
Di dalam kamar serba pink, kerap terdengar suara isak tangis bahkan sampai meraung kecil untuk sesekali. Terlihat tubuh kecil nya semakin ringkih, satu bulan sudah gadis itu kehilangan sosok pemuda yang selama ini berada di sisinya, Yaah.. sudah satu bulan lamanya Dirga menghilang.. menghilang bagai di telan bumi. Puluhan orang di kerahkan, namun belum ada yang bisa menemukan pemuda yang terlalu lincah itu.
...----------------...
Dan kini seorang pria menghampiri gadis itu kemudian mengelus lembut puncak kepalanya "Sayang.. kenapa belum juga makan..? Daddy mohon, jangan menyiksa dirimu sendiri begini.." ucapnya lembut.
"Kamu tenang lah.. sebentar lagi, Papi Yuda mu pasti bisa menemukan Kakak mu Dirga.." imbuhnya.
"Dia bukan Kaka ku Daddy.. dia suamiku.. kami belum bercerai.. Kesya masih istri syah Ka Dirga.. kalian saja yang menganggap pernikahan kami permainan.. tapi tidak dengan ku..!!" sergah gadis itu ketus.
Reiner mengernyit geram "Kesya..!!!" bentaknya melotot, dan menghentikan elus tangannya.
"Jangan membenci Daddy.. percayalah semua yang Daddy lakukan padamu ini demi kebaikan mu kelak.. ini semua karena kalian membohongi Daddy.. jadi introspeksi diri lah.. jangan terus menyalahkan Daddy.. orang tua mana yang tega menikahkan putri kecilnya..? berpikirlah dari sudut pandang ku sebagai orang tua mu Kesya..!!" nada Reiner berubah-ubah saat mengucap.
Kesya beranjak dari tempatnya, gadis itu kemudian berdiri di hadapan sang ayah dengan tatapan datarnya "Yah baiklah.. Kesya mengerti.. Kesya paham.. Kesya mengalah.. lagi pula sekarang Ka Dirga juga tidak ada.. dia pergi entah kemana.. mungkin dia sudah tidak mau kembali lagi.. seandainya Kesya bisa pun Kesya pasti akan melakukan nya.. Kesya akan pergi meninggalkan sangkar emas ini.." jawab putrinya dengan tangan yang menunjuk seisi ruangan.
"Sekarang pergilah Daddy.. lanjutkan semua rencana mu.. bukan kah Daddy pernah bilang.. semua perintah, ucapan, usulan, permintaan Daddy bisa terlaksana hanya dengan satu jentikan jari saja..? Kesya sadar Kesya bukan siapa-siapa untuk bisa melawan mu.." imbuhnya mengusir.
"Kesya..!!" bentak Reiner melayangkan tangannya. Namun sepertinya lelaki itu takkan tega mendaratkan tangan besarnya pada tubuh kecil putrinya hingga kini tangannya mengepal dan turun dengan perlahan.
Dan Kesya hanya diam tanpa takut dengan rasa sakit yang akan dia terima bahkan jika sampai ayahnya menamparnya sekalipun, kini rasa sakit sudah terlalu akrab bahkan sudah menjadi kebiasaan baginya.
"Bersikap lah.. lebih hormat padaku.. menurut.. makan minum seperti biasanya.. Dirga akan segera kembali.. dan sabar lah.. dua tahun kemudian kalian juga akan kami nikahkan.. jadi jangan membangkang..!!" tegas Reiner yang kemudian melangkah pergi dengan wajah dingin.
Tak lama dari itu, Raya bergantian masuk ke dalam kamar putrinya, wanita itu seolah bisa memaklumi perasaan Kesya, gadis yang ia lahir kan dan susui.
Matanya menyisir seluruh tempat itu, di atas nakas masih ada beberapa makanan dan minuman yang belum tersentuh.
Kemudian wanita itu duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan kepala putrinya "Sayang.. kenapa belum juga makan..? apa mau Mommy suapi hm..?" tawarnya lembut dan gadis itu hanya diam tak menyahut.
Raya mulai mengelus puncak kepala putrinya "Mommy tahu.. gimana rasanya menyukai seorang pemuda.. dulu Mommy juga merasakannya.. tapi Mommy terus makan minum seperti biasa, Mommy gak mau menyiksa diri Mommy.." lanjutnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika nanti Ka Dirga mu datang hm..? apa dia akan senang melihat mu seperti ini..?" imbuhnya.
"Siapkan lah tenaga mu.. untuk bertemu dengan nya nanti.. Mommy yakin Dirga akan segera kembali.. Mommy yang akan bantu hubungan kalian berdua.. Mommy janji.." timpalnya.
