
"Kenapa? kamu takut aku memakan mu? bukannya kita sering jalan bareng? makan bareng? ke perpustakaan bareng? kamu canggung padaku?" cecar Briyan kemudian.
"Ti tidak juga..!" sergah Zaline menggeleng kasar.
"Bukan kah, seharusnya kamu keluar sebelum aku memakai baju? kenapa setelah aku memakai baju kamu mau keluar? apa kamu lebih menyukai ku dengan handuk saja?" goda Briyan tersenyum sindir.
"Uh? ti tidak begitu..!!" sergah Zaline sekali lagi.
Pemuda itu lantas melangkah lebih dekat lagi namun dengan reflek nya Zaline melangkahkan kakinya mundur seiring dengan mendekatnya pemuda itu.
"K-ka Briyan ma-mau apa.?!" tanyanya gugup.
Briyan menampilkan smirk dinginnya kembali "Aku tidak akan berbuat apa pun padamu.." jawab nya yang lalu meraih pergelangan tangan Zaline kemudian menariknya berjalan menuju sebuah pintu yang tertutup.
Click dengan perlahan pemuda itu mendorong pintu tersebut.
"Masuk lah.. aku mau menunjukkan sesuatu padamu.." ucapnya. Dan gadis itu menganga terkejut.
"Waaah... apa ini koleksi buku-buku Kaka..?" ceplos Zaline saat melihat berbagai jenis buku yang berjejer rapi di beberapa rak, mungkin lebih tepatnya lagi perpustakaan kecil yang terletak di dalam kamar nya.
"Iya.. kamu mau mengambilnya..? bukannya kamu suka membaca..? ambillah.." sambung Briyan kemudian.
"Apa boleh..? pasti buku-buku ini limited edition kan ka..?" timpal Zaline dengan pandangan yang mengelilingi seluruh sudut ruangan itu. Tangannya mulai menyentuh deretan buku-buku tersebut.
"Oh.. senang nya.. punya koleksi seperti ini.." ucapnya.
Sedang Briyan masih menatap lekat wajah Zaline penuh arti, pemuda itu menikmati raut senang gadis itu membuatnya reflek menorehkan senyuman manis di wajah tampan nya.
"Kamu boleh ke sini setiap hari.. bebas.. anggap saja ini semua milik mu.. aku senang melihat mu di sini bersama ku.. berdua dengan mu seperti ini, aku menyukainya.." ucapnya tulus. Dan kalimat itu sudah di pikirkan matang-matang dari sebelum ia meminta bantuan pada Dirga.
"Hah.?" Zaline terlonjak dengan penuturan pemuda itu. Hingga kini kedua mata nya membulat sempurna.
"Kenapa.? kaget.? pria tampan seperti ku berbicara seperti itu padamu?" tanya Briyan lagi. Dan gadis itu tak berkedip, meskipun beberapa bulan ini mereka dekat tapi Zaline masih tidak terpikirkan untuk bisa mendengar kalimat gombalan seperti itu dari mulutnya.
"Kamu kenapa diam saja? kamu tidak mau memilih nya? aku juga mengoleksi banyak novel.. kamu tidak mau mengambilnya?" tanya Briyan sekalian mengusul.
"Boleh kah?"
Briyan mengangguk dengan bibir yang tersenyum.
Melihat hal itu kemudian Zaline melangkah ke deretan buku yang memperlihatkan ciri khas cover novel. Setelah beberapa novel di ambil dan di letakkan kembali tiba-tiba keningnya mengerut saat mengambil sebuah novel yang sepertinya novel erotis.
"Ini..." ucapnya menatap lekat buku bersampul biru itu.
"Oh.. ja-jangan yang ini.." Briyan merebut novel tersebut dan menyembunyikan nya di belakang tubuhnya.
Senyum kikuk menjadi pelengkap kegugupan pemuda itu "Ini punya Dirga.. bukan punya ku.." ucapnya ngeles.
"Ka Dirga..? bukannya Ka Dirga gak suka baca buku yah.? dia lebih suka melukis atau membuat komik..?" sambung Zaline bertanya dan pertanyaan itu sangat dia yakini.
"Uh..? dari mana kamu tahu tentang Dirga..?" tanya balik Briyan dengan kening yang mengerut.
