Nikah Kan Kami Daddy..!!

Nikah Kan Kami Daddy..!!
Bab 37 Ngekost


__ADS_3

"Aaaggh..!!"


Teriakkan itu bersamaan dengan bunyi klakson mobil yang tak sengaja tertekan saat tangan seorang pria memukul setir.


Marah, sesal, takut, campur aduk menjadi satu, putra semata wayangnya lari dari nya, tak pernah terpikirkan atau terbayangkan putra cerdas cekatan multi talent yang penurut bisa melakukan hal itu.


Sudah seharian mobil mewahnya menyisir seluruh kota namun tak juga menemukan sekilas pun bayangan putranya.


Matanya terpejam lelah, kening bertumpu di atas setir mobil "Kemana anak itu..!!??" gumamnya.


Dreeetttt dering ponsel nya berbunyi dengan kilat tangannya menyambar benda pipih itu lalu menggeser tombol hijau langsung menerima panggilan.


"Halo.. gimana Gabriel..? apa sudah menemukan putraku..?" tanyanya antusias.


"Aku baru saja mau menanyakan nya padamu.. jika kau juga belum berhasil menemukannya, bisa jadi Dirga sudah keluar dari kota ini.. dari tadi aku memutari setiap pelosok kota ini, tapi nihil.." jawab seseorang di seberang telepon.


"Tolong bantu aku menemukan putraku.." lirihnya terdengar frustasi.


"Kira-kira Dirga bawa ATM tidak..? atau mungkin kartu kredit..? mungkin saja dia bertransaksi dengan kartu itu.. kita bisa tahu dimana dia sekarang.. mungkin saja dia menginap di hotel.." sambung Gabriel.


"Oh yah.. kamu benar.. kenapa tidak terpikirkan oleh ku.. kalau begitu aku cek dulu.." tanpa memutuskan panggilan lelaki itu mengutak-atik ponselnya.


Kening berkerut kembali menatap layar ponsel yang menyuguhkan informasi tidak sesuai dengan harapan.


"Dia sudah mengambil delapan puluh juta siang tadi.. tidak mungkin dia masih di sekitar area situ, dia pasti sengaja mengambil di kota ini, lalu pergi jauh-jauh dari sini.." ucap Yuda menerka.


"Delapan puluh juta?? dia berniat lama perginya??" sahut Gabriel kemudian.


"Entah lah..."


"Aku akan cek CCTV di bank pengambilan terakhir nya, siapa tahu bisa di jadikan petunjuk.. kalau begitu aku tutup telepon nya, kirim alamat bank nya padaku sekarang.." pungkas Gabriel.


...----------------...


Di tempat lain yang sudah teramat jauh dari sana, tak sengaja mata Dirga melihat baliho bertuliskan nasi goreng nya mampir, dan pemuda itu seakan terhipnotis dengan sapaan plang itu, ia menepikan motor gede miliknya ke kedai tersebut.


Dan untuk beberapa saat pemuda itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti sedang mengamati sekitar.


"Sudah ada di kota apa aku? sepertinya semakin pelosok saja.." gumamnya.


"Ok sayang.. aku lapar.. kita istirahat dulu di sini.. bukannya kamu juga capek hm.. setelah bermain kejar kejaran dengan para bodyguard tuan Yuda yang terhormat..? kita memang tim yang hebat.. terimakasih atas kerjasama nya sayang.." celotehnya berbicara dengan motor gede miliknya.

__ADS_1


Pemuda itu lantas turun dari kendaraannya lalu berjalan sedikit santai masuk ke dalam kedai. Jika yang kabur dari rumah Briyan, mungkin pemuda itu tidak bisa makan di sembarang tempat, tapi Dirga menuruni sifat ayahnya yang meskipun kaya tetap punya jiwa merakyat. Dan kesederhanaan nya itu sempat mengecoh Zaline bukan? Zaline pikir Dirga bukan anak bangsawan.


"Selamat datang mas.. mau pesan apa..?" ucap sopan lelaki menawarkan dagangannya.


"Emmh.. apa ajah.. asal kenyang.." singkat Dirga karena pemuda itu tidak tahu menu yang harus di pesan, sedang perutnya sudah lapar, pasti mulutnya mau menerima apapun makanannya.


"Baik silahkan duduk mas.. saya buatkan nasi goreng spesial saja yah.." balas lelaki itu dan Dirga mengangguk seraya duduk di salah satu kursi kosong.


Disampingnya ada seorang ibu yang menatapnya kagum, matanya hampir tak berkedip dari mulai Dirga datang ke kedai itu.


"Hehe.. malam buk.." sapa nya sopan sambil nyengir.


"Eh.. malam nak.." sahut si ibu tersenyum sambil terus menatapnya lekat.


Dirga menggaruk tengkuknya kikuk "Ini ibu-ibu gak lagi terpincut ketampanan ku kan?" batinnya.


"Dari mana mau kemana nak ganteng..?" tanya si Ibu kemudian.


