
Awalnya Dirga berniat mengajak istrinya kabur bersama, namun setelah menjalani hidup tanpa orang tua selama satu bulan, niat itu seolah pudar bahkan pupus.
"Dede.."
"Jangan panggil aku Dede.!! aku istri mu bukan anak mu..!!" protes Kesya berpaling muka.
Dirga menggaruk kepalanya serba salah "Iya iya.. sayang.. tolong jangan begini.. pulang lah, kasihan Mommy, dia pasti khawatir, jangan kecewakan kepercayaan yang sudah dia berikan pada mu.." tolaknya halus.
"Kalau ka Dirga tidak mau membawaku pergi, biar Kesya pergi sendiri saja.." ucap gadis itu tanpa menoleh.
"Sayang..!!" pekik Dirga mengernyit menatap wajah istrinya yang masih berpaling dari nya "Jangan keras kepala, pulang lah, hidup tanpa orang tua itu sulit, bagaimana dengan kehidupan mewah yang sudah menjadi kebiasaan bagimu hm? kakak tidak akan tega membawamu ikut susah bersama ku..!" lanjutnya.
Penuturan itu berhasil membuat Kesya menoleh dengan senyuman remeh nya "Lalu apa gunanya aku menikah dengan mu? kalau ternyata Kaka tidak bisa bertanggung jawab atas diri ku.? apa selama nya Kaka mau mengandalkan orang tua ku hah..?"
"Kesya ikut, dan tidak akan menuntut apapun dari mu.. aku hanya ingin bersama mu saja.!" sambung Kesya kemudian.
"Tidak akan semudah itu sayang, mengertilah.. kehidupan nyata tidak semudah kisah cinta di film-film..!! Kaka tidak akan tega membawamu ke tempat sempit.. bahkan membiarkan mu hidup tanpa asisten, benar-benar tidak bisa membayangkan nya, itu akan merepotkan mu.. jadi mengertilah.. pulang lah.. kita akan sering bertemu di sini.. melepas rindu.. aku mohon hm.." papar Dirga penuh harap.
Kesya mendengus "Ok..!! baiklah.. tapi aku tidak akan menemui mu lagi.. aku tidak mau berhubungan dengan pria pengecut seperti mu..!!" ucapnya serius "Pergi saja sendiri kamu, bila perlu ceraikan aku, tidak ada gunanya aku menjadi istri mu.!" lanjutnya lantang.
"Kesya..!!" pekik Dirga membentak.
"Sudahlah, percuma berteriak"
Kesya lantas mengambil tas yang ia jatuhkan saat di peluk paksa dari belakang oleh suaminya.
"Aku pamit..!" ucapnya yang kemudian melangkah pergi.
"Sayang..." Dirga menghadang jalan istrinya dengan ekspresi wajah sesalnya "Jangan bilang begitu, tolong jangan berkata seperti itu.. itu sangat menyakiti ku.." sambungnya meraih jemari istrinya.
"Kamu sadar, kamu juga sudah menyakiti ku Dirga..!! apa susahnya mengucap cerai saja? kamu juga tidak benar benar serius padaku.."
Kesya menyahut lengkap dengan tatapan kesalnya kemudian melanjutkan langkah berusaha pergi. Dan tentu saja Dirga mencekal jalannya kembali.
"Ok ok.. maaf kan Kakak.. tolong jangan katakan itu lagi.. ok Kakak akan membawamu.. kita pergi sama-sama.. tolong jangan pernah suruh aku menceraikan mu.." ucapnya memohon.
Sungguh tidak terpikirkan sedikit pun untuk menceraikan istri tercintanya, alasan pemuda itu kabur dari rumah juga karena ingin tetap mempertahankan pernikahan. Jadi untuk apa pergi sendiri jika Kesya meminta cerai? No! itu tidak akan pernah terjadi..!
Dirga terdiam sejenak memikirkan bagaimana caranya bisa keluar membawa Kesya tanpa di kejar pengawal, atau mungkin orang-orang suruhan Yuda yang masih tersebar di mana-mana. Dan ide cemerlang terbesit saat melihat barang belanjaan istrinya.
"Uh.??"
__ADS_1
Tangannya membuka dan menyentuh isi dari paper bag yang berisi pakaian baru.
"Sayang.. sekarang ganti lah pakaian mu dengan yang baru.. kita akan segera keluar dari sini.." suruh Dirga kemudian.
Kesya sedikit mengernyit "Ganti? untuk apa? bajuku sudah cantik kan? apa kamu tidak menyukainya?" tanyanya sambil menatap pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Bukan begitu.. ini supaya pengawal di depan tidak mengenali mu saaayaaaang...!!" jawab Dirga penuh sabar. Sungguh istrinya hanya cantik saja tapi lugunya luar biasa.
"Oh.. em em.."
Kesya lantas mengambil satu stell pakaian dari paper bag kemudian berjalan menuju bilik yang berjajar di ruangan itu.
"Eii mau kemana?" cegah Dirga menarik lengan istrinya.
"Katanya suruh aku ganti, ya mau ganti lah..!" jawabnya polos.
"Kenapa harus menjauh.. di sini saja.."
"Hah,?" Kesya mengedipkan matanya kerap, gadis itu merasa canggung "Di sini? a aku malu.." sergah nya kemudian.
"Malu sama siapa? aku suamimu, aku bahkan sudah menyentuhnya" sambung Dirga.
