
Braaaakkk suara punggung gadis yang terhentak di jajaran loker, matanya terlihat sangat ketakutan dan hanya berani menunduk saja.
"Berani-berani nya kamu merayu Jho hah?" teriak Hilda pada Zaline.
"Iyaa.. orang miskin seperti mu itu memang tidak tahu malu.. merayu cowok kaya.. terus di porotin.. iya kan hah..?" timpal Meira yang juga berteriak.
"A apa maksud nya? aku tidak pernah merayu siapapun.. lagi pula aku hanya berteman dengan Jho.." sahut Zaline dengan suara yang gemetar.
"Kamu pikir aku percaya hah.? lalu kalau bukan kamu yang merayu.. siapa lagi hah..? apa mungkin cowok seperti Jho yang ganteng dan kaya mau sama kamu?" tukas Hilda sambil menunjuk wajah Zaline penuh kebencian.
"Kamu inget ya.. Jho itu punya Kesya.. ngerti hah..?" lanjut Hilda sambil menggebrakkan tangan ke loker.
Braaaakkk Mata Zaline terpejam kuat mendapati perlakuan Hilda dan Meira.
Sebenarnya beberapa siswa berlalu lalang namun tidak berani ikut campur dengan urusan anak-anak orang kaya. Meskipun Meira dan Hilda masih baru tapi berita tentang status mereka lumayan cepat sampai ke telinga para murid di sekolah elit itu. Apa lagi Meira dan Hilda teman akrab Kesya.
"Sini kamu..!" ucap Hilda dengan menarik rambut Zaline hingga membuat gadis itu mendongak "Aakk.. sakit.." keluh Zaline meringis sembari memegangi rambut yang tertarik.
Hilda tersenyum puas "Kamu kesakitan kan? itu juga yang di rasakan oleh Kesya ngerti kamu..?!! kamu kecentilan merebut Jho darinya..!!" ucapnya berapi-api.
"Tolong lepaskan.. aku tidak pernah merebut siapapun dari siapapun.." ucap Zaline dengan suara yang memohon karena rasa pedas di kulit kepalanya begitu menyakitkan.
Braaaakkk Zaline terpelanting ke lantai dan naas nya wajah cantiknya mengenai pintu loker di bagian bawah yang terbuka hingga kini ujung bibirnya mengeluarkan cairan merah.
Isak tangis mulai terdengar meskipun pelan sungguh Zaline tidak berani membalas perlakuan kasar kedua gadis itu. Hingga akhirnya Bel masuk berbunyi dan suara itu menyelamatkan Zaline dari kedua gadis yang sedang menyiksanya.
"Kali ini sampai sini dulu, besok-besok jangan pernah merayu Jho lagi mengerti..!" Hilda menunjuk Zaline yang masih menunduk.
...----------------...
Di kelas nya Kesya menatap ke tiga bangku temannya yang sama-sama masih kosong "Kemana si Meira, Hilda sama Zaline..? kenapa mereka belum masuk kelas?" ucapnya.
Tak lama dari itu Meira datang bersama Hilda mereka duduk di bangku nya dengan wajah penuh kemenangan, Kesya pun tersenyum lega "Dasar mereka ini.. masih baru sudah telat masuk kelas.. kebiasaan di SMP di bawa ke sini" gerutunya.
Dan Zaline menyusul di belakangnya ia berjalan menuju bangkunya dengan wajah yang menunduk takut, Kesya yang sedari tadi memperhatikan tak kuasa menahan tanya.
Kesya pun mendekati teman barunya "Lin.. bibir kamu kenapa..?" tanyanya sambil menyentuh bagian wajah Zaline yang ia tanyakan.
__ADS_1
Zaline menepis "Aku tidak apa-apa..!" lirihnya sembari membuang muka. Zaline berpikir mungkin Kesya yang menyuruh kedua temannya untuk menindas nya.
Seharusnya Kesya bilang kalau memang menyukai Jho, Zaline akan dengan senang hati membantunya mendapatkan Jho.
...----------------...
Suara beberapa langkah kaki terdengar, terlihat sang ketua OSIS beserta beberapa rekannya memasuki ruangan, Dirga memang masih ada kepentingan dengan kegiatan MOS nya dan ia melihat Kesya yang masih mematung di tempatnya.
"Kesya,, duduk di kursi mu.." ucap nya.
"Emmh... iya kak.. " Kesya menurut ia duduk dengan mata yang terus menerus menatap ke arah Zaline. Kesya penasaran kenapa tiba-tiba Zaline menepis tangan nya.