"Hhm..? aku..? aku... tahu dari artikel ketua OSIS pas di SMP dulu.. aku pernah baca itu Kaka.." jawab Zaline gugup. Jangan sampai Briyan tahu kalau gadis itu pernah menyukai Dirga selama tiga tahun.
__ADS_1
"Oh.."
"BRIYAN.. SAYANG..!!" teriakan dari seorang wanita dan suaranya terdengar dari balik pintu ruang tersebut. Dengan gerakan yang sangat cepat Briyan menutup rapat pintu berhiaskan buku-buku itu.
"Mommy tidak boleh memergoki ku bersama seorang gadis di kamar ini.. dia pasti berpikir macam-macam.. meskipun sebenarnya iya.." gerutunya dalam hati.
"Ka Briyan? kenapa di tutup?" tanya Zaline melotot kaget seraya mendekat.
"Sssuuuuutttt!!!" Briyan meraih wajah gadis itu lalu membekap mulutnya membuat gadis itu membulatkan matanya canggung, bagaimana tidak? saat ini seorang pemuda tampan menempatkan tubuh nya ke dalam dekapan hangat. Sungguh jantungnya kini berdebar kencang tapi ada rasa nyaman di sana.
"BRIYAN,.. sepertinya tidak di kamar.." ucap seorang wanita di balik pintu. Kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh dan menutup pintu kamar utama nya.
"Huuuh..." Briyan menghembuskan nafas lega.
Namun sepertinya tubuh gadis dalam dekapan nya masih membuatnya nyaman. Aroma wangi shampoo juga conditioner yang tercium begitu kuat di hidung bangir nya. Perlahan bibirnya mendekat ke pipi kanan gadis itu, gadis yang masih terdiam dalam dekapan hangat nya. Hingga kini bibirnya menyentuh pipi chubby itu.
"Aaaawww...!!!"
Satu injakan menghentak di kaki Briyan membuatnya meringis kesakitan.
"K-ka Briyan..! jangan kurang ajar.!" Meski terdengar memekik namun wajah Zaline masih terlihat gugup. Tak bisa gadis itu pungkiri ia pun merasa nyaman dan menginginkan nya.
"Maaf..." ucap enteng dari mulut Briyan setelah mencium pipi seorang gadis tanpa izin.
"Aku.. aku harus pergi.." pamit Zaline gugup seraya melangkah.
"Mau kemana?" Briyan meraih kembali tangan gadis itu "Aku masih mau kamu di sini.." lanjutnya dengan tatapan yang melekat penuh arti.
"Apa apaan ini? ada apa dengan Ka Briyan?"
"Aku menyukaimu.." sambar Briyan kemudian.
"Hah.?" mata Zaline tak berkedip, seorang pemuda baru saja menyatakan perasaan nya, dengan cara yang tidak romantis sama sekali baginya. Dan suka? gadis itu juga merasakannya tapi tidak terpikir sama sekali untuk mendengar pernyataan suka dari seorang Briyan.
"Aku tahu ini mengejutkan.. tapi jawab lah sekarang juga.. aku tidak akan membiarkan mu pergi.. sebelum kamu menjawab nya" imbuh Briyan memaksa.
"T-tapi.."
"Apa?" Briyan menaikan satu alisnya.
"Kita ini berbeda Kak.. menjadi teman mu saja.. aku sudah sangat senang.. aku tidak berani menghayal lebih jauh lagi.." balas Zaline menurunkan pandangan nya.
"Ini nyata.. bukan khayalan.. sekarang katakan aku menerima mu Briyan.. aku mau menjadi pacarmu briyan.. seperti itu.. ayok katakanlah.. aku tidak memberi pilihan lain.. hanya itu yang harus kamu katakan padaku.." sambung Briyan penuh paksaan.
"Hah?" Zaline mendadak mendongakkan wajahnya lalu menampilkan kerutan di kening "Kalau begitu, kenapa harus bertanya? kalau jawabannya hanya itu saja..?" tanyanya protes.
Briyan lantas meraih tangan Zaline yang satunya lagi, kini mata mereka terus menerus saling bertemu "Aku mau mendengarnya dari mulut mu.. sekarang katakan lah.." ucapnya pelan namun penuh paksaan.
"Aku butuh waktu.. boleh tidak aku meminta waktu satu hari saja untuk menjawabnya..?" pinta Zaline dengan tatapan nanar nya.
