
Di meja makan bundar sederhana tapi terlihat sangat rapih. Zaline dan kedua orang tuanya menikmati sarapan pagi. Keluarga sederhana itu memang terbiasa melakukan ritual itu setiap hari nya.
Zaline memang hanya putri satu-satunya di keluarga sederhana itu. Shella Ibu Zaline, tidak mau menambah beban keluarga dengan menambah anak lagi.
Hanya mengurus Zaline saja mereka kewalahan dengan biaya hidup apa lagi jika harus mempunyai satu anak lagi. Mungkin itu akan lebih menyusahkan hidup mereka. Dan itu lah yang ada di pikiran Shella.
Shella berharap Zaline putrinya bisa memiliki kekasih yang kaya raya. Mungkin dengan begitu Zaline bisa beranjak dari kemiskinan yang sedari kecil di lalui nya.
Tidak serakah.. karena semua orang tua juga pasti menginginkan hal itu untuk anak nya. Dan beberapa bulan ini Shella mengamati kedekatan putrinya dengan Jho yang terlihat kaya raya.
Sang ibu menatap lekat wajah putrinya yang semakin dewasa semakin cantik dan pasti dengan kecantikan itu Zaline bisa mendapatkan kekasih yang sesuai dengan kriterianya.
Setelah selesai sarapan Shella mulai membuka obrolan pagi dengan putrinya.
"Lin.. hari ini kamu di jemput Jho lagi sayang.?" tanyanya.
"Ga tau mah.." jawab Zaline singkat karena masih mengunyah makanannya.
"Kamu kapan jadian sama Jho nya hm..? padahal mamah rasa Jho itu menyukai mu.. harusnya kamu sudah berpacaran dengan nya loh.." ujar Shella sembari memunguti piring yang sudah tidak terpakai dari meja makan.
"Uhuk-Uhuk.." Zaline tersedak mendengar ucapan sang ibu. Dengan spontan ia meneguk air minum miliknya sebelum kemudian mengelap bibirnya dengan sapu tangan "Apa sih mah.. dia cuma temen aja.." lanjutnya kemudian.
"Teman kan bisa jadi pacar Lin. Memang nya kenapa kalau dia menyukai mu..? apa kamu tidak menyukainya..? dia tampan dan kaya.. kamu pasti senang dan ketularan sukses jika berhubungan dengan nya Lin.." sambung Shella.
"Mah.. suka itu harus tulus bukan karena sesuatu.. lagian cowok seperti nya mana mau bersama ku yang hanya anak orang biasa.." sahut Zaline dengan wajah merengut.
"Zaline benar mah.. kamu kenapa kolot sekali.. sukses itu dari diri kita.. bukan dari pria kaya.." sambung ayah yang bernama Heru.
"Kamu tidak usah ikut campur pah.. kamu sendiri tidak bisa menyukseskan diri sendiri.. jadi kenapa harus protes.. sukses kan dulu dirimu sendiri.. sejahtera kan anak istri mu.. baru boleh berbicara seperti itu padaku.. mengerti.." cerocos Shella. Dan sepertinya sang suami sangat sabar mendapati cerocosan istri rewelnya.
Zaline cepat-cepat membereskan tas nya untuk segera mengakhiri obrolan yang hampir setiap hari di ujar kan oleh ibunya. Zaline sudah terbiasa dan mulai bosan dengan sikap ibunya yang terus menerus menyalahkan ayahnya atas kemiskinan yang di deritanya.
Padahal menurutnya ayahnya sudah cukup berusaha hanya saja uang tabungannya habis untuk biaya berobat nenek nya yang tidak lain adalah ibu kandung Shella sendiri.
"Sudah.. Zaline berangkat ya mah.. pah.." pamit Zaline seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya "Iya.. kamu hati-hati ya sayang.." ucap ayahnya.
"Bye mah.. pah" tambahnya melambaikan tangan seraya melangkah. Dan kedua orang tuanya hanya diam membiarkan nya pergi tentunya dengan menyertakan doa untuk nya.
Zaline berjalan menuju pintu keluar rumah nya yang memang dekat dengan ruang makan nya dan ia tersentak kaget saat melihat pemuda yang entah sejak kapan berada di balik pintu.
__ADS_1
"Jho.." ucapnya.
Dan pemuda itu tersenyum menyambut nya "Pagi.. kita berangkat bareng.." ajaknya. Zaline mengangguk meski canggung. Zaline takut Jho mendengar obrolan nya dengan Shella barusan dan jika benar begitu, itu sangat memalukan baginya.
Setelah berjalan beberapa langkah dari pintu Zaline menarik tas selempang milik Jho "Emmh.. Jho.." ucapnya.
Pemuda itu membalikkan badannya menghadap ke arah nya "Iya Lin.." sahut nya.
"Apa kamu mendengar pembicaraan ku dengan mamah tadi..?" tanya Zaline dengan wajah serius. Dan pemuda itu menggeleng "Aku baru saja sampai Lin.. memang nya kenapa? apa kamu membicarakan ku..?" tanya Jho menggoda.
"Tidak.. tentu saja tidak Jho.." sanggah nya dengan wajah gugupnya.
