Nikah Kan Kami Daddy..!!

Nikah Kan Kami Daddy..!!
Bab 43. Ngontrak


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam Yuda dan Gabriel tiba di kota B, sebenarnya mereka sudah meninjau ke tempat kost Dirga tapi oleh karena waktu yang masih dini hari kost tersebut masih belum diperbolehkan untuk menerima tamu.


Kedua pria paruh baya itupun memutuskan untuk menginap di hotel mewah sekitar sana, besok pagi-pagi sekali mereka baru akan mendatangi kembali tempat kost tersebut dengan besar sekali harapan bisa bertemu sang putra-putri mahkota.


"Huuuhh... seharusnya aku ke sini dengan Dede gemes yang suka sama sugar Daddy brother.., kenapa nasibku apes sekali, harus menginap satu kamar dengan orang yang sama-sama mempunyai pedang panjang, .." keluh Gabriel menggerutu seraya menjatuhkan diri ke atas ranjang king size di kamar itu.


"Hentikan gerutuan mu itu, tidur saja, kita harus bangun pagi buta sebelum Dirga dan Kesya kabur lagi dari tempat itu.." ucap Yuda yang lalu memposisikan dirinya tersandar di sebuah sofa.


"Bagiamana jika sampai kita kesiangan?" tanya Gabriel kemudian.


"Ada anak buah ku sudah bersiaga di sekitar sana..!" jawab Yuda tanpa menoleh.


Mata lelaki itu mulai terpejam namun pikirannya tersesat di awang-awang, sebenarnya pengorbanan cinta Dirga mulai meluluhkan hatinya, jika di ingat kembali tentang masa mudanya, bukankah dahulu seniman tampan itu juga pernah terobsesi dengan Raya? Yuda terus mengejar Raya meskipun sudah tahu status pertunangan wanita itu dengan adik tiri nya. Memang benar pria itu tidak merusak hubungan keduanya, tapi perhatiannya pada Raya masih sama bahkan rela berkorban nyawa.


Itu wajar dan juga normal, karena mencintai seseorang itu tidak salah, begitu juga dengan yang Dirga rasakan, hanya saja sekarang perasaan Dirga terbalaskan, tidak seperti kisahnya yang memilukan. Mungkin jika hal itu terjadi padanya pun Yuda akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh putra semata nya. Sungguh galau, gundah, gulana menyeruak di dalam dada.


...----------------...


Pagi hari pun tiba pasangan muda yang baru saja melepas predikat perjaka perawan kini sudah bersiap mencari tempat tinggal. Dengan bermodalkan informasi dari iklan yang terpasang di internet, Dirga menujunya.


Namun sepertinya cacing dalam perut harus di manjakan lebih dulu sebelum melakukan perjalanan yang sedikit jauh itu. Kini Dirga mengajak istrinya masuk ke sebuah kedai pinggir jalan dan wajah ngambek sang istri masih nampak dari semenjak perang paksa tadi malam.


"Kita makan di sini saja ya yank, mau kan?" tanyanya pada sang istri.


Kesya mengernyit "Kita sudah masuk ke sini, tapi kamu baru tanya mau kan..?!" ketusnya.


Dirga menggaruk kepalanya serba salah "Kenapa gak selesai selesai ngambek nya yank, kakak kan sudah minta maaf, atau kamu tidak suka makan di sini hm.?" ujarnya yang tidak mendapat respon, wanita mungil itu malah memalingkan wajahnya. Membuat Dirga menghembus nafas resah.


"Oke oke, kita pergi saja dari sini, kita cari restoran saja yah.." tambahnya mengalah.


"Pak pesan pak, cepetan kita sudah lapar..!!" sergah Kesya melambaikan tangan pada pemilik kedai. Dan lelaki itu berlari menghampiri "Iya dek.. pesan apa?" tanyanya sopan.


Sedang Dirga mulai tersenyum girang, akhirnya sang istri mau juga makan di tempat itu.


"Belgian waffle dua pak segera aku sudah lapar.." putri kecil itu mengucap dengan percaya dirinya membuat lelaki di hadapannya memperlihatkan wajah bingung.


Sedang Dirga tampak menahan tawa, untung saja pemuda itu tidak sedang mengunyah atau menenggak minuman, bisa-bisa tersedak dia, mendengar istrinya memesan Belgian waffle di kedai bubur.


"Kenapa?? ada yang salah sama ucapan ku?" tanya Kesya dengan pandangan yang mengedar ke dua lelaki itu.


