Nikah Kan Kami Daddy..!!

Nikah Kan Kami Daddy..!!
Bab 23. Briyan is my Hero


__ADS_3

Brugh suara hentakan pintu mobil oleh si galau Kesya. Gadis itu berjalan serampangan menuju pintu masuk rumah nya. Wajah kesal nya terus menyertai nya dari mulai masih duduk di kendaraan mewah nya.


Tiba di dalam di sambut panik oleh seluruh anggota keluarga nya "Sayang.. kamu sakit hm.? apa nya yang sakit.?" cecar Raya meraih tubuh putrinya lalu membolak-balikkan tubuh gadis itu memastikan tidak ada yang lecet.


Reiner juga memeriksa dahi putrinya yang tidak panas "Dede sakit apa? sepertinya suhu badannya normal.." tanyanya penasaran.


"Mau kakek panggil dokter hm..?" sambung Hendrawan sang kakek posesif.


Tak ada satupun pertanyaan panik mereka yang di jawab, Kesya hanya langsung melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamar yang terletak di lantai atas.


Gebrakan suara pintu yang di banting membuat seluruh keluarganya heran dan bertanya-tanya.


Brugh Kesya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tangannya merentang dan matanya menatap langit langit kamarnya. Dongkol yang gadis itu rasa.


"Kenapa Ka Briyan jahat sekali.." gumamnya.


...----------------...


Di ruang keluarga, Briyan baru saja tiba di sana menampilkan wajah sinis nya.


"Adik kamu kenapa Briyan.? sepertinya dia baik-baik saja, dia tidak sedang sakit.." tanya Reiner tambah penasaran.


"Dia baik.. tapi Kesya gak cocok tidur di tempat seperti itu.. Briyan takut dia sakit.." jawabnya menghelat. Pemuda itu tidak mungkin mengadukan adiknya sendiri kepada sang ayah, cukup menjaganya sendiri pun pemuda itu sanggup.


"Pantas saja, Kesya ngambek.. jadi begitu rupanya.?" sahut Hans sang kakek dengan bibir yang tersenyum.


"Ya sudah, lagian mommy juga gak tenang dari sore, takut terjadi apa-apa sama anak itu.. untung Kaka bawa Kesya pulang.." sambung Raya menatap wajah putranya.


"Biar Daddy yang temui dia.." Reiner berjalan menuju kamar Kesya. Biasanya lelaki tampan itu memang selalu menidurkan putrinya.


Dan kamar itu tidak terkunci namun si pemiliknya tengah meringkuk murung di atas kasur. Pria itu mulai mendekat dan membelai lembut rambut putrinya.


"Sudahlah.. Kaka mu benar, tidak seharusnya Dede tidur di tempat terbuka seperti itu, angin nya pasti menusuk tulang, kalo Dede sakit nanti mommy juga sakit, Dede kan tau mommy lemah jantung, suka tiba-tiba pingsan kalo ada apa-apa sama Dede, Ka Briyan cuma mau yang terbaik saja.." terang nya menenangkan putrinya.


Dan terdengar suara Isak dari putri kecilnya Reiner pun menarik selimut lalu menutup tubuh Kesya "Sekarang Daddy tepuk-tepuk.. tidur lah.." tambahnya berusaha menyurutkan emosi gadis itu.


...----------------...


Sedang di tempat lain Dirga masih bergeming meski suara sorak riang gembira dari siswa siswi lain meracau dan menggema di udara malam nya, pemuda itu masih diam seribu bahasa, ekspresi galaunya semakin nampak jelas terlihat di wajah tampan nya.

__ADS_1


Dan di sudut tempat itu seorang gadis menatapnya sendu, wajah murung pemuda itu membuat Zaline semakin iba, meskipun sebenarnya ada rasa sesak di dalam dadanya mengetahui pemuda yang di kagumi nya sudah mengakui cinta, sayang, suka pada orang lain di depan matanya.


Tapi entah kenapa hal itu tidak membuat Zaline benci padanya, justru malah semakin kagum dengan ketulusan pemuda itu.


"Jadi begitu ya, cara dia menyayangi seseorang, dia pendam, seperti aku yang memendam rasa suka padanya, tapi semoga saja ka Dirga bisa kembali bersama Kesya lagi.." harapnya tulus.


...----------------...


Satu bulan berlalu, dan selama satu bulan ini Briyan tidak pernah mengizinkan Kesya menemui Dirga sendirian. Tapi boleh bertemu bertatap muka jika ada seseorang di samping Kesya. Setidaknya dengan begitu Dirga tidak berani menyentuh adiknya.


Briyan tidak melarang hubungan mereka toh Dirga juga pemuda yang sangat baik, hanya saja cara Dirga mencumbu Kesya di lokasi camping betul betul membuat nya takut jika sampai bablas. Kesya masih sangat kecil, masa depannya masih panjang tidak seharusnya rusak oleh gaya pacaran yang teramat serius.


Dan kini pemuda tampan itu berjalan gontai di koridor sekolah karena baru saja ia mengikuti pelajaran tambahan, bekal persiapan olimpiade yang akan di ikuti nya sebulan lagi. Meski sebenarnya tampa pelajaran tambahan pun Briyan sudah cukup jenius untuk menghadapi soal soal yang sudah di luar kepalanya.