Penuturan itu membuat Kesya menoleh ke arah nya "Benar kah begitu Mommy..? Mommy akan bujuk Daddy..?" tanyanya dengan binar senang di matanya.
Raya tersenyum mengangguk "Iya.. sekarang makan lah sayang.. siapkan energi mu.. untuk bertemu dengan Ka Dirga mu.." perintahnya.
Dan gadis itu mengangguk beberapa kali "Iya.. Mom.." jawabnya.
...----------------...
Sore pun tiba dan seorang pemuda terlihat menekan bel di balik pintu gerbang besar Presdir tampan. Ting.. Tong..!
Dan salah satu pria yang tengah berjaga berlari menghampiri, mata pria itu menatapnya dari atas hingga bawah seakan meremehkan pemuda itu.
"Kamu siapa? mau apa ke sini..?" tanya seorang pria, yang tidak lain adalah Rimbun.
"Saya Ucup.. temannya bro Briyan.. Briyan ada kan di rumah.. aku mau bertemu dengan nya.." sahut pemuda itu lantang.
"Heeeiiizz si bapak.. baru jadi penjaga saja sudah songong.. sekarang panggil saja dia.. kita buktikan dia mengakui ku sebagai teman temannya atau tidak.. segera.." sergah Ucup yang tak mau kalah meremehkan.
Kemudian seorang pemuda berjalan mendekat pada kedua orang yang masih berseteru itu "Ada apa pak.. ribut-ribut..?" tanyanya.
Rimbun menoleh ke sumber suara "Eh.. Den Briyan.. ini.. ada anak gelandangan ngaku-ngaku teman Den Briyan katanya.." jawabnya.
Briyan tampak mengernyit dengan tatapan remeh nya "Siapa kamu..?" tanyanya kemudian.
"Haaiiiiyyssss... saudara ku.. sahabat ku.. teman seperjuangan ku.. aku merindukan mu.." ucap Ucup seraya menghambur ke tubuh Briyan.
Sedang Briyan menggoyangkan tubuhnya seolah jijik dengan pemuda sok kenal itu "Kamu.. jangan kurang ajar..!!" pekiknya melotot seraya menepis hingga kini Ucup terlepas dari tubuh Briyan.
__ADS_1
"Tuh kan.. Den Briyan tidak mengenal mu.. jadi sekarang pergi..!!" sambar Rimbun yang lalu menarik paksa lengan Ucup.
Namun pemuda selengean itu tak menyerah, ia lantas menepis tangan Rimbun dan memeluk kembali tubuh Briyan.
"Aku ke sini di suruh bro Dirga..!!" bisiknya di telinga Briyan. Kemudian melepas kembali pelukannya.
Briyan terlonjak matanya berbinar senang menatap pemuda yang sedari tadi ia remehkan "Benarkah..?" ucapnya.
"Sudah.. sekarang pergi.!!" pekik Rimbun pada Ucup, masih berusaha mengusir.
"Emmh.. pak pak.. dia ini teman ku.. jangan usir dia.." sergah Briyan kemudian.
"Hah..? tadi katanya Den Briyan tidak mengenalinya..?"
"Briyan cuma bercanda kok pak.. hehe.. kan kita teman.. itu tanda sapaan saja pak.. Prank pak Prank.. masa gatau sih..?" sambung Briyan ngeles.
"Oh.. Prank.. iya iya.. saya tahu.. saya juga sering nonton video nya.. yang spontan huhuy itu kan Den..?" timpal Rimbun sok tahu.
"Iya.. sudah.. bapak pergi saja.. Briyan mau bicara dengan teman akrab ku ini.." usir Briyan mengibaskan tangannya.
"Iya.. pergi sana yang jauh.. tidak percaya padaku.. tidak lihat apa.. wajahku dan bro Briyan hampir kembar.." sambar Ucup gantian mengusir.
"Iya.. maaf.." lelaki itu menunduk segan.
Dan setelah Rimbun menjauh kedua pemuda itupun berjalan menuju kursi taman "Duduk lah.." Briyan mempersilahkan tamu tak diundang nya.
"Ok.." sahut Ucup seraya duduk. Kemudian Briyan pun menduduki kursi lainnya.
"Jadi benar kamu suruhannya Dirga.?" tanyanya sambil menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Dan Ucup mengangguk.
"Di mana dia sekarang.? apa dia baik-baik saja hah.? apa kegiatan nya selama satu bulan ini..?" cecar Briyan terlihat berapi-api saking penasarannya.
__ADS_1
...----------------...
Jeng-jeng... Bersambung... terimakasih yah.. Untuk Like dan juga vote nya... I love you kalian semua... 🤗😘