"Maaf dek, di sini hanya menyediakan bubur dan nasi saja, kalau mau wafer nanti nunggu lebaran baru ada.." sahut pemilik kedai berujar lugu membuat perut Dirga semakin tertekan geli, waffle dengan wafer dua makanan yang berbeda.


"Pagi-pagi bubur..? nasi..? karbohidrat berlebih.. bisa ngantuk saya pak.." balas Kesya.


"Sudah pak, kasih kita apa ajah nanti kita makan kok.. kita sudah lapar.." sambung Dirga menyambar percakapan mereka.


Dan lelaki pemilik kedai tampak lega "Baik dek.. tunggu sebentar ya.." ucapnya masih konsisten dengan nada sopan nya dan mungkin itu yang membuat kedai kecil itu ramai, pemiliknya mempunyai kesabaran tingkat dewa.


Dirga menarik satu tempat duduk yang berdesakan dengan pelanggan lainnya "Duduk di sini saja yank.." ucapnya mempersilahkan istrinya. Dan wanita kecil itu menurut meskipun masih dengan wajah jutek. Sedang Dirga duduk di kursi sebelahnya.


"Yank.. masih marah padaku..?" tanya Dirga membisik di telinga Kesya. Namun wanita itu masih diam tak menyahut, nyeri di **** ***** yang masih terasa membuatnya teringat betapa serakahnya sang suami, tapi maklum jiwa mudanya lah yang membuat pemuda itu buas, apa lagi itu kali pertamanya.


"Apa masih sakit yank?" tanya pria muda itu lagi. Namun sepertinya wanitanya masih tidak mau mengeluarkan suara.


Dirga mendengus mulai hilang sabar "Ya sudah kita pulang saja, setelah ini kakak antar Dede ke rumah Daddy.. percuma juga kita sama-sama tapi terasa jauh begini.. dari tadi pagi kakak cuma ngomong sendiri.." gertaknya memungkas bujukan yang sedari pagi di acuhkan.


Kesya menoleh ke arah Dirga dengan kening yang mengerut "Apa segitu saja kesabaran mu? kamu bilang mau melakukan apa saja untuk tetap bersama ku.!" sahutnya protes.


"PRANK yank.." sambung Dirga mengagetkan membuat Kesya menaikan kedua bahunya tersentak.

__ADS_1


"Akhirnya nyaut juga.. mana mungkin kakak menyerah begitu saja setelah melakukan ini semua hm..? maaf kan aku yank.. maaf yah.. kakak janji, tidak akan....." Dirga menghentikan katanya.


"Tidak jadi deh, gak mungkin kakak janji tidak akan melakukan nya lagi, kita ini kan suami istri.." lanjutnya.


"Tapi kakak janji deh, lain kali lebih pelan-pelan lagi.. hehe.." nyengirnya kemudian.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan mereka datang, keduanya pun melanjutkan sarapan meski awalnya Kesya hanya melihat lihat makanan nya saja, wanita kecil itu tidak terbiasa dengan menu berat di pagi harinya, tapi sepertinya rasa lapar berhasil membuatnya menyerah.


"Gitu dong.. cantiknya Dirga Pratama harus nurut.."


"Tapi jangan protes, kalau tiba-tiba aku gemuk..!"


"Gak papa.. aku tetap mencintaimu yank.."


Percakapan mereka di dengar beberapa pelanggan lain, dan lumayan menghibur, dimana pemuda tampan dengan gadis cantik terlihat romantis di kedai bubur. Berasa nonton drama Korea.


"Ini kemana kameranya? jangan-jangan mereka lagi shooting film.. terus kita ikut tertangkap kamera.." ucap pelanggan A.


"Apa mungkin, mereka bintang settingan di acara reality show Katakan bubar..?" sahut pelanggan B.


"Mungkin saja.. jadi kameranya tersembunyi.. kita senyum ajah deh.. siapa tahu tertangkap kamera kan lumayan.. masuk Tipi..."


...----------------...


Sementara di tempat lain, kedua pria paruh baya sudah mendatangi kost Dirga, keduanya sudah mendapat izin dari pemilik kost untuk memasuki gedung itu dan kini langkah mereka menuju kamar 68 yang terletak di deretan paling ujung.


tok tok .. Setibanya di sana dengan sabar Yuda mengetuk pintu bercat putih kusam.


Sedang Gabriel sibuk mengedarkan pandangan ke seluruh arah "Apa Dirga benar-benar tinggal di tempat seperti ini..? apa dia betah..?" ucapnya pelan tapi Yuda masih bisa mendengar.


