
Brandon buru - buru berjalan menyusuri lorong rumah sakit, setelah mendapatkan telfon dari sang mama yang mengatakan alisha sedang berada dirumah sakit. Brandon merasa sangat panik dan kahwatir hingga melupakan tasnya yang masih tertinggal dikelas. Setelah menemukan nomor ruang rawat alisha, brandon langsung membuka pintu dan melihat sang mama yang tengah duduk disamping alisha yang masih menutup matanya sambil menangis sesunggukan.
"ma... " brandon mememgang bahu sang mama yang bergerak naik turun. Sang mama langsung menoleh kebalakang dan memeluk brandon erat.
Brandon tak mampu untuk berkata, jangan salahkan kodratnya sebagai laki-laki bila saat ini dia sedang menangis, dalam hidupnya setelah kepergian sang papa brandon adalah sosok yang menggantikan peran untuk menjaga mama dan alisha. Apapun yang terjadi brandon rela memeprtaruhkan nyawanya demi dua wanita yang sangat dicintainya. Setelah mama melepaskan pelukannya baru lah brandon menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada alisha.
" ma, alisha..." tanyanya terlihat tegar didepan sang mama.
" alisha udah gak papa don, allhamdulilah tadi mama langsung bawa alisha kesini jadi, sekarang alisha udah baikan. " jelas mama mencoba tegar.
" kenapa bisa gini? " tanya brandon ingun tahu.
" tadi alisha makan kue yang ternyata ada selai nanas didalamnya. Jadi, alerginya tadi kambuh. "
Alisha memang memiliki alergi terhadap buah nanas, jika sedikit saja alisha tak sengaja memakan buah bermahkota itu maka alisha akan merasakan sulit bernafas dan sampai hilang kesadaran. Maka dari itu mama lita dan brandon sangat ekstra menjauhkan makanan hingga segala sesuatu yang berbau nanas.
" keu? Mama beli kue nanas buat alisha? " tanya brandon heran.
" bukan mama don, kuenya dari olive. "
"olive? " tanya brandon tak percaya, karena setahunya olive dan arga tahu tentang alergi alisha. Lagian tadi olive bersama dengan dia.
" iya, tadi itu ada kurir yang nganterin kuenya. Mama juga ceroboh, gak meriksa dulu sebelum mengiyakan permintaan alisha. "
Brandon lalu kembali mengingat akan kegelisahan olive tadi dkantin, bisa jadi memang olive yang mengirimkan makanan itu, karena tadi olive juga pamit ketoilet sebentar.
" mama ada buktinya gak, kalo yang ngirim olive.
" mama yang nerima kuenya dan tanda tangan disana ada nama olive, jadi mama terima aja. "
Brandon masih mencerna setiap pengakuan sang mama, tidak mungkin mamanya akan berkata bohong padanya. Tapi, dia juga ragu jika olive tega melakukan hal bodoh itu.
__ADS_1
Lamunannya buyar ketika mendengar suara alisha yang baru bangun dari tidurnya.
" mama, lisha haus. " pintanya dengan suara serak, mama mengambil air minum dinakas dan meyerahkan pada alisha.
Brandon menghembuskan nafasnya lega melihat adik kesayangannya telah sadar.
" gimana keadaan kamu sha? " tanya brandon pada alisha yang berada disampingnya.
" baik, lisha gak papa cuma pusing dikit. " jawabnya santai
" kok abang gak ganti baju dulu sih. Jorok banget deh, pantesan aja kak olive gak naksir sama kakak. " celetuk alisha sewot dan membuat brandon membelalakan matanya lebar, saat sedang sakit seperti ini saja masih judes kek tante-tante. Brandon dibuat heran dengan tingkah aneh adiknya itu.
" udah dong sha, kamu lagi sakit gini masih aja judes sama abang, kamu gak tau apa kalo abang itu khawatir denger kamu sakit. " tutur mama menengahi
" oh ya? Berarti bang brandon sayang dong sama alisha? " tanyanya mentap brandon dengan mata yang sengaja disipitkan
Brandon tak menjawab pertanyaan tak berfaedah alisha. Sudah jelas dan sangat jelas jika dia sangat menyayangi alisha lebih dari apapun. Dasar alishanya saja yang tidak peka atau pura-pura tidak peka.
