
Malam ini malam Minggu, seluruh insan yang mempunyai pasangan mungkin sudah bergegas mengencani kekasihnya.
Seperti wanita paruh baya yang satu ini, dia terlihat senang, dengan bibir yang tersenyum simpul ia mengingat kembali isi surat yang ia dapat pagi tadi.
...Temui aku di kafe jadul.. tempat pertama kali kita jadian.. aku yakin kau masih mengingat nya, aku tunggu nanti malam, datang lah, aku akan mengirim sopir untuk menjemput mu.....
...By Reiner.....
"Kamu masih mau menunggu ku Rei..? setelah sekian lama kita tidak bertemu, aku kira hanya aku saja yang masih mengingat mu.." gumamnya dengan senyum yang tiada henti.
"Nyonya.. kita sudah sampai.." ucap seorang sopir kepadanya. Karena saat ini wanita itu berada di dalam mobil mewah.
"Oh iya pak.. saya turun yah.. terimakasih.." ucap baliknya hangat.
Wanita itu lantas menuruni mobil kemudian berjalan menuju kafe yang masih terlihat sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu. Saat pertama kali ia berkencan dengan pacar pertama nya.
Sesekali wanita itu tampak berdehem, menekan lembut dadanya, menghela napas panjang lalu menghembusnya perlahan demi mengurangi grogi.
Dengan langkah gontai nya Shella menuju sebuah meja yang sudah terisi oleh sosok lelaki tampan yang pernah wanita itu cintai bahkan mungkin masih ia kagumi.
Terlihat sekali dari cara dia tersenyum saat mendekat. Matanya tak berkedip melihat lelaki yang kini berdiri di hadapannya mengulur tangan mempersilahkan nya duduk.
"Silahkan Shella.. duduk lah.." ucap Reiner padanya tanpa ragu.
"Iyya.." Shella duduk berhadapan dengan Reiner yang kini menatapnya dalam.
"Gimana kabar mu Rei..? lama sekali kita tidak bertemu.." tanya Shella yang bukan basa-basi, karena wanita itu memang tulus ingin mengetahuinya.
"Aku baik.. seperti yang kau lihat.. dan sepertinya kau juga baik-baik saja.. bukan begitu..?" jawab Reiner seolah ingin cepat menyampaikan maksud dan tujuan nya memanggil mantan kekasih, bahkan bisa di bilang cinta pertamanya.
"Sekarang aku langsung saja Shell.." tambahnya.
Shella mengernyit penuh tanya "Langsung,.? maksud mu..?" tanyanya.
"Apa dia mau mengajak ku balikan.? atau jangan-jangan si Raya yang penyakitan itu sudah meninggal..?"
Reiner menyorong bungkusan berwarna coklat hingga kini bungkusan itu berada di hadapan wanita itu "Terima lah Shell.. mungkin ini bisa membantu pengobatan ibu mu.. atau biaya lainnya.. jika masih kurang akan aku tambah lagi.. ucap lah berapa pun kau butuh.." ucapnya.
Dan wanita itu menyentuh bungkusan berwarna coklat itu "Apa ini Rei..?" tanyanya.
"Buka saja.."
Shella pun menurut wanita itu mulai membuka bungkusan tebal yang tidak bisa ia genggam saking besarnya. Matanya berbinar senang saat melihat gepokan merah berbaris rapi di dalam sana.
"Uang..? sebanyak ini Rei..?" celetuknya. Dan lelaki itu mengangguk dengan gerakan perlahan.
"Rei.. kamu memang tidak pernah berubah, selalu perduli padaku.. bahkan saat kita sudah sama-sama menikah.." imbuh wanita itu.
"Tapi maaf Shell.. kali ini tidak gratis.." Reiner mulai memuluskan niatnya.
"Hah..? ti tidak gratis.?" sergah Shella dengan mata yang sedikit melotot canggung.
"Apa jangan-jangan dia mau mengajakku check ini di hotel..?"
"Maksud mu..?" tanya Shella kemudian.
"Sekarang.. suruh putrimu menjauhi putraku.. bila perlu pindah lah dari kota ini.. bawa jauh-jauh putrimu dari jangkauan putraku.." tegas Reiner sejelas jelasnya.
"Putramu.? siapa putra mu.?" kini wanita itu mengerut kan keningnya kuat-kuat.