"Aku tidak akan menanyakan apapun lagi.. aku anggap keraguan mu itu.. tanda kamu menyukai ku.. jadi mulai sekarang, kamu kekasihku.." putus Briyan seenaknya.
Zaline melotot "Ke-kenapa bisa begitu?" protesnya.
"Bisa saja.. ini keputusan ku.."
__ADS_1
"Baiklah terserah.." lirih Zaline. Tapi meskipun terkesan terpaksa gadis itu juga sangat sangat menyukainya. Jika tidak ada Briyan mungkin Zaline sudah melompat lompat kegirangan.
...----------------...
Beberapa saat kemudian di tempat lain, seorang gadis cantik memasuki kamar, dengan langkah gontai gadis itu menuju ruang dimana biasanya sang Kakak tampan nya berada.
Perlahan Kesya mendorong pintu ruang perpustakaan kecil milik Briyan dan Jeng-jeng gadis itu mendapati kakaknya tengah mencumbu seorang gadis yang entah sejak kapan.
Terlihat tangan pemuda itu sudah melintasi tengkuk gadis nya, dengan mata yang terpejam mereka nampak menikmati kecapan demi kecapan bibir mereka.
"KA Briyan.!!" ceplosnya melotot. Bagaimana bisa tiba-tiba Kaka tampan yang cupu, kutu buku, dan terkenal dingin itu mencium seorang gadis. Itu sangat mengejutkan bagi Kesya.
"Dede.. k-kamu.. kenapa tidak ketuk pintu dulu hah..?" pekik Briyan lengkap dengan wajah gugupnya.
Zaline menunduk takut dengan tangan yang meremas rok pendeknya "Maaf Kesya..".
Dan terdengar suara langkah kaki dari pintu kamar menghampiri mereka "Kesya.." ucapnya dan gadis itu menoleh ringan ke arah si pemanggil.
"Mommy...!" seru Kesya terlonjak begitu juga dengan sepasang kekasih di dalam ruang perpustakaan kecil di kamar itu.
"Kaka kamu kemana? mommy cari-cari gak ada.." tanya Raya seraya mendekat sebelum kemudian pandanganya beralih ke ruang perpustakaan milik Briyan.
"Loh.. ini siapa..?" tanyanya lagi menatap wajah Zaline yang masih menunduk takut.
"Emmh.. ini teman sekelas Kesya Mom.. yang di kirim pak Arif.. buat belajar bareng Kesya.." sambar gadis cerewet itu.
"Oh.. kalian cari buku di sini..?" Raya sedikit heran, biasanya ruangan itu cukup pribadi dan jarang orang lain boleh masuk, lalu tiba-tiba seorang gadis tengah berdiri di dalam sana.
"Iya Mom.." sambung Kesya yang lalu meraih tangan Zaline dan menariknya keluar "Zaline.. Ayok kita ke kamar ku lagi.. ternyata buku yang kita cari tidak ada di sini.." ucapnya acting.
"Iya.." sahut Zaline menurut.
Raya hanya menatap kepergian kedua gadis itu tanpa bertanya apapun lagi.
Sedang Briyan masih mematung di tempatnya dengan degup jantung yang masih kencang tentunya.
"Aku ceroboh.. pintu kamar ku tidak terkunci.. untung Kesya yang memergokiku.. kalau sampai Mommy.. pasti Mommy juga akan menikah kan ku.."
...----------------...
Sementara di dalam kamar Kesya, gadis itu menatap Zaline dengan tatapan menusuk.
"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Kaka ku? sejak kapan kalian cium ciuman seperti itu.?" cecar Kesya setelah menutup pintu kamar nya.
"Maaf Kesya.. aku lancang.. tapi aku..."
Tubuh gadis itu bergetar seolah Kesya mau memakannya sedang Kesya mulai melepaskan tawa yang sedari tadi ia tahan.
"Santai saja lagi Lin.. ya ampun kamu kok takut begitu padaku hm?" ucapnya.
"Hah? kamu gak marah padaku? gak membenci ku Kes..?"
"Aku juga tahu Ka Briyan menyukai mu.. tapi aku diam saja.. aku gak akan mengadukan hubungan kalian.. tenang saja.. ok.. ini rahasia kita.."
Zaline tersenyum.
__ADS_1
...----------------...