
Malam ini si tampan Briyan sudah merencanakan sesuatu demi membantu kedua saudara nya bertemu, dengan harapan Dirga juga membantunya mencapai tujuan nya. Dengan langkah gontai pemuda itu mendatangi dapur minimalis mewah nya.
Di sana sudah ada Tami sang koki handal tengah asyik mencuci buah dan sayuran, di rumah itu memang sangat menjunjung tinggi bahan mentah itu, sebab salah satu anggota keluarga mereka ada yang tidak boleh makan daging.
"Malam bik.." ucapnya tersenyum. Dan Tami menoleh.
"Eh Aden.. malam juga.. ada apa Den..?" sapa balik wanita itu padanya.
"Daddy sama mommy sudah tidur kali ya? kok sepi.." tanyanya berbasa-basi.
"Iya Den.. semuanya sudah pada masuk kamar.. lagian ini kan sudah malam Den.. memangnya Aden gak tidur.. bukannya besok sekolah.." jawab Tami sambil melanjutkan aktivitasnya.
"Briyan belum ngantuk bik.."
Kemudian pemuda itu melangkah lebih dekat lagi pada Tami "Emmh bik.. biasanya jam segini orang di luar rumah pada minum apa.?" tanyanya seraya menggaruk pucuk hidungnya.
Tami mengerutkan kening "Tumben Den Briyan perhatian sama orang luar.? pasti ada maunya.. pasti ada apa-apa deh.." jawab nya dengan bibir yang sedikit menjep. Wanita itu sudah sangat khatam dengan karakter para majikannya.
"Hehe.. tahu ajah bibik.." sambung Briyan sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya "Bibik bisa tolong Briyan kan.?" tambahnya berharap banyak.
"Emmh.. tentu saja Den.. asal jangan yang aneh-aneh ya.." timpal Tami sedikit curiga.
"Gak kok tenang saja.." Briyan lantas mendekatkan wajahnya pada Tami dan Tami juga nampak memasang telinga "Bibik, nanti tolong campurkan bubuk ini ke minuman orang-orang yang berjaga di depan ya.. dilarang menolak.. please.." paksa nya seraya memberikan botol kecil pada Tami.
Tami mengernyit "Apa ini Den.. bibik takut ah.. ini bukan sianida kan Den..?" gusarnya tangannya seperti takut untuk menerima.
"Yeeh.. yakali Briyan kasih mereka sianida.. ini cuma obat tidur.. kasihan mereka jarang tidur akhir akhir ini.. biar mereka istirahat bik.." ucap Briyan bersilat lidah.
"Tapi Den.. mereka kan memang sedang berjaga.. jadi ngapain di suruh istirahat.?" tanya Tami dengan wajah polosnya.
"Aduh.. bibik nurut ajah.. jangan protes.. sekarang buatkan minum untuk mereka lalu masukkan ini juga.. dan jangan bilang bilang ini ke siapapun.. ok!" paksa Briyan sekali lagi. Dan Tami mengangguk beberapa kali.
"Nih.. segera laksanakan.. ok.." Briyan memaksa Tami menerima botol kecil di tangannya dan wanita itu pun menurut "Iya Den.." ucapnya.
"Awas jangan sampai siapapun tahu atau curiga.. dan pastikan mereka semua meminum nya.. ok..!!" pungkas pemuda itu sebelum kemudian berjalan menaiki anak tangga memasuki kamar nya.
...----------------...
__ADS_1
Sementara di tempat lain seorang pemuda tengah mengendap ngedap keluar dari kamar dengan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya.
Sebenarnya dari sore tadi Dirga berencana keluar, tapi Yuda sang ayah terus menerus mengawasi nya. Dan setelah dengan sabar menunggu akhirnya pemuda itu punya kesempatan juga.
"Sepertinya aman.. mungkin Papi sama Mami lagi usaha bikin anak lagi kali.. dingin-dingin begini.. xixixixix.." gerutunya terkekeh sembari melangkah pelan berusaha tak bersuara.
Pemuda itu lantas melanjutkan langkah menuju pintu keluar dan sepertinya Dewi Fortuna berpihak padanya, dia lolos bisa keluar dari rumah itu tanpa di pergoki siapapun.
Masih dengan langkah hati-hati, Dirga berjalan menuju halaman parkir "Ah.. motor kesayangan ku.. kita temui nyonya mu.. ok.." ucapnya sambil menarik satu motor dari halaman parkir kemudian pemuda itu menuntun motor nya hingga ke pintu gerbang, berharap tidak ada yang mendengar suara kepergiannya.
"Den.." sapa seseorang dari belakang menghentikan langkahnya.
"Aduh.. sial..!" umpat Dirga memejamkan mata tanda gugupnya.