"Tentu saja, dia sudah terbiasa mandiri.. aku saja menyesal kenapa aku sering keluar negeri meninggalkan anak itu sendirian di rumah.." gerutu Yuda.


Dan seorang pemuda membuka pintu dengan wajah ngantuk nya "Iyah.. ada apa yah? Om Om ganteng..? kalian nyasar..?" tanyanya selengean dengan tangan yang menggaruk perut.


"K-kalian siapa..?" tanyanya gugup.


"Minggir.."


Tanpa permisi Gabriel masuk ke dalam ruangan sempit itu. Sedang Yuda mencengkeram kuat lengan pemuda berwajah gelap itu agar tidak menghalangi langkah Gabriel.


Dan pemuda itu mengernyit protes "Om.. kalian mau apa hah.? kalian sudah tua.. tapi tidak tahu sopan santun..!!" cerocos nya.


"Di mana Dirga hah..?" Yuda mulai naik pitam setelah melihat putranya tidak berada di dalam sana.


"Dirga siapa.?" jawab pemuda yang tidak lain tidak bukan adalah Nguncup.


"Aku tahu kau yang membantunya kemarin.!! sekarang kasih tahu aku dimana dia sekarang..,!!" gertak Yuda geram.


"Jika aku membantunya.. lalu..? kenapa..? apa kalian mau membunuh ku..?" tantang Ucup tanpa takut.


"Beraninya kau hah..!!" lelaki itu mulai melotot kan matanya marah.


"Hekhm... Maaf Om Om yang ganteng.. kalau kalian saja tidak tahu, apa lagi aku, aku saja baru mengenalnya satu bulan.. sekarang bro Dirga sudah tidak di sini lagi.. dia mencari kontrakan baru bersama dengan istrinya.. dan sekarang lepas kan lengan ku..!!" pemuda itu berujar dengan wajah tak gemetar sedikitpun meski di himpit kedua pria berbadan kekar.


"Sejak kapan..? jawab.!!" teriak Yuda semakin geram.


"Dari kemarin dia tidak ke sini Om.. kalau tidak percaya tanya saja teman-teman ku.." jawab Ucup dengan wajah santai nya.


"Aaaagghhh..!!!!" Yuda meremas rambutnya geram. Sudah menunggu bahkan tidak tidur berharap bisa menangkap putranya, namun ternyata Nol..,!! sungguh di sayangkan.

__ADS_1


Gabriel mengelus punggung Yuda "Sudah brother.. tahan emosi mu.. kita ini di tempat orang.. sekarang kita lanjutkan saja pencarian kita.. mungkin Ferdy sudah bisa melacak keberadaan ponsel Kesya.. lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini.." ucapnya mengusul.


...----------------...


Tak terasa jarum jam berputar begitu cepat, hingga kini waktu sudah menunjukkan pukul 09:30. Dan sepasang suami istri muda itu sudah berdiri di depan pintu kontrakan yang lumayan tertata rapih.


Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan senyum sambutnya "Iyah dik- adik.. ada yang bisa ibu bantu..?" ucapnya.


"Iya buk.. maaf.. saya ke sini cari kontrakan.."


Sekitar sepuluh menit mereka berbincang, Dirga menyampaikan maksud dari kedatangannya ke tempat itu, dan lagi-lagi awalnya ibu pemilik kontrakan tidak memberikan izin, karena ragu dengan status anak-anak remaja itu, tapi lagi-lagi Dirga dan Kesya berhasil meyakinkan ibu itu dengan video pernikahan mereka yang masih dan akan terus tersimpan di ponselnya.


Hingga kini mereka melihat lihat dua buah kontrakan yang berbeda kelas yang satu dengan harga satu juta tetapi sempit dan kosong tanpa fasilitas, dan yang satunya lagi tiga juta setengah namun lumayan lebih luas di dalamnya juga sudah ada fasilitas seperti lemari, ranjang, sofa, dapur yang cukup terawat meskipun sederhana.


Tentu saja Kesya lebih memilih yang tiga juta setengah dan Dirga menyetujuinya, pemuda itu tidak akan tega menempatkan istrinya ke kontrakan yang sempit. Masalah kedepannya bisa bayar lagi atau tidak urusan belakangan yang penting sekarang mereka punya tempat berteduh. Dengan uang yang tersisa Dirga membayar sewa untuk tiga bulan ke depan, dan kunci kontrakan sudah mereka ambil alih.


