
"Lalu..?"
Melihat jawaban singkat suaminya Raya melemparkan tepukan di pipi Reiner "Lalu apa? kenapa kamu tidak merespon ku? jawab semua pertanyaan ku dulu, baru kamu tanya balik.." emosi nya.
"Aku lupa kamu tanya apa tadi.." ucap Reiner sambil tertawa.
"Rei.." ucap Raya geram.
"Sudahlah aku pergi saja.!" Raya beranjak dari duduknya namun tangan kiri suaminya menahannya "Lepas.." ketus nya ngambek.
"Ok.. ok.. maafkan aku.." Reiner mempertahankan posisinya dengan lingkaran tangannya.
"Jadi kamu takut aku selingkuh? takut aku seperti suaminya Irma begitu?" tanyanya.
"Jangan.. amit-amit.." Raya mengetuk kepalanya lalu mengetuk kepala suaminya membuat sang suami tertawa kecil.
"Kenapa tertawa? jawab Rei..!"
Reiner menatap kuat istrinya "Aku tidak tahu bagaimana orang beralasan untuk bisa selingkuh dan merayu wanita lain.. tapi menurut ku.. tubuh seseorang yang kita cintai dengan tulus akan menjadi candu bagi tubuh kita.. bukan kah begitu? apa kamu tidak merasakan nya? setiap jauh rindu dan saat dekat ingin bercumbu.." ucapnya.
"Dengan memilikimu seutuhnya seperti sekarang ini, aku sudah merasa cukup puas.. tidak perlu harus bergaya ini bergaya itu asalkan melakukan nya dengan orang yang kita cintai pasti akan terasa nikmat juga.. dan tolong hilang kan pikiran negatif mu padaku.. itu sangat melukai ku.." tambahnya seraya mencubit hidung bangir istrinya.
Hati Raya cukup tersentuh mendengar jawaban suaminya karena memang selama ini pun Reiner tidak pernah berbuat macam-macam.
"Maaf kan aku melukai mu.. aku hanya takut saja.." sambung nya.
"Emmh.. oya Rei.. kamu sudah pecat Shintia kan?" tanyanya kemudian.
"Mungkin sudah.. yang tahu itu bagian personalia, aku tidak mau tahu tentang hal itu.. pekerjaan ku saja sudah banyak sayang, please jangan suruh aku mencampuri urusan orang itu.. yaah.." jawab Reiner dengan wajah penuh harap.
"Iya iya.. sekarang kita makan, kamu lapar kan?" ajak Raya menawarkan dan Reiner mengangguk.
Mereka pun segera memulai ritual makan siang bersama seperti biasa. Dan setelah selesai Raya membereskan tempat makannya untuk di bawa pulang kembali. Sedang Reiner mulai berkutat dengan map yang masih menumpuk di mejanya.
Hari menjelang sore di jam dinding besar ruangan itu menunjukkan pukul 14:30 tak terdengar suaranya namun dari jendela besar ruangannya Raya bisa melihat cuaca gelap di luar dan ternyata sudah mulai turun hujan seketika ingatannya tertuju pada putri rewelnya.
"Rei.. hujan.. gimana sama Kesya? bukannya dia pake motor kan?" cemas nya.
__ADS_1
"Biar saja.. ada kedua kakaknya.. kamu chat saja Briyan biar mereka pulang dengan taksi saja.." sahut Reiner dengan mata yang menatap layar laptopnya.
Raya pun melaksanakan ucapan suaminya ia mengirim pesan teks pada putra sulungnya.
📤"Sayang.. ajak adik mu pulang dengan taksi ya.. jangan sampai kena hujan.." tulisnya.
Dan tak lama notifikasi pesan teks berbunyi.
📥"Kesya sudah pulang dengan Dirga mom.. Briyan masih ada pelajaran tambahan" balas putranya.
Raya bergolak menatap suaminya yang masih sibuk dengan pekerjaannya "Kesya sudah pulang sama Dirga Rei.. semoga saja gak kehujanan.." harap nya.
"Iya.. Dirga tahu sekali yang harus di lakukan ke adiknya.. jadi tidak perlu cemas begitu.." sahut Reiner tanpa menoleh.
...----------------...
Jauh di tempat lain Dirga menepikan motornya ke sebuah kafe karena hujan yang turun dengan tiba-tiba tanpa aba-aba itu bisa membuat gadis belia di belakangnya sakit jika terus di lanjutkan laju motornya.