Perasaan Zaline saat ini tidak menentu perlakuan kasar kedua teman sekelasnya membuatnya ingin menyerah dan pindah ke sekolah biasa saja namun saat melihat senyum manis Dirga hatinya seolah menguat.
"Aku rela kok, mendapat penindasan.. asal terus bisa melihat senyuman itu.." ucap Zaline dalam hatinya. Matanya mengarah ke Dirga yang masih menerangkan sesuatu di depan.
...----------------...
Bel membubarkan para siswa karena masih masa orientasi jadi jam sekolah mereka sedikit lebih pendek.
Zaline segera keluar dari kelas tidak memperdulikan Kesya yang memanggilnya Zaline masih merasa sakit hati dengan perlakuan kedua teman Kesya.
Hingga sampai di koridor, Jho berlari menghampirinya "Lin.. kamu kok ngacir duluan sih, aku ke kelas mu tadi.." ucapnya yang kini berjalan beriringan dengan Zaline.
Zaline terlonjak ia menghentikan langkahnya lalu menarik lengan Jho menghadap ke arah nya "Apa Jho.? kamu ke kelas? terus kamu tanya tentang aku ke Kesya..?" tanyanya penuh penekanan Zaline takut Kesya semakin marah padanya dan kedua teman Kesya akan menindas nya lagi.
Jho mengangguk sebelum melihat ujung bibir Zaline terluka.
Kening Jho mengerut "Kamu kenapa Lin..?" tanyanya.
Zaline membuang muka ia lupa seharusnya tidak menunjukkan luka nya pada Jho atau pertanyaan posesif temannya itu akan terus menerus mencecarnya.
"Aku tanya kamu kenapa?" cecar Jho.
"Aku hanya jatuh tadi.." sanggah Zaline.
Tapi sepertinya Jho tidak percaya dengan jawaban gugup Zaline. Jho lebih tahu banyak tentang kehidupan keras orang-orang kaya anak-anak di sekitarnya pasti akan memandang Zaline sebelah mata.
__ADS_1
"Emmh Lin kamu pulang lah sendiri, aku harus menemui seseorang.." ujarnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku ada janji dengan teman satu kelas ku.." jawabnya. Dan gadis itu mengangguk.
Sedang Jho berputar arah kembali ia berjalan cepat menuju jajaran ruang kelas terlihat ia menelepon seorang dan sepertinya langsung tersambung.
"Halo.. kamu masih di kelas kan..?" ucapnya.
"Jangan kemana-mana dulu aku ke sana.." tambahnya.
Jho menurunkan ponselnya lalu berjalan lebih cepat lagi menuju ruang kakak kelas nya, di sana ia akan menemui seseorang yang di cap sebagai lambe turah sekolah. Hampir semua kegiatan, gosip dan apapun yang terjadi di sekolah nya gadis itu tahu.
Sesampainya di sana sang ratu gosip dengan nama Hera menyambutnya "Eh Jho ada perlu apa? sebentar lagi aku ada pelajaran ni.." ucapnya.
Jho mencengkeram lengan Hera "Aku mau tanya ada berita apa hari ini..? apa ada berita penindasan lagi di sekolah ini..?" tanyanya penuh penekanan.
Hera meringis mendapati perlakuan kasar dari Jho dan sepertinya pemuda itu tahu.
"Maaf kan aku.." ucapnya seraya melepas.
"Aku tidak tahu apa-apa Jho.." sanggah nya. Namun wajahnya tidak berkata demikian.
Jho mencengkeram lengan nya kembali dan kali ini lebih penuh penekanan "Aku bayar kamu.. tenang saja.. cepat katakan.!" ketus nya.
Hera semakin meringis kesakitan "Iya iya.. lepas dulu.. sakit ini Jho.." teriak Hera. Dan pemuda itu menurut ia berusaha untuk tidak terlihat menekan gadis itu.
Hera mengelus kedua lengan yang masih terasa nyeri karena cengkeraman tangan Jho.
"Kedua teman dari putri donatur utama di sekolah ini, menindas murid beasiswa, di jam istirahat tadi.. dan semua orang melihatnya.!" ujar Hera.
"Apa..? alasannya apa? kamu tahu?" tanya nya.
"Katanya sih.. gara-gara dia merayu mu.. memang nya benar begitu ya..?" sahut Hera. Membuat Jho mengepalkan tangannya dan menampakkan wajah marahnya.
"Tapi Jho jangan bilang ke siapapun kalau kamu dengar berita ini dari ku ya.. aku takut kedua Kaka Kesya menindas ku.." tatapan mata Hera seperti memohon dan berharap banyak.
__ADS_1
Jho Diar Kusuma, cengengesan namun posesif juga pemarah, tidak segan bertindak jika ada yang mengganggu pikirannya.