
Dua orang pria berusia 62 tahun berjalan mondar mandir di depan teras rumahnya dengan wajah yang cemas.
Satu cucu sudah sedikit mengurangi cemas nya namun satu cucu lagi masih belum pulang juga dari sekolah.
Hujan sudah mulai reda namun hari sudah semakin sore. Gerutu demi gerutu di lontarkan oleh mulut nya.
"Sebenarnya kemana anak-anak itu..?" cemas Hans ayah Raya.
"Coba kamu telepon Reiner sudah tahu belum putrinya belum juga sampai.." sahut Hendrawan ayah Reiner. Karena Reiner dan istrinya masih di kantor nya.
Mereka memang tinggal satu atap hingga saat mendapati satu cucunya yang belum pulang kedua kakek itu bingung berjamaah.
Hans mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana namun belum sempat membuka pola sang cucu yang di tunggu-tunggu tiba dengan motor Dirga.
"Oh.. sayang.. kenapa telat pulang hah..? kakek khawatir.." tegur Hendrawan posesif.
"Iya.. kenapa baru sampai..?" imbuh Hans yang juga terlihat khawatir.
"Hehe.." senyum Kesya.
"Maaf kek.. Dirga telat bawa pulang Kesya nya, kita neduh dulu di kafe.. takut Dede sakit kalau di paksa hujan hujanan.." jelas pemuda itu.
"Ya sudah.. kalian masuk gih.. mandi ganti baju.." titah Hans kemudian.
"Papi kamu belum pulang ke Indonesia kan Ga? lebih baik kamu nginap saja.. masuk lah cepat.." usul Hendrawan dengan meraih tubuh kedua cucu nya lalu menuntunnya ke dalam rumah.
"Iya kek.."
Kedua anak rupawan itu menurut, mereka memasuki rumah yang masih cukup minimalis namun sudah lebih besar karena renovasi setelah bertambahnya anggota keluarga.
Kesya berjalan masuk ke dalam kamar, begitupun dengan Dirga, pemuda itu masuk ke dalam kamar Briyan yang berdampingan dengan kamar si gadis kesayangannya.
Di waktu bersamaan namun di tempat yang berbeda Kesya dan Dirga memasuki kamar mandi lalu memutar keran menikmati guyuran air hangat kuku dari shower nya.
Ingatan kedua insan itu juga sama. Saat mereka saling menatap, saat wajah mereka saling tidak berjarak. Hingga kini senyum manis mereka mengembang di bawah tetesan air yang mengenainya.
"Ada apa dengan ku? tidak mungkin aku jatuh cinta pada ka Dirga.. hanya dalam waktu satu hari saja.." ucap Kesya.
"Mungkin kah Kesya menerima ku? sepertinya Kesya juga merespon perasaan ku.." senyum Dirga di tempatnya.
__ADS_1
Sungguh tanpa sadar mereka saling bersahutan meski tidak saling bertatap muka.
Setelah selesai membersihkan diri Dirga keluar dari kamar mandi berjalan menuju lemari Briyan, di meja belajar kamar itu sudah ada pemilik kamar tengah membaca novel fantasi karena memang si pendiam itu menyukai nya.
"Briy.. aku pernah ninggalin pakaian ku di lemari ini, lalu sekarang kemana hah..?" Dirga terlihat mengacak acak pakaian Briyan yang masih tersusun rapi.
Briyan menoleh "Jangan di acak acak begitu semprul.. cari pakaian ku kan banyak, kenapa cari yang tidak ada..!" emosi nya.
"Hehe.. sorry.. lagian bukannya kata cari itu untuk sesuatu yang tidak ada..?" sambung Dirga kemudian.
...----------------...
Hari mulai malam Raya sudah sibuk di dapur karena akhir akhir ini wanita itu suka mencoba resep baru meskipun sang suami sering melarangnya.
Dan kali ini Raya membuat roti hangat dengan isian daging di dalam nya.
Raya memang selalu mengirimkan beberapa percobaan nya ke tetangga depan rumah sekaligus sahabatnya Rafa yang kini sudah beristri kan Chelsea dan siapa lagi anak satu satunya mereka kalau bukan Jho.
Suara langkah kaki terdengar dari anak tangga dengan spontan nya wanita itu menoleh ringan dan Raya melihat putrinya yang berjalan turun menujunya.
