
"Iya duluan.. aku nyusul deh.. aku tahu kok jalanya.." sambung Kesya,
Terlihat sekali gadis itu repot dengan peralatan mandinya yang masih berada di dalam tas ransel pink miliknya.
"Ok.. " Hilda dan Meira setuju mereka pun berjalan sedikit pelan agar Kesya bisa segera menyusulnya.
Sedang Kesya masih membetulkan tas yang sudah di acak-acak nya karena peralatan mandinya berada di bagian paling bawah tasnya jadi mau tidak mau Kesya harus menata ulang barang barang miliknya.
Jujur saja, Kesya terbiasa menyuruh Marni pengasuh nya dari masih bayi untuk mengurus segala kebutuhannya. Dan di saat seperti ini gadis manja itu kalang kabut.
Setelah selesai membereskan tas ransel nya Kesya berjalan menuju sungai dengan sangat percaya diri ia menuruti langkah gontai nya karena sebelumnya gadis itu sudah pernah ke sungai tersebut.
"Sayang.." suara dari belakang membuatnya menoleh ringan. Dan Dirga berlari menuju nya.
Dirga sudah membagi waktu tugas dengan Briyan untuk menjaga adiknya dan kali ini jatahnya karena kegiatan camping sudah di serahkan kepada Rifky wakilnya.
"Mau kemana yank?" tanyanya.
"Ke sungai.." singkat Kesya ketus.
"Tolong jangan panggil aku sayang atau Dede lagi.. panggil aku Kesya.. aku sudah besar.. aku malu.." protes Kesya dengan nada dingin yang tiba-tiba terlihat.
Kesya masih mengingat adegan Dirga dengan Zaline beberapa saat yang lalu. Dan itu lumayan membuatnya beranjak dari perasaannya.
"Iya iya.. Kesya.." nurut Dirga kemudian "Kaka antar ya.." tawar nya tersenyum.
"Gak usah.. aku bisa sendiri.." sahut Kesya masih konsisten dengan nada dinginnya.
Dirga melihat perubahan sikap Kesya dan itu membuatnya tidak nyaman "Kamu kenapa? kamu gak lagi sakit kan.?" tanyanya penasaran.
"Cek.." decak Kesya.
"Aku bilang aku bisa sendiri kak.." ketus nya yang lalu bergolak dan melangkah pergi.
Namun Dirga tetap mengikutinya, tidak mungkin pemuda itu membiarkan adik kesayangannya sendiri. Dengan langkah pelan Dirga berjalan mengiringi langkah Kesya.
Sampai akhirnya Dirga mendapati Kesya yang jatuh tersandung akibat jalaran akar yang tertutup daun kering "Sayang.. hati-hati makanya.. Kaka bilang juga apa kan..!" pekiknya panik.
Kesya menepis "Aku bisa sendiri..!!" jawabnya ketus.
__ADS_1
Dirga mengernyit "Dede kenapa hm? apa Kaka punya salah? Dede marah ke ka Dirga hm?" pemuda itu sangat khatam sekali dengan sifat Kesya.
"Coba ngomong apa salah Kaka?" paksa nya.
"Apa sih.. salah apa coba.." gerutu Kesya sembari beranjak dari posisinya. Dan kini ia sudah berdiri kembali masih dengan wajah datarnya.
"Sayang.." panggil Dirga yang terlihat bingung.
Kesya melanjutkan langkah namun sepertinya Dirga mulai gerah dengan perubahan sikap Kesya yang tiba-tiba dingin tidak seperti biasanya.
"Dede.. apa Kaka harus melakukannya lagi hah,..?" ucap Dirga sedikit berteriak. Ekspresi wajah nya seakan frustasi, sungguh pemuda itu tidak kuat dengan sikap dingin Kesya yang tiba-tiba muncul.
Kesya menghentikan langkah dan matanya terpejam geram sebelum kemudian merasakan tangan seseorang menariknya "Ooggh..," seru nya saat terpentok dada bidang Dirga.
Dan kini tubuh kecilnya sudah berada dalam dekapan hangat pemuda yang di panggil nya Kaka.
"Tolong jangan ketus lagi.. Kaka salah apa katakanlah.." ucap Dirga dengan sorot mata dalamnya.
Kesya sedikit tersentuh dengan tatapan itu "A aku.. aku mau mandi.. ini sudah sore.." sahutnya gugup.
"Kesya.." panggil Dirga yang tiba-tiba menyebut nama nya, sepertinya tatapan itu mulai tersirat. Dan gadis itu menatapnya gugup
"Aku menyayangimu, aku mengagumimu, aku menyukai mu, aku tidak bisa bernafas lega melihat marah mu, aku mencintaimu, dan bukan karena Aku sepupumu tapi karena aku lelaki dan kau wanita.." ucap Dirga yang membelalakkan mata sayup gadis itu.