"Briyan..! Briyan itu putraku..! pemuda yang mengantar jemput putri mu..! yang membelanjakan putri mu..! dia itu putraku..! apa kau benar-benar tidak tahu.? atau pura-pura tidak tahu.? harusnya kamu sudah bisa menebak dari pakaian, dan juga wajahnya, dia juga putra dari donatur utama di sekolah elit putri mu. Tidak mungkin kamu tidak tahu, atau jangan-jangan kamu sengaja, menyuruh putri mu menggoda putraku.?" tukas Reiner yang menyulut amarah wanita di hadapannya.
Dengan gerakan yang sangat cepat wanita itu beranjak dari duduknya, Shella menyodorkan kembali bungkusan coklat itu pada lelaki yang baru saja menghinanya.
"Maaf Rei.. ambil lagi uang mu..!! aku tidak pernah menyuruh putri ku menggoda putramu.!! apa yang kau tuduh kan itu aku tidak pernah melakukan nya.!! aku tidak pernah ikut campur urusan putri ku.. aku tidak menyangka, kamu memanggilku ke sini hanya untuk menghina ku.. terlebih lagi menghina putri ku..??" ucapnya.
"Apa katamu, aku harus pergi meninggalkan kota ini..? hanya karena uang mu ini..? CIH..!!!" imbuhnya berdecih.
"Aku tidak akan menjual perasaan putriku demi uang mu..!!" timpalnya yang membuat lelaki itu juga beranjak dari duduknya.
"Shella..!!!" teriaknya.
"Apa.?" wanita itu menantang lawan bicaranya dengan mendongakkan wajahnya.
__ADS_1
"Kamu takut istri jantungan mu pingsan, jika sampai dia mengetahui putranya menyukai putri cantik ku hah.? Malang sekali nasib nya, punya suami yang dulu menyukai ku, dan sekarang putranya menyukai putriku..!!" tambahnya dengan ujung bibir yang menaik sempurna.
"Ini resiko mu Rei, ketika kamu memilih wanita lemah itu menjadi teman hidup mu, kamu harus siap, jika seandainya dia meninggalkan mu, mungkin besok, lusa, atau saat ini juga..."
Dan kini tangan Reiner mulai bicara, pria itu melayangkan tangannya mengudara mendengar ujaran wanita itu "Shella.!!" pekiknya melotot. Namun lelaki itu tidak akan mungkin berani menyakiti perempuan dengan tangannya.
Shella tersenyum sinis "Kau berani memukul ku Rei..? suami ku saja tidak pernah mengangkat tangannya padaku..!!" ucapnya.
"Permisi... jika kamu benar-benar ingin membuat putri ku menjauh dari putramu... larang lah putramu sendiri... jangan mengancam ku... kamu lihat saja, apa dia mau menuruti mu..?" ucapnya lagi kemudian melangkah pergi meninggalkan lelaki yang kini mematung di tempatnya. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajah cantiknya, kini menghilang, bibirnya mengatup kuat karena geram.
Sedang Reiner tampak menendang kursi di hadapannya "Aaaaaaaaggghhhhhh...!!! brengsek..!!!" hardiknya berteriak sejadinya, lelaki itu memejamkan matanya lalu mengusap kasar wajahnya.
Jalan satu-satunya yang terpikir oleh nya adalah memblokir fasilitas putranya, dan mengeluarkan putri Shella dari sekolah elit Briyan. Dengan ponsel di tangannya lelaki itu mulai menjalankan niatnya.
Bukan kah jentikan jarinya ajaib.?
...----------------...
Siang ini Dirga sudah mendapat respon dari kurator seni yang ia kenal, seminggu yang lalu pemuda itu menyerahkan pendaftaran karyanya dan di setujui. Pemuda itu lantas mempercepat garapan lukisan nya untuk segera di pamer kan.
Dirga juga sudah mulai melanjutkan komik on going nya, dan sudah mulai mendapat penghasilan meskipun masih belum seberapa, tapi pemuda itu masih bingung bagaimana cara menarik uang dari akun nya, karena tidak mungkin dia menariknya dengan ATM miliknya.
Sedang uang yang dia pegang sudah semakin habis, bahkan tak bersisa, galau, ternyata pemuda kaya itu harus merasakan hidup keras memikirkan beras.
"Kak.."
"Hmm?"
"Sambil menunggu ide menarik gaji dari akun kakak, lebih baik kita jual saja perhiasan ku.." usul Kesya.
"Apa? tidak perlu yank.. secepatnya kakak cari cara, tidak perlu seperti itu, itu hadiah ulang tahun.. No.. jangan yank.." sergah Dirga menyahut.