Pemilik kontrakan mengatakan jika ada perlu apa-apa mereka bisa langsung menghubunginya di rumah yang tak jauh dari sana. Kemudian Dirga dan Kesya memasuki rumah barunya, di rumah yang cukup sederhana, mereka bertekad memulai rumah tangganya.


"Terimakasih ya yank.. sudah mau menerima kesederhanaan ini.. kakak janji, kakak akan lebih giat membuat komik, supaya bisa menghasilkan lebih banyak uang.." ucap Dirga dengan tangan yang merangkum kedua pipi istrinya.


Yah.. pemuda itu memang sudah menjadi illustrator komik dari masih SMP, hanya saja biasanya tidak terlalu fokus karena kegiatan belajar dan ektra kurikuler yang aktif dia geluti.


Tapi selama satu bulan ini Dirga menekuni hobinya itu untuk di jadikan lahan penghasilan, lagi pula selama satu bulan ini Dirga hanya luntang-lantung tidak melakukan kegiatan apapun. Untung saja Dirga menuruni bakat sang ayah yang bisa berguna di era yang serba mudah ini. Komikus bisa terus berkarya meski raganya hanya di depan layar gadget saja.


Kesya mengangguk bangga "Iyah.. tapi.. dimana peralatan menggambar kakak..?" tanyanya.


"Ada, tapi masih di tempat Ucup, secepatnya kakak ambil, atau Ucup saja yang mengantarkan nya ke sini, tenang Ucup pemuda yang sangat bisa di andalkan yank.. aku bersyukur bisa mengenal nya.." jawab Dirga. Dan Kesya tersenyum bahagia, wanita itu berharap bisa terus bersama meski harus meninggalkan kemewahan. Kesya yakin Dirga bisa bertanggung jawab atas dirinya tak perduli berapa usianya karena kedewasaan tidak memandang umur.


"Kakak, baju Kesya sudah tidak ada lagi, lalu Kesya harus ganti dengan apa setelah ini..?"


"Kita keluar saja, sementara beli yang murah dulu yah, sekalian cari bahan makanan di pasar dekat sini.." usul Dirga.


"Iyah.. gak papa, mau murah mau mahal, asal yang memakainya cantik ya cantik saja, tapi, terimakasih untuk semuanya suamiku.." ucap Kesya dengan senyum tulus.


Lagi-lagi waktu berjalan begitu cepat. Hingga kini rembulan malam pun mulai bersinar terang menjalankan tugasnya, dan sepasang suami istri itu mulai kelelahan setelah seharian ini sibuk melengkapi rumah barunya dengan sesuatu yang mungkin akan di perlukan.


Meskipun Dirga harus rela mengosongkan kantong nya, dan untung saja selama satu bulan ini pemuda itu bisa berhemat, pemuda itu bisa makan di tempat sederhana, dan kost yang hanya seberapa ratus ribu saja perbulan. Jadi uang terakhir yang ia ambil dari rekeningnya masih cukup untuk membayar sewa kontrakan dan melengkapi bahan pangan di dapur sederhana barunya setidaknya untuk dua Minggu kedepan.


Dan kini perut Kesya mulai keroncongan, dengan mengerucutkan bibirnya manja wanita itu menghampiri suami yang tengah duduk di sofa ruang tamu sederhana nya. Terlihat pemuda itu mulai sibuk dengan kanvas dan cat akrilik yang baru saja ia beli, sebenarnya melukis hanya bagian dari hobi yang belum bisa di hilangkan saja.


"Kakak.."


"Hm?" tanpa menoleh.


"Kita mau makan apa malam ini..? apa kakak mau mengajak ku makan di kedai pinggir jalan lagi..?" tanyanya.


Dirga menaikan satu alisnya "Tidak perlu, biar kakak saja yang memasak.." jawabnya masih belum menoleh.


"Kakak sendiri..? memasak..?"


"Tentu saja.. kamu tahu kan, kakak ini serba bisa.." jawabnya sombong.


...----------------...


Bersambung..!!


Semoga kalian tidak kaget dengan bakat dan hobi Dirga, karena jauh sebelumnya saya sudah membahasnya, jadi tidak tiba-tiba memaksakan alur yaah.. kalau kalian ingat lagi.. Zaline pernah menyeploskan hobi Dirga ini..


Bagaimana kah Kisah ke empat anak remaja itu? Zaline Arta, Briyan Aprillio, Kesya asmara putri dan juga Dirga Pratama..?

__ADS_1


Simak lagi iyaaahh... Jangan bosen...


Maaf atas kesalahan teknis nya.. semoga kedepannya tidak terjadi lagi..


__ADS_2