"Sayang.. kebetulan kamu turun.. tolong antar kan ini ke rumah Om Rafa ya.. kemaren dia minta.." ucapnya menyuruh putrinya.
Kesya mendadak masam "Kenapa gak nyuruh bibik ajah sih mom.. Kesya malas ah.." protes nya.
"Kesya.. gak sopan.. masa nganter makanan harus bibik yang ngerjain..? dia juga banyak kerjaan nya.. sekarang kamu yang antar.. ayok.." kekeh Raya kemudian.
Dan gadis itu mendengus kesal "Iya.. yang mana..?" ngalah nya sambil menanyakan sesuatu yang akan di bawa nya.
"Nah gitu dong cantik.. yang ini sayang.. tanyain enak gak bikinan mommy.. gitu ya.." pesan Raya.
"Hemm.."
Kesya pun berjalan menuju rumah Om Rafa nya yang sudah pasti ada Jho di sana. Sebenarnya gadis itu masih tidak suka jika harus bertatap muka dengan pemuda yang menolak nya mentah-mentah.
Tiba di gerbang rumah besar itu Kesya di sambut hangat oleh kedua orang tua Jho tengah duduk bersantai di dalam gazebo kayu yang masih terlihat sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu saat Reiner dan Rafa masih sama-sama membujang.
"Om.. Tante.." sapa Kesya tersenyum.
__ADS_1
"Dede.. wah.. bawa apa kamu sayang..?" tanya Om Rafa nya.
"Ini mommy praktek bikin roti lagi.. katanya kemarin Om Rafa mau juga.. tapi Kesya cuma bawa tiga saja Om.." jawab nya.
"Iya makasih ya.. Coba suapi kita.." pinta Chelsea padanya.
Dan Kesya menurut ia menyuapi satu persatu roti yang masih berada di tangannya ke Rafa dan Chelsea. Hingga kini di atas tempat roti nya tersisa satu buah saja.
"Aku mana..?" suara seseorang dari belakangnya meminta.
Kesya menoleh tidak terkecuali Rafa dan Chelsea. Dan ternyata Jho yang berdiri di sana dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana dan seketika gadis itu memasang muka masam nya.
Kesya menatap Jho sebelum kemudian menatap ke tempat roti di tangannya "Kenapa bentuknya harus hati.? dan kenapa harus tiga ngasihnya.. mommy ngeselin banget.." gerutunya dalam hati.
"Itu bukannya buat ku? aku juga mau di suapi" tanya Jho yang menjatuhkan pandangan ke satu roti di tangan Kesya.
Craaaakkk Kesya sengaja menjatuhkan satu roti itu ke lantai. Dan Kesya berjongkok berpura-pura terkejut.
"Yah.. Jho jatuh.. maaf ya.. kotor.." ucap Kesya dengan menyipitkan sebelah matanya melirik ke arah Jho.
"Uuh.. sayang sekali.. Jho gak ngerasain.. padahal enak loh.. nanti deh.. Tante Raya pasti bikin lagi.. iya kan sayang..?" Chelsea tersenyum menatap Kesya.
"Emmh iya Tante.."
"Aku gak sudi menyuapi mu.. dasar cowok PHP.." batin Kesya dengan senyum kemenangan.
Jho menatap sinis Kesya "Kamu sengaja kan.. menjatuhkan nya.. kamu gak pernah berubah.. selalu bersikap bar bar.." batinnya.
"Om.. aku pulang yah.. kita belum makan malam.. kalau Om Rafa mau ikut makan malam ayok.." ajak Kesya pamit sekaligus berbasa-basi.
"Kamu saja.. Om sudah makan sayang.. terimakasih yah suapan nya.." ucap Om tampan nya.
Kesya mengangguk seraya tersenyum. Ia pun melangkah di jalan setapak yang menghubungkan antara gazebo dengan taman bunga karena hanya itu jalan satu-satunya untuk bisa keluar dari sana dan tentunya harus berpapasan dengan Jho yang masih berdiri menghadang jalan nya.
"Minggir.. aku mau lewat.." ketusnya.
"lewat saja kalau bisa.. bukannya kamu hebat.. akal kamu banyak.. mungkin kamu bisa melompati ku..?" ledek Jho tersenyum ringan.
...----------------...
__ADS_1
Minta Like nya ya.. 🥰😍