. aku khawatir.. mereka sekarang di mana, ngapain, makan apa, punya uang atau tidak.. mereka benar-benar tega padaku.." ucapnya gundah.


Zaline mengelus lengan kekasihnya "Sabar ya.. kita doakan saja yang terbaik untuk mereka.. mungkin mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghubungi mu, bisa saja mereka takut di sadap lagi.. bukannya kita juga tidak bisa saling menelepon karena itu..?" ujarnya.


"Iyaa.. maaf ya sayang.. kita harus menjalani hubungan sembunyi sembunyi seperti ini.. sebelum kita lulus, mungkin kita akan tetap melakukan ini.. kamu tidak keberatan kan.?" sambung Briyan.


Zaline tersenyum mengangguk, tak masalah dengan status gaib nya, asal bisa terus saling bertemu gadis itu setuju, keberadaan Briyan di sisinya sudah menjadi kebiasaan baginya.


...----------------...


Sementara di dalam kamar serba hitam putih seorang wanita tergenang di balik selimut tebal, mata sembab menjadi bukti tangisan yang tiada hentinya. Dan seorang pria yang serba salah terus menerus menatap nya nanar. Sudah berjam-jam lamanya pria itu mencoba menenangkan istri tercintanya namun belum juga mendapat respon. Setiap berujar tak di sahut, tepisan demi tepisan pria itu terima saat berusaha menyentuh wanitanya.


Tapi sepertinya kesabarannya belum berakhir, dengan salad di tangannya pria itu berniat menyuapi sang istri.


"Kamu sarapan yah yank.. gimana kalo mereka datang, terus kamu malah sakit hm? mereka pasti khawatir.. sekarang makan lah, setidaknya demi aku.." ucapnya sabar.


"Biar saja.. aku malah maunya begitu.. mungkin dengan begitu, mereka tidak mengulangi nya lagi.. dan kamu juga tidak menghalangi hubungan mereka lagi..!!" sahut wanita itu ketus yang di selingi dengan suara isak nya.


Reiner mulai naik pitam pria itu beranjak dari duduknya melepaskan napasnya kasar. Secinta-cinta nya, sesayang-sayang nya, senurut-nurut nya orang pasti hilang sabar juga, jika terus menerus di salahkan, di abaikan bahkan tak di anggap penting. Padahal pria itu selalu menyempatkan waktu berharap keluarga nya tidak kurang kasih sayang bahkan di sela kesibukannya. Tapi apa? putrinya mengejar seorang pria lalu sekarang istrinya mengabaikan nya.


"Kalau begitu terus lah begini.. aku memang tidak pernah di hargai.. entah itu sebagai seorang suami ataupun sebagai seorang ayah.. bertindak lah sesuka hati kalian.. siksa lah aku semau kalian.. sekarang lanjut kan lah tangisan mu, anggap aku tidak pernah ada.!! mungkin dengan begitu kalian akan merasa lebih nyaman, jika kalian memang tidak betah hidup bersama ku, baiklah, akan ku coba tidak terlihat dari kalian semua,.." sulut nya yang lumayan menohok jantung lemah wanitanya. Kemudian melangkah pergi dengan wajah dingin.


Sedang Raya terlihat meremas kuat-kuat selimut nya, mencoba mengurangi rasa menyengat di jantungnya, untung saja hujaman di jantung nya kali ini tidak sampai menghilangkan kesadarannya.


Ada rasa bersalah menyelubungi hatinya, wanita itu sadar sudah bersikap keterlaluan pada lelaki yang selama ini mementingkan keadaanya, kondisi nya, kesehatan dan juga keselamatan nya. Kurang apa lagi Reiner padanya, bahkan kekayaan dan ketampanan tidak membuat pria itu selingkuh.


"Maaf kan aku Rei.." lirihnya menyesal.


...----------------...


Bersambung... hari ini anniversary novel ku yang ke satu bulan... 😂 terimakasih yang udah kasih hadiah dan vote, jangan lelah semangatin akooh yah... aku bagai ikan kekurangan oksigen tanpa spirit dari kalian... 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2