
Ku pejamkan mata ini, mencoba menikmati perasaan menyedihkan yang ku alami. Bukan rasa kesepian atau bosan yang sering ku alami. Tapi rasa penasaran pada seseorang yang tak bisa dilupakan.
Harusnya kusadari perasaan ini hanya mengundang sakit dan air mata yang dulu pernah ku pendam. Namun semakin ku mencoba melupakan semakin tersiksa ku menahan perasaan ini. Seperti ingin menangis, tapi tak bisa menangis.
Bukannya ku tak pernah mencoba untuk pergi, tapi setiap langkah yang kupilih selalu saja ada kerinduan untuknya. Ya..kerinduan yang menghampirinya. Mungkin akan terdengar agak berlebihan namun ku tak bisa lepas dari bayangannya.
Tidak bisa melepasnya! Oh tuhan, sungguh di setiap hembus nafasnya selalu terdengar di telingaku, setiap senyum diwajahnya tak pernah lepas dari setiap kedip mataku dan semua cerita tentangnya selalu ada didalam pikiranku.
Senyum? Ya.. senyumannya itu. Senyuman yang membuat hati ini tak bisa berpaling. Bagaimana aku bisa berpaling jika senyum yang ku cari ada di dirinya. Senyumnya satu-satunya yang bisa membuatku bahagia walau aku tau senyum itu bukan untukku bahkan bukan milikku.
Apakah aku sudah gila? Mungkin iya mungkin juga tidak. Apakah ini adalah cinta? Entah aku menyebutnya apa, hanya saja setiap ku melihat senyumnya dan setiap ku mendengar tawanya hati ini pun ikut bahagia. Namun setiap kali dia sedih murung dan kecewa hati ini ikut sakit dan merasa tak bahagia. Padanya, orang yang di kenal sebagai adik sepupu ku yang kini berada di balik sekat dinding kokoh ini.
...By_Dirga Pratama....
...----------------...
Satu bulan berlalu dan selama satu bulan ini Kesya terus menerus di buat keder dengan perlakuan manis Dirga namun tidak juga menyatakan apapun padanya.
Dan tanpa di buat-buat kini perasaan mereka saling terpaut hanya saja masih mereka sembunyikan dari siapapun bahkan dari diri mereka sendiri. Mereka terus menekan rasa yang tumbuh setiap harinya, dan itu mulai menyiksa si belia Kesya.
Selama satu bulan ini juga, Jho sering membuat Dirga cemburu karena sikap nya yang berubah ubah. Semenjak Kesya mengingatkan kembali janji monyetnya, rasa yang dulu pernah ada di dalam hati pemuda itu seakan menyala lagi.
Meskipun dia juga masih sangat menyukai Zaline, yaa.. tak heran jika di lihat lagi dari siapa keturunan nya, bukannya Rafa sang ayah juga pecinta seribu wanita?
Dan dengan Briyan? selama satu bulan ini pemuda tampan itu selalu di pertemukan secara tidak sengaja dengan si cantik Zaline di area perpustakaan, karena kedua insan itu memang memiliki hobi yang sama.
Sama-sama gemar membaca, pendiam dan cerdas yang luar biasa hingga tidak heran jika mereka saling nyambung saat tidak sengaja bertemu kata.
Jika di tanya tentang perasaan cinta mereka, mungkin belum ada, yaa hanya sekedar saling mengagumi paras dan kepintaran masing-masing saja. Apa lagi pribadi Briyan bukan lah pemuda yang mudah jatuh cinta.
Tibalah saatnya sekolah mereka mengadakan camping untuk para murid baru. Tentunya kegiatan ini sangatlah menarik bagi si cerewet Kesya. Gadis itu benar-benar semangat jika sudah akan melakukan hal yang baru.
Dan kini gadis itu berjalan dengan wajah yang riang gembira menuju kamar kedua orang tuanya. Tentu saja untuk meminta izin. Meskipun si kecil Kesya tidak pernah menurut dengan pekikan sang ayah tapi anak itu selalu meminta izin sebelum melakukan sesuatu.
Click seperti biasanya tanpa mengetuk pintu Kesya masuk ke dalam kamar dan jeng jeng dia mendapati sang ayah tengah asyik mencumbu ibunya.
"Daddy....!!" teriaknya posesif.
__ADS_1
Dan sang ayah hanya tersenyum karena hal itu sering terjadi, putrinya itu memang sering memergokinya.
"Dede.. sini masuk.." perintah Reiner kemudian.
Kesya melangkah menuju ranjang super king size mendekati kedua orang tuanya yang masih memperlihatkan bibir basahnya.
"Kenapa setiap aku ke kamar ini, kalian sedang ciuman hah..? apa kalian tidak bosan..?" tanya gadis rese itu cemberut.