"T-tapi aku belum pernah melepas bajuku di hadapan mu Kakak..!! aku malu.. jangan protes, sekarang berbalik lah aku akan mengganti pakaian ku di sini.. hus, hus.." ujar Kesya sambil mengibaskan tangannya kecil.
"Sudah!" Kesya memberi aba-aba setelah mengganti pakaian nya.
"Benar kamu jadi ikut hm? atau berubah pikiran?" tatapan mata Dirga terlalu ke bawah karena istri kecilnya belum memakai heels nya kembali.
"Ayok, ajak Kesya pergi!"
Pemuda itu lantas berjongkok kemudian meraih sepatu heels milik istrinya lalu memakaikannya pada kaki mulus istrinya. Sedang Kesya hanya diam menatap suaminya yang sangat sangat terlihat nyaris sempurna di mata nya.
Tampan, cerdas, multi talent, cekatan, humoris, perhatian, dan mungkin masih banyak lagi kelebihan pemuda itu.
"Sudah selesai.. kita jalan sekarang.. apa istri ku sudah siap berlari?" tanya Dirga seraya berdiri kembali. Dan Kesya tersenyum mengangguk tanda ia siap.
Dirga memasang maskernya kembali, tangannya mulai menggenggam tangan istrinya kemudian menariknya keluar dari ruangan itu sedang Kesya berjalan menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya, tiba di luar sudah ada Ucup menatap nya penuh tanya tapi Dirga tetap melewati temannya itu seraya berkata "Kita pergi sekarang..!!" bisiknya di telinga Ucup sembari tetap melanjutkan langkah.
"Ok..!!"
Dirga Kesya melewati Briyan dan kedua pengawal tanpa ragu, karena pemuda itu yakin dengan berjalan seperti biasa justru akan membuatnya lebih mudah mengecoh.
__ADS_1
Sedang di tempatnya Briyan tampak mengernyit melihat kedua saudara nya keluar bergandengan.
"Mau kemana mereka.?"
Dan ternyata salah satu dari pengawal mulai curiga dengan sepasang kekasih yang baru saja keluar dari toilet wanita. Jika di lihat lagi dengan seksama tubuh sepasang kekasih itu sangat familiar di matanya.
"Den Briyan.. kenapa non Kesya lama sekali..? aku akan memeriksanya.." ucapnya yang lalu melangkah masuk ke dalam toilet. Dan benar saja tak ada satupun orang di dalam sana.
Dengan gerakan yang sangat sigap pengawal itu kembali keluar dan berteriak "Kejar non Kesya..!! gadis yang barusan bersama dengan seorang pemuda itu non Kesya..!" ucapnya seraya berlari mengejar.
"Kejar pak..!! cepat..!!" teriak Briyan yang sepertinya hanya acting. Pemuda itu juga sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk siap jika sampai adiknya di bawa lari suaminya, dan bicara tentang keuangan Kesya nantinya, dia sendiri yang akan menjaminnya.
Ucup berlari ke arah kanan bisa jadi menemui sepupunya yang masih berada di dalam ruang kerja nya. Sedang Dirga Kesya ke arah kiri mereka tampak mempercepat langkahnya bahkan sudah berlari sambil terus bergandengan.
Tap tap tap tap ...!! derap langkah cepat mereka menjadi backsound ketegangannya.
"Non..!! berhenti..!!" salah satu pengawal meneriaki mereka.
Namun sepasang suami istri rupawan itu masih terus mempercepat larinya. Dan si cantik Kesya terlihat menikmati kejar-kejaran itu meski harus berlari dengan heels di kakinya.
"Kakak.. ini seru.. kita seperti pasangan mafia di film-film..?" ucapnya di sela larinya.
"Hm..? tentu saja.. kau mafia hatiku.. yang mampu merobek jantung ku.. membombardir hidupku.. aku tertembak kerlingan mata mu.. terjerat rantai cinta mu.. I love you sayang.." sahut Dirga sembari terus melanjutkan langkah larinya.
Senyum seringai nakal tertoreh di masing-masing wajah sepasang suami istri itu "Apa sepatumu menyiksa mu sayang..?" tanya Dirga dengan napas yang tersengal-sengal.
"Tidak juga.. sepatuku mahal.. tidak akan menyakiti pemiliknya.." balas gadis itu yang juga terengah-engah.
"Non Kesya.!! tolong berhenti.!!"
Seluruh pasang mata di gedung megah itu menatap penuh tanya ke arahnya, bagaikan sedang menonton shooting film action romantis mereka tampak menikmati.
Dan lagi-lagi Dewi Fortuna berpihak pada sepasang suami istri itu, mereka berhasil memasuki lift kosong yang langsung tertutup TING.
"Huuuhhh..." deru napas Kesya.
"Haaah..." gemuruh napas Dirga.
Kepala keduanya kini menyandar di dinding lift dengan dahaman napas yang masih memburu, tangannya masih saling bergandengan mata mereka saling menatap lengkap dengan tawa kemenangan.
"Kakak.." panggil Kesya yang lalu berhenti karena tampak menelan saliva yang mengganjal akibat larinya "Kita mau mau kemana setelah ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Kita ketempat di mana hanya ada kita berdua saja, menikmati waktu kita bersama, aku berkerja mencari nafkah, dan kamu menyambut ku dengan daster pendek mu.." kalimat Dirga yang terhenti karena deru napas yang masih memburu "Pasti itu sangat menyenangkan sayang.." lanjutnya tersenyum.
"Iyah.. Kesya mau.. bawa Kesya kemanapun Kakak pergi.." sambung gadis itu yang juga tersenyum.