
Dirga mengelap ujung bibir dengan punggung tangannya, sebelum kemudian di tarik kembali oleh Briyan yang masih menatapnya bengis.
"Sudah berapa lama kau sembunyikan ini dariku hah..,???" tanya Briyan dengan cengkeraman tangan di kerah jaket Dirga.
Dirga bernafas kasar "Maaf kan aku.." sahutnya.
"Bugh" satu pukulan lagi terlepas dari tangan Briyan dan kali ini mengenai hidung bangir Dirga.
"Sudah beberapa lama kamu perlakukan adikku seperti itu hah,.?? kau melecehkan adikku??" tukasnya. Tangannya meraih kembali jaket Dirga dengan tangan kanan yang mengepal ke atas seperti ingin memukulnya lagi namun Kesya merengkuh lengannya.
"Kaka.. sudah.. jangan sakiti Ka Dirga lagi.." keluh Kesya yang sudah menerjun bebaskan air matanya.
Briyan pun menoleh ke wajah sang adik dengan kerutan di keningnya "Apa kalian saling menyukai?" tanyanya memastikan. Dan Kesya mengangguk mengiyakan.
Mata Kesya terpejam kuat saat tangan Briyan melayang di udara seakan ingin menamparnya Gep Dirga mencekal "Kamu boleh pukul aku.. tapi tidak dengan Kesya.. kamu tidak berhak menyakiti nya..!!" ucapnya.
"Aku menyukainya, aku mencintainya, selama ini aku menyembunyikan perasaan ku, aku juga mencoba untuk tidak melanjutkan rasaku, tapi semakin lama semakin dalam aku rasa.. aku minta maaf Briy.. aku mencintai Kesya karena dia wanita.. bukan karena dia sepupuku.." tambah nya mengaku.
"Kamu tidak akan bisa paham, karena selama ini kamu tidak pernah menyukai seorang gadis manapun.. tapi nanti kau akan mengerti apa yang aku rasakan ini.. sungguh tidak salah.." imbuhnya teratur.
Di sudut tempat itu seorang gadis menahan sesak di dadanya, mendengar pengakuan Dirga yang teramat dalam dan terlihat tulus. kini Zaline menampilkan kaca-kaca di matanya.
Sedang Briyan? pemuda itu mulai muak dengan ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Dirga ia lalu melepaskan kasar tangan yang masih menggenggamnya, kemudian menarik pergelangan tangan Kesya.
"Ikut Kaka sekarang..!!" ucapnya seraya melangkah cepat meninggalkan Dirga dan Zaline yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Tak ada percakapan lagi antara Briyan dengan Kesya dua orang kaka beradik itu enggan memulai kata satu sama lain. Di sela langkahnya Briyan merogoh saku celananya mengambil ponsel lalu menekan tombol nomor satu dan langsung tertuju panggilan pada sang ayah.
Tuuuuttt.. "Iya sayang.. kenapa..?" sapa hangat dari seberang telepon.
"Daddy.. suruh pak Andi jemput kita.. Kesya sakit.." ucapnya lantang.
Kesya mengernyitkan dahinya "Kaka.. Kesya gak mau pulang.. Kesya masih mau di sini.." protesnya. Namun sang kaka tak mengindahkan nya ia tetap menyeret tubuh rapuh adiknya.
Tak terdengar percakapan nya lagi Briyan sudah memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali, langkahnya semakin cepat menuju tenda yang sudah terlihat di matanya.
Tiba di depan tenda milik Kesya Briyan menyingkap pintu tenda dengan kasar terlihat di dalam Hilda dan Meira menatap nya kaget "Ka Briyan..?" seru mereka kompak.
__ADS_1
"Tolong bawakan tas ransel Kesya keluar.. jangan sampai ada yang tertinggal satupun barangnya" ucapnya penuh paksaan.
Meira dan Hilda sempat saling menatap sebelum kemudian melakukan apa yang di perintahkan Briyan.
Sedang di luar tenda Kesya terus menerus merengek bahkan memohon agar Briyan tidak membawanya pulang. Itu kegiatan seru yang pertama kali Kesya ikuti.
"Kaka.. Kesya mohon.. hiks.." ucapnya terisak.
Air mata yang membasahi pipinya mulai mengundang perhatian peserta kemah lainnya.
"Ternyata jadi anak orang kaya begitu ya? dikit-dikit di larang.. kasihan juga lihatnya.." bisik salah satu dari mereka.
...----------------...
Di tempat lain, sesaat setelah Briyan membawa Kesya pergi, Dirga juga sempat mengejar kedua adik sepupunya namun urung saat melihat barang bawaan Kesya yang tertinggal, pemuda itu memunguti satu persatu pakaian, handuk, skincare milik Kesya yang di jatuhkan saat mereka saling bercumbu mesra.
Wajah galak nya menciut berubah sendu, baru saja perasaannya terbalaskan sudah menemui kendala lain. Dan hal itu sempat terekam oleh mata Zaline yang masih menatapnya kecewa.