"kok diem. " ujar alisha menyebikkan bibirnya. " abang gak sayang ya sama alisha. " rengeknya hampir menangis. Sedangkan brandon masih tetap diposisi awalnya hanya diam tak berkata. " kalo abang sayang sama lisha peluk sekarang. " pintanya merentangkan keduatangannya lebar dan langsung dibalas pelukan oleh brandon. Mama yang melihat keakraban anak-anaknya terlihat sangat bangga dan juga bahagia, semog akan selalu seperti ini setiap harinya.
" gimana kamu suka? " tanya yuri pada maria yang tengah mencoba gaun mewah dibutik terkenal. Maria yang sudah lama tidak mampu membeli gaun mewah seperti ini hanya mampu menganggukan keplanya antusias.
" ya udah ambil aja nanti aku yang bayar, dan yah kalo ada yang kamu suka, ambil aja gak usah sungkan. Aku yang akan bayarin semuanya. " sabrina mengedipkan sebelah matanya kearah maria yang tengah bengong tak percaya.
Sabrina terkekeh melihat ekspresi maria " gak usah bengong, gue gak bohong kok. " maria sontak menganggukan kepalanya antusias dan berlari memilih-milih deretan baju yang menarik perhatiannya. Rezeki nomplok mah, sayang kalo ditolak.
Saat maria sibuk memilih pakaian yang diingikannya, sabrina tampak tersenyum senang karena rencananya berhasil.
Clik
Mr. F
__ADS_1
Kerja bagus, besok kamu bisa menemui saya ditempat biasa.
Sabrina kembali menyunggingkan senyum liciknya ketika mendapat balasan dari seseorang yang ia beri nama Mr. F itu.
"rin, gue udah selesai." ujar maria yang telah membawa beberapa baju ditangannya.
"oh, udah selesai. Yuk, bayar. " sabrina berjalan menuju meja kasir diikuti maria.
"semuanya 65 juta mba. " ucap mba kasir berwajah bulat itu setelah mentotal semua baju maria. Maria sedikit terkejut mendengar nominal yang disebut mba kasir, belum pernah sepanjang hidupnya menghabiskan belanja sebanyak itu sekalipun saat papa masih hidup, paling maximal sekali belanja hanya 20 juta.
Sabrina mengeluarkan kartunya dan menyerahkan kepada mba kasir dengan santai tidak kaget sedikitpun.
"ini mba kartunya, terimaksih. " sabrina hanya tersenyum merespon ucapan sang kasir.
" yuk, kita lanjut jalan. " ajak sabrina menggandeng tangan maria yang membawa 6 paparbag ditangannya.
Mereka berjalan keluar butik menuju cafe yang berada disebrang jalan. Tampak ada beberapa pengunjung yang sedang menyesap kopi yang sudah mereka pesan. Ada yang sendiri sambil fokus pada laptopnya, ada juga yang berpasangan mengobrol bersama melemparkan candaan yang membuat mereka tertawa. Sabrina menuju meja yang dekat dengan jendela cafe, sehingga dirinya bisa sedikit melihat keadaan luar.
" rin, lo gak marah sama gue. " cicit maria ketika sudah duduk didepan sabrina.
" marah? Kenapa? Lo gak salah apa-apa kok. "
" gue udah habisin duet lo banyak banget tadi. "
" oh yang tadi gue gak keberatan." jawab sabrina sambil melihat menu yang diberikan waiters.
" gue yang gak enak rin. " maria sedari tadi sangat merasa tidak enak hati jika mengingat nominal belanjaannya. Biar bagaimanapun dia dan sabrina baru beberapa hari ini. Maria tidak ingin jika suatu hari nanti tiba-tiba saja dia ditagih untuk membayar semuanya, yang pasti dia tidak akan mampu. Hanya untuk membeli satu baju pun pasti tidak akan sanggup untuk saat ini.
"lo mau apa, pasti bakal gue bantuin asal jangan minta duet lo dibalikin, gue gak akan bisa. "
" berhasil. " bathin sabrina dalam hati
__ADS_1
"lo mau bantuin gue? " maria langsung menganggukan kepalanya mengiyakan. Sabrina mengisyaratkan maria untul lebih dekat dan membisikan sesuatu yang membuat maria tersenyum setuju.
***