"Kenapa tidak, ini milikku, kenapa tidak perlu, lagi pula nanti kita bisa beli lagi, atau kita gadai saja..? kita sudah tidak punya uang Dirga.. aku juga sudah lama tidak beli skincare ku.." sambung Kesya mengeluh.
Dirga merangkum kedua pipi istrinya "Yank... sabar lah sedikit hmm.. tidak perlu bertindak ekstrim.." ucapnya.
Dan wanita itu melepaskan wajahnya dari tangan sang suami "Kamu lihat yank.. kulit ku mulai bentol bentol gara-gara mandi dengan sabun sembarangan.. apa kakak tega melihat ku begini..?" keluh nya memelas.
"Tentu saja tidak yank.." Dirga memeriksa tangan istrinya yang memang sudah mulai muncul bintik merah seperti ruam.
...----------------...
Dengan masker di wajahnya mereka berdua bergegas menaiki motor, menuju toko yang terselip di dalam pasar, jadi motor mereka harus di parkir terlebih dahulu, anak sultan itu harus merasakan berjalan berdesakan dengan rakyat biasa di dalam pasar yang sudah tidak becek, pemerintah kita sudah menertibkan pasar menjadi lebih nyaman.
Dan setelah mengelilingi pasar modern itu, mereka pun memutuskan untuk berhenti di sebuah toko mas yang lumayan ramai. Kedatangan nya langsung di sambut hangat oleh pemiliknya.
"Siang... jelang sore.. dik.. bisa buka masker nya kan.. itu peraturan toko kami..." ucapnya sopan.
Kesya menyenggol siku Dirga "Gimana kalo ada orang orang suruhan papi kak.?" bisiknya.
Dan pemuda itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada anak buah orang tua nya "Sepertinya aman.. kita buka saja yank, kan peraturan nya memang begitu, setelah ini kita langsung pergi.." ucapnya.
Sepasang suami istri itu pun mulai membuka masker dengan gerakan perlahan, dan mata pemilik toko terbelalak, dengan mulut yang terperangah.
"Oooohh.. ya ampun.. kalian kakak beradik yah..? ganteng cantik banget.." ucapnya dengan suara sengau.
"Ada apa, ada apa.? kalian mau beli cincin? gelang atau kalung.?" tawarnya kemudian.
"Tidak bang.." celetuk Dirga yang kemudian berhenti.
"Eh.. huhu.. jangan panggil bang dong sayang.. panggil Eike Bunda.. gak liat apa Eike cantik begini.." sergah laki laki yang berdandan perempuan itu.
Dirga menggaruk tengkuknya salah tingkah "Iya.. maaf.. typo Bunda.. hehe.." nyengir nya.
"Iiihh.. hihihihi... bisa aja ni si babang ganteng.. jadi gimana kalian mau apa ke sini hm.?"
Kali ini giliran Kesya yang mulai berbicara "Ini Bunda.. aku mau gadai perhiasan ku.." ucapnya.
Pemilik toko itu menggeleng "Gadai..? toko ku tidak menerima gadai, tapi bisa membeli.." terangnya.
"Ya sudah kalau begitu beli saja.. gak papa.." sergah Kesya. Membuat Dirga melirik ke arahnya "Yank.." pekiknya.
"Sssuuuuutttt" Kesya menutup mulut Dirga dengan jari telunjuk nya "Kaka diam saja.." ucapnya mengedipkan mata.
__ADS_1
"Mana barangnya..?" tanya pemilik toko.
Kesya pun melepaskan satu persatu anting nya kemudian menyerahkannya pada manusia jadi-jadian itu, sepuluh menit mereka melakukan drama tawar menawar sampai akhirnya si pemilik menawarkan harga tinggi asal ada syarat yang harus Dirga lakukan.
"Syarat.? syarat apa Bunda.?" tanya Dirga.
"Kiss me please..!!" jawab manusia jejadian itu sambil memanyunkan bibirnya ke depan.
Dirga terperangah tak bisa membayangkan bibir lembutnya haru mencium wajah yang sudah seperti motor modifikasi banyak dempulan di sana sini.
"OMG...!!" ucapnya nyeplos sambil menutup mulutnya reflek.
Sedang Kesya tampak mengangguk setuju "Boleh banget.. ayok kak cium Bunda.." suruh nya dengan tangan yang menggoyangkan lengan Dirga.
"Apa kamu mau menjual suami mu hah.?" Dirga melotot protes.
"Tidak juga, lagi pula cuma cium sedikit, anggap saja mencium pantat sapi.." ucap Kesya enteng.