"Aden mau kemana..?" tanyanya dan pemuda itu menoleh "Eh.. pak Bayu.." nyengir nya kemudian.
"Aku mau ambil tugas di rumah guru ku pak.. ini mendesak.." jawabnya beralasan.
"Oya..? apa tuan sudah tahu.?" tanya Bayu lagi.
Dirga menggaruk kening "Sudah pak.. buktinya saya di sini sekarang.. itu karena Papi sudah mengizinkan ku.." jawabnya membual. Dan sepertinya lelaki itu percaya.
"Ya sudah pak.. aku pergi dulu ya.. mendingan pak Bayu tidur saja.. nanti kecapean.. takut bener makan gajih buta.." sambung nya sekalian menggerutu.
"Hehe.. pengennya si begitu Den.. tapi ini kan kerjaan Den.. amanah.." timpal Bayu nyengir.
"Ok pak.. Bye..!"
Dirga melanjutkan menuntun motornya hingga kini posisinya sudah berada di luar pagar. Pemuda itu lantas memakai helm kemudian menyalakan mesin dan berlalu dari sana.
"Huh... akhirnya... bisa keluar juga..." ucapnya dengan senyum lega nya.
...----------------...
Satu jam kemudian di rumah besar Presdir tampan, si jenius Briyan tengah mengintip kan matanya ke teleskop, dari balkon kamar nya pemuda itu mengamati beberapa penjaga yang sudah di beri minuman dengan campuran obat tidur.
Dan sepertinya berhasil.. semua penjaga dan para sopir di rumah besarnya tepar tak berdaya. Senyum seringai pun mengembang di bibirnya.
"Kayaknya.. mereka sudah meminumnya.. dan kayaknya sudah mulai bereaksi obatnya.." gumamnya.
__ADS_1
"Dirga kemana lagi ni.. kenapa belum juga ada kabar..? atau jangan-jangan dia gak bisa keluar dari rumah nya lagi.." gerutunya.
Briyan merogoh saku celananya mengambil ponsel dari dalam sana, belum sempat membuka pola dilayar nya. Panggilan telepon dari Dirga galak menggetarkan ponselnya.
"Panjang umur dia.." gumamnya.
Dengan santainya Briyan menggeser tombol hijau lalu meletakkannya ke telinga "Halo.." sapa nya.
"Briy.. Aku sudah sampai di depan.. gimana.. kira-kira aman tidak hah,.?" tanya Dirga di seberang telepon.
"Aman.. cepat masuk.. nanti mereka keburu bangun lagi.." sambung Briyan.
"Ok.." tanpa memutuskan panggilan teleponnya.
Briyan melihat seorang pemuda berjalan mengendap ngedap melewati gerbang rumahnya. Ia pun mengulurkan tali dari atas balkon kebawah. Dan yah.. Briyan bermaksud menyuruh Dirga memanjat tali tersebut.
Sedang di bawah Dirga tampak mengernyit melihat aksi Briyan yang super aneh menurut nya "Briy.. kamu serius aku harus menaiki tali ini..?" tanyanya.
"Tentu saja.. kamu takut..? kamu tidak bisa hah.?" cibir Briyan dengan nada mengejek.
Sungguh ejekan itu menyundul harga diri pemuda itu "Tentu saja berani.. Dirga Pratama apa sih yang di takuti hah..!!" sombongnya kemudian.
"Ya sudah cepat..!!"
Dirga menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya kemudian mulai meraih tali yang menjuntai di depan matanya. Sesekali pemuda itu menarik narik tali tersebut memastikan bahwa tali itu aman untuk di naikin.
"Ok Dirga tampan.. kamu bisa Dirga.. semua ini demi bertemu dengan istri tercinta mu.. ayok.. Dirga kamu bisa.." gumamnya menyemangati diri sendiri.
Briyan yang masih mendengar suaranya dari seberang telepon seketika menahan tawa "Dasar.. bucinyet.!!" ucapnya.
"Hah.. apa itu bucinyet..?" Dirga masih sempat sempat nya bertanya padahal sudah mulai memanjat tali nya.
"Budak cinta... MONYET..!!" jawab Briyan terkekeh.
"Sialan.. kenn.. naa.. pah.. harus.. ada monnyyeeet nyah..? tanya Dirga terengah-engah karena berat tubuhnya.
Briyan terkekeh geli "Sudah jangan banyak bicara.. cepat naik saja dulu.. baru ngomong lagi.. bucin..!" sambar Briyan kemudian.
...----------------...
__ADS_1
Minta doanya semoga Dirga gak ketahuan sama mertuanya ya..š salam kenal dari authoršDan jangan lupa LIKEš¤