"Kesya sangat cantik, bahkan Kaka sepupunya sendiri pun menyukainya.." gumamnya pelan.
"Pasti ka Dirga sedih sekali.." tambahnya.
"Apa kamu mau tetap di sini?" tanya nya.
"Emmh.. tidak kak.. saya ikut, saya tidak hapal jalannya.. makanya saya tunggu ka Dirga.." jawab Zaline terbata. Sebetulnya gadis itu tahu jalannya hanya saja tidak tega meninggalkan Dirga dalam keadaan seperti itu.
"Cepat, ikuti langkah ku.. ini sudah malam..!" ucap Dirga ketus, masih terbawa emosi. Dan Zaline mengangguk kemudian berjalan mengikutinya.
Tiba di lokasi tenda Dirga sudah di sambut oleh satu guru pembina dengan wajah sedikit kecewa karena menghilang begitu lama, padahal seharusnya ia masih mengurus kegiatan camping nya.
"Dari mana saja kamu Ga.. Rifky sendirian.. bantu dia juga.." ucapnya sedikit ketus. Baru kali ini Dirga melenceng dari aturan.
"Baik pak.." Dirga setuju.
Satu jam Dirga mengatur kegiatan malam, karena akan ada jelajah malam yang di mulai tepat pukul 21:00 nanti.
"Ok.. persiapan selesai.. kalian sudah tahu pos kalian masing-masing kan..?" ujarnya pada seluruh anggota yang akan membantu nya.
__ADS_1
Dan mereka pun berteriak serempak "Sudah..!! Dan siap..!!" seru nya.
Dirga memeriksa jam di tangannya, ternyata masih ada waktu sebelum sibuk lagi dengan tugasnya, Dirga bermaksud menemui Kesya juga Briyan di tenda nya. Pemuda itu masih ingin menjelaskan pada adik sekaligus sahabatnya. Dan harapan nya adalah Briyan bisa memaklumi perasaannya.
Namun di setengah jalan keningnya mengerut alami saat melihat Andi dan dua orang menghampiri tenda Kesya.
"Mau apa mereka?" gumamnya sambil terus melanjutkan langkah cepat nya.
Dan tak lama Briyan menarik paksa Kesya keluar dari dalam tenda membuatnya semakin mengerutkan keningnya "Briyan.. mau kemana kalian.?" tanyanya yang kini sudah berada di hadapan pemuda dingin itu.
Briyan melirik bengis "Jangan ikut campur, kau urusi saja urusan mu sendiri.." jawabnya ketus.
"Jangan bilang kalian mau pulang hah?" Dirga menghadang jalan Briyan yang sudah menyeret kekasihnya.
"Minggir.. atau Daddy tahu hubungan kalian..?" ancam Briyan serius.
"Tapi Briy.. dengerin dulu penjelasan ku.. baru setelah itu kamu boleh pulang.." pinta Dirga dengan nada memohon. Sedang Kesya hanya diam membisu takut dengan ulahnya sendiri.
"Bisa di jelaskan nanti.. sekarang aku harus ajak Kesya pergi dari sini.. sebelum kamu merusak nya.." ucap Briyan masih konsisten dengan nada dinginnya.
Kecewa sudah pasti Dirga yang di percaya melindungi adiknya malah dia yang menjadi penjahatnya. Siapa yang tidak marah melihat adik polos nya mulai nakal? dia sendiri saja belum pernah mencium seorang gadis.
"Briyan.. tolong.." Dirga masih memohon.
Kemudian Briyan mendekat ke telinga Dirga "Lihat lah di sekeliling kita, mereka mengamati percakapan kita, jika tidak ingin mereka tahu hubungan kalian, lebih baik menyingkir sekarang juga.. atau Daddy akan segera tahu.. dan menghukum Kesya.." jelasnya mengancam.
Dirga menciut, baginya tidak masalah jika Reiner menghukumnya tapi pemuda itu tidak akan tega melihat kekasihnya di hukum. Dirga pasrah, untuk saat ini situasinya belum berpihak padanya.
"Pak.. bawa barang-barang Kesya.. kita pulang sekarang.." ucap Briyan mengatur Andi dan kedua bodyguard lainnya.
"Baik den.. silahkan.." sambung sopan Andi padanya seraya mengarahkan tangannya ke jalan yang hendak mereka lalui.
Sedang Kesya menatap Dirga penuh sesal, jika saja adegan ciuman itu tidak pernah terjadi, mungkin saat ini mereka masih bersama. Lalu bagaimana jika sampai Reiner tahu? sungguh otaknya di penuhi bayangan menyeramkan.
Kini gadis cerewet itu mulai menurut dengan aturan sang Kaka. Langkahnya berjalan ke depan namun tatapan melasnya tertuju ke pemuda yang kini menjadi kekasihnya.
...----------------...
__ADS_1
Semangati author dengan Like ya..🤗 Love you😚