"Ya sudah kita berangkat.. yuk.." Jho memakai kan helm Zaline dengan wajah yang tersenyum.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju motor gede milik Jho.
"Ayok naik.." lanjut Jho menyuruh. Dan gadis itu menurut.
"Pegangan erat-erat.. aku mau ngebut lagi.." goda Jho.
"Jangan Jho ini masih pagi.. aku bisa kedinginan nanti.. jadi pelan-pelan saja ya.." protes Zaline.
Zaline sudah terbiasa memeluk pemuda tampan itu malah hampir setiap hari jadi ya nurut saja.
Jho mulai menyalakan mesin motor nya lalu melajukan dengan pelan.
"Seandainya pemikiran mu sama seperti mamah mu.. mungkin sekarang aku sudah menjadi kekasih mu Lin.. dan aku akan menuruti semua keinginan mu apapun itu.. kamu tahu Lin.. papiku memberiku uang jajan yang cukup banyak " ucap Jho dalam hatinya.
Karena sesungguhnya dia mendengar semua pembicaraan Zaline dengan kedua orang tuanya karena rumah kecil itu tidak kedap suara.
...----------------...
Sedang di tempat lain Kesya si cerewet masih bergulat dengan selimut tebal nya wajah kusutnya masih menyertai gadis cantik itu. Sepertinya gadis itu sudah kehilangan semangat belajar padahal hari ini hari pertamanya mendapat mata pelajaran di sekolah barunya.
Yah.. Jho lah penyebab dari ini semua.
Seluruh keluarganya sudah bergantian membujuk gadis itu untuk mandi namun belum ada yang berhasil dan kini giliran ayahnya yang memasuki kamar gadis itu.
Dan hal pertama yang di lakukan oleh lelaki tampan itu adalah menggelengkan kepalanya. Reiner pun mendekati gadis itu memeriksa dahi putrinya yang tidak panas.
__ADS_1
"Sepertinya Dede tidak sakit.. kenapa belum bersiap..? nanti kak Briyan terlambat gara-gara Dede.." ucapnya.
"Suruh Kaka berangkat.. Kesya gak mau masuk sekolah hari ini Daddy.."
"Kenapa? Dede mau ikut homeschooling saja..?" tawar sang ayah dengan nada yang lembut namun ada ancaman di sana.
"Kesya mau pindah sekolah saja Daddy.. Kesya gak suka sekolah di sana.. muridnya menyebalkan semua.. Kesya mau pindah Daddy.." ucap Kesya merengek dengan tangan yang menarik-narik kemeja slim fit ayahnya.
Karena sang ayah memang sudah bersiap berangkat ke kantor nya.
"Pindah..? pindah kemana.. sekolah itu sekolah swasta terbaik di negara ini.. lalu mau pindah kemana lagi..?" Reiner sudah mulai lepas kesabaran.
"Kesya mau pindah ke London.. Kesya mau tinggal sama grandmom sama grandpah saja.. Kesya gak mau di Indonesia lagi.." pinta Kesya entengnya.
Reiner selalu menghela nafas ketika sudah berhadapan dengan putri cantik nya itu "Nilai kamu saja tidak sebagus Kaka mu.. sekarang mau pindah ke London..? jangan ngada-ngada, sekarang mandi terus berangkat sekolah.. kalo tidak Daddy daftar kan homeschooling.." ucapnya membandingkan kedua anaknya.
Kesya memang tidak sepintar Briyan mungkin ini adil Reiner memiliki dua anak yang satu lemot mirip dengan Raya istrinya dan yang satunya lagi cerdas mirip dengan nya.
"Dan ini kesempatan terakhir mu.. titik.." putus Reiner kemudian.
"Dede.. " suara Dirga dari ambang pintu. Dan kedua orang yang masih berseteru ringan pun menoleh serempak ke arah nya.
"Dirga.." sapa Reiner pada keponakan nya.
"Pagi Om.. " Dirga mencium punggung tangan Om nya sebelum kemudian mendekati adik sepupunya.
Kebetulan Dirga mampir untuk ikut sarapan pagi di rumah Om nya karena Yuda ayahnya dan Chloe ibunya sedang tidak di Indonesia.
Kedua orang tua Dirga memang sering jalan-jalan ke luar negeri tanpa mengajak putranya tapi jalan-jalan mereka masih di selingi dengan bisnis juga tentunya, karena Yuda masih menggeluti dunia seninya. Dan di minati warga negara asing.
"Dede sayang. Kita berangkat yuk.. gimana kalo Dede Kaka ajak naik motor.. Ka Dirga bawa motor loh.. mau coba..?" tawar Dirga membujuk. Dirga paling tahu cara jitu membujuk Kesya.
Dan gadis itu terlonjak senang "Benarkah..? pake motor...? boleh kah Daddy..?" ucap Kesya bersemangat.
Reiner memutarkan bola matanya malas sebelum kemudian menghela nafas dan menghembusnya kesal "Boleh.. sekarang mandi.. dan ikut dengan kakak mu.." sahut nya.
Visual Reiner G Bastian wajah tampan dingin..
__ADS_1