
Dua hari pun berlalu, dan selama dua hari ini pasangan muda itu masih hanya di rumah saja, Kesya mendekam di dalam kamar sedang Dirga mulai menggoreskan sedikit demi sedikit cat akrilik di permukaan kanvas nya, pria itu berniat menyerahkan karyanya pada salah satu kurator karena jauh sebelumnya pria itu pernah menyerahkan lukisan nya pada kurator selain dari galery sang ayah, dan sekarang pria itu ingin mencobanya kembali dengan buah pena yang di samarkan tentunya.
📖[Kurator adalah orang yang mengerjakan kegiatan yang berhubungan dengan memelihara dan menjaga juga mengawasi aktivitas pameran seni rupa yang di mulai dengan persiapan, pelaksanaan, pemasaran hingga pameran selesai.]📖
Dan jika terpaksa harus keluar pun mereka menutupi wajahnya rapat-rapat, masih takut dengan orang-orang suruhan tuan Yuda & tuan Reiner yang mungkin sudah menyebar ke kota yang mereka tinggali. Berhati-hati, waspada, mereka lakukan.
Sedang di rumah minimalis modern sang Presdir, kini griya itu tampak sepi, karena satu penghuni sudah tidak lagi berkeliaran di dalam sana. Briyan masih galau begitu juga dengan kakek nenek nya.
Sementara Reiner hanya pulang sekilas sekilas saja selama dua hari ini, pria itu benar-benar ingin membiarkan sang istri nyaman tanpa dirinya.
Dan Sore ini Raya masih melakukan rawat jalan, sudah dua hari ini dokter sekaligus sahabatnya pulang pergi ke rumahnya dan sekarang kemana pun dokter itu pergi putri kecilnya selalu menemani.
Setelah melakukan tugasnya dokter itu menggendong putri kecilnya menuruni anak tangga dengan mulut yang terus menerus berceloteh, menimang si kecil yang baru berusia tiga tahun.
"Sekarang kita pulang Baby.." ucapnya.
Dan di lantai bawah sudah ada Reiner yang baru saja tiba "Gas.. kamu di sini.?" tanyanya.
Dokter itu mengalihkan pandangan ke arah Reiner yang kini menatap putrinya "Iya.." sahutnya singkat.
"Baby Alika ikut hm..?" tanya Reiner tersenyum gemas sembari mencubit lembut pipi gadis kecil itu. Dan sepertinya baby mungil itu menyukai nya.
"Emmh Om.." celotehnya tersenyum.
"Bundanya lagi arisan.. jadi lebih aman jika ikut saja dengan ku.." jawab sang ayah mengambil alih jawaban putrinya.
"Bagus lah, selagi masih membutuhkan mu, puas kan lah bersama nya Gas.." celetuk Reiner pelan dengan tatapan yang melekat pada Alika. Wajah pria itu berubah sendu mengingat putrinya yang sudah terlepas dari gendongan nya dan kini telah memeluk seorang pemuda.
Bagas diam tak menyahut namun dokter itu tahu yang di maksudkan oleh suami pasiennya.
"Gimana kondisi Raya.?" Reiner mengalihkan pandangan ke arah Bagas.
"Baik.. dua hari ini makan minum seperti biasa, dan kondisi nya memang sudah membaik semenjak menjaga pola makan sehat nya.. mungkin Raya sedikit lebih tenang karena yang membawa Kesya pergi, Dirga.. anak yang sudah sangat dia kenal.." jelas dokter itu.
"Tapi untuk sementara.. biar dia istirahat dulu.." imbuhnya.
"Terimakasih.." ucap Reiner memaksakan senyum.
Bagas melempar tepukan pada pundak lawan bicaranya "Sama-sama.." ucapnya tersenyum.
"Oke.. Alika sudah harus pulang Om.. salam buat yang lain.." pamitnya dengan tatapan yang mengarah ke putri kecil nya.
"Bay Baby Alika.."