Dirga membuka helm nya lalu membantu Kesya turun dari motor sebelum kemudian menariknya masuk ke dalam kafe. Kafenya cukup santai namun sedikit ada sentuhan romantis. Yah lumayan bagus untuk anak SMA yang masih tahap pendekatan.
"Iya.." gadis itu mengangguk.
"Kamu duduk lah di sini hm..! Kaka pesan kan minum.. ok.." suruh Dirga kemudian.
Kesya menurut ia duduk di sofa yang cukup jauh dari meja kasir dan cukup sepi karena hujan. Apa lagi jam ramai di kafe itu memang hanya malam hari saja. Secara kan pelanggan nya anak sekolah.
Setelah memastikan Kesya duduk dengan aman pemuda itu pun memesan dua porsi menu utama di kafe tersebut yaitu siomay ia juga memesan air mineral dengan dua gelas americano panas di bagian kasir karena prosedur nya memang begitu.
Dirga menggesek kartu melakukan transaksi pembayarannya. Dan kembali ke sofa di mana adik sepupunya duduk.
"Kamu kedinginan?" tanyanya saat melihat ekspresi wajah Kesya yang membeku.
"EmEm.." Kesya mengangguk dengan kedua tangan yang menyatu karena dingin.
Setelah duduk di sebelah Kesya Dirga meraih tangan gadis itu ia lalu menggesekan telapak tangannya ke kedua tangan Kesya yang saling menyatu.
__ADS_1
"Dengan begini Dede gak kedinginan lagi.." ucapnya tersenyum.
Sedang gadis itu hanya diam dengan wajah gugupnya. Jantung nya terus menerus berdebar kencang. Di iringi perasaan aneh tentunya.
Wajah damai Dirga yang masih di penuhi bulir air hujan begitu menyentuh hatinya hanya karena insiden tidak sengaja pagi tadi kini tatapan Kesya berubah. Gadis itu menatap Dirga sebagai seorang lelaki. Bukan seorang sepupu lagi.
"Kenapa Ka Dirga biasa saja padaku? seolah tidak pernah terjadi apa-apa pagi tadi.. apa kak Dirga memang tidak pernah mau mencium ku? apa aku saja yang salah mengartikan perbuatannya tadi pagi?" batinnya.
Dirga melihat perubahan sikap Kesya yang tidak seperti biasanya "Kamu kenapa jadi pendiam begitu hm?" tanyanya.
"Kesya gak apa-apa kok.. Kesya cuma kedinginan saja" sanggah nya.
Hujan di luar semakin deras, sepertinya masih harus menunggu lama untuk bisa pulang. Hawa dingin dari AC yang belum di matikan membuat ruangan itu semakin membekukan kedua insan rupawan itu.
Dirga menatap wajah Kesya yang juga menatapnya lekat dan kini kedua insan rupawan itu saling bertukar pandang. Entah kenapa sejak pagi tadi Dirga seolah punya keberanian untuk menunjukkan perasaan yang selama ini di pendam. Hingga kini wajahnya bergerak tanpa aba-aba memangkas jarak di antara mereka.
Sedang gadis yang ia tuju terlihat memejamkan matanya kuat kuat seolah takut tapi juga tidak menolak nya "Apa kali ini Ka Dirga mau mencium ku?" batinnya.
Dirga menghentikan gerakannya tepat di depan wajah gadis itu hingga kini hembusan nafas gugup Kesya bisa mengenai hidungnya.
"Kesya Kesya.. kenapa kamu merem begitu..?" batinnya.
Senyum kagum mengembang di wajah tampan nya saat menatap ekspresi gadis lucu itu. Ia pun beranjak dari posisinya menarik kembali wajahnya menjauh dari Kesya.
Lama tak juga mendapat sentuhan apa pun Kesya membuka matanya dengan kilat lalu mengedip-ngedip beberapa kali "K Ka Dirga ma mau apa?" tanyanya gugup.
Dirga tersenyum "Kaka gak mau apa-apa.. memang nya Dede pikir Kaka mau apa?" goda nya.
Sepertinya gadis itu bersedia jika sampai Dirga mencium nya tapi pemuda itu tidak akan melakukannya sebelum ia mengakui perasaannya dan Kesya menerimanya.
Tak lama dari itu pesanan mereka sampai di mejanya "Silahkan.." ucap waiters pada mereka.
"Ok terimakasih.." Dirga tersenyum. Dan sang waiters mengangguk.
"Dede makan dulu deh.. biar gak kedinginan lagi.. yah.." usul nya kemudian.
"Iya.. "
__ADS_1