Kalimat itu lumayan cukup kuat untuk membunyikan degup jantung gadis itu, irama jantung yang tidak beraturan seolah terdengar di telinganya. Saliva yang tertelan bukti bahwa gugup nya mulai terekam di mata Dirga.
"Kenapa diam saja, apa rasaku ini bertepuk sebelah tangan?" tanyanya lagi memastikan.
Kesya bergeming "Bagaimana ini..? aku tidak bisa menjawabnya.. aku pingsan saja deh.." batinnya.
GEP.." Kesya mengosongkan tenaganya dan melemah di pelukan Dirga.
"Sayang.. Kesya..!!" Dirga panik sembari menggoyangkan tubuh kecil gadis itu.
Namun tak lama pemuda tampan itu tersenyum geli saat melihat lirikan konyol dari sebelah mata Kesya.
"Kesya.. jangan pura-pura pingsan.. cepat jawab.. atau Kaka akan meninggalkan mu sendiri di sini.. kamu tahu.. dulu ada cewek cantik yang bunuh diri di sini.." ucap Dirga membual.
"Hah..? benarkah begitu..?" Kesya spontan terbangun dari pingsan pura-pura nya. Dan kini wajahnya mulai takut.
__ADS_1
Dirga tertawa geli "Kesya.. cepat jawab.. apa rasaku bertepuk sebelah tangan..? Kaka akan dengan lapang dada menerima nya.." sambung nya mengulang pertanyaan.
"Hah?" Kesya terdiam sejenak "Kesya tidak tahu sebenarnya bagaimana perasaan Kesya, tapi Kesya tapi Kesya gak suka melihat Kaka dekat dengan Zaline.." lirihnya menunduk.
Kening Dirga mengernyit "Zaline? siapa dia?" tanyanya.
"Bukannya Kaka menyukainya? anak-anak menggosipkan mu dengan nya.. apa Kaka berpura-pura padaku..?" Kesya mendadak mendongakkan wajahnya menatap Dirga.
"Aku tidak kenal siapa tadi.? Salim?" ulang Dirga.
"Zaline Kaka.. Zaline..!!" sahut Kesya penuh intonasi.
"Iya itulah.. Kaka tidak pernah mengenal nya.." sambung Dirga kemudian. Dan tatapan lelaki muda itu seolah jujur hingga menyentuh kalbu si cerewet Kesya.
"Jadi.. dengan kata lain.. Kesya cemburu..? karena Kesya menyukai ku.. karena seorang Kesya juga merasakan hal yang sama seperti ku begitu..?" tanya Dirga memastikan dan penuh dengan percaya diri.
"Emmh.. sudahlah.. ini sudah sore.. Kesya lengket.. Kesya mau mandi.." gadis itu mengalihkan pembicaraan karena mulai merasa canggung.
"Aww.. sakit Dede..!" keluh Dirga saat menerima injakan kaki Kesya. Dan kini gadis itu sudah berlari menuju sungai.
"Awas kamu ya..!!" teriaknya kemudian.
Dirga mengikuti langkah Kesya karena begitulah pesan Yuda padanya untuk tidak membiarkan gadis itu sendirian. Kesya anak orang kaya pasti penculik berderet menunggunya untuk di jadikan tebusan uang, pikir Yuda.
Hingga tibalah di tepi sungai, Kesya menoleh ke kanan dan kiri tidak ada satupun temannya di sana.
"Sayang.." panggil Dirga yang baru saja tiba dengan deru nafas yang masih berantakan karena larinya.
Kesya menoleh "Ka.. kenapa tidak ada siapapun di sini..? apa Hilda dan Meira sudah kembali..?" tanyanya.
"Hm??" Dirga celingukan dan memang sepi.
"Mungkin bukan di tempat ini mereka mandinya.. apa Dede mau mencarinya?" tawar Dirga. Namun sepertinya cuaca yang mulai gelap membuat gadis itu sedikit bimbang.
"Tapi sudah mulai gelap ka.. Kesya mandi di sini saja deh.. Kaka pergilah.. Kesya berani kok.." ucap Kesya yang sedikit membual padahal gadis itu takut namun rasa lengket di tubuhnya membuatnya mengatakan hal itu.
"Dede serius..?" Dirga sedikit tidak percaya.
"Serius.. Kaka pergilah.. Kesya sudah tidak betah lagi.. hus hus.." usir Kesya mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Dirga tersenyum "Iya.. Kaka pergi.. tapi Kaka jaga di sekitar sini.. tenang saja Kaka gak akan ngintip.. Kaka cuma mau memastikan keamanan Dede saja.." ucap nya.
"Baiklah.." gadis itu mengangguk.