"Dan kenapa setiap datang ke kamar ini, putri Daddy yang bawel ini tidak mengetuk pintu hm.?" jawab sang ayah sembari meraih tubuh kecil putrinya.
"Itu karena kalian tidak pernah menguncinya.."
"Sini baring..." ucap Reiner menepuk bantal di sampingnya menawarkannya pada Kesya.
Kesya merangkak naik ke kasur ia masuk di antara tubuh ayah dan ibu nya "Kesya di tengah saja.. biar kalian tidak bisa ciuman lagi.." sambung nya.
"Iya deh.. ada apa..? Dede mau bobo di sini lagi..?" Raya bertanya sambil membetulkan posisinya senyaman mungkin.
"Iya.. Kesya gak bisa tidur kalo Daddy gak menepuk-nepuk ku.. tapi Daddy tidak juga datang ke kamar ku.. menyebalkan..!!" gerutu gadis manja itu.
"Oya Daddy.. aku mau camping.. dan Daddy harus mengizinkan ku ok.." lanjutnya tanpa basa-basi.
Kesya sedikit mengernyit "Tumben Daddy tidak melarang ku? apa Daddy sengaja ingin aku jauh.. lalu bisa bebas bermesraan dengan mommy,..?" tukasnya.
"Ada kak Dirga mu.. Daddy percaya dia bisa menjaga mu di sana.. Daddy juga akan suruh kak Briyan mu ikut juga.." sahut Reiner.
"Oya? tapi bukannya ini hanya untuk murid baru saja.. dan kak Briyan bukan anggota OSIS ataupun dewan Ambalan.." sambung Kesya kemudian.
"Kamu lupa siapa Daddy mu hm..? perintah, ucapan, usulan, permintaan Daddy bisa terlaksana hanya dengan satu jentikan jari saja.." sombong Reiner menunjukkan kekuasaan nya.
Kesya tersenyum "Terimakasih Daddy.. sudah menjadi Daddy ku.. Daddy yang selalu bisa menjentikkan jarinya untuk memberikan kenyamanan Kesya.." ucapnya tulus.
...----------------...
Satu Minggu kemudian di halaman parkir sekolah Dirga sudah bersiap dengan perlengkapan camping nya. Terlihat Yuda sang ayah datang mengantarnya, sudah satu Minggu ini Yuda di Indonesia.
"Adik kamu ikut juga kan Ga?" tanyanya kepada putranya.
__ADS_1
Dirga mengangguk "Ikut Pi.." jawab nya.
Tatapan Yuda lalu beralih ke gadis cantik nan rewel siapa lagi kalau bukan Kesya asmara putri anak gadis dari adik tirinya "Oh itu dia.. sayang.. sini.." seru Yuda memberikan tanda panggil dengan tangannya.
Om Om tampan itu sangat menyayangi semua putra putri adik tirinya meskipun dahulu Yuda dan Reiner sering berseteru bahkan sampai saling memukul hanya karena memperebutkan satu wanita yang sama yaitu Raya yang sekarang menjadi istri Reiner.
Tapi masa kanak-kanak nya sudah berakhir kini Yuda pun sudah beristri dan mempunyai satu putra yang sangat tampan dan cekatan. Itu lah yang menjadi takdir hidup nya.
Wajahnya sumringah melihat keponakan kesayangannya berlari menuju nya "Papi Yuda.." sapa Kesya padanya. Si belia itu memang memanggilnya dengan sebutan Papi.
"Sayang.. huhuhu.. anak papi makin cantik saja.." sapa balik Yuda seraya meraih tubuh kecil keponakan nya.
"Gimana sudah bawa baju hangat hm?" tanyanya. Dan gadis itu tersenyum mengangguk seraya melekatkan pandangan pada lelaki tampan yang di panggilnya Papi.
"Kenapa dulu Papi Yuda gak cegah grandpah menikahi grandmom ku..? jadi kak Dirga gak perlu jadi sepupuku kan..!'" ucapnya dalam hati.
"Dede kenapa melamun? apa Dede takut?" Yuda melihat ekspresi wajah Kesya yang mulai berubah sendu.
Gadis itu menggeleng "Gak Papi.. Kesya berani.. Kesya suka camping.." sanggah nya.
"Om.." sapa Briyan yang juga menghampiri nya.
"Briyan juga ikut..?" tanya Yuda menatap wajah pemuda itu.
"Iya Om.."
"Jaga adik mu.. jangan biarkan dia sendirian di sana.. kalian gantian berjaga.." pesan Yuda pada kedua Kaka Kesya.
Dan kedua pemuda itu mengangguk.
...
Yuda Hardiansyah seniman terkenal ayah Dirga, sosok pria hangat terbuka, dan supel....
...----------------...
__ADS_1
Untuk bab ini aku tulis sambil menikmati perjalanan menuju ke pantai.. jadi maaf jika ada typo manja di setiap sudutnya.. semangatin author dengan Like nya ya..š¤