Dengan senyum di bibirnya Reiner membiarkan Bagas pergi setelah mengecup kedua pipi gadis kecil yang masih dalam gendongan sang ayah. Pria itu lantas melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"KLIK" Reiner memasuki ruangan. Dan wanita cantik yang masih mendekam di balik selimut tebal tidak ia hiraukan, bagai tak melihatnya pria itu langsung menuju ke meja kerja yang terletak di sudut kanan kamar nya. Kemudian membuka laci, mengambil beberapa Map dari dalam sana.
"Rei.." tiba-tiba raba tangan melingkar di perutnya lembut.
__ADS_1
"Apa sesibuk itu.? aku tidak kau perhatikan lagi.. Kesya pergi, sekarang kamu menjauhi ku..?" tuntut wanita di belakangnya.
Dan lelaki itu memejamkan matanya menahan amarah yang masih tersisa, wanita itu sendiri yang tidak mau di sentuh, tapi sekarang mengatakan tidak di perhatikan. Tapi hidup memang kejam, jika harta tidak menjadi cobaan, akan ada cobaan lainnya, mungkin anak, pasangan, atau kesehatan.
Namun sepertinya rasa cintanya masih membuat lelaki itu sabar, Reiner lantas membalikkan badannya menghadap ke arah Raya yang kini menatapnya nanar.
"Maaf.. aku sibuk.. mungkin nanti malam, baru bisa menemani mu.. setelah ini masih ada rapat penting.. kamu tahu kan, Gabriel masih sibuk membantu Yuda jadi sementara aku sendiri yang harus menangani semuanya.." ucapnya berusaha tidak terlihat marah.
"Aku minta maaf Rei.. aku sudah....."
"Kamu istirahat saja.. jangan memikirkan apapun lagi.. Kesya pasti kembali.. istirahat lah.. sekarang aku harus pergi.." sergah nya menyambar ucapan Raya.
Setelah memastikan istrinya kembali nyaman dengan selimut nya, pria itu keluar dengan ekspresi wajah dingin. Sedang Raya masih merasa tidak puas dengan respon dari sang suami yang tampak berbeda.
...----------------...
Dan kini Reiner sudah menuruni anak tangga, berjalan gontai menuju pintu keluar, matanya tertuju pada punggung milik seorang pemuda yang tidak lain adalah putranya.
"Sore sayang.." ucapnya menyapa pemuda itu dari belakang. Membuat Briyan menoleh tiba-tiba.
"Eh.. Daddy.. mau kemana lagi..?" tanyanya karena sepertinya sang ayah sudah akan pergi lagi.
"Iya.. Daddy masih ada urusan.. kamu jagain Mommy di rumah yah.." pesan Reiner.
"Emmph.. Briyan sudah mau keluar Dad.. ada urusan penting juga.." sambung Briyan kemudian.
"Jangan ngebut-ngebut.."
Reiner membiarkan putranya pergi dengan sebuah motor, kemudian pria itu juga ikut pergi ke arah berlawanan menggunakan sebuah mobil.
...----------------...
Di sebuah mall, tempat kembalinya pertemuan Dirga dengan Kesya, Briyan tampak menuruni motornya sebelum ia memastikan gadis yang di bonceng turun terlebih dahulu.
"Kita mau apa ke sini Briy..?" tanya Zaline sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Aku mau meminta alamat Nguncup, ke sepupunya yang kerja di sini yank.. setelah itu aku juga mau belanja untuk mu.." jawab pemuda itu tersenyum. Sedang Zaline hanya diam tak menyahut tapi tetap setuju.
Dengan berjalan beriringan sepasang kekasih itu menuju ruang sepupu Ucup, pemuda itu mendengar desas-desus campur tangan lelaki engineering itu dari mulut anak buah sang ayah. Sekarang Briyan mencoba untuk mendapatkan informasi tentang Nguncup dan kedua saudara nya.
Cukup lama pemuda itu meyakinkan sepupu Ucup agar memberinya alamat tapi lagi-lagi lelaki engineering itu mengalah dan setuju
Setelah mengantongi alamat Ucup, Briyan mengajak kekasihnya memasuki gerai brand ternama langganan nya. Sedang Zaline masih tetap menurut mengikuti langkah kekasihnya yang sudah mulai memilih milih beberapa helai pakaian dari rak.