"Eh..." Dirga menoleh kembali ke arah ibu-ibu yang masih terlihat kagum dengan ketampanan nya.


"Saya dari kota J buk.. saya sendiri belum tahu ini kota apa.." jawabnya.


"Loh.. memangnya kenapa.. kok bisa gak tahu tujuan? apa nak ganteng ini kabur dari rumah yah..?" terka si ibu bagaikan paranormal.


"Tidak juga buk.. saya lagi mau jalan-jalan saja.. kalau boleh tahu di sekitar sini ada penginapan tidak? penginapan biasa.." tanyanya lagi sekalian mencari informasi.


"Gak ada bro.. adanya hotel mewah di ujung jalan ini.. nanti tembus jalan raya.. nah di situ.." sambar seorang pemuda yang duduk menengkreng di kursi sebelah kirinya, terlihat pemuda itu masih menikmati nasi goreng di kedai tersebut.


"Oh.. tapi saya butuh nya penginapan kecil, bukan hotel.." lanjut nya. Dirga tahu sekali jika menginap di hotel, Yuda pasti dengan cepat menemukannya, sedang pemuda itu masih belum terpikir untuk kembali ke rumah.


"Di sekitar sini tidak ada penginapan biasa mas, adanya kost kost'an" sambar si Abang pemilik kedai nasi goreng yang kini menyerahkan satu piring ke meja Dirga.


"Oh.. makasih pak nasinya.." ucapnya menoleh tiba-tiba ke arah lelaki itu dan mengangguk kecil.


"Kost.??" lanjut Dirga bertanya.


"Iya.. kelihatan dari sini kan plang nya, kost putra dan putri berdampingan, lebih baik ke sana saja.. mungkin bisa menerima satu malam atau dua malam untuk mas nya berteduh.." tunjuk lelaki pemilik kedai.


"Kalo mau.. sama saya saja ke sana nya, kebetulan saya juga ngekost di situ.." sahut pemuda di sebelah kirinya.


Dan Dirga hanya mengangguk ragu kemudian memulai ritual makan malam nya di kedai sederhana itu.

__ADS_1


"Saya makan dulu saja.. mari.." ucapnya sopan. Dan ketiga orang di dekatnya mempersilahkan.


Sambil menikmati makanannya, Dirga memantapkan pikiran untuk menginap di kost yang di tunjukkan pemilik kedai, hari sudah semakin malam sepertinya jika perjalanannya di teruskan pun hanya akan menambah letih saja, sedang tubuhnya sudah ingin sekali rehat, sudah berjam-jam lamanya pemuda itu mengendarai motor dan itu melelahkan.


Setengah jam berlalu Dirga masih diam di kursi kedai meskipun sudah menghabiskan makanannya, kemudian tiba-tiba pemuda yang duduk di kursi sebelah kirinya berseru.


"Pak.. hari ini ngutang dulu yah.. hehe.. saya belum dapat transferan pak.." ucapnya nyengir.


"Alah.. kamu kebiasaan Cup Cup.." sahut si pemilik kedai.


"Biar sekalian saja pak.. nasi mas nya saya yang bayar.." Dirga menyambar pembicaraan mereka seraya menyodorkan selembar kertas uang merah. Dan si pemilik kedai menerima "Kembali nya ambil saja.." tambahnya.


Dirga tahu betul harga seporsi di kedai itu, dari tadi matanya celingukan sambil membaca satu persatu tulisan yang terpampang di tembok kedai itu.


"Oh.. serius bro..? kamu bayarin saya..?" sahut pemuda berkulit hitam itu terlihat antusias kegirangan.


"Iya.. tapi saya boleh kan ikut mas nya ke kost.?" tanya Dirga kemudian.


"Boleh dong.. ayok kalau begitu.."


Sesaat setelahnya, Dirga menuntun motor menuju kost yang memang sangat dekat dengan kedai nasi goreng.


"Siapa nama mu bro?" tanya pemuda itu sambil terus berjalan beriringan dengan Dirga.


"Dirga..! mas nya sendiri siapa..?" tanya baliknya menoleh sekilas.


"Nguncup.. panggil saja aku Ucup atau bro, jangan mas, aku masih imut.." protes nya.


Kening Dirga mengernyit "Siapa? ngun... ngun.." tanyanya memastikan dengan bibir yang sedikit manyun.


"Cup.." lanjut Ucup menegaskan.


"Oh iyaa.. ngun_cup.." sambung Dirga kemudian penuh dengan intonasi.


"Tapi jangan kaget.. kalau nanti aku sudah sukses.. namaku.. aku ganti jadi ngembang..!!"


"Ah.. kha.. bisa saja kau bro.." Dirga melepaskan tawanya mendengar banyolan Ucup.


Tiba di halaman kost kedua pemuda itu memasuki bangunan yang lumayan besar, mata Dirga menyisir seluruh sudut tempat itu, terlihat daun pintu berderet di lantai bawah dan lantai atas.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2