"Liat lah yank wajahnya banyak tepungnya, bahkan pantat sapi lebih mulus darinya yank.." tolak Dirga mengeluh dengan suara pelan nya. Sedang bibirnya mencoba terlihat senormal mungkin supaya si pemilik toko tidak mendengarnya.
"Sekali saja yank.. lalu kita ambil uang kita.." paksa Kesya merengek.
"Gimana setuju tidak.?" sambar pemilik toko.
Dengan terpaksa pemuda itu mengangguk perlahan "Iy ya.. Bunda.." sahutnya.
"Cup..!!" Secepat kilat Dirga menyambar pipi manusia jadi-jadian itu.
"Aaaaaaa... hai pemirsa... jeng... buk ibuk.. dengerin.. aku di cium berondong ganteng ini,," ucapnya pamer sambil melambaikan tangannya memanggil ibu ibu lainnya.
"Yang bener..? aku dong mau.. mau.. iya aku juga mau..." sahut dari berbagai macam jenis manusia di sekitar sana. Sedang Dirga tampak mengernyit ketakutan.
"Sabar ya ibuk ibuk.. kuota ciuman hari ini sudah habis, jadi kalian hanya boleh menyentuh wajahnya saja, tapi ada syaratnya.." ucap Kesya yang membuat Dirga mulai curiga.
"Apa..?" sahut mereka semua serempak.
"Satu kali sentuhan kalian bayar lima puluh ribu saja, gak usah mahal-mahal, hari ini masih diskon.." tawar Kesya sedang Dirga semakin menunjukkan wajah protesnya "Yank..!! kamu serius mau menjual ku hah.?" bisiknya menarik lengan baju Kesya namun sepertinya sang istri tak mengindahkan keluhan nya.
"Setuju, lima puluh mah kecil.."
"Oke ngantri ya buk ibuk.. aku ambil duit kalian dulu.. baru boleh nyubit kakak ganteng ku ini.." sambung Kesya dengan tega nya.
"Ya ampun.. kenapa Kesya jadi matre begini..!! apa dia tidak takut kena azab.." gerutu Dirga dalam batinnya.
Dan sekitar dua puluh lima orang dari emak-emak sungguhan sampai yang jadi-jadian mengantri demi menyentuh pipi bersih nan mulus Dirga Pratama.
Kesya mengembang kan senyum kemenangan, saat mengambil alih uang-uang di tangan mereka, termasuk hasil penjualan emas nya. Sedang Dirga tampak memelas saat pipinya di serbu emak-emak milenial.
Setelah selesai pemuda itu langsung menarik paksa Kesya berlari menghindari kejaran para penggemar nya sebelum Kesya menjual pipinya lagi.
"Oh tuhan.. mengerikan sekali.." keluhnya membungkuk kan tubuh, mengatur nafas setelah berhasil keluar dari gedung pasar.
"Huuhh.. kamu tega sekali yank.. menjual suami mu sendiri.." imbuhnya dengan napas yang tersengal-sengal.
"Hihihi... maaf yank, tapi bisnis ini sangat menjanjikan sekali.. yang penting kan kita tidak menipu nya..!" ucap Kesya enteng "Anggap saja kakak memberi tanda tangan pada mereka layaknya artis.." lanjutnya.
"Tolong jangan lakukan ini lagi yank.. aku menyerah, ini membuat ku trauma.. mana ada yang tangannya bau eek, ada yang bau jengkol, tangan emak-emak itu tidak sewangi tangan mu.. aku jadi sedikit mual sekarang.." keluh Dirga protes.
"Den Dirga..!!" suara itu membuat mereka menoleh serempak ke arah si penyeru.
Ternyata beberapa pria suruhan Yuda sudah berada di sekitarnya "Sial..!! Kita lari yank..!!" ajak Dirga menarik pergelangan tangan Kesya.
"Jangan lari Den..!! Non..!! berhenti..!!"
"Kakak gimana kalo kita tertangkap..!!"
"Tenang.. kita lari saja dulu.."
...----------------...
Bersambung.. maaf ada tanda tamat tapi belum tamat kok.. maaf sekali.. dan di bawah ini karya baru ku.. barang kali berminat..
Alex Arian adalah seorang founder dari sebuah perusahaan tekstil ternama, menikah muda dengan cinta pertamanya, hingga di usianya yang ke 39 tahun lelaki itu sudah mempunyai putra berusia 23 tahun.. dan yaah.. Alex menduda selama sepuluh tahun kemudian berhubungan kembali dengan seorang gadis berusia 21 tahun.. yang seharusnya menjadi istri putranya..
__ADS_1