Rasa lapar membuat langkah nya semakin cepat, namun suara gaduh dari dalam ruangan kosong yang ia lewati mencuri perhatian nya, hingga kini langkahnya mengarah ke ruang tersebut.


"Siapa di dalam? bukannya semua siswa sudah pulang..?" tanyanya pada diri sendiri sambil terus melanjutkan langkah.


"Jangan.. tolong.. jangan.." teriakkan itu mulai terdengar jelas dan sepertinya suara itu begitu akrab di telinga nya akhir akhir ini.


Briyan bermaksud masuk ke dalam namun ternyata pintunya terkunci dari dalam. Sedang suara keluhan dari dalam sana mulai mengacaukan pikiran nya.


"Hasshh Sial.. siapa di dalam.. dan ada apa dengan mereka..?" gerutunya panik sambil terus berusaha menjebol pintu yang masih tertutup rapat.


Sedikit demi sedikit engsel yang mengunci pintu itu bergerak akibat dobrakan yang di lakukan oleh pemuda tampan itu.


"Hiks hiks hiks.. jangan sentuh aku.."


Braaaakkk Briyan berhasil menjebol pintu ruangan tersebut, dilihatnya seorang gadis tengah di peluk paksa oleh seorang pria. Dan yang membuatnya naik pitam adalah gadis itu gadis yang selama dua bulan ini dekat dengan nya.


Yah siapa lagi kalau bukan Zaline siswi cantik yang selalu di pertemukan dengannya secara tidak sengaja.


"Bangsat..!!" ucap dari mulutnya spontan.


Dan lelaki yang tengah mengungkung seorang gadis pun beranjak dari posisinya, dengan wajah gugup ia mencoba lari namun sayang Briyan tak akan pernah melepaskan manusia bejat seperti nya.


"Mau kemana kau hah.??" geramnya saat bertanya kemudian tangannya meraih kerah baju seragam pria brengsek itu hingga kini sang pria gemetar.


"Ma maaf.. a aku harus pergi.." ucapnya enteng.

__ADS_1


"Mau kau apakan gadis itu hah.? bisa-bisa nya mau lari setelah berbuat senonoh padanya..? Bangsat.!!"


Bugh satu pukulan mendarat sempurna di wajah pria bejat itu. Seperti tidak puas Briyan menghempas tubuh pria itu ke lantai hingga tersungkur. Dengan kejamnya Briyan menghentakkan kakinya ke punggung pemuda bejat itu "Aaaaakk..!!" keluh pria itu.


"Bajingan..!!" teriaknya sejadinya.


Suara gaduh dari dalam ruangan itu membuat tiga orang penjaga sekolah menghampiri mereka "Den Briyan.. ada apa Den..?" tanya salah satu dari mereka melotot kaget.


"Bawa bocah ini ke kantor polisi, atau kemana, terserah.. asal beri dia pelajaran.. dia berusaha melecehkan siswa lainnya.." jawab Briyan menunjuk wajah pria itu dengan tatapan menceku.


"Baik Den.." sahut satu penjaga lainnya.


"Berdiri kamu.. dasar.. kecil kecil sudah berani melecehkan wanita.. kamu kira wanita itu tester, bisa di coba-coba dulu hah..?" gerutu yang satunya lagi sambil mengangkat tubuh pemuda bejat itu.


"Eh tong kalo mau gratis mending pake sabun ajah tong.. waria ajah minta di bayar.. hari gini gratisan.." sambungnya lagi menoyor pemuda yang kini sudah mereka apit.


"Den.. kalo begitu kita urus ini dulu ya.." pamit mereka. Dan Briyan mengangguk setuju.


Briyan menoleh ke gadis yang masih terisak menangis di pojokan dalam keadaan menyedihkan.


"Kamu tidak apa-apa kan? tenang lah.. ada aku disini.." ucapnya menenangkan.


Gadis itu masih meringkuk menutupi bagian pundak yang terlihat karena seragam nya sudah koyak. Briyan melepaskan jaket jeans nya lalu melingkarkan nya ke tubuh gadis itu.


"Ayok.. kita pergi saja dari sini.. ini sudah sore.." ajaknya. Dan gadis itu mengangguk dengan gemetar kemudian mengikuti penuturan Briyan.


Briyan tidak menanyakan apapun lagi, karena pemuda itu yakin Zaline masih sangat syok mendapati perlakuan yang begitu mengerikan bagi seorang perempuan.


Tiba di halaman parkir Parjo sopir pribadi Briyan sudah menyambutnya "Silahkan Den.." sapa sopan lelaki itu membungkuk.


Briyan menuntun Zaline menuju mobilnya "Kamu aku antar saja ya.. mungkin akan lebih aman.." ajaknya.


Dan Zaline menghentikan langkahnya "Aku bisa pulang sendiri kak.. sebentar lagi ada bus kok.." tolak nya sopan.


Kening Briyan mengernyit geram "Jangan keras kepala kamu.. cepat ikut aku.. aku mau memastikan kamu pulang dengan aman.." sambung Briyan ketus.


...----------------...


Jangan lupa like ya.. pembaca tersayang..🤗😚

__ADS_1


__ADS_2