
Dengan sangat hati-hati Kesya melangkah ke bebatuan besar yang menyembul di antara air sungai. Gadis itu duduk di balik batu besar yang cukup untuk menyembunyikan tubuh kecilnya. Menurut nya sendiri.. karena ternyata Dirga masih bisa melihat sebagian tubuhnya meskipun hanya area pundak dan sedikit punggung saja.
Kesya menata pakaian handuk dan skincare mandinya di sebuah batu yang di rasa aman untuk meletakkan barang barang nya.
Ia pun menarik satu kain rayon berwarna pink yang akan ia gunakan sebagai penutup tubuhnya saat ia mandi karena tidak mungkin telanjang di area terbuka.
Kesya membentang kain pink menutupi tubuhnya lalu melepas satu persatu pakaian yang masih menghalangi kulitnya. Hingga kini dia hanya mengandalkan satu helai kain pink saja yang melekat di tubuhnya.
Sedang Dirga masih menatap secuil punggung Kesya dan leher jenjang yang lumayan membuatnya sedikit tidak fokus.
Tapi apa boleh buat, Dirga harus memastikan keamanan Kesya jadi mau tidak mau matanya harus terus menatap pundak mulus yang kini sudah basah karena gadis itu mulai mengguyurnya.
Dengan menyenderkan punggungnya ke salah satu pohon sesekali pemuda itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendekati tubuh adiknya.
Sepuluh menit... lima belas menit...
"Aaaaaaa... hiks hiks hiks..." teriakkan itu membuatnya reflek berlari menujunya.
"Ada apa hah?" paniknya yang kini berada di sebelah batu besar yang menutupi tubuh Kesya.
Kesya menunjuk sesuatu namun pandangan nya mengarah ke tempat lain "Kaka.. ada itu.." keluh nya memejamkan matanya kuat kuat.
Dirga menatap ke arah yang ditunjuk Kesya dan senyum lega tertoreh alami di wajah tampan nya saat hanya melihat katak besar di depan tubuh Kesya seolah sedang menatap gadis cantik itu.
Dengan langkah pelan Dirga berjalan di bebatuan itu lalu menangkap satu katak besar yang masih menatap Kesya "Sepertinya katak ini cowok deh.." Dirga memandangi katak yang masih di tangannya "Kelihatan nya nakal sekali matanya.. tahu saja ada cewek seksi lagi mandi.." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Kaka..!!!" pekik Kesya melotot. Bisa bisanya Dirga mengatakan hal itu saat Kesya masih dalam keadaan seperti itu. Dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Hm..?" Dirga menoleh ringan ke arah Kesya.
Dan sungguh pemandangan itu memanjakan matanya, pemandangan yang membuat sang junior beranjak dari tempatnya. Terlihat jakunnya bergerak-gerak karena liur yang ditelan nya.
Matanya terpaku pada satu keindahan itu, dimana tubuh seorang gadis yang terlihat nampak meliuk karena kain yang melekat di tubuhnya sudah basah. Dan bagian dada gadis itu seperti sedang menantangnya.
"Kaka..!! pergi sekarang..!!" teriak Kesya masih melotot seraya menutupi bagian depan tubuh nya dengan sesekali tangan kanannya membetulkan kain yang tersibak di bagian bawah hingga memperlihatkan paha mulusnya.
"Emmh.. ma maf Dede.." Dirga baru mengalihkan pandangannya setelah sekian detik menatapnya tampa kedip.
"Cepat pergi..!!" usir Kesya lagi dengan nada yang mulai kesal.
__ADS_1
"Iy iya.. Kaka pergi.." ucap Dirga yang lalu bergolak dan melangkah pergi.
Dengan cepat Dirga melangkah ke bebatuan itu hingga tak sengaja kakinya terpeleset untung saja tidak sampai jatuh. Hingga sampailah di sisi bibir sungai pemuda itu menggelengkan kepalanya singkat berusaha menyadarkan dirinya dari angan yang sempat terbang entah kemana.
"Seksinya.." ucap dari mulutnya spontan.
PLAK. katak di tangannya melompat ke wajahnya.
"Sial...!!" umpat nya pada sang katak. Dirga membalikkan badannya lagi karena ingin segera membersihkan wajah yang terkena katak ke sungai, dengan perlahan dia mengayuh air ke arah wajahnya _Byur..!!
Tatapannya lalu mengarah kembali ke gadis yang masih berada di balik batu besar dan kali ini matanya di manjakan dengan pemandangan indah dari bagian belakang tubuh Kesya yang nampak nyeplak karena kain basahnya.
