
POV Dirga on
Sudah sejauh ini usaha ku demi menemui kekasih ku, aku sengaja meminta bantuan Kaka sepupu Ucup, meminjam kan ku seragam yang entah cocok entah tidak di wajah tampan ku, aku tidak perduli, asal bisa bertemu dengan istri ku aku rela terlihat konyol.
Sahabat baruku Ucup juga membantuku memastikan ruangan yang akan menjadi tempat pertemuan ku dengan istri ku aman, pemuda selengean itu memang bisa di andalkan.
Dan di sinilah aku sekarang, di toilet wanita lantai empat, kami bisa dengan mudah melakukan hal ini pun atas bantuan dan campur tangan kakak sepupu Ucup yang lumayan berpengaruh di gedung megah ini.
Aku berdiri di balik pintu toilet menunggu seseorang masuk, dan berharap dia adalah kekasihku, istri ku. Dan tak butuh waktu lama seorang gadis membuka pintu kemudian berjalan masuk ke ruangan dimana aku berdiri.
Gadis itu tampak menghentikan langkahnya menatap keruangan yang tidak berpenghuni karena masih belum melihat ke arah ku yang masih berdiri di belakang tubuhnya.
Yah.. aku memang sengaja berdiri di sana, di balik pintu itu, agar bisa leluasa meraih tubuhnya. Dan tanpa pikir panjang aku meraihnya, aku memeluknya, aku mendekapnya dari belakang.
Ada sedikit perlawanan darinya, tubuh kecilnya meronta, mungkin karena terkejut, tapi perlahan rontaan nya menghilang saat aku membisikkan kalimat "I love you sayang" di telinga nya.
"Ka Dirga..!!" Kesya berusaha menoleh kearah ku, namun aku terus menguasai tubuhnya tak memberikan kesempatan pada nya melihat wajah ku.
"Lepas..!!" ucapnya memekik karena mulai kesal.
"Dirga..!! aku tahu ini kau..!! lepas Dirga..!!" pekiknya menyebut nama ku.
Perlahan aku meregangkan pelukan ku dan dengan cepat Kesya menghadap ke arah ku, menatap kesal wajah ku. Bibirnya mengerucut lucu, sangat manis ingin rasanya ku lahap, aku merindukan bibir itu.
__ADS_1
Hingga tak mendengar sapaan nya lagi, aku langsung me.***** benda kenyal itu tanpa ampun. Aku mengecap bergantian bibir bawah dan atas nya, ku julur kan benda tak bertulang ku menyisir seluruh isi dalamnya menyesap manisnya benda mungil itu, oh sungguh rasa rinduku membuatku semakin menggila.
"Aw.." keluhnya saat tak sengaja aku menggigit bibir bawahnya.
Dia diam tak melawan namun aku tetap menyerangnya, hingga akhirnya aku mencecap rasa asin di pipi lembut nya, aku menghentikan aksiku kemudian menatap lekat wajahnya yang kini mengeluarkan bulir bulir air mata, suara isak tangis pun mulai terdengar.
"Kenapa menangis yank..?" tanyaku dan kulihat bibir bawahnya sedikit berdarah.
"Maaf.. Kakak melukai bibir mu.." ucap ku, menyeka lembut benda sensual itu.
"Aku menangis bukan karena ini.. tapi karena mu..!!" Kesya menatap ku protes.
"Hm..?"
Bisa kurasakan deru nafasnya yang berhembus di lekuk leherku.
"Aku membenci mu..!" ucapnya masih terisak.
"Tapi aku menyayangimu.. aku minta maaf, baru sekarang bisa menemui mu.. Dede tahu kan? anak buah Papi Yuda berkeliaran di mana-mana.. bahkan mungkin CCTV di area mall ini sudah mereka kuasai, Dede kan tau Om Ferdy teman Papi Yuda itu punya pengaruh besar di kota ini.." terang ku menjelaskan berharap bisa membuat nya memaafkan ku.
"Iyah.. Kesya tahu.. sekarang pulang lah.. jangan bermain kucing kucingan begini, Mommy sudah berjanji akan membantu hubungan kita.. dia pasti bisa membujuk Daddy.. Ka Dirga tahu kan, Daddy selalu menuruti apa pun kata Mommy.. jadi pulang lah.." pintanya dengan tatapan penuh harap padaku.
"Kakak tidak mau kembali, biarlah tetap seperti ini, mungkin Mommy bisa memaklumi perasaan kita dan membujuk Daddy, tapi bagaimana dengan Papi Yuda? dia pasti masih ingin mengirim Ka Dirga ke London" balas ku pelan.
__ADS_1
"Tuan seniman itu, takut aku menghamili mu.." lanjut ku terkekeh.
"Memang nya tidak?" tanyanya.
"Tentu saja tidak akan.. sebelum Dede berusia lebih dari dua puluh tahun, kakak tidak akan membuat mu hamil.. Papi Yuda benar.. Dede masih kecil.. Kakak juga tidak akan tega melihat perut ramping ini terisi.." jawabku.
Banyak sekali yang kita obrolkan, di dalam ruangan itu, hingga akhirnya aku menyuruhnya pergi.
"Sekarang pergi lah.. setiap minggunya kita bertemu di tempat ini.." ucap ku. Tapi tatapan matanya seolah protes.
Aku merangkum kedua pipi nya "Kenapa hm? masih rindu?" tanyaku yang tidak di respon oleh nya.
Kemudian aku menyingkap rambut yang menjuntai di pipinya "Para pengawal pasti curiga kalau Dede terlalu lama di dalam sini.. pergilah.." ucap ku lagi seraya mendorong tubuhnya berjalan keluar.
"Kesya ikut.." sergahnya yang membuat ku sedikit kaget.
"Uh??" bingung ku.
"Kesya ikut pulang kakak.. bawa Kesya pergi bersama mu.. Kesya mohon.." pintanya dengan tatapan penuh harap.
Sungguh aku tak kuasa menolak nya, sebenarnya aku juga ingin sekali membawanya.
"Tapi bagaimana jika jantung Mommy menyerang? Dede tidak takut hm? pulang lah.. kita masih bisa bertemu lagi.." ucap ku terpaksa menolak.
__ADS_1
Dan Kesya meraih kedua tangan ku kemudian menatap ku penuh paksaan "Kesya yakin Mommy tidak apa-apa.. dia sudah merestui kita.. Kesya sendiri yang akan meminta izin padanya.. tapi sekarang bawalah Kesya pergi dari sini.. Kesya mohon.." rengek nya memelas.