"Pilih lah yank, kamu suka yang mana.?" tanya Briyan menoleh sekilas ke arah Zaline yang terlihat bingung.
"Aku terserah kamu saja.. aku tidak biasa ke sini.."
Mendengar jawaban kekasihnya Briyan mulai beraksi pemuda itu lantas mengambil serampangan beberapa baju atasan bawahan dan juga gaun.
__ADS_1
"Kak.. bungkus yang ini.. yang ini juga.. dan ini lagi.." ucapnya pada pelayanan di sebelahnya seraya menumpuk baju-baju baru ke tangan sang pramuniaga.
"Baik, segera.." ucap sopan wanita itu menundukkan kepalanya sopan.
Zaline yang melihat itu mulai menampakkan kerutan di keningnya "K-kenapa banyak sekali..?" tanyanya.
"Kamu bilang terserah aku.. jadi sekarang diam saja.." ucap Briyan tanpa menoleh.
Zaline mendengus, kekasihnya memang selalu bertindak bar-bar dan harus selalu di laksanakan, tidak perduli dengan perasaan kekasihnya yang sering rikuh karena paksaan nya.
Cukup lama Briyan membelanjakan kekasihnya dan kini di tangannya membawa beberapa paper bag.
"Kita makan dulu ya yank.." ajak nya kemudian.
"Iyaaaaaaa....." Zaline terdengar menekan katanya. Jawaban Iya lah yang harus gadis itu ucap setiap harinya bersama dengan kekasihnya karena jika tidak pemuda itu akan tetap memaksa.
Briyan mengernyit "Kenapa.? sudah bosan bersama ku.?" tanyanya curiga.
"Tentu saja tidak.. aku hanya bosan dengan kata iya saja.. kamu gak pernah menginginkan jawaban tidak dari ku.." protes Zaline berusaha terlihat senormal mungkin bahkan masih memperlihatkan senyuman manis.
"Aku mencintaimu yank.. jadi menurut lah hm.."
Dan kini langkah mereka berdua menuju restoran fine dining, lagi-lagi Briyan memesan makanan tanpa bertanya dahulu pada Zaline. Karena kekasihnya pasti hanya akan berkata Ya saja. Lagi pula gadis itu juga tidak tahu apa yang harus dia pesan di restoran mewah.
Dengan drama suap suapan dan saling mengelap ujung bibir yang belepotan bahkan terdengar suara tawa mereka saat menyelesaikan makan malam romantis nya. Kemudian pemuda bucin itu mengantarkan kekasihnya kembali pulang dengan motornya.
...----------------...
Tiba di halaman rumah sempit Zaline, pemuda itu menuruni motor, lalu berjalan berdampingan dengan gadisnya menuju pintu bercat coklat sederhana. Dan Zaline terlihat kerepotan membawa banyak paper bag di tangan kecilnya.
"Terimakasih ya Briy. Kamu langsung pulang saja.. kayaknya mamah sama papah udah tidur.. takut nya malah ganggu istirahat mereka.." ucap Zaline mengusir halus karena waktu sudah menunjukkan pukul 22:15.
"Iya.. tapi...." pemuda itu menuntut sesuatu.
"Kenapa.?"
Cup..!!! Briyan menjatuhkan bibirnya pada gadisnya, mengecap lembut benda kenyal itu berkali-kali.
Setelah sekian menit mengecup kekasihnya, dengan senyum manis pemuda itu berlalu dari pandangan Zaline bagaikan hantu.
"Briyan.. Briyan.." ucap Zaline mengusap bibirnya sambil tersenyum.
Cekrek..!!! Cekrek..!!!
Dari balik kaca jendela mobil, seorang pria menangkap gambar mesra sepasang kekasih itu.
...----------------...
Bersambung..!! maaf kalau dialeg daerah ku mengganggu kenyamanan membaca kalian.. sesungguhnya aku tidak terlalu menguasai bahasa baku yang baik.
__ADS_1