Selama ini Dirga hanya mengagumi kecantikan, sikap, dan pribadi gadis itu, tapi sekarang Dirga menemukan alasan baru untuk tetap memperjuangkan perasaannya.
Tak mau lama-lama menyiksa otaknya Dirga kembali ke posisi semula, berdiri di bawah pohon yang sebelumnya menjadi senderan punggungnya.
"Astaga.. ini memalukan.." gumamnya seraya menatap ke bagian bawah tubuhnya. Dan jeng-jeng sang junior masih ingin menegakkan keadilan.
"Sial.. ayolah tidur.. atau dia segera kembali.." ucapnya setengah mengumpat dirinya sendiri.
"Hai... Kaka... ayok... ini sudah gelap..." Kesya menjentikkan jarinya ke wajah Dirga.
Dan pemuda itu sedikit tersentak "Emmh.. iya sayang.." sahutnya gugup.
...----------------...
Sedang di tempat lain, Zaline tampak sedang kerepotan menghadapi beberapa Kaka kelas rese yang sedari tadi mengganggu nya.
"Jangan sok jual mahal deh, aku tahu kali, kamu ini suka menggoda cowok-cowok kaya seperti kita-kita.. ya gak bar.." ucap cowok rese yang di sebut Abhie.
"Iya.. kita emang gak setajir Dirga sama Jho tapi kita juga masih sanggup kok jajanin kamu cantik.." sahut pemuda yang di panggil Bara.
"Tolong.. biarkan aku pergi.. ini sudah mau gelap kak.." ucap Zaline memohon dengan pandangan yang menunduk.
"Widih.. kalo gelap malah lebih asyik Lin.." sambung Abhie seraya menyentuh dagu gadis yang menunduk itu.
__ADS_1
"Tolong jangan kurang ajar kalian..!!" pekik Zaline yang tiba-tiba berani. Gadis itu sudah cukup bersabar untuk tetap sopan namun sepertinya Kaka kelas rese itu mulai menghabiskan kesabaran nya.
"Wah.. sudah mulai menantang ini.. makin cantik saja kamu kalo marah.." ledek Bara meraih tangan gadis itu.
GEP seseorang dari arah kanan mencekal tangan Bara sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada gadis cantik itu. Bara menoleh dan wajah rese nya mendadak menciut saat melihat putra donatur utama yang menghentikan niatnya.
"Briyan..??" seru Bara gugup.
"Apa kamu tidak malu..? menakuti seorang gadis..?" tanya Briyan dengan wajah santainya.
"Hehe.. maaf Briy.. kita lagi main main saja.." jawab Bara enteng.
"Pergi..." usir Briyan pelan. Tangannya menghempas kecil tangan Bara.
Abhie dan Bara sempat saling menatap namun sepertinya satu kali perintah pelan Briyan cukup membuat mereka takut.
Dan lagi-lagi Zaline dan Briyan selalu di pertemukan dengan cara tidak di sengaja, jangan dulu bilang takdir mungkin hanya kebetulan saja.
Zaline tersipu kagum "Ya ampun.. wibawanya.. meleleh aku.. seandainya aku punya pacar yang bisa menjagaku sepertinya.." batinnya.
Melihat Zaline yang tak berkedip Briyan sedikit penasaran "Kamu takut.? kamu trauma.? tidak separah itu kan.?" cecar Briyan dengan nada santainya.
"Emmh iya.. aku baik-baik saja kak.. te terimakasih yah.." ucap Zaline tersenyum.
Dan senyum Zaline yang teramat manis cukup menggoyahkan hati pemuda dingin itu.
"Kamu kenapa? sepertinya terlihat senang di goda mereka.?" tukas Briyan sedikit mengernyit.
"Hah.?" Zaline tampak bingung "Aku..? aku tidak senang kak.. aku tersenyum karena Kaka barusan menolong ku.." jelasnya.
"Oh begitu kah..?" sahut Briyan. Tangannya lalu mengusap dahinya "Bisa biasa saja tidak senyum nya.." lanjutnya berkata pelan.
"Hah..? Kaka bicara apa.? aku tidak mendengar nya.." sahut Zaline penasaran.
"Tidak.. tidak apa-apa.." sanggah Briyan kemudian.
...----------------...
Semangatin author dengan Like ya.. Buat teman ku yang aku paksa download app ini.. dan masih aktif membaca novel ku.. merelakan vote kalian untuk ku.. Terimakasih.. I love you..